
"Wow, barang barang di rumah ini cantik sekali, kalau diingat-ingat kita bahkan tidak mempunyai barang cantik dan semewah ini ketika kita masih tinggal mansion." Pekik Erin saat kedua putrinya mengajak mereka untuk berkeliling rumah.
"Iya, papa bilang ini semua adalah asli buatan negara XXX (Maaf, gak pintar nyebut nama negara. Sukanya negara XXX 😂)."
"Iya, ini di ekspor khusus dari sana. Ya, walaupun beberapa dari barang-barang yang ada di rumah ini adalah pemberian dari kolega papa."
"Kolega?"
"Ya, yes papa sudah mulai berkembang lagi, karena itu papa sering ke luar negeri."
"Lalu, apa yang kalian lakukan ketika Papa ke luar negeri?"
"Kami tinggal berdua." Ucap Laudya.
"Kenapa tidak meminta Mama untuk tinggal jika ternyata rumah kalian semua ini?"
"Ya, kami pikir Mama akan sibuk dengan geng sosialita mama."
"Sayang, untuk kalian Mama pasti akan meluangkan waktu. Lagipula, setelah Mama dan papaku bercerai kita jarang menghabiskan waktu bersama kan?"
Naura dan laudya menganggukkan kepalanya. Erin tersenyum kemudian mengajak mereka kembali berkeliling.
"Ini ruangan apa?" Tanya Erin saat berhenti di ruangan khusus yang ada di lantai 2.
"Oh, itu adalah ruangan kerja Papa." Ucap Naura.
"Hmm, seperti itu."
"Ayo, Mama pasti akan suka kamar kami berdua."
Naura dan Laudya, mengajak Erin untuk melihat kamar mereka. Hingga kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat di kamar tamu, karena memang kamar tamu adalah kamar yang paling luas dari kamar-kamar yang ada di rumah itu.
Erin tidak bisa tidur dengan nyenyak saat mengetahui bahwa rumah yang ditempati oleh mantan suami dan juga kedua anaknya lebih mewah, daripada rumah yang dia tempati bersama dengan Abimanyu dan Salsa.
Setelah memastikan bahwa Naura dan Laudya sudah tidur, Erin keluar dari kamar dengan hati-hati.
Erin kembali berjalan menjelajahi setiap ruangan yang ada di rumah itu, dan selalu saja terkesima dengan barang mewah dan indah yang kebanyakan sudah lama ingin dimiliki oleh Erin.
"Sebenarnya berapa harga jual mansion, sehingga Johnson bisa membeli rumah mewah serta barang-barang antik seperti ini."
Pandangan Erin lalu setuju pada sebuah permata yang berkilau.
Pertama itu ada di salah satu vas bunga. Lalu, Erin teringat jika Johnson seringkali menaruh beberapa benda di vas bunga sebagai kejutan romantis.
Erin mengambil permata itu dan melihatnya.
"Apa ini asli?"
Erin memilih untuk mengantongi permata itu dan akan membawanya ke toko perhiasan esok hari, untuk mengetahui apakah permata itu asli atau tidak.
Erin melanjutkan untuk menjelajahi ruangan itu. Erin masuk ke dalam ruangan Johnson.
__ADS_1
"Johnson, rupanya setelah bercerai, bisnis tidak jadi bangkrut. Jika tahu bahwa kamu sudah menemukan solusi atas jatuhnya perusahaan kamu, aku tidak akan meminta cerai." Ucap Erin setelah dia melihat beberapa dokumen yang ada di meja kerja Johnson.
"Sepertinya, aku harus mencari cara agar aku bisa rujuk dengan Johnson."
Pagi harinya...
Setelah mengantar Laudya dan Naura ke kampus, dan berjanji bahwa nanti malam Erin akan mengajak Salsa dan Abimanyu untuk bermalam di rumah mereka. Erin segera melajukan kendaraan yang menuju toko perhiasan.
Betapa terkejutnya Erin saat permata yang dia bawa dibeli dengan harga 50 juta.
Erin sampai tidak bisa menutup mulut saat pegawai itu mengatakan nominal harga dari permata yang Erin bawa.
"Jadi bagaimana, mau dijual atau..."
"Tentu saja aku akan menjual nya."
"Baiklah, tunggu sebentar. Akan segera kami siapkan."
Erin tersenyum sambil membayangkan apa yang akan dia lakukan dengan uang 50 juta.
"Tunggu, Bagaimana jika Johnson mengetahui ada permata yang hilang?"
"Ah tidak mungkin, semua barang mewah dan anti di rumah itu sangat banyak, jadi aku yakin Johnson tidak akan menyadari jika satu permata kecil saja hilang dari sana."
Erin memilih untuk mengesampingkan pikiran negatif, dan intinya dengan pikiran positif.
Setelah uang ada di tangan, Erin memutuskan untuk menunggu Laudya dan Naura selesai kuliah dan akan mengajak mereka untuk jalan-jalan ke mall.
Erin langsung berhenti tepat di belakang motor Vania.
"Ada apa?" Tanya Erin.
"Tante, ini sepertinya ban sepeda motor aku bocor lagi." Ucap Vania.
Erin mengedarkan pandangannya lalu dia melihat bengkel yang berada di seberang jalan.
"Itu ada bengkel, bawa ke sana saja."
Vania mendorong motor itu menyeberang jalan dan kini sudah berada di bengkel.
"Kenapa neng?"
"Ban motor saya bocor." Ucap Vania.
"Oh, sebentar ya saya periksa dulu."
"Tidak usah di periksa, ganti ban tubeless saja. berapa harga ban tubeless?" Ucap Erin yang membuat Vania terkejut.
Vania tidak menyangka jika Erin mengikuti Vania hingga ke bengkel.
"Kalau satu 500 ribu, kalau ganti semua, saya kasih harga 750ribu saja."
__ADS_1
Vania melihat Erin masuk ke dalam mobil, dan kembali dengan beberapa lembar uang.
"Ini untuk uang ban tubeless. Sisanya ambil saja, untuk ongkos pasang." Ucap Erin yang memberikan delapan lembar uang kepada orang bengkel tersebut.
Erin kemudian menghampiri Vania.
"Terima kasih Tante."
"Jangan berterima kasih, anggap saja itu aku yang sedang meminjamkan kamu uang untuk mengganti ban sepeda motor kamu. Suatu saat, jika aku meminta uang kamu harus selalu ada dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi dari kamu."
Vania menunduk, seharusnya dia sudah menduga bawah hal ini akan dikatakan oleh Erin.
"Ini ambil." Erin menyerahkan lima lembar uang merah kepada Vania.
"Tidak usah Tante."
"Sudah ambil saja, aku sedang dalam suasana hati yang baik, jadi terima saja sebelum aku berubah pikiran."
Vania kemudian tersenyum sambil menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih.
"Ya sudah, kalau begitu aku harus pergi menjemput Laudya dan Naura. Ingat ya, jika suatu saat aku meminta uang jangan pernah beralasan lagi karena aku tahu kamu masih memiliki uang dalam rekening kamu." Ucap Erin sambil tersenyum dan meninggalkan Vania.
Vania menatap nanar kepergian ibu angkatnya itu.
Setelah motornya selesai, Vania segera berjalan menuju kampus.
Tepat saat Vania baru saja memasuki gerbang, mobil Erin keluar dari halaman kampus dan langsung menuju mall.
Di mall,
Abimanyu yang kebetulan meeting di mall, sedikit terkejut melihat Erin tengah berbelanja barang-barang brand terkenal bersama dengan Laudya dan Naura.
"Mama dapat uang dari mana bukankah bulan ini aku belum memberikan jatah bulanan kepada Mama?" Pekik Abimanyu.
Tidak ingin hatinya diliputi rasa penasaran, Abimanyu segera menghampiri mama dan kedua adiknya.
"Mama..."
"Abimanyu.."
"Hai bang." sapa Naura dan Laudya.
"Mama dapat dari mana uang untuk berbelanja dan mengajak mereka berdua? bukankah Abimanyu belum memberikan jatah bulanan mama?"
"Itu....."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1