Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 7 : Tolong...


__ADS_3

"Vania, setelah kamu selesai meletakkan buku di atas kamu tolong buatkan minuman dan beberapa cemilan dan cepat bawa ke sini ya." Ucap Angelina tanpa merasa bersalah.


Vania hanya tersenyum dan menganggukan kepala lalu segera menuju kamar untuk meletakkan tas dan buku yang dia bawa.


Vania menghapus bulir air mata yang membasahi pipi sebelum dia keluar untuk membuatkan minuman dan cemilan seperti yang diinginkan Angelina.


"Dia cantik yaa jeng... siapa tadi namanya?" Tanya salah satu teman Angelina saat Vania datang dan menyajikan minuman serta berbagai macam cemilan.


"Vania." Ucap Angelina.


"Vania. Matanya cantik seperti mata kamu loh jeng."


Angelina melihat Vania sekilas lalu tersenyum kecut.


"Masak sih?, wajarlah kalau mataku ini banyak yang mirip secara aku kan cantik."


"Iya iya, kamu memang benar." Kekeh yang lainnya.


"Vania kamu boleh kembali ke belakang." Ucap Angelina.


Vania lagi-lagi hanya tersenyum dan mengganggu tanpa berbicara lagi.


Sore hari...


Tok


Tok


Tok


Ceklek...


"Boleh Ibu masuk?" Tanya Angelina saat melihat Vania sedang mengerjakan tugas-tugas kuliahnya


"Tentu." Ucap Vania.


"Maaf ya, berikut terpaksa mengatakan jika kamu adalah anak pembantu. Ibu tidak mungkin mengatakan bahwa kamu adalah anak ibu dengan suami pertama ibu karena, tidak ada yang tahu bahwa ibu hamil hingga kamu melahirkan."


"Kenapa?" Tanya Vania.


"Ayah kamu itu sangat brengsek dia baik pada ibu karena harta saja. Awalnya ibu bahagia saat mengetahui ibu hamil tapi kemudian, Ibu menjadi benci karena ayahmu tidak mau mengakui bayi yang ada di dalam kandunganku sebagai anaknya."


"Kejam sekali."


"Ya, Ibu juga sempat berniat untuk menggugurkan kamu karena amarah yang menguasai diri ibu. Tetapi kemudian ibu sadar bahwa tidak seharusnya ibu melakukan itu karena itu adalah perbuatan dosa."


" Apa Ibu menyembunyikan diri Ibu selama ibu hamil aku?" tanya Vania.

__ADS_1


"Benar, bahkan Pak Wisnu juga mengetahui bahwa ibu sudah menggugurkan kandungan Ibu padahal ibu kembali ke kampung halaman ibu untuk membesarkanmu dan di sana juga tidak mudah melewati hari-hari dalam keadaan perut besar tetapi tidak ada suami yang mendampingi ibu."


"Ibu kembali ke kota dan mendapatkan sewa rumah yang cukup terjangkau dengan uang yang Ibu punya. Dan, yah kamu tahu cerita selanjutnya, ketika ibu melahirkan kamu ke rumah sakit, ibu bertemu dengan keluarga Johnson yang baru saja kehilangan bayinya. Jadi ibu mengatakan kepada mereka untuk merawatmu, sebagai gantinya mereka melunasi biaya rumah sakit selama ibu ada di sana."


Vania terdiam rasa kesal dan marah karena sang Ibu tidak mengakuinya di depan orang-orang kini berubah menjadi rasa ibadah rasa sedih.


" Maafkan Vania Bu, Vania pikir Ibu tidak mengakui Vania sebagai Putri Ibu karena Ibu malu memiliki Putri seperti Vania."


"Tidak nak, Ibu justru bahagia karena sekarang Ibu bisa berkumpul denganmu terutama kehadiranmu sangat membantu pekerjaan Ibu."


Pekerjaan, apa maksud dari perkataan Ibu bahwa ibu beruntung karena aku adalah pembantu gratis tanpa bayar. Batin Vania


"Ibu mewakili dua saudara mengucapkan terima kasih karena kamu sudah mau membantu menyelesaikan pekerjaan kuliah mereka."


Vania lagi-lagi tersenyum kecut karena nyatanya kedua saudara itu justru memaksakannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya, bukan karena Vania sendiri yang menawarkan diri.


"Istirahatlah, Ibu tahu kamu pasti lelah karena selain menjadi mahasiswa, kamu juga membantu ibu membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk keluarga kita."


Keluarga Ibu maksudnya. Batin Vania tersenyum.


Malam harinya....


Ada yang tidak biasa. Rumah itu sepi.


"Mencari siapa?" Tanya Pak Wisnu yang mengejutkan Vania.


Vania gugup sekaligus ketakutan karena dia berhadapan langsung dengan Pak Wisnu.


"Kenapa mencari mereka?" Tanya Pak Wisnu.


"Untuk menanyakan mereka ingin makan malam dengan menu apa?" Ucap Vania yang mulai bisa mengontrol rasa takut dan gugupnya.


"Oh, mereka tidak akan makan malam di rumah karena aku sudah memberikan mereka uang untuk makan di luar."


Vania hanya terdiam.


"Buatkan aku spaghetti karena aku ingin makan spaghetti buatan kamu."


Vania hanya mengganggu lalu segera menuruni tangga menuju dapur.


Saat Vania sedang memasak tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya.


"Hmmm, aroma tubuhmu ternyata lebih menggoda dari bayanganku." Pekik orang yang memeluk Vania. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Wisnu sendiri.


Ya. Jadi sejak awal kedatangan Vania Pak Wisnu sudah sangat bernafsu kepadanya.


Pak Wisnu sering mencuri-curi kesempatan melihat Vania ketika Vania tertidur. Dan, itu adalah keteledoran Vania sendiri karena selalu lupa mengunci pintu saat malam hari.

__ADS_1


Sehingga membuat Pak Wisnu dengan leluasa keluar masuk dari kamarnya.


Hanya saja, perbuatan Pak Wisnu tidak sampai lebih dari sekedar melihat tubuh Vania, karena setiap Pak Wisnu akan menyentuhnya selalu saja ada seseorang yang pergi ke dapur entah itu Angelina atau salah satu dari putrinya.


Pak Wisnu bahkan memasang CCTV tersembunyi di dalam kamar Vania sehingga apapun yang dilakukan oleh Vania bisa diketahui oleh Pak Wisnu, termasuk saat Vania berganti pakaian.


Puncaknya adalah hari ini, Pak Wisnu sudah tidak tahan lagi untuk mencicipi rasa Vania, sehingga dia memberi uang kepada Angelina dan kedua putrinya untuk bersenang-senang.


"Pak, tolong lepaskan. Jika Ibu melihat ini Ibu akan salah paham."


"Dia tidak akan pulang karena aku sudah memberikannya uang lebih untuk berfoya-foya. Dan ya, kenapa kamu memanggilnya ibu padahal dia sendiri tidak mengakuimu sebagai Putri kandungnya dia hanya memanfaatkan kehadiran kamu di sini." Ucap Pak Wisnu sambil berusaha menjelajahi tubuh Vania.


Vania melepaskan diri dari Pak Wisnu.


"Tolong, jaga batasan anda. Saya menghormati anda karena anda adalah suami dari ibu saya."


Pak Wisnu kemudian duduk dengan santai di meja makan sambil menunggu Vania menyajikan spaghetti untuknya.


Saat Vania selesai meletakkan piring di hadapan Pak Wisnu. Pak Wisnu langsung menarik Vania, hingga membuatnya duduk di atas pangkuan Pak Wisnu.


"Aku punya tawaran untukmu."


"Apa maksud anda?"


"Jadilah simpananku maka aku akan memberikan kamu uang berapapun yang kamu inginkan. Daripada kamu berada di rumah ini melakukan pekerjaan sebagai pembantu tapi tidak mendapatkan uang sepeserpun."


"Sepertinya anda sudah mabuk karena cara bicara Anda sudah mulai ngelantur." Ucap Vania sambil berusaha bangkit namun Pak Wisnu menahannya.


"Pak, lepaskan saya." Pekik Vania berusaha meronta-ronta tapi Pak Wisnu tetap mempertahankan Vania.


Pyar .....!!!


Vania terus meronta-ronta hingga dia menyenggol piring spaghetti.


Setelah berhasil melepaskan diri, Vania segera berlari masuk ke dalam kamar dan ketika Vania akan menutup pintu kamar dengan cepat Pak Wisnu langsung menghadangnya.


"Jangan sok jual mahal, aku tahu kamu sangat membutuhkan uang. Jadi layani aku."


" Tidak, jangan. Tolong.." Vania berusaha berteriak minta tolong.


Pak Wisnu sudah seperti orang yang kesurupan dia mendorong tubuh Vania hingga terjatuh di atas tempat tidur dan langsung mencoba untuk melecehkan nya.


" Papi...."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2