
Bella berhasil membujuk Vania agar mau tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
Bella membantu membawa barang-barang Vania dan mereka bersama-sama mengendarai motor masing-masing menuju rumah Bella yang jaraknya sekitar 15 menit dari toko.
Sesampainya di rumah Bella, Vania sedikit terkejut karena rumah itu sangat besar dari apa yang dibayangkan Vania.
"Bella, apa kamu yakin jika kamu bukan anak dari Sultan? kamu memiliki rumah yang sangat besar. Kenapa kamu masih bekerja sebagai karyawan toko, di toko kecil?"
"Rumah ini, dulu milih kedua orang tuaku. Kamu tahu, aku 8 bersaudara. Ke tujuh saudaraku saat itu sudah memiliki rumah masing-masing. Karena, kedua orang tua ku bercerai sebelum aku juga dibelikan rumah seperti saudara yang lain. Maka, mereka sepakat untuk tidak menjual rumah ini."
"Kamu tinggal sendirian?"
"Tidak, kedua orang tuaku bergantian dan menginap di sini selama 2 hari. Sisa nya, beberapa dari saudara juga datang untuk menemaniku. Khusus untuk beberapa bulan mendatang aku akan tinggal sendiri."
"Kenapa?"
"Papa mengajak ke-7 saudaraku yang memang sudah berumah tangga untuk liburan ke luar negeri bersama dengan keluarga baru papa."
"Kamu tidak ikut?"
"Papa mengatakan Aku tidak boleh ikut karena ini adalah liburan keluarga."
"Mama kamu?"
"Yaa, sejak beberapa minggu terakhir, Mama sudah jarang menginap di sini karena Mama sedang hamil tua dan bersiap untuk melahirkan."
"Maaf Bella, aku tidak bermaksud untuk membuat kamu sedih."
"Tidak Vania, aku tidak merasa sedih karena aku sudah terbiasa dengan keadaan ini."
Vania terdiam sambil terus mengikuti langkah kaki Bela menuju lantai 2.
Vania tidak menduga jika dibalik sikap bijak yang selalu ditunjukkan Bela, tersembunyi luka dan kepedihan yang sangat besar.
Vania merasa malu kepada Bella yang berhasil menyembunyikan kesedihan di balik canda tawa yang selalu dia tunjukkan kepada semua orang.
"Vania, kamu tahu? terkadang aku merasa malu dengan diriku sendiri saat aku mengetahui tentang kisahmu." Ucap Bella setelah mereka sampai di ruangan yang mungkin akan digunakan Vania untuk beristirahat selama tinggal di sana.
"Apa maksud kamu, bukankah seharusnya aku yang mengatakan seperti itu. Kamu sangat pandai menyembunyikan kesedihan dibalik senyuman yang selalu menghiasi wajahmu."
"Ya, tapi setelah aku kembali ke rumah ini. Aku, aku tidak jauh berbeda denganmu." Ucap Bella.
"Vania, kita berdua tahu bahwa kita memiliki kesedihan dan keinginan yang sama. Apakah kamu bersedia melangkah bersamaku untuk menjadi pribadi yang baru?" Tanya Bella.
__ADS_1
Vania tersenyum dan menganggukkan kepala. Mereka berdua kemudian saling berpelukan.
"Beristirahat, nikmati fasilitas yang ada. Besok, kita akan mulai mencari pekerjaan. Kamu boleh tinggal di sini sesuka yang kamu mau. Ya, walaupun aku berharap kamu akan tinggal selamanya bersama denganku." Kekeh Bella.
"Tidak, aku takut kamu akan membengkakkan tagihan selama aku tinggal di sini."
"Haha, itu sudah pasti aku lakukan."
...---------------...
Ditempat lain, Bara terlihat kesulitan untuk menemukan Vania.
Riko baru saja memberitahu Bara bahwa, mamanya meminta seluruh karyawan toko untuk mengosongkan tempat itu.
Riko meminta Bara untuk mencari keberadaan Vania.
"Vania, kamu pergi ke mana?" Bara mulai kesal karena dari semalam ponsel Vania tidak dapat dihubungi.
Vania sengaja menonaktifkan ponselnya karena dia ingin mengubah jalan takdirnya. Dia ingin istirahat sebentar dari bayang-bayang ibu kandungnya serta tekanan yang terus diberikan oleh mantan ibu angkatnya.
Beberapa hari berlalu, Bella dan Vania sama-sama merasa sangat bahagia. Mereka seperti seorang saudara. Vania masih belum mengaktifkan ponselnya Dan dia masih enggan untuk pergi ke kampus.
Bella sering mengajak Vania untuk jalan-jalan ke belahan kota lainnya yang belum pernah disinggahi oleh Vania.
Mereka sering menghabiskan waktu di luar bersama, untuk sekedar jalan-jalan sambil melihat lowongan pekerjaan yang cocok untuk mereka.
"Maaf Pak Johnson, saya tahu Anda sudah tidak ingin mengetahui perihal Vania. Tapi, sebagai komite kampus. Kami sangat berharap bahwa bapak bisa mengetahui informasi mengenai Vania."
"Apa maksud bapak komite?"
"Begitu Pak, Vania sudah lebih dari seminggu tidak pernah masuk kuliah. Vania juga tidak pernah lagi menyetorkan tugas-tugasnya. Padahal sebelumnya, walaupun Vania tidak lagi aktif seperti dulu di dunia kampus, tapi dia selalu menyetorkan tugas kuliahnya."
"Vania sudah tidak aktif di kampus?"
"Bener pak, bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi. Kami khawatir terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan dengan Vania, mengingat tidak banyak anak yang bertahan setelah menyadari kenyataan yang menyakitkan tentang keluarganya."
Pak Johnson terdiam, seketika memorinya berputar saat dia tidak sengaja bertemu dengan Salsa di rumah sakit tempat Salsa magang.
Saat itu, Salsa meminta Johnson untuk melihat Vania dan mencari tahu apakah Erin masih suka meminta uang kepada Vania.
Johnson sangat terkejut dengan penuturan Salsa yang mengatakan, bahwa Erin selalu meminta uang kepada Vania dengan dalil balas budi dan mengganti apa yang pernah Vania dapatkan, selama menjadi bagian dari keluarga Johnson.
Johnson segera keluar dari ruangan bapak komite setelah dia berjanji akan mencari tahu mengenai Vania.
__ADS_1
Johnson segera melajukan kendaraannya menuju toko roti tempat di mana biasa Vania bekerja.
Johnson terkejut saat toko roti itu sekarang sudah berganti menjadi bangunan proyek.
Johnson turun untuk bertanya kepada mandor yang kebetulan berada di luar proyek.
"Vania, kamu ada di mana?" Pekik Johnson setelah dia mengetahui bahwa mandor itu tidak tahu menahu soal toko roti yang sebelumnya berdiri di tempat pembangunan pusat perbelanjaan itu.
Sesampainya di rumah, Johnson mencoba untuk bertanya kepada Naura dan Laudya. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui atau pernah melihat Vania.
"Eh, bukannya Bara juga pernah bertanya mengenai Vania kepada kamu ya?" Tanya Laudya setelah mereka berada di dalam kamar.
"Iya. Tumben banget semua pada ngomongin Vania. Di kelas juga lagi rame ngomongin Vania yang sudah jarang sekali aktif di kampus."
"Kira kira, Vania ada dimana?" Pekik kedua nya.
☘️☘️☘️☘️
Di rumah sakit besar yang ada di Singapura, Bara berjalan gontai menelusuri lorong rumah sakit.
Bara terlihat bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa, saat dia menemui Riko dan Riko bertanya tentang keberadaan Vania.
Sampai saat Bara, tiba di salah satu ruangan VVIP. Dia terdiam dan tidak berani masuk ke dalam.
"Bara, kapan kamu sampai? kenapa kamu masih berada di luar Ayo masuk." Ucap Papa Riko.
"Bara baru saja sampai."
"Syukurlah, Riko sedari tadi terus menanyakan apakah kamu sudah sampai atau belum. Dia juga sangat berharap kamu membawa berita gembira mengenai Vania."
Deg !!
Bara sudah menduga hal ini, Riko pasti sangat berharap bahwa dirinya akan menemukan Vania.
"Bara, kok malah bengong sih. Masuk sana, Papa mau mengambil obat untuk Riko dulu."
"I..iya..."
Bara menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia masuk ke ruangan Riko.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Nah, sebenarnya apa yang terjadi sama Riko ya?
...----------------...