
Beberapa hari, Vania mulai sibuk mengurus Angelina.
"Terima kasih ya, sudah mau membantu ibu." ucap Angelina setelah dia merasa jauh lebih baik dan bisa beraktivitas seperti biasa.
"Sama sama." ucap Vania.
"Karena Ibu sudah merasa jauh lebih sehat, kamu boleh pergi dari rumah ini. Cantika dan Kanaya juga sudah memberikan kabar bahwa dia akan kembali hari ini."
"Kalau begitu, Vania akan kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang Vania." ucap Vania sambil tersenyum.
"Ya, baguslah. Sebaiknya kamu lekas pergi sebelum suamiku kembali, jadi tidak ada kesempatan untukmu melirik ke arah suamiku lagi."
Vania menghela nafas panjang, ingin sekali rasanya dia meluruskan kesalahpahaman ini. Tapi, ya sudah lah..
Vania berjalan dan mulai membereskan barang-barang nya, hingga tidak sengaja dia menemukan kamera yang tersembunyi.
"Apa ini?" pekik Vania.
Vania duduk sambil mengamati kamera kecil itu. Kemudian, Vania teringat dengan obrolan teman-temannya yang sempat membahas tentang kamera tersembunyi.
"Astaga, jadi kamera ini ada di dalam kamar, tempat di mana aku tidur saat di rumah ini."
Vania kemudian membawa kamera itu, beserta beberapa barangnya, keluar dari kamar dan menemui Angelina.
"Bu, bisakah aku berbicara dengan ibu?"
"Tentu, kamu tidak akan meminta uang gaji selama kamu tinggal di sini."
"Tidak, Aku ikhlas merawat dan menemani Ibu." ucap Vania.
Angelina kemudian memberikan kode agar Vania duduk di depannya.
"Bu, apa Ibu masih percaya jika aku yang mencoba untuk menggoda Pak Wisnu?"
"Huft, entahlah. Sebenarnya aku tidak percaya, tapi mau bagaimana lagi. Tiga pendapat dan saksi yang melihatnya, cukup membuat aku terpaksa mempercayai nya."
"Tidakkah ibu ingin mendengar pendapat dariku?"
"Vania, sudah jelas-jelas Cantika dan Kanaya melihat kamu mencoba menggoda suamiku dengan meninggalkan semua pakaian mu?"
"Bu, seandainya saja saat itu Ibu dapat melihat raut wajahku yang ketakutan, dan mengerti tatapanku yang berharap belas kasih darimu. Mungkin, ibu akan menemukan siapa di antara kita yang berbohong, dan siapa yang berkata benar."
Vania meletakkan sebuah kamera kecil di atas meja,, sebelum akhirnya dia pergi.
Angelina mengambil kamera itu dan memperhatikannya.
"CCTV?"
__ADS_1
Angelina segera naik ke lantai atas dan masuk ke dalam ruang kerja Wisnu.
Angelina membuka laptop dan memasukkan kode yang ada di kamera kecil itu.
Awalnya, Angelina tidak bisa menemukan apapun hingga tanpa sengaja, pandangannya melihat ke arah tablet yang ada di antara tumpukan berkas.
"Tablet? aku tidak ingat Wisnu pernah memiliki ini."
Angelina membuka tablet, dan menemukan sebuah aplikasi yang biasa digunakan untuk mengintai CCTV.
Angelina terkejut saat melihat tiga buah CCTV yang menunjukkan kamar pembantu, dimana sebelumnya kamar itu di tempati Vania.
Diantara 3 kamera yang menunjukkan kamar pembantu, salah satu nya menunjukkan kamar mandi.
"Apa maksud semua ini?, sebelumnya tidak pernah ada kamera di kamar pembantu. Apa Wisnu sengaja meletakkan kamera itu?" pekik Angelina.
Sementara itu, Pak Wisnu pulang dengan penuh semangat. Dia pikir Vania masih ada di sana, karena itu dia sudah menyusun rencana serapi mungkin.
Ya, selama Wisnu pergi untuk mengurus pekerjaan, Wisnu juga menyusun rencana, agar dia bisa berdua dengan Vania.
Bagaimana pun juga, Pak Wisnu masih terobsesi dengan Vania dan begitu ingin menikmati Vania.
Sayangnya, saat sampai di rumah, Wisnu harus menelan kekecewaan karena Vania sudah tidak ada lagi di rumah itu.
Vania sekarang sedang dalam perjalanan pulang dengan perasaan sedih. Vania berharap, setelah ini kebenaran akan ditemukan.
Vania baru saja tiba di mess, saat Puput baru saja selesai meletakkan barang terakhirnya ke dalam mobil bak terbuka.
"Vania, aku akan menetap di kampung halamanku dan tidak akan pernah kembali ke sini lagi."
"Apa, kenapa?"
"Ayahku meninggal dunia, dan aku tidak tega jika membiarkan ibuku tinggal seorang dirinya sementara, adikku pergi entah kemana karena sangat sedikit atas kepergian ayah."
Vania memeluk sahabatnya itu, dia ikut menangis dan menyampaikan rasa belasungkawanya.
"Suatu saat, aku akan datang mencarimu dan berkunjung ke rumahmu." ucap Vania.
"Terima kasih Vania, aku akan menunggu hari itu. Vania, semoga setelah ini kamu akan lebih tegar menghadapi hal-hal yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan, maafkan aku, karena aku tidak bisa selalu ada di sampingmu."
"Hei, tidak apa. Apa kamu lupa jika aku adalah wanita yang kuat?" ucap Vania sambil tersenyum.
Puput kembali memeluk Vania, Puput tahu bahwa sebenarnya Vania juga merasakan sedih karena mereka harus berpisah.
Puput tidak ada pilihan lain selain kembali ke kampung halamannya dan berhenti mencari pekerjaan di kota.
Puput lebih khawatir terhadap ibunya, juga setelah kabar bahwa adiknya pergi karena tidak bisa menerima kematian sang ayah.
__ADS_1
Puput melambaikan tangan ke arah Vania yang menghapus air matanya, saat mobil bak terbuka itu perlahan meninggalkan Vania.
Vania menghapus air matanya dan dia naik untuk beristirahat di kamar.
Vania menyempatkan diri memasuki ruangan yang dulu ditempati oleh Puput.
Vania masuk ke dalam dan duduk di kursi yang ada di sana, tiba tiba air mata kembali membasahi pipi Vania.
Vania merasa terpuruk, belum selesai dia bersedih atas kenyataan bahwa dia bukan bagian dari keluarga Johnson. Sekarang, Vania harus menerima kenyataan pahit lagi bahwa, sahabat yang selalu mendukungnya, sahabat yang selalu ada untuk mendengarkan keluh kesannya, sekarang sudah tidak ada lagi di sisi Vania.
"Aku bener bener seorang diri sekarang.." pekik Vania sambil memejamkan mata.
"Kak Salsa, semoga Kakak mendapatkan apa yang kakak inginkan." ucap Vania, tak kalah dia mengingat kejadian kemarin.
Kejadian kemarin...
"Vania..."
Vania yang baru saja akan meninggalkan kampus, menoleh ke asal suara.
"Kak Salsa.."
"Vania, kakak ingin tidur di tempat kamu malam ini, boleh kan."
"Besok saja gimana, soalnya hari ini aku masih tinggal di rumah Ibu kandung aku. Beliau sedang sakit, suaminya pergi ke luar negeri, sementara dua anaknya sibuk mengerjakan tugas kuliah."
"Hmmm, itu artinya kakak tidak bisa menghabiskan malam terakhir bersamamu?"
"Malam terakhir, apa maksud kakak?"
"Besok malam, Kakak akan mulai magang di rumah sakit Health Care."
"Health Care, di Negara XX?" tanya Vania yang dibalas anggukan kepala dari Salsa.
Vania terdiam, itu artinya dia tidak akan lagi bertemu dengan Salsa.
Vania langsung memeluk Salsa dan berulang kali meminta maaf karena, Vania tidak bisa mewujudkan keinginan Salsa untuk menghabiskan malam bersama dengan nya.
Malam ini, Vania membiarkan jendela kamarnya terbuka sehingga, angin malam masuk dan mengisi ruangan di kamar nya.
Vania mencoba untuk menghubungi Salsa, mana tahu Vania masih bisa mengejar dan bertemu dengan Salsa untuk terakhir kalinya.
Namun sayangnya, ponsel Salsa sudah tidak aktif, sebab Salsa sudah masuk ke dalam pesawat yang lepas landas.
Vania. Semoga kamu akan menjadi pribadi yang jauh lebih kuat. Semoga kamu akan segera menemukan kebahagiaan yang kamu ingin. Batin Salsa.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...