
Vania dan Puput menoleh ke asal suara. Mereka terkejut karena orang yang berkata demikian adalah Pak Wisnu.
"Hei kamu, kamu itu hanya temannya Vania. Kamu tidak berhak menentukan keputusan Vania."
"Maaf." ucap Puput.
"Vania, aku tahu aku pernah berbuat kesalahan kepadamu. Aku minta maaf tentang hal itu."
"Tidak masalah."
"Aku akan pergi ke kota besok pagi. Jadi, aku harap kamu bersedia tinggal di sini selama beberapa hari untuk membantu mengurus ibu kamu yang sedang sakit. Cantika dan Kanaya sepertinya tidak bisa diganggu karena tugas mereka jauh lebih penting daripada mengurus Angelina."
Vania dan Puput saling berpandangan. Mereka sedikit merasa bahwa alasan yang diberikan Cantika dan Kanaya tidak sepenuhnya bisa diterima oleh akal sehat.
Jika hanya tugas kuliah bukankah bisa dikerjakan saat siang hari, sementara malam hari bisa digunakan untuk bergantian merawat Angelina.
Pak Wisnu langsung pergi setelah mengatakan itu, Vania dan Puput kembali ke kamar Angelina setelah makanan yang dibuat Vania sudah siap.
"Bagaimana Vania, apa kamu bersedia tinggal di sini untuk sementara waktu?" Tanya Angelina setelah dia menghabiskan makanan yang dibuat oleh Vania.
"Vania akan berpikir.."
"Haduh, ngapain sih pakai acara mikir segala. Ibu hanya memintamu untuk tinggal sementara waktu. Atau jangan-jangan kamu keberatan tinggal di sini karena tahu bahwa Pak Wisnu tidak akan ada di rumah ini?"
Puput yang mendengar penuturan dari Angelina, seketika emosinya langsung membara. Ingin sekali Puput meremas wajah Angelina yang sudah berkata demikian kepada Vania.
Tapi, apa boleh dikata. Puput tidak bisa melakukan itu karena takut akan menjadi tersangka penganiayaan.
"Vania, pamit pulang dulu.." ucap Vania setelah menemani Angelina selama 3 jam.
"Ya sudah, Ibu harap besok kamu akan bersedia tinggal di sini, hanya untuk beberapa hari saja. Setelah suamiku datang kamu bisa kembali ke tempat kamu berada."
Vania hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, sebelum Vania dan Puput benar-benar pergi dari rumah Angelina.
Sepanjang perjalanan pulang Puput terus saja mengomel tentang betapa kejinya ibu kandung dari Vania.
"Gila ya, ibu kandung kamu orangnya sadis bener. Gak tahu malu, dia yang ngusir kamu dan tidak memperbolehkan kamu untuk datang lagi ke rumahnya, eh sekarang malah minta kamu untuk tinggal dengannya sementara waktu."
"Hmm, entahlah aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran dari ibu kandung aku."
"Alasan yang diberikan Cantika dan Kanaya juga sangat tidak masuk akal sih menurutku." ucap Puput lagi.
"Aku sepemikiran denganmu."
__ADS_1
"Jadi, apa kamu akan tinggal di sana untuk sementara waktu?" tanya Puput.
"Entah, aku tidak tahu. Ini adalah pilihan yang sulit bagiku, di sisi lain aku ingin membantu merawat ibu hingga dia sembuh. Tapi, di sisi lain aku takut jika tiba-tiba Pak Wisnu datang dan mengulang kembali apa yang sempat dia lakukan kepadaku."
"Pikirkan dengan baik, semoga kamu membuat keputusan yang tepat."
...----------------...
Keesokan harinya...
Seluruh mahasiswa kampus benar-benar sedang membicarakan tentang Bara dan Naura.
Banyak yang berpendapat bahwa sebenarnya Bara dan Naura adalah sepasang kekasih.
Naura, ketika ditanya tentang kedekatannya dengan Bara. Dia bersikap seolah-olah memang apa yang diisukan adalah benar, hanya saja Naura tidak mengatakannya secara langsung.
"Haha, gimana ya. Kalau ditanya soal kedekatan, ya dekat. Hanya..., sudahlah kalian bisa menilainya sendiri." ucap Naura sambil tersenyum.
"Naura, emang bener ya kamu udah jadian sama Bara?" tanya Laudya.
"Sttt, Kakak jangan keras-keras. Sebenarnya saat itu aku dan barat tidak benar-benar melakukan apa yang sedang dibicarakan."
"Jadi, adegan saat Bara memegang pipi kamu dan kalian berpelukan itu bohong?"
"Astaga, kamu bener-bener gila ya Naura. Kenapa kamu melakukan hal itu?"
"Aku sedikit kesal karena setiap barang mengajakku berbicara dia selalu mengancam agar aku tidak perlu lagi mengganggu Vania."
"Lagian kamu, ngapain sih kamu masih ngurusin hidup Vania?"
"Harus aku urusin, karena Vania itu paling dekat sama Bara. Tapi, pas aku tanya apa Bara suka sama Vania, Bara jawabnya nggak suka. Bara membela Vania hanya karena kasihan. Terus aku nggak sengaja lihat mahasiswa yang memang kerjaannya bikin heboh. Ya udah, aku menarik tangan Bara hingga menyentuh pipiku dan aku menjatuhkan diri padanya."
"Oke, karena ini adalah murni permainan kamu sendiri. Ketika ada sesuatu yang menyerang kamu Kakak harap kamu akan menyelesaikannya sendiri."
"Baiklah." Ucap Naura.
Bener saja, setelah Laudya pergi meninggalkan Naura. Bara langsung mendatangi Naura dengan raut wajah yang kecewa.
"Naura, kamu sengaja kan kemarin bertingkah seperti itu karena kamu melihat mahasiswa yang suka mencari bahan untuk dijadikan gosip."
"Enggak." Ucap Naura santai.
"Jadi, waktu kamu mengatakan bahwa kamu menyukaiku itu adalah hal benar?"
__ADS_1
"Iya, lagian Kak Bara kenapa sih jadi orang yang cuek. Mending kita pacaran aja, toh gosip yang beredar luas kan kita adalah sepasang kekasih."
"Jangan mimpi kamu."
"Kak Bara...."
Bara segera pergi meninggalkan Naura dan tidak memperdulikan panggilannya.
"Huh, dasar nyebelin."
Vania yang sedang fokus mendengarkan materi di dalam kelas, konsentrasinya langsung terpecah saat ada nomor baru yang terus menghubungi ponselnya.
Vania memilih untuk tidak memperdulikannya, hingga pesan masuk menyita perhatian nya.
(Jika kamu tidak tinggal di rumah untuk menjaga Angelina, maka jangan salahkan aku jika Angelina akan lebih cepat tiada)
Deg !!
Vania memejamkan mata, hingga kemudian, setelah jam kuliahnya selesai Vania segera meluncur ke rumah Angelina.
"Ternyata kamu tipe anak yang mencintai ibu ya. Cuma diancam segitu aja langsung datang ke sini. Bagus lah, jadi aku tidak perlu susah payah untuk mendatangi kamu." Ucap Pak Wisnu.
Vania hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan takut kepadaku seperti itu, aku akan benar-benar pergi karena ada urusan bisnis di luar. Jadi, untuk beberapa hari kamu akan aman tinggal di sini." ucap Pak Wisnu sambil berlalu pergi.
Vania menghela nafas panjang menatap kepergian Pak Wisnu.
"Semoga saja, keputusanku untuk tinggal di sini selama beberapa hari dan menemani Ibu sampai Ibu sehat adalah keputusan yang benar. Semoga, apa yang aku takutkan tidak akan pernah terjadi." Lirih Vania sebelum dia pergi untuk melihat keadaan Angelina.
Setelah membuatkan makanan dan memastikan Angelina beristirahat. Vania memilih bersantai di ruang keluarga saat ponselnya berdering.
"Halo?"
"Vania, ini Tante. Tolong yaa, kamu transfer ke rekening Salsa 1 juta. Dia sedang butuh uang, rekening ku sedang tidak ada saldo karena aku sudah menariknya semua. Tolong ya.."
"Baiklah..." ucap Vania lesu.
Hmmm, seharusnya waktu itu aku menolak bantuan dari tante. Kalau seperti ini, sama saja saat itu dia meminjami aku uang untuk mengganti ban motor baru dan sekarang tante mengambilnya kembali.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...