
Satu bulan berlalu...
Vania mencoba untuk tetap pada pendiriannya, yang tidak ingin tinggal bersama dengan Angelina lagi.
Angelina sendiri hampir setiap malam, selama 1 bulan terakhir selalu mendatangi Vania dan membujuk Vania, agar Vania mau tinggal lagi bersama dengannya.
Bahkan berapa hari yang lalu Angelina juga datang bersama dengan Wisnu.
Wisnu meminta maaf kepada Vania dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dia lakukan
Wisnu merasa dirinya waktu itu khilaf dan tidak akan mencoba untuk melecehkan Vania lagi.
Angelina dan Wisnu bahkan mengizinkan Vania untuk tinggal di kamar atas yang letaknya tidak jauh dari kamar Cantika dan Kanaya.
Namun, Vania memilih untuk tetap bertahan di sana. Tinggal sendirian, di mess tempat kerja nya.
Vania sedikit kecewa dengan Riko yang menjanjikan akan merekrut karyawan baru, sehingga Vania akan memiliki teman tinggal di mess.
Satu bulan sudah berlalu, namun tidak ada tanda tanda akan adanya karyawan baru. Riko juga tiba-tiba tidak bisa di hubungi.
Di kampus, Vania rutin mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Naura, setelah Vania selesai bertemu dengan Bara.
"Bara, tau nggak sih kalau Naura itu sepertinya suka sama kamu. Kenapa kamu nggak jadian aja sama dia?" Ucap Vania saat Bara menemaninya dalam perjalanan pulang kampus menggunakan mobil Bara, karena motor Vania di rusak Naura.
"Dia masih suka gangguin kamu ya, sampai-sampai dia kehilangan akal dan merusak motor kamu."
"Hmmm..."
"Aku sampai kehilangan akal, gimana sih caranya bikin Naura mengerti dan berhenti buat gangguin kamu."
"Kalau kamu mau tahu caranya, ya caranya cuma satu. Kamu jadian sama Naura."
"Dih, aku gak doyan wanita kayak gitu." Pekik Bara.
"Kenapa?, Naura cantik.”
"Cantik wajahnya doang, hatinya jelek. Siapa yang bakal mau. Seluruh kampus udah pada tahu sifat Naura."
"Kok bisa?"
"Ya mungkin, gara-gara dia sering nge bully kamu. Jadi Naura menarik untuk di jadikan konten." kekeh Bara.
Vania hanya terdiam.
"Riko, apa kabar ya?"
Bara yang tadinya tersenyum, kini langsung diam seketika saat Vania menanyakan perihal Riko.
"Bara, kok kamu diam?"
"Soal Riko, aku gak tahu. Dia gak bisa di hubungi."
"Heran ya, sebenarnya Riko itu ke mana sih. Kayak hilang di telan bumi."
Bara lihat Vania seolah-olah dia ingin menyampaikan sesuatu tentang Riko. Namun niatnya batal karena ternyata mereka sudah sampai di tempat mess.
__ADS_1
"Terima kasih ya, udah mau nganterin aku pulang."
"Siap. Soal motor, sebentar lagi akan ada orang yang membawakan motor untuk kamu. Itu motor aku, pakai aja dulu sambil nunggu motor kamu yang masih ada di bengkel."
"Makasih yaa.."
"Siap.."
Setelah memastikan mobil Bara hilang dari pandangan Vania. Vania berbeda masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap.
Sejak Vania menggantikan tugas reque sebagai penanggung jawab di toko roti itu, Vania tidak lagi memiliki jam kerja seperti biasanya.
Vania menjadi lebih banyak menghabiskan waktu di toko hingga sore hari.
"Vania, kamu udah dengar belum gosip yang sudah beredar mengenai keluarga Riko?" Ucap salah seorang teman dapur Vania. Seorang pria (Mak phi-khun lupa namanya, WKakaka)
"Gosip apa?"
"Ya itu, katanya keluarga Riko bangkrut. Semacam kena tipu investasi bodong."
"Masak sih?" Vania sampai menghentikan aktivitasnya ya mencetak adonan, demi mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang Riko.
"Bener, kalau kamu nggak percaya coba deh tanya sama anak-anak yang lain. Kabarnya juga, toko roti ini bakal dijual sebagai pesangon kita."
"Yah, kok bisa gitu. Bukannya lebih bagus toko ini tetap berjalan sehingga mereka masih memiliki pemasukan dari toko ini." Ucap Vania.
"Ya, itu kan pemikirannya kamu. Katanya sih, toko ini sudah ada yang menawar dengan harga tinggi karena akan dibuat pusat perbelanjaan."
Vania terdiam.
Vania terus berdoa dan berharap bahwa toko itu akan tetap berdiri. Namun, berita tentang kebangkrutan keluarga Riko bahkan sudah dibahas oleh Bara.
Dengan berat hati Bara memberitahukan kondisi perusahaan keluar dariku yang sebenarnya.
Hari itu, Vania pulang lebih awal dari kampus. Vania menyempatkan diri ke bank untuk mencetak rekening koran.
Vania hanya bisa mengalah nafas panjang saat pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan.
"Jika Tante Erin terus saja meminta uang kepadaku. Aku tidak akan mempunyai cukup uang untuk mencari rumah kontrakan, dan uang untuk makan sampai aku mendapatkan pekerjaan." Lirih Vania.
"Tuhan, semoga saja toko roti ini masih tetap berdiri dan beroperasi seperti biasa."
Tin..
Tin...
Tin...
Vania yang masih berada di halaman bank, terkejut saat melihat mobil berhenti tepat di depan nya.
"Tante Erin..." Pekik Vania saat melihat Erin turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Vania.
"Wah, ini kejutan yang sangat menyenangkan. Aku bertemu kamu di bank, kamu habis ngambil uang dalam jumlah yang banyak ya?. Bagi dong, tante lagi butuh uang nih buat jalan-jalan. Kamu tahu kan, Salsa baru saja magang. Karyawan magang ngomongnya nggak akan digaji."
"Maaf Tante, Vania datang ke sini bukan untuk mengambil uang. Vania datang untuk mencetak rekening koran, jadi Vania bisa mengetahui saldo akhir yang Vania miliki."
__ADS_1
"Terus, saldonya banyak kan?"
Vania geleng-gelengkan kepalanya sambil memberikan hasil rekening koran itu kepada Erin.
"8 juta. Masih banyak lah itu, Aku minta satu juta aja."
"Tante, bisa nggak kali ini aku nggak kasih uang dulu sama Tante."
"Kenapa?"
"Soalnya...."
Vania kemudian menceritakan tentang kabar yang mengatakan jika toko yang saat ini menjadi tempat Vania mencari rezeki akan ditutup, karena masuk dalam lahan rencana pembangunan pusat perbelanjaan.
Vania kemudian mengatakan bahwa uang itu untuk berjaga-jaga jika Vania harus mencari rumah kontrakan yang baru dan sebagai pegangan sampai Vania mendapatkan pekerjaan yang baru.
"Udah, kalau memang toko kamu bakalan digusur. Kamu tante di sini deh tinggal di rumah tante, sampai kamu mendapatkan pekerjaan. Atau kamu boleh tinggal di sana dengan bayar biaya sewa kepada Tante. Enak kan?"
Vania harus kembali menghela nafas panjang, lagi-lagi Vania selalu kalah jika berdebat dengan Erin.
Vania akhirnya harus merelakan uang tabungannya berkurang satu juta.
Baru saja mobil Erin pergi dari hadapan Vania. Sebuah mobil kembali berhenti tepat di hadapannya.
"Ibu?"
"Vania, Ibu tahu jika selama ini mantan Ibu angkat kamu selama minta uang kepadamu."
"Itu..."
"Vania, kembalilah ke rumah dan tinggal bersama dengan ibu. Ibu akan membantu kamu agar Ibu angkat kamu tidak akan pernah bisa lagi meminta uang kepada kamu."
"Akan Vania pikirkan lagi nanti."
"Ya sudah, Ibu harap kamu mau tinggal lagi bersama dengan Ibu."
Vania hanya tersenyum sebelum Angelina pergi masuk ke dalam bank untuk mengambil uang.
Vania memilih untuk langsung pulang, sesampainya di sana Vania terkejut karena mendapati orang tua Riko ada di sana.
Bukan hanya orang tua Riko, tapi seluruh karyawan yang bekerja di toko roti itu juga berkumpul di sana.
"Vania, akhirnya kamu pulang juga." Ucap Maya.
"Ada apa ini May?" Tanya Vania.
"Tuan dan Nyonya bos, datang untuk menyampaikan bahwa kita harus mengosongkan tempat ini dalam 3 hari."
Deg !!!
Ya Tuhan, kenapa Engkau membuat keadaan menjadi semakin sulit.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...