Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 29 : Ternyata Johnson..


__ADS_3

Angelina mulai frustasi karena dia tidak bisa menemukan Vania.


"Haduh, gara-gara Vania yang minggat entah kemana, jadi aku kan yang harus mengerjakan pekerjaan rumah. Aku sudah tidak mempunyai waktu untuk bersama dengan teman temanku." Pekik Angelina.


Angelina sudah mencoba menghubungi pembantu yang sebelumnya, namun pembantu itu menolak dengan alasan sudah tidak lagi merantau ke kota.


Angelina juga masih belum menemukan pembantu untuk membantu pekerjaannya.


Pembantu yang sebelumnya di pekerjakan hanya untuk membersihkan rumah, tiba-tiba saja mengundurkan diri saat dirinya baru bekerja selama 1 bulan di rumah itu.


Bisa di bilang, selama 2 bulan terakhir Angelina sudah berganti pembantu sebanyak 3 kali.


Dua si antaranya selalu saja berhenti saat mereka baru bekerja selama 2 minggu dan tinggal di rumah itu.


"Tidak mungkin kan jika di rumah ini ada hantu. Kenapa semua pembantu itu tidak ada yang betah tinggal di sini."


Angelina menghela nafas panjang lalu mulai memikirkan kenapa mereka tidak ada yang mau tinggal di sini.


Angelina menyempatkan diri untuk melihat data dari 3 pembantu yang sempat bekerja dengannya.


"Mungkin aku harus mencari pembantu yang usianya di atas 30 tahun." Pekik Angelina saat melihat data dari pembantu itu yang kebanyakan berusia di bawah 30 tahun.


Angelina melihat ke sekeliling rumah, jari-jarinya bermain di atas meja sehingga menimbulkan suara di keheningan hari itu.


Huek...


Huek...


Huek...


Angelina yang sedang berada di dapur tentu saja terkejut dan langsung berlari ke lantai atas begitu dia mendengar suara orang muntah.


Angelina melihat Cantika sedang muntah di wastafel yang ada di dekat tangga.


"Cantika, kamu tidak apa apa kan?" Pekik Angelina.


"Ya ma, Cantika hanya merasa sedikit mual saja."


"Kamu habis makan apa?"


"Tidak tahu ma, Cantika dan Kanaya terlalu banyak makan sehingga kami tidak bisa mengingat apa yang membuat kami mual." Ucap Cantika.


"Tunggu, apa Kanaya juga merasakan mual seperti kamu?" Tanya Angelina yang dibalas anggukan kepala oleh Cantika.


Angelina bergegas memasuki kamar Kanaya dan dia melihat Kanaya masih tertidur.

__ADS_1


Angelina mendekat dan memeriksa suhu Kanaya.


"Suhu tubuhnya normal." Pekik Angelina.


"Ergh.. Mama?" Kanaya membuka mata saat tangan Angelina berada di dahinya.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? kata Cantika kamu juga mengalami mual yang sama seperti yang dirasakan olehnya?" Tanya Angelina.


Kanaya hanya menganggukkan kepala karena rasanya dia sangat malas untuk berbicara.


"Haduh, sebenarnya kemarin itu kalian pergi ke mana? dan apa saja yang kalian lakukan, sehingga kalian pulang dalam keadaan lemah seperti ini? Pekik Angelina.


Cantika masuk dan langsung berbaring di samping Kanaya.


"Haduh, kalian sudah seperti anak kecil yang sedang sakit secara bersama-sama." Pekik Angelina.


"Kami baik-baik saja mah, Mama tidak perlu khawatir karena sebenarnya kami hanya butuh waktu untuk beristirahat." Ucap Cantika dan Kanaya.


"Apa kalian tidak ingin memeriksakan diri kalian ke dokter?"


"Tidak!!" Ucap keduanya secara bersamaan.


"Oke." Ucap Angelina yang merasa terkejut karena Cantika dan Kanaya berkata tidak dalam waktu yang sama


"Kami baik-baik saja ma, benar kan Kanaya?"


Q"Ya sudah, memakan membuatkan kalian makanan hangat."


Angelina segera pergi dari kamar Kanaya.


Cantika dan Kanaya saling berpandangan, seolah-olah mereka sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh Angelina.


...----------------...


Di tempat lain, terlihat seorang pria dan wanita sedang berdebat di sebuah cafe.


"Jangan mengalahkan aku, karena ternyata Vania tidak dapat ditemukan." Ketus Erin.


"Jelas saja aku menyalahkan kamu. Bisa saja kan Vania pergi dari sini karena dia sudah tidak tahan dengan kelakuan kamu, yang terus saja meminta uang kepadanya." Pekik Johnson.


"Kenapa kamu tiba-tiba menjadi peduli sama Vania? yang harus nya kamu pedulikan adalah Naura dan Laudya."


"Erin, aku rasa kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Seandainya saja kamu lebih bisa mengenal anak-anak kita."


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


Johnson kemudian menceritakan kepada Erin apa saja yang sudah pernah diperbuat kedua putrinya kepada Vania.


"Ya, kita tidak bisa menyalahkan Naura dan Laudya. Karena memang apa yang mereka bicarakan benar."


"Erin, kenapa kamu selalu saja tidak menangkap maksud dari ucapanku. Inilah yang membuatku semakin mantap untuk berpisah darimu. Kamu selalu melihat segala sesuatunya dari satu sisi saja. Kamu tidak pernah melihat dari sisi yang lain."


"Yang dilakukan kedua Putri kita itu adalah suatu kesalahan yang tidak seharusnya mereka lakukan. Benar, Vania bukanlah lagi anggota keluarga kita, tidak seharusnya mereka berbuat seperti itu kepada Vania. Vania adalah gadis yang baik."


"Cih, jadi sekarang kamu memuji Vania dan menyalahkan kedua putrimu?"


"Erin, tidakkah kamu melihat sifat Vania. Dia sejak kecil hingga dewasa tinggal dengan fasilitas yang mewah. Tapi apa dia kenapa sih kamu hanya kepada? apa dia pernah merengek meminta sesuatu? Tidak."


"Coba kamu bandingkan dengan Naura dan Laudya. Kamu mengajarkan mereka tentang segala kemewahan."


"Pa, jelas aja Vania tidak pernah menuntut apapun karena memang Vania dari bibit orang miskin. Jadi wajar dong kalau Naura dan Laudya bertingkah seperti orang kaya karena memang mereka adalah anak dari orang kaya."


"Erin, yang ingin aku coba beri tahu kepadamu adalah berhenti meminta uang kepada Vania dengan dalil balas budi. Vania tidak pernah meminta apapun dari kita, dia bahkan bekerja untuk membeli keinginannya sendiri. Bukankah kamu sendiri yang membagi rata uang bulanan kepada anak-anak. Kenapa kamu menganggap itu sebagai budi yang harus dibalas oleh Vania?"


Erin terdiam, tidak mungkin dia akan mengatakan kepada mantan suaminya itu bahwa sebenarnya dia meminta uang kepada Vania agar tetap bisa dengan gaya hidupnya yang glamor.


"Halah sudah sudah, Aku tidak ingin bertengkar hanya gara-gara anak yang bukan anak kita."


"Aku pergi."


Erin segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Johnson.


Johnson menghela nafas panjang...


Dia tidak mengerti harus dengan cara apa agar Erin mengerti, bahwa perbuatannya yang selalu meminta uang kepada Vania bukanlah hal yang benar.


Johnson mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang dia tugaskan khusus untuk mencari keberadaan Vania.


Raut wajah Johnson menunjukkan kekecewaan tak kala orang suruh hanya untuk menyatakan bahwa dia masih belum berhasil menemukan Vania.


"Vania, kamu dimana?"


Johnson tiba-tiba sangat merasa bersalah kepada Vania. Sebenarnya dulu dia ingin sekali membawa pergi Vania bersamanya, hanya saja Erin tidak menyetujui nya karena Vania bukan anak yang harus menjadi tanggung jawab Johnson.


Erin meminta 80% hasil dari penjualan mansion jika Vania ikut dengan Johnson.


Johnson yang saat itu membutuhkan dana yang besar guna memperbaiki perusahaannya, akhirnya menguatkan hati untuk tidak memperdulikan tangisan Vania.


"Maafkan Papa, Vania. Papa perjanjian akan memperbaiki keadaan dan menemukan kamu."


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2