
"Vania.."
Vania menoleh dan dia melihat Erin sedang turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Vania.
"Mama, maksud saya tante."
"Mana uangnya?"
"Maaf Tante, untuk sekarang saya masih belum ada uang karena saya belum mulai bekerja."
"Haduh, jangan alasan terus deh kamu. Kamu tidak perlu bekerja, suami dari bukan kamu itu sudah kaya raya."
"Vania, sudah tidak lagi tinggal bersama dengan ibu kandung Vania. Jadi, Vania harap tapi tidak akan memaksa Vania untuk memberikan uang hari ini, karena memang Vania tidak memiliki uang dan baru akan mulai bekerja besok hari."
"Haduh, kamu ini gimana sih kayaknya aku sudah bilang sama kamu. Kamu itu harus selalu punya uang jadi ketika aku memintanya kamu selalu ada."
"Maaf Tante, Vania benar benar minta maaf."
"Haduh, kamu itu yaa..."
"Mama..."
Erin dan Vania menolehkah asal suara, mereka melihat Laudya dan Naura sedang berlari ke arah mereka.
"Laudya, Naura?" Erin langsung memeluk mereka karena Erin merasa sangat merindukan Laudya dan Naura.
"Mama, kenapa Mama tidak pernah mengunjungi kami, apakah mama tidak tahu betapa kamu sangat merindukan mama?"
"Mama merindukan kalian, hanya saja mama tidak tahu ke mana harus mencari kalian, karena memang Mama dan Papa sudah putus komunikasi sejak kami resmi bercerai."
"Kami tinggal di perumahan Green Land nomer 23." Ucap Naura.
Perumahan Green Land?, itu kan salah satu perumahan kelas mewah. Hebat sekali si Johnson, bisa membeli perumahan di kawasan elit. Apa jangan-jangan aku dibohongi soal hasil penjualan dari mansion?
"Mama kok ngelamun?" tanya Naura.
"Enggak kok, Mama cuma sedang berpikir tentang jalan menuju perumahan Green Land itu."
"Kalau mama tidak tahu jalan, gimana kalau nanti malam aja mama datang."
"Enggak deh, mama gak enak kalau ketemu papa. Mama masih belum siap."
"Papa pergi ke luar kota mah jadi kami akan tinggal sendirian mulai nanti malam hingga 3 hari kedepan." Ucap Laudya.
"Gimana kalau Mama, ngajak kak Salsa dan bang Abimanyu datang dan menginap?" Ucap Naura.
"Ide bagus, ya sudah nanti mama tanya sama bang Abimanyu dulu, kalian tahu kan sejak Abang kamu itu bekerja, dia sangat sibuk."
"Ma, minta uang dong." Ucap Naura.
Erin selalu memberikan 4 lembar uang berwarna merah kepada Naura.
"Bagi dua sama Laudya."
"Siap ma, kalau begitu kami masuk kelas dulu ya. bye mama..."
"Bye sayang..."
__ADS_1
Setelah bercipika cipiki, Laudya dan Naura segera meninggalkan Erin untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.
Vania menatap dengan tatapan yang sulit diartikan, Erin selalu mengaku tidak mempunyai uang kepada Vania, tapi ketika putrinya meminta uang, tanpa basa-basi, Erin langsung memberikannya.
"Eh, mau kemana kamu?" Tanya Erin saat melihat Vania akan pergi.
"Mau masuk kelas."
"Dengar ya, untuk hari ini aku percaya jika kamu memang tidak mempunyai uang tapi, lain kali jangan seperti itu lagi."
Vania hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Sungguh, Vania ingin sekali protes tapi dia tidak mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu.
"Wah, hebat juga ya si Vania."
"Kenapa?"
"Dia masih bisa kuliah di sini sementara dia bukan lagi keluarga dari Sultan."
"Ya jelaslah orang profesinya sekarang godain udah om-om.."
"Masak sih?"
"Iya, Vania itu ternyata saudara tiri dari temen gue, namanya Cantika. Nah, waktu itu gue ke rumahnya Cantika buat minjem tugas, eh gue nggak sengaja dengar kalau Vania itu menggoda ayah mereka, gila nggak sih."
"Yang benar lo?"
"Gue berani sumpah gue ngeliat dan denger pake mata kepala gue sendiri."
"Ihh, kita harus hati-hati nih sama dia jangan-jangan dia udah ngerayu bokap kita."
Bahkan, Vania tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran karena telinganya terus mendengar bisikan-bisikan tentang dirinya.
Setelah selesai jam kuliah, Vania yang awalnya ingin pergi ke perpustakaan, mengurungkan niat mengingat rumor itu sangat menyakiti hatinya.
"Vania..."
Seseorang datang dan menghampiri Vania yang sedang menunggu ojek.
"Hai Bara.."
Bara, mahasiswa semester akhir yang menjadi senior di fakultas tempat di mana Vania kuliah.
"Tumben gak bawa motor?"
"Iya, tadi bareng sama kak Salsa."
"Mau bareng gak?, kebetulan aku mau ketemu sama Riko."
"Riko?"
"Iya, atasan kamu. Kamu kerja di toko roti milik keluarganya Riko kan?"
"Iya, kenal dari mana sama Riko?"
"Oh itu?, Aku sama Riko udah kenal dari jaman SMP. Terus lost kontak sejak masuk kuliah, baru komunikasi lagi beberapa bulan yang lalu. Aku lupa minta nomor ponselnya tapi dia pernah bilang kalau pengen cari dia, suruh datang ke toko roti yang di jalan Cempaka."
"Oh gitu."
__ADS_1
"Iya, kamu mau kan bareng aku?"
"Kamu yakin mau bareng aku?, gak takut sama gosip yang lagi viral?"
"Soal kamu yang katanya ganti profesi jadi simpanan om-om?" tanya Bara yang dibalas anggukan kepala Vania.
"Hahah, biarin aja rumor itu berada dan jadi viral, kenyataannya kamu tidak seperti itu kan."
Vania tersenyum, dia tidak menyangka bahwa masih ada orang yang percaya bahwa humor yang beredar tidak benar.
"Udah lah, kamu tunggu sini ya aku ambil motor dulu." Ucap Bara, Vania menganggukkan kepalanya lagi.
Sepeninggalan Bara.
"Vania.."
Naura terlihat berjalan ke arah Vania dan tanpa peringatan, langsung menampar Vania.
"Naura, kamu apa apa sih?" Ketus Vania.
"Itu adalah peringatan pertama buat kamu."
"Aku salah apa?"
"Bara adalah pria yang aku suka, jadi jangan coba-coba untuk mendekatinya apalagi berencana untuk mengambilnya dariku."
"Bukannya kamu udah jadian sama Rangga?" Pekik Vania.
"Rangga ternyata anak orang miskin, aku pikir dia anak sultan karena bisa kuliah di fakultas ini. Ternyata, setelah aku dan Laudya mencari tahu ternyata dia bisa kuliah di sini karena biaya siswa. Miris sekali."
Vania cukup merasa tersindir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Naura.
"Tapi kamu nggak ada hak dong nampar aku."
"Ada lah, kalau kamu nggak ingin aku tampar, ya udah jaga diri. Jangan sampai aku melihat kamu lagi merayu Bara."
"Naura, makanya kalau ingin memberi peringatan kepada seseorang itu cari tahu dulu kebenarannya. Aku bukan merayu Bara, tapi dia sendirian datang kepadaku dan menawarkan aku tumpangan karena dia ini bertemu dengan Riko."
"Jangan asal ngomong deh kamu. Bara itu nggak sembarangan ngajak orang ngobrol kalau dia nggak bener-bener kenal sama orang itu."
"Kalau nggak percaya kenapa nggak tanya sama dia sendiri?"
Tak lama kemudian sebuah mobil Pajero hitam berhenti di depan Vania dan Naura.
Vania merasa heran karena yang keluar dari dalam mobil adalah Bara.
Sementara mata Naura langsung muncul emot lope lope begitu melihat Bara turun dari mobil Pajero.
Bukannya tadi bilang mau ngambil motor ya, kenapa dia datang sambil bawa mobil sih. Batin Vania.
Uh, Bara. dia memang lelaki idaman dan pantas aku idamankan. Aku harus mencari cara untuk mendapatkan hatinya. Batin Naura
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1