Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 9 : Tidak berdaya


__ADS_3

Yang terjadi sebelum Angelina datang...


"Hei, dengar jika sampai kalian mengatakan bahwa Papi akan melecehkan Vania. Tunggu saja, Papi akan membuat perhitungan dengan mu."


"Atau kalian ingin menggantikan posisi Vania, dan melayani Papi?"


Cantika dan Kanaya sangat ketakutan karena ini kali pertamanya mereka melihat sisi lain dari Pak Wisnu.


Cantika dan Kanaya mundur beberapa langkah saat Pak Wisnu berjalan ke arah mereka hingga mereka terjatuh.


"Dengar, Papi akan tetap bersikap normal kepada kalian asalkan kalian mengatakan kepada Mami kalian bahwa Vania yang berusaha menggodaku."


"Ta...pi..."


"Ah, kalian lebih memilih menggantikan Vania."


"Tidak."


"Bagus."


Tak lama kemudian, Angelina datang dan dia tentu saja terkejut melihat Vania sedang menangis dan berusaha menggapai pakaiannya yang sudah terkoyak.


"Ada apa ini?"ketus Angelina.


Pak Wisnu langsung menatap Cantika dan Kanaya serta memberikan kode kepada mereka untuk berbicara tentang apa yang sudah diminta oleh nya.


"Van...nia..."


"Kenapa sama Vania?" Ketus Angelina.


"Vania ..."Pekik Cantika sambil menatap Pak Wisnu.


"Vania mencoba merayu Papi." Ucap Kanaya.


"Kanaya. Jangan sembarangan kamu."


"Benar ma, kami melihat dengan mata kepala sendiri Vania berarti pakaiannya dan menggoda Papi. Untung saja kami datang sehingga kami bisa menghentikan kegilaan yang dilakukan oleh Vania."


Plak !!!


Angelina murka dan langsung menampar Vania tanpa mendengarkan penjelasan dari Vania.


Seandainya saja Angelina mau memperhatikan kondisi fisik dari Vania, mungkin dia akan mengerti bahwa apa yang diucapkan oleh kedua Putri nya adalah bohong.


Dengan langkah tertatih, Vania berjalan menuju kamarnya dan mulai bereskan pakaian miliknya.


Sebelum itu, Vania terlebih dulu berganti pakaian.


"Ambil itu...," Angelina melempar sebuah amplop ke Vania.


"Apa ini?"


"Tentu saja uang, kamu menginginkan uang kan sehingga kamu menggoda suamiku. Dasar, kamu dan ayahmu tidak ada bedanya sama-sama tamak." Ketus Angelina.


"Sekarang, pergi kamu dari sini dan pastikan kamu pergi jauh dari ruang lingkup keluargaku, karena aku tidak ingin melihatmu lagi."


"Bu, apa Ibu hanya akan mendengarkan suara dari mereka?, tidakkah Ibu ingin mendengarkan penjelasanku?"

__ADS_1


"Tiga lawan satu, lagi pula suara kamu tidak akan menang mengingat banyak sekali saksi yang melihat jika kamu lah yang menggoda suamiku."


Vania menundukkan kepala dan menangis.


"Cepat angkat kaki dari rumah ini karena aku sudah muak melihat mu, dan jangan pernah menangis di hadapanku karena aku tidak akan percaya tangisan buayamu itu."


Vania berjalan sambil menarik koper berukuran sedang.


Vania melihat tatapan iba dari Cantika dan Kanaya.


Ya, walaupun sebelumnya Cantika dan Kanaya bersikap kurang baik terhadap Vania, tapi melihat apa yang baru saja terjadi pada Vania, mereka tentu saja merasa kasihan dan menyesali apa yang diperbuat oleh ayah mereka.


Sepeninggal Vania, Cantika dan Kanaya langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dengan baik.


"Kakak, aku takut." Pekik Kanaya yang ikut masuk ke dalam kamar Cantika.


"Tidak apa apa, bukankah Papi mengatakan bahwa Papi tidak akan bersikap hal yang sama, asalkan kita menuruti dan mengatakan kepada Mami bahwa Vania lah yang menggoda Papi." Ucap Cantika sambil menenangkan Kanaya walaupun sebenarnya dia juga merasakan ketakutan yang dirasakan oleh Kanaya.


"Biarkan aku tidur dengan kakak malam ini."


"Baiklah."


Sementara yang terjadi antara Angelina dan Pak Wisnu.


"Mam, kok kamu tega banget sih ngusir anak kamu?" tanya Pak Wisnu.


"Lah, kenapa Papi tidak suka Mami mengusir Vania?"


"Suka, tapi kan sebelumnya kamu bilang kalau Vania itu nggak punya tempat tinggal. Lalu sekarang, kamu mengusirnya, dia akan tinggal di mana?"


"Itu bukan urusanku. Bukankah seharusnya Papi senang jika aku mengusir Vania jadi tidak akan ada lagi yang menggoda Papi." Ucap Angelina sambil memeluk Pak Wisnu.


Rasa yang belum sempat tertuntaskan, akhirnya Pak Wisnu tuntaskan kepada istrinya sendiri.


Dalam hati dia menggerutu kebodohannya karena tidak mengunci pintu sebelum melakukan sesuatu terhadap Vania.


Vania berkendara menuju tempat mes yang sebelumnya dia tinggal, hujan deras tidak membuat gadis itu untuk berhenti. Dia membiarkan air hujan membasahi perjalanannya, air mata sudah bercampur dengan air hujan jadi tidak akan ada yang tahu bahwa gadis yang sedang dalam perjalanan itu menangis.


"Vania..." Pekik Puput saat melihat Vania datang dalam keadaan basah kuyup.


"Hai Puput." Ucap Vania sambil berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.


Puput melihat Vania dengan tatapan yang sulit diartikan.


Puput masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri setelah bekerja, sebelum akhirnya dia mendatangi kamr Vania.


Tok


Tok


Tok


"Vania....,"


Ceklek....


Puput masuk karena memang pintunya tidak terkunci dan dia tidak menemukan Vania.

__ADS_1


Puput memutuskan untuk menunggu Vania karena Puput mendengar suara kemericik air di dalam kamar mandi.


"Puput..." Panggil Vania saat dia sudah keluar dari kamar mandi.


Puput yang melihat wajah lebam Vania tentu saja langsung menghampiri Vania.


"Vania, apa yang terjadi padamu apa kamu mendapat kekerasan fisik selama kamu tinggal bersama dengan ibu kandung kamu?" tanya Puput yang dibalas gelengan kepala oleh Vania.


"Lalu ada apa?, apa yang terjadi?"


Vania melihat Puput, air mata kembali membasahi pipi Vania.


Puput yang tahu bahwa sahabatnya itu baru saja mengalami hal buruk langsung memeluk dan menenangkannya.


Puput sangat terkejut ketika Vania menceritakan apa yang terjadi kepadanya.


"Kamu adalah korban pelecehan, harusnya kamu membawa kasus ini kepada yang berwajib."


"Tidak ada gunanya, bahkan Cantika dan Kanaya yang jelas-jelas melihat bahwa Pak Wisnu lah yang mencoba untuk melecehkan aku, tapi mereka justru membalikkan fakta dan memberatkan aku."lirih Vania.


Puput menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia keluar dari kamar Vania dan kembali dengan membawa kotak P3K.


Dengan hati hati, Puput mengobati luka lebam dan bibir berdarah dari Vania.


"Ternyata keputusanku untuk ikut tinggal bersama dengan ibu kandungku bukanlah keputusan yang tepat. Sekarang, aku tidak lagi mempunyai pekerjaan dan...."


"Siapa bilang kamu tidak mempunyai pekerjaan, bukankah kamu belum resmi menggundurkan diri dan aku juga belum resmi mengeluarkan kamu dari toko?" Ucap Riko yang sudah berdiri di depan pintu kamar Vania yang memang belum ditutup.


"Riko?" Pekik Vania.


Beberapa saat lalu, saat Puput keluar dari kamar Vania untuk mengambil kotak P3K, dia langsung menghubungi Riko dan menceritakan apa yang terjadi Pada Vania.


Riko yang berada di rumahnya langsung bergegas menuju mess. Dan di sinilah Riko sekarang.


"Terima kasih Puput, Riko. Kalian selalu ada untukku."


"Beristirahatlah, buat dirimu nyaman di sini." Ucap Riko.


Riko dan Puput kemudian memilih untuk keluar dari kamar dan membiarkan Vania beristirahat.


Drrttt drrttt drrttt...


"Halo?"


"Vania, tolong beri aku uang. Sekarang aku sedang mengajak Abimanyu dan Salsa makan di restoran tapi ternyata saldoku tidak cukup untuk membayar tagihan makanan kami jadi tolong ya cepat kamu kirimkan uang."


"Tapi.."


Tut.


Erin mematikan panggilannya secara sepihak, lalu segera mengirimkan jumlah tagihan yang harus dia bayar kepada Vania.


Vania melihat tagihan itu dengan mata berkaca-kaca, serta kata-kata yang juga ikut dalam caption tagihan yang dikirimkan Erin.


[Dengar, jangan memberikan aku alasan yang sama. Suami dari ibu kandung kamu itu adalah pebisnis terkenal. Jadi, aku yakin kamu mempunyai lebih banyak uang jajan daripada saat kamu masih menjadi anggota keluarga Johnson.)


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2