Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 15 : Sengaja


__ADS_3

"Mama baru saja dapat arisan.."


"Arisan?" Abimanyu terlihat mengerutkan dahinya.


Pasalnya, yang Abimanyu tahu bahwa ibunya tidak pernah ikut arisan apapun, kecuali perkumpulan geng sosialita yang selalu membahas tentang pernak-pernik kehidupan.


"Iya, kamu pikir mana yang selalu berkumpul dengan teman-teman mama itu ngapain kalau bukan arisan." Ucap Erin.


"Sudah, karena sekarang kita bertemu di sini. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Ucap Mama.


"Ide bagus, kebetulan Abimanyu juga baru saja selesai meeting dan belum makan."


Erin kemudian mengajak ketika anaknya untuk masuk ke salah satu restoran cepat saji.


Erin menghubungi Salsa dan memintanya untuk datang ke mall karena mereka sedang makan siang bersama.


Salsa yang sedang ada di kampus Vania, setelah mendapat telepon dari Erin, mencoba untuk membujuk Vania agar ikut maka siang bersama dengan mereka.


"Kakak pergi saja, aku masih ada satu kelas lagi."


"Ya sudah kalau begitu."


Salsa akhirnya pergi sendiri ke mall itu dan bergabung bersama dengan kakak dan kedua adiknya.


Salsa sangat bahagia karena ini adalah kali pertamanya mereka berkumpul setelah orang tua mereka bercerai.


"Oh ya, minggu depan doain Salsa ya, karena Salsa akan sidang skripsi."


"Pasti." Ucap Naura dan Laudya.


"Terus setelah ini, apa kamu mau melanjutkan pendidikan kamu?" Tanya Abimanyu.


"Enggak, sepertinya aku akan menerima tawaran ladang di salah satu rumah sakit yang ada di brosur."


"Yah, nanti kakak cuma jadi perawan nggak jadi dokter." Ucap Naura.


"Bener, sebaiknya kakak melanjutkan pendidikan dan mendapat gelar tinggi. Jadi kakak apa maksud jadi dokter dan tidak perlu jadi perawat." Imbuh Laudya.


"Mama setuju,"


"Humb, tapi biaya pendidikannya pasti akan lebih mahal."


"Nanti Mama akan meminta Papa untuk membantu biaya pendidikan kamu." Ucap Mama.


"Tidak usah lah, bukankah dari awal perjanjiannya Mama dan Papa tidak akan lagi saling ketergantungan satu sama lain?"


Erin menghentikan aktivitasnya yang sedang makan sejenak.


Erin lalu teringat dengan perkataan Johnson, saat Erin meminta Salsa dan Abimanyu ikut dengannya.


Flash back dikit..


"Abimanyu sudah bekerja, Salsa sebentar lagi juga akan selesai masa kuliahnya. Jadi, tidak ada alasan atau ruang bagi kamu untuk meminta uang dariku dengan alasan biaya anak anak."


"Ya, mana tahu kalau ternyata Abimanyu mengalami sedikit masalah di perusahaannya dan ada biaya tambahan di semester akhir yang sedang dijalani oleh Salsa."


"Kalau soal Abimanyu, mungkin Papa bisa membantu melalui perusahaannya. Tapi soal Salsa, aku harap kamu bisa mengerti dan nilai meninggalkan kehidupan glamor kamu."

__ADS_1


"Lah, kok jadi bawa-bawa model hidup aku sih?" Ketus Erin.


"Bukankah perceraian ini adalah ide dari kamu, karena aku sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup kamu yang terlalu berlebihan?"


"Bayangkan saja, dalam satu hari kamu bisa menghabiskan 100 juta. Aku sebenarnya heran uang itu kamu pakai untuk apa?"


"Johnson, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi."


"Erin, kamu tahu sebenarnya aku sangat mencintai kamu dan tidak menginginkan perceraian ini. Tapi, aku sungguh tidak bisa menerima sifat kamu yang terlalu menghambur-hamburkan uang. Apalagi, setelah aku tahu ternyata kamu sering memanipulasi uang perusahaan membuat aku rugi."


"Iya aku salah, maaf."


"Ya sudah, jangan dibahas lagi. Aku hanya mengingatkan bahwa setelah perceraian, kita akan memutus segala bentuk komunikasi, agar kamu sadar dan bisa berpikir bahwa ada yang lebih penting daripada terlalu sering menghambur-hamburkan uang. Yaitu masa depan anak anak."


Flash back selesai...


"Mama?" Panggil Salsa.


"Ah iya, maaf. Sekarang begini saja kita berdoa dulu agar sidang skripsi Salsa berjalan dengan lancar, baru setelah itu kita pikirkan ke mana baiknya Salsa. Apakah lebih baik dia melanjutkan studi atau memilih untuk menerima tawaran makan di salah satu rumah sakit."


"Untuk pertama kalinya aku setuju dengan ide dari mama." Ucap Abimanyu.


Mereka kemudian melanjutkan makan sambil bercanda tawa.


Erin kemudian mengajak Abimanyu dan Salsa untuk bermalam di rumah Johnson.


Naura dan Laudya sangat bahagia karena Salsa dan Abimanyu bersedia untuk bermalam di sana. Yang lebih berbahagia lagi adalah Erin.


Dengan kembalinya dia bermalam di rumah Johnson, akan membuat Erin bisa mengambil lagi barang berharga yang ada di rumah itu untuk dia jual.


Pukul 16.00 sore hari...


"Masih ada waktu 2 jam untuk aku beristirahat sebelum aku bekerja." Ucap Vania.


Vania mulai melajukan kendaraannya keluar halaman kampus.


"Vania..."


Vania yang akan menyeberang menghentikan laju motornya, dan melihat ke belakang. Bara berlari sambil membawa helm.


"Aku nebeng ya?" Ucap Bara.


"Nebeng? apa aku nggak salah dengar. Yang kemarin bawa mobil Pajero sekarang mau nebeng sama orang yang bawa mobil butut kayak gini?" Kekeh Vania.


"Cerita nya panjang.."


Bara langsung memegang setir.


"Eh eh, mau ngapain?"


"Mau nyetir lah. Memangnya kamu pikir aku mau apa?"


"Ya kan aku belum bilang kalau aku ngizinin kamu buat nebeng sama aku."


"Kelamaan kalau nunggu kamu mikir."


Vania akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang sambil mematikan motornya sebelum dia membiarkan Bara duduk di depan, dan membawa motornya.

__ADS_1


"Eh mampir makan dulu yuk aku laper." Ucap Bara yang langsung membelokkan motor Vania ke deretan pedagang kaki lima.


Naura yang saat itu keluar untuk membeli sesuatu, langsung terbakar api cemburu melihat Bara berboncengan dengan Vania, dan duduk untuk menikmati makan.


Naura segera masuk ke dalam mobilnya, dan sengaja berjalan melewati jalanan, tempat dimana motor Vania terparkir.


Brak !!


Naura menabrakkan mobilnya pada motor Vania.


"Ups, maaf aku sengaja."


Naura tersenyum smirk sambil kembali melajukan mobilnya.


Vania hanya bisa menggelengkan kepalanya, Vania di bantu Bara membangunkan motor yang terjatuh.


Walaupun Naura tidak benar-benar menabrakkan mobilnya pada motor Vania, tapi itu cukup membuat body motor Vania lecet.


"Masih bisa hidup gak?" Tanya Vania saat melihat darah berusaha untuk menyalakan mesin motor Vania.


Drum..... Brum....


(bunyi mesin motor)


"Syukurlah.." Pekik Vania.


"Tadi itu siapa sih? hue banget nabrakkan mobilnya ke motor kamu."


"Udah biarin aja." Ucap Vania.


"Eh gak bisa gitu dong, kamu harus memperjuangkan harga diri kamu. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan."


"Udah, jangan diperpanjang. Motor aku juga nggak apa-apa kan."


"Memangnya dia siapa?"


Bara menatap Vania, berharap Vania akan menceritakan sedikit tentang kisah hidupnya karena, Riko tidak menceritakan apapun kepada Bara.


"Dia saudara."


"Saudara kok kasar banget."


"Mantan saudara maksudnya.." Kekeh Vania.


"Jadi bener ya, soal rumor kamu yang bukan anak sultan?"


Vania menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Terus?"


"Terus aku lapar, makan dulu yaa.."


Hmmmm....


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2