
"Vania, ada yang nyariin tuh."
Vania yang baru saja selesai menjadi semua barang-barang yang sebelumnya dipakai untuk membuat adonan, menoleh ke asal suara.
"Siapa?" Tanya Vania.
"Dia bilang sih, Ibu kamu."
Deg !!
Vania langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap teman yang memberitahu bahwa Angelina ada di toko tersebut.
Tiga hari sudah berlalu, Vania berpikir dia tidak akan lagi di bayang-bayangi lagi oleh Ibu kandung nya. Namun, apa yang di harapkan Vania salah.
Setelah selesai membersihkan dapur, Vania berjalan menemui sosok wanita yang tengah duduk di kursi luar toko.
"Ibu..." Panggil Vania.
"Vania...,"
Vania dan Angelina kini duduk di balkon halaman kamar Vania.
"Apa kabar kamu, nak?" Tanya Angelina.
"Baik-baik saja, bagaimana dengan Ibu dan keluarga?"
"Baik juga, kamu baik sekali sudah bertanya." Ucap Angelina.
"Ibu, bisakah langsung pada intinya saja?" Pinta Vania.
"Baiklah, begini. Pertama, ibu minta maaf karena sudah tidak mempercayai kamu dan tidak mau mendengarkan penjelasan kamu."
"Kedua, Ibu ingin kamu kembali tinggal di rumah bersama dengan ibu."
Vania terkejut dengan apa yang baru saja Angelina katakan, tapi Vania bersikap biasa saja.
Vania berpikir bagaimana sang ibu bisa memintanya kembali tinggal di sana setelah dia mengetahui, bahwa sebelumnya sang suami mencoba untuk melecehkan Vania.
"Vania, Ibu sudah tahu semuanya, bahwa yang bersalah adalah suami ibu. Itulah kenapa Ibu sampai rela datang jauh-jauh ke sini, mencarimu dan meminta maaf secara langsung."
"Ibu tahu memang berat bagimu untuk tinggal serumah lagi dengan orang yang pernah mencoba untuk melecehkan kamu. Tapi percayalah, keberadaanmu di rumah itu benar-benar membantu Ibu."
Hmmm, apa Ibu sedang mencoba untuk mengatakan bahwa jika aku berada di sana, maka semua pekerjaan yang seharusnya ibu lakukan akan beralih menjadi pekerjaanku. Batin Vania.
"Bagaimana Vania, apakah kamu mau ikut bersama Ibu dan tinggal bersama dengan dua saudara mu lagi? mereka juga merindukan kamu. Mereka juga menitipkan permintaan maaf mereka karena saat itu mereka tidak bisa membelamu."
"Apa yang ibu lakukan kepada Cantika dan juga Kanaya, setelah mengetahui bahwa sebelumnya mereka memberikan pernyataan bohong?"
"Tidak ada." Jawab Angelina santai.
"Tidak ada?" Tanya Vania terkejut.
"Vania, memangnya kamu berharap Ibu akan melakukan apa terhadap dua Putri Ibu?"
Vania menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Dengar, Ibu tahu apa yang kamu pikir, kamu berharap bahwa ibu akan menghukum mereka atau melakukan sesuatu kepada suami ibu yang telah mencoba untuk melecehkan kamu."
__ADS_1
"Vania denger, aku tidak bisa memberikan hukuman kepada Cantika dan Kanaya. Saat itu, mereka terpaksa melakukannya karena berada di bawah tekanan. Untuk suamiku, bagaimana bisa aku menghakiminya selain memberinya peringatan untuk tidak lagi mengganggu kamu. Dia adalah kepala keluarga, hidupku dan kedua putriku bergantung padanya. Ibu tidak ingin dong hanya karena masalah dia yang mencoba untuk melecehkan kamu, akan berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan."
"Jika memang Ibu tidak bisa memberikan sesuatu yang menimbulkan efek jera pada suami ibu. Kenapa ibu datang dan meminta aku untuk tinggal satu rumah dengan beliau lagi?"
"Vania, kenapa kamu tidak juga menangkap maksud dari Ibu. Ibu datang dan meminta maaf serta mengajak kamu untuk tinggal kembali bersama dengan ibu, itu serta-merta sebagai bentuk tanggung jawab ibu dalam melindungimu. Sebagai bentuk permintaan maaf."
"Jadi, kamu mau kan tinggal dengan ibu dan dua saudara mu?" Tanya Angelina.
"Beri Vania waktu untuk berpikir, Bu."
"Baiklah, hubungi Ibu segera setelah kamu memutuskan untuk tinggal kembali bersama dengan Ibu." Ucap Angelina sambil mencium pipi Vania.
Vania hanya tersenyum tipis sambil mengantar kepulangan Angelina.
Vania memutuskan untuk masuk ke dalam kamar setelah memastikan bahwa mobil Angelina sudah hilang dari pandangannya.
Namun sepertinya, semesta tidak mendukung Vania untuk bisa beristirahat dengan tenang setelah percakapan yang tidak menyenangkan antara ibu kandungnya.
Tin
Tin
Tin
Vania menoleh khas asal suara klakson yang terus berbunyi.
"Tante?" Pekik Vania.
Erin turun dari mobil dan langsung melihat Vania. Vania yang mengerti maksud dari tatapan itu segera turun dan menemui Erin.
"Vania, Tante minta uang dong. Kamu kan udah pernah aku kasih uang untuk beli ban motor baru dan uang jajan?"
Vania lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu jika hari ini pasti akan terjadi. Untung saja, Vania sudah menyisihkan sebagian gaji yang dia terima untuk berjaga-jaga jika Erin akan datang mengambil uang yang sudah pernah dia keluarkan untuk Vania.
"Vania, kamu kok malah diem sih. Kamu ada uang kan?"
"Sebentar ya Tante, Vania ke atas dulu untuk mengambil uangnya." Ucap Vania.
"Nah, gitu dong. Kalau seperti ini kan enak nggak usah pakai acara debat segala." Pekik Erin sambil tersenyum.
Vania berjalan masuk ke dalam kamar dan mengambil sejumlah uang yang pernah Erin berikan kepadanya.
"Tante balik dulu ya.." Ucap Erin yang langsung masuk ke dalam mobil setelah dia menerima uang dari Vania.
Vania lagi-lagi hanya bisa tersenyum pahit, Vania berjalan naik ke atas dan dia berhenti di kamar yang sebelumnya ditempati Puput.
"Hmmm, pertama Puput yang pergi. Sekarang Riko. Pertama aku harus menerima kenyataan pahit bahwa keluarga yang selama ini bersamaku bukanlah keluarga kandungku. Kedua, ternyata bertemu dengan ibu kandungku tidak membuatku merasakan kehangatan keluarga yang sebelumnya pernah aku rasakan." Lirih Vania.
"Yang saling menyakitkan hati adalah, TERNYATA AKU SENDIRI..."
...----------------...
Beberapa hari sebelumnya...
Angelina langsung menanyakan perihal pesan yang isinya hampir sama pada ponsel Cantika dan Kanaya.
Awalnya mereka tidak mau mengakui hingga saat Angelina menghubungi nomor itu, Angelina terkejut karena nomor yang disimpan dengan nama wanita ternyata bersuara laki-laki.
__ADS_1
Laki-laki itu langsung mengucapkan kata rindu dan ingin kembali menghabiskan malam sama dengan Cantika dan Kanaya.
Angelina menangis saat Cantika dan Kanaya mengatakan bahwa mereka sudah sering melakukan hubungan yang tidak seharusnya mereka lakukan dengan pasangan masing-masing.
"Mama, nggak usah lebay deh zaman sekarang hal itu sudah biasa. Lagipula kami selalu memakai pengaman jadi kami tidak mungkin hamil." Ucap Cantika tanpa merasa bersalah.
"Benar, kami bahkan sering kencan berdua dalam satu kamar dan sesekali bertukar pasangan." Ucap Kanaya.
Plak !!
"Mama tidak pernah mendidik kamu untuk mudah memberikan tubuh kamu kepada seseorang yang bukan suami kamu."
Setelah mendapatkan tamparan, Angelina memilih untuk pergi meninggalkan Angelina.
Malam harinya...
Angelina dan Wisnu terlibat pertengkaran besar. Wisnu marah karena Angelina menampar Cantika dan Kanaya.
"Biarkan saja mereka dengan jalan hidup yang mereka pilih, jangan pernah mencoba untuk mengomentari pergaulan mereka."
"Pa, kamu tuh sadar nggak sih. Cantika dan Kanaya sudah terlalu bebas dalam pergaulannya. Kita harus melakukan sesuatu agar mereka tidak semakin terjerumus dan akhirnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Maksudnya hamil?"
"Sudahlah Ma, biarkan saja kalau memang ternyata mereka hamil dengan pasangannya. Kita tinggal menikahkan mereka saja."
"Papa gak bisa kayak gitu. Mereka itu anak kita. seharusnya kita menjaga mereka."
"Ma, sebelum kamu memprotes tentang tingkah laku Cantika dan Kanaya. Sebaiknya kamu bercermin, Seperti apa dirimu saat masih seusia mereka. Kamu juga tidak ada bedanya kan dengan mereka. Anak adalah cerminan Ibu."
"Sudah lah, malas aku berdebat dengan kamu." Pekik Wisnu sambil meninggalkan Angelina.
Pagi harinya...
Angelina mendatangi Cantika dan Kanaya untuk meminta maaf.
Cantika dan Kanaya kemudian berbicara tentang Vania dan meminta Angelina untuk membawakannya kembali tinggal di rumah ini.
"Kami akan memaafkan Mama asalkan mama bisa membawa Vania kembali tinggal di rumah ini."
"Ya nggak bisa gitu dong. Vania kan pernah hampir dilecehkan oleh Papa kalian. Mama yakin dia tidak akan mau tinggal di sini lagi."
"Ma, pikirkan sisi positifnya. Jika Vania tinggal di rumah ini, mama bisa menghabiskan waktu di luar sana tanpa harus memikirkan pekerjaan ibu rumah tangga." Ucap Kanaya.
"Bener, dan sisi positif bagi kami adalah kami juga bisa menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman kami. Vania sangat pintar dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang bahkan tidak pernah bisa kami selesaikan sendiri."
"Mama akan mencoba untuk berbicara dengan Vania."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1