
Pagi harinya..
Laudya dan Naura terkejut dengan kedatangan Johnson.
"Papa, kenapa Papa ada di sini? bukankah seharusnya Papa pulang 2 hari lagi?"
"Sayang, mana bisa Papa meninggalkan kamu terlalu lama?" Ucap Johnson sambil tersenyum.
Sementara itu, Erin mulai panik karena dia tidak menemukan gepokan uang yang sudah dia simpan di dalam tasnya.
"Aku yakin semalam aku menyimpannya di sini, kenapa sekarang tidak ada." pekik Erin.
"Laudya, sebaiknya kamu naik ke atas untuk memanggil mama. Papa sudah memesankan makanan untuk kita, dan sebaiknya kita segera memakannya sebelum dingin." Ucap Johnson.
"Memangnya kenapa mama harus dipanggil? sebentar lagi mama pasti akan turun." Ucap Naura.
"Sudah sana susul, Mama kalian tidak akan turun karena Mama sedang sibuk mencari barang yang hilang."
"Baiklah.."
Laudya segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju kamar Erin.
"Mama..."
"Ya sayang.." ucap Erin sambil membuka pintu.
"Papa sudah menunggu kita untuk sarapan."
"Baiklah." ucap Erin.
"Mama, sebenarnya apa yang Mama? Papa bilang Mama tidak akan turun jika tidak disusul karena Mama sedang mencoba mencari barang yang hilang."
"Barang yang hilang?" lirih Erin.
Kenapa Johnson tahu jika aku sedang mencari sesuatu yang hilang. Apa dia tahu jika aku mengambil uang miliknya dan dia datang, masuk ke kamar ini untuk mengambil kembali apa yang sudah aku ambil. Ah, Tapi itu tidak mungkin. Johnson tidak akan tahu jika aku mengambil barang miliknya. Kecuali..., ada CCTV di ruangan nya.
"Mama, kenapa mama malah melamun bukannya mama menjawab pertanyaanku?" ucap Laudya.
"Mama memang mencari barang yang hilang, tapi barang itu sudah mama temukan."
"Ya sudah, ayo. bukankah Papa sudah menunggu kita untuk sarapan."
Erin dan Laudya kemudian bersama-sama turun dan bergabung dengan Johnson.
Selama makan, Erin terlihat sering mencuri pandang ke arah mantan suaminya itu.
Apa bener, Johnson datang dan masuk ke dalam kamarku untuk mengambil uang yang sudah aku ambil?. tapi, jika itu benar dari mana Johnson tahu jika aku mengambil uang itu.
__ADS_1
Setelah makan, Laudya dan Naura langsung pamit karena mereka ada jadwal kuliah pagi.
"karena kamu sudah datang jadi aku juga pamit." ucap Erin.
"Kenapa buru buru, apa kamu tidak ingin mengobrol denganku lebih dulu?" Ucap Johnson.
"Baiklah, aku juga mempunyai sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu." ucap Erin.
Erin lalu mengikuti langkah Johnson yang seakan mengajak Erin berkeliling rumah itu.
"Johnson, kenapa kamu tidak memintaku untuk tinggal di sini, menjaga anak-anak ketika kamu harus pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan?" tanya Erin.
"Rumah ini, setiap ruangan sudah dilengkapi CCTV. Itulah kenapa aku tidak pernah khawatir meninggalkan mereka." Ucap Johnson yang membuat Erin terkejut.
"Johnson, aku ingin tahu berapa penjualan mansion kita."
"Kenapa?" tanya Johnson.
"Ya, karena kamu bisa membeli rumah di kawasan elit, sementara aku tidak. Barang barang di rumah ini, juga bagus."
"Hmm, aku bisa memiliki barang-barang mewah karena sebagian adalah pemberian dari para kolega ku, dan jika kamu ingin bertanya hasil penjualan mansion, aku rasa kamu tidak ingin mengetahuinya karena 20% dari hasil penjualan mansion, aku gunakan untuk menutupi lubang yang sudah kamu lukis pada keuangan perusahaan." Ucap Johnson yang lagi-lagi membuat Erin diam.
"Erin, kau tahu. Aku sebenarnya masih sangat mencintai kamu, tapi aku tidak menyukai sifat dan hobi kamu yang suka menghambur-hamburkan uang."
"Kau harus bisa merubah aspek dalam dirimu, jika tidak ingin terjerumus ke dalam lembah penyesalan." Ucap Johnson.
"Kenapa, apa kamu merasa kehilangan sesuatu dan kamu menuduh aku yang mengambilnya?"
"Tidak, aku hanya bertanya apakah kamu yang masuk ke dalam kamarku?"
"Ya, aku masuk ke sana dan aku mengambil apa yang sempat kamu ambil."
Erin sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Johnson.
"Erin, jika kamu masih berpikir untuk mendapatkan uang dengan cara singkat, dan akan menghabiskannya untuk berfoya-foya. Maka, sampai kapanpun kamu tidak akan mengerti perjuangan untuk mendapatkan uang."
"Johnson, apa yang kamu katakan?"
"Erin, sudah aku bilang rumah ini sudah dilengkapi CCTV di setiap ruangannya. Aku bisa memaafkan apa yang sudah kamu lakukan di malam pertama kamu menginap di sini. Aku harap, kedepannya kamu akan lebih berhati-hati dan mulai menata kembali hidupmu."
Setelah mengatakan itu, Johnson masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Erin yang terdiam.
Sial. Dia masih saja mengungkit perihal aku yang dulu memanipulasi uang perusahaan dan membuatnya bangkrut. Huft, gagal sudah planning ku hari ini untuk bersenang-senang bersama dengan para geng ku. Tapi, tidak masalah aku masih mempunyai uang sisa penjualan berlian kemarin.
Di kampus...
"Naura..."
__ADS_1
"Bang Abimanyu? tumben sekali kakak menemuiku di kampus, ada apa?"
"Naura, Kakak harap mulai sekarang kamu akan lebih bisa bersikap dewasa."
"Apa maksud kakak?"
"Aku baru mengetahui bahwa kamu sengaja menabrak motor Vania, dan kamu tahu sekarang motor Vania. Aku, aku harus bertanggung jawab atas tindakan bodoh yang sudah kamu lakukan."
Naura terdiam, dalam hati dia memaki Vania dan berpikir bahwa Vania yang sudah mengadu kepada Abimanyu.
"Naura dengar, jika Papa saja sudah mengikhlaskan motor itu untuk Vania, kenapa kamu seolah-olah berusaha untuk mendapatkan kembali motor itu? bukankah kehidupanmu sekarang sudah jauh lebih baik, bahkan aku dengar sebentar lagi kamu akan dibelikan mobil sendiri. Jadi, kamu tidak perlu lagi berbagi mobil bersama dengan Laudya."
"Maaf kak, aku tahu apa yang aku lakukan salah. Aku berjanji tidak akan mengganggu Vania lagi."
"Bagus lah, aku pegang janji kamu. Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat malu aku dan juga papa."
Setelah mengatakan itu Abimanyu segera pergi meninggalkan Naura.
Naura bergegas masuk ke dalam kelas dan menemui Vania.
Plak !
"Naura, apa yang kamu lakukan kenapa kamu tiba-tiba datang dan langsung menampar Vania?" tanya Aulia.
"Vania, kamu cukup licik juga ya."
"Apa maksud kamu?" tanya Vania.
"Aku tahu, kamu kan yang sudah mengadu pada bang Abimanyu, kalau aku sengaja menabrakkan mobilku pada motormu sehingga motor kamu menjadi rusak?"
"Tidak, aku...,"
"Halah, tidak usah banyak alasan deh. Aku tahu kalau kamu...."
"Naura...!"
Abimanyu langsung masuk ke dalam kelas dan dia menarik tangan Naura untuk pergi dari sana.
Abimanyu membawa Naura ke salah satu lorong yang tidak terlalu banyak mahasiswa berlalu lalang.
"Naura, apa peringatanku kemarin masih belum cukup buatmu?"
"Kak Bara, sebenarnya kakak itu kenapa sih? kenapa begitu dalam membela Vania? apa kakak menyukainya?"
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...