Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 11 : Kak Salsa


__ADS_3

Puput sedang cuti untuk beberapa hari, dia terpaksa pulang ke kampung halaman, setelah mendapat kabar bahwa sang ayah jatuh sakit.


Riko juga tidak terlihat sejak siang, hal itu membuat Vania seorang diri.


Vania berada di luar kamar, memejamkan mata dan membiarkan angin malam menerpa wajahnya.


Tiba tiba, air mata Vania menetas mengingat dirinya tidak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan kepada Angelina, bahwa sebenarnya dia tidak bersalah


"Kamu harus kuat Vania, kuat."


Vania mengusap air matanya dan tersenyum.


"Vania kamu bisa. Vania kamu kuat"


Drrttt drrttt drrttt....


Vania melihat ke arah ponselnya...


"Iya kak?"


"-----"


"Di jalan Cempaka blok 3."


"-----"


Vania menghela nafas panjang, tak lama kemudian sebuah mobil memasuki halaman mess.


Vania memastikan tidak ada air mata yang tersisa, sebelum dia turun untuk menemui Salsa.


Ya, orang yang baru saja menelpon Vania adalah Salsa.


Salsa datang untuk bertemu dengan Vania.


"Hai kak.." Sapa Vania dengan senyuman berharap Salsa tidak akan tahu kesedihan yang paling rasakan.


Namun, bukan Salsa namanya jika dia bisa dibohongi oleh Vania.


"Vania, apa yang terjadi kepadamu?"


"Aku tidak apa apa. Aku baik baik saja."


"Bekas memar ini tidak mengatakan bahwa kamu baik-baik saja." Ucap Salsa sambil menyentuh bibir Vania.


"Tidak apa apa kak."


"Vania.."


"Ini karena aku yang kurang berhati-hati"


"Memangnya ini kenapa?"


"Ya, setelah toko tutup aku sempat bermain-main dengan Puput, lalu tidak sengaja aku menabrak vas bunga dan aku terjatuh."


"Kamu yakin?"


Salsa menata tajam Vania, karena dia tahu bahwa Vania sedang menyembunyikan sesuatu.


"Aku yakin, dan apa yang membawa kakak datang?"


"Huft, aku sedang bosan berada di rumah"


"Kenapa?" Tanya Vania.

__ADS_1


"Ya, bagaimana bisa aku betah di rumah sementara, Mama selalu mengundang temannya untuk datang dan berpesta sampai larut malam."


"Aku sangat lelah untuk memberitahu Mama agar mengubah gaya hidup, tapi sepertinya Mama adalah pribadi yang cukup keras untuk bisa menyadari bahwa kehidupan yang sekarang tidaklah semewah kehidupan dulu."


Vania terdiam, dia tidak tahu harus berbicara apa.


"Vania, bolehkah jika aku bermalam di tempat ini?"


"Ha?, apa kakak yakin akan tinggal di tempat kecil dan kumuh seperti ini?"


"Kamu seperti tidak mengenal kakakmu saja." Ucap Salsa sambil tersenyum.


"Baiklah, dengan syarat kakak harus membuatkan aku makan malam."


"Bicara soal makan malam, kakak sudah bawa nasi goreng spesial pete untuk kita berdua." Ucap Salsa sambil menunjukkan dua bungkus nasi goreng.


"Nyam... nyam..."


Keduanya lalu menikmati makanan yang masih hangat itu.


"Oh ya, Mama bilang kamu sudah berteman dengan ibu kandung kamu." Ucap Salsa yang membuat Vania menghentikan makan dan mengambil air serta meminumnya.


"Ya, aku sudah bertemu dengan ibu kandung."


"Jadi, apa yang membuatmu untuk tetap berada di sini dan tidak tinggal bersama dengan Ibu kandungmu?"


Vania terdiam, rupanya mantan Ibu angkatnya tidak memberitahu Salsa bahwa sebelumnya Vania tinggal bersama dengan Angelina.


"Ya, Ibu kandungku sudah mempunyai keluarga sendiri, jadi rasanya sangat aneh ketika aku yang tidak pernah bertemu dengan ibu kandungku lalu tiba-tiba muncul dan tinggal di tengah-tengah keluarganya."


"Ya kan apa salahnya, Mama bilang kalau suami dari ibu kandung kamu adalah pengusaha yang sangat sukses. Mama bilang bahwa hidupmu akan lebih terjamin."


Vania hanya tersenyum kecut mendengar hal itu.


"Vania, apa kamu baik-baik saja kenapa kamu terlihat melamun?"


"Tidak apa apa kak."Ucap Vania sambil tersenyum.


Setelah menghabiskan makanan, Salsa membantu Vania mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang sudah terbengkalai selama beberapa hari.


"Tumben banget sih, kerjaan kuliah kamu sampai numpuk segini banyaknya?" Tanya Salsa.


"Ya, mau gimana lagi. Sekarang aku harus kerja karena uang nggak akan datang sendiri ke aku, hehe.."


"Uh, kamu ini yaa.." Salsa mencubit pipi Vania karena gemas.


Setelah tugas kuliah sudah selesai, Vania mengajak Salsa untuk beristirahat.


Vania sudah lebih dulu masuk ke dunia mimpi. Tapi Salsa, karena ini adalah kali pertamanya dia tidur tanpa AC. Tentu saja, sedikit sulit untuk Salsa bisa tidur secepat Vania.


Tring ...!!


Sebuah pesan masuk dari ponsel Vania. Awalnya, Salsa membiarkan itu tapi karena ponsel Vania terus saja berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Jiwa kepo Salsa tidak bisa lagi diredam.


Salsa mengambil ponsel Vania karena memang sebelumnya mereka sudah terbiasa saling melihat ponsel satu sama lain.


Salsa tentu saja sangat terkejut saat membaca pesan yang ada di notifikasi ponsel Vania.


Deretan pesan yang dikirimkan oleh sang Mama yang berisi permintaan uang.


Salsa langsung membuka percakapan itu dan membaca percakapan sebelumnya.


Vania adalah tipe orang yang tidak menghapus pesan atau berkas sampah di dalam ponselnya kecuali, sudah ada peringatan bahwa ponselnya harus segera dibersihkan.

__ADS_1


Air mata Salsa menetes saat dia membaca satu persatu pesan yang dikirimkan sang Mama kepada Vania.


Pandangan Salsa lalu tertuju pada sebuah pesan dari Cantika dan Kanaya, yang berisikan permintaan maaf, karena tidak bisa membantu Vania saat Vania akan di lecehkan sang ayah.


"Jadi, sebelum ini Vania sudah tinggal bersama dengan keluarga ibu kandungnya. Vania hampir dilecehkan? dan kenapa sekarang Vania ada di sini?, apa Vania diusir oleh keluarganya?"


Salsa yang masih mencoba berperang dengan pemikirannya sendiri terkejut saat melihat notifikasi pesan yang dikirimkan oleh sama Mama.


Apa isi pesan itu?


Tentu saja peringatan bahwa Vania harus membalas budi atas apa yang sudah keluarganya berikan.


Pagi harinya..


"Kamu mau kuliah?" tanya Salsa saat Vania baru keluar dari kamar mandi dan terlihat membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Iya, aku sudah sering libur." ucapan Vania tanpa sadar karena dia sedang fokus pada pesan dari Erin.


"Kenapa?"


"Emmmm...." Vania terlihat gugup.


"Vania.."


"Aku, aku terlalu fokus pada pekerjaan sehingga jarang kuliah. Sebenarnya tidak off satu hari full, hanya saja terkadang aku mengikuti satu atau dua mata pelajaran saja." Ucap Vania sambil tersenyum.


Salsa berjalan menghampiri Vania yang akan melakukan transfer kepada Erin.


Tepat saat Vania akan menekan tombol oke, Salsa langsung merampas ponsel Vania dan membatalkan transaksi.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kakak bahwa selama ini Mama meminta uang kepadamu?"


Vania menunduk.


"Vania..."


"Tidak apa apa, lagi pula apa yang dikatakan Mama benar, aku harus membalas budi atas apa yang sudah kalian berikan kepadaku."


"Vania, tidak ada ceritanya seorang ibu meminta balas budi apa yang sudah dia lakukan kepada anaknya."


"Tapi, di sini aku bukan anak dari mama Erin."


"Dengar, kakak akan membicarakan hal ini kepada Mama. Dan meminta Mama untuk berhenti meminta uang kepadamu. Untuk kamu, jangan pernah lagi memberikan mama uang."


"Tapi..."


"Vania..."


"Baiklah."


Salsa tersenyum lalu memeluk Vania dan mengantarkannya ke kampus.


Setelah sampai di kampus Vania, Salsa langsung otw ke kampus nya.


Saat Vania akan masuk ke dalam lingkungan kampus, seseorang memanggilnya..


"Vania.."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2