Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 25 ; Bella


__ADS_3

"Vania, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Bella yang menemani Vania berkemas.


"Ya, aku baik-baik saja." Ucap Vania sambil tersenyum.


"Vania, jangan dipendam sendiri. Aku ada disini." Ucap Bella.


"Tak ada yang peduli bisa menjadi satu di antara luapan hati, atas kesendirian yang dirasakan dalam menjalani keseharian."


Bella mendekati Vania dan mengusap lembut punggungnya. Walaupun Bella tidak terlalu dekat dengan Vania seperti Puput. Tapi, Bella sedikit tahu kisah dari Vania.


"Satu di antara keinginan terdalam dari setiap orang adalah untuk dicintai dan diperhatikan oleh orang lain. Kita semua ingin merasa hidup dan kehadiran kita di dunia ini penting bagi seseorang." Ucap Vania sambil tersenyum karena dia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak menetes.


"Aku...., Aku bahkan tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Satu persatu, orang yang aku sayangi pergi dari kehidupanku."


"Vania, kamu masih punya aku. Kamu bisa tinggal denganku sementara waktu. Kita akan mencari pekerjaan bersama-sama." Ucap Bella


"Aku yakin setelah ini kamu pasti akan mendapatkan apa yang selalu kamu impikan."


"Ini tidak semudah itu, Bella."


"Apa maksud kamu?"


"Apa jadinya jika kamu merasa seperti tak dipedulikan? Kamu merasa seolah terasing di tengah hiruk pikuk kehidupan." Ucap Vania.


"Apa yang kamu perbuat atau lakukan, tak dianggap. Kata-kata dan suaramu tak didengar. Kamu merasa kesepian di antara keramaian hidup yang terus bergulir." Imbuhnya.


"Vania, aku tahu jalan yang kamu lalui sekarang sedang dipenuhi batu kerikil. Tapi aku percaya jika di depan jalan yang sudah kamu lalui ini, ada tempat istirahat yang sangat indah. Kamu hanya perlu bersabar untuk mencapai puncak dari perjalanan kamu." Ucap Bella.


Vania terdiam, tanpa terasa air matanya menetes. Dia ingin sekali mengadu, tapi dia tidak memiliki siapapun.


"Ada kalanya kamu ingin orang lain memedulikan mu, memberi perhatian kepadamu. Keinginan itu tentu wajar sajar karena manusia merupakan mahkluk sosial, sosok yang memerlukan orang lain dalam kehidupannya." Ucap Bella.


"Walaupun sekarang kamu merasa bahwa tidak ada orang yang peduli denganmu. Tetap lah percaya bahwa suatu saat nanti kamu akan dikelilingi oleh orang yang sangat peduli kepadamu."

__ADS_1


"Tak ada yang peduli ini kamu akan menyadari bahwa kamu tidak sendirian dengan perasaan tidak ada yang peduli tentang dirimu."


"Kenyataannya, aku masih sendirian menghadapi kehidupan pahit ini." Pekik Vania.


"Perasaan itu sangat menyakitkan dan menyakitkan terutama ketika kamu berharap banyak dari teman dan keluargamu." Imbuh Vania sambil berjalan ke arah jendela dan membukanya.


Vania memejamkan mata dan membiarkan semilir angin menghiasi air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Saat canggung adalah ketika kamu berbicara dan kamu menyadari tidak ada yang peduli dengan apa yang kamu katakan..." Ucap Vania.


Tanpa terasa Bella juga meneteskan air mata, dia dapat merasakan pilunya kehidupan yang sedang ditanggung oleh Vania.


"Pikiranku membunuhku, tapi tidak ada yang peduli."


"Vania. Menjadi kesepian bukan berarti tidak ada orang di sekitarmu, melainkan perasaan bahwa tidak ada orang di sekitarmu yang peduli."


"Bella, tanpa kamu tahu jika itulah kenyataan yang sedang terjadi dalam hidupku. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang mengklaim dirinya peduli padaku. Nyatanya, lihatlah sendiri. Aku masih sendirian."


Bella menghampiri Vania dan langsung memeluknya.


"Aku benci mengetahui bahwa aku lebih peduli pada orang lain daripada orang lain akan peduli padaku." Ucap Vania.


"Kamu merasa kesepian bukan saat tidak ada yang peduli denganmu, tetapi saat seseorang yang kamu harapkan tidak peduli denganmu." Ucap Bella sambil melepaskan pelukannya.


"Jika tidak ada yang memahami mu, jika tidak ada yang peduli dengan perasaanmu, jika tidak ada yang menghargai mu, jangan pernah buang waktu dan tenagamu lagi. Pergi saja."


"Seandainya saja aku bisa, mungkin aku sudah pergi ke tempat di mana aku akan mendapatkan kebahagiaan yang aku inginkan." Ucap Vania sambil tersenyum dan kembali menata barang-barangnya.


"Saat kamu depresi, sakit hati, atau sedih, tidak ada yang peduli. Tetapi, saat kamu menjadi terkenal, kaya, dan populer, semua orang adalah temanmu. Ayo, melangkah lah bersamaku untuk menjadi orang yang populer."


"Tidak ada yang peduli dengan alasanmu. Tidak ada yang mengasihanimu karena menunda-nunda. Tidak ada yang akan memelukmu karena kamu merasa malas. Itu hidupmu. Ubahlah."


Vania menatap Bella.

__ADS_1


"Ketika sepertinya tidak ada yang peduli, Tuhan peduli. Ketika sepertinya tidak ada orang di sana untukmu, Tuhan siap untuk mendengarkan. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa kamu seorang diri. Kamu masih punya Tuhan."


Vania kembali merasa tersentuh dengan apa yang baru saja Bela katakan. Vania menghampiri Bella dan kembali memeluknya.


"Terkadang saat kamu sedih, tidak ada yang peduli. Terkadang saat kamu menangis, tidak ada yang melihat. Terkadang saat kamu pergi, tidak ada yang memperhatikan. Tapi percayalah Tuhan melihat semua itu."


"Terima kasih Bella. Terima kasih karena kamu sudah mau mendengarkan keluh kesanku dan memberikan aku kata-kata yang mampu membuatku sadar, bahwa aku masih bisa berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan ku."


"Hidup itu adalah sebuah pilihan. Kamu pasti akan menemukan berbagai pilihan sulit seiring berjalannya waktu. Maka dari itu kamu harus punya keputusan, tidak boleh ragu maupun bimbang. Karena setiap keputusan yang kamu ambil, akan berpengaruh besar bagi masa depanmu. Namun ada kalanya masalah berat membuatmu galau dan bingung."


"Kamu benar. Mungkin selama ini aku hanya beranggapan bahwa hidupku terlalu menyedihkan karena tidak ada orang yang peduli. Kini, aku tahu bahwa aku harus berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena, kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya." Ucap Vania.


"Kehidupan memang memiliki fase yang unik, terutama untuk manusia. Tidak ada yang tahu besok apa yang akan terjadi pada kita. Bisa saja hari ini tertawa lepas, besoknya hati begitu hancur dan air mata tak berhenti mengalir. Jika diperhatikan, manusia hidup dipenuhi banyak warna, segala macam masalah terkadang datang silih berganti dengan porsi yang berbeda-beda pada setiap manusia."


"Ya, kamu benar."


"Sebenarnya apa yang terjadi pada manusia itu merupakan hal yang lumrah dalam hidup. Hanya saja, sebagai manusia ada yang kuat menghadapinya, ada pula yang menyerah. Perlu diketahui menyerah bukan solusi terbaik dalam menghadapi masalah, karena apapun itu pasti ada jalan keluarnya."


"Bella, dari mana kamu belajar tentang semua ini?"


"Ya, kamu akan banyak belajar ketika kamu didewasakan oleh keadaan." Ucap Bella sambil tersenyum.


Bella, dia adalah anak broken home. Bella adalah tipe anak yang jarang sekali berbicara panjang lebar apalagi memberikan nasehat kehidupan kepada orang lain. Tapi dengan Vania, Bella seolah-olah memiliki daya tarik satu sama. Mungkin karena nasib mereka tidak jauh berbeda. Hingga membuat keduanya dekat.


Bella memutuskan untuk menemani Vania tidur di mess untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya mereka harus mengosongkan tempat itu.


Tuhan, berikanlah aku jalan agar aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang aku inginkan.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2