Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 13 : Ancaman


__ADS_3

"Hai Bara..." Sapa Naura.


Bara adalah satu-satunya pria yang tidak mudah berbicara kepada seseorang yang tidak dia kenal.


Vania sendiri bingung sebenarnya apa yang Riko ceritakan kepada Bara tentang dirinya, sehingga Bara mengajaknya untuk berbicara bahkan mengajaknya untuk pulang bersama.


"Vania, ayo.."


Naura langsung menatap tajam kepada Vania karena ternyata Bara lebih menyapanya daripada menyapa Naura.


"Tunggu, katanya ngambil motor kenapa yang keluar justru mobil, Pajero lagi." Pekik Vania.


"Hehe, ya mau gimana lagi. Aku takut kamu nggak mau aku ajak naik mobil mewah. Soalnya kata Riko, kalau mau ngajak kamu pulang bilangnya harus pakai motor." kekeh Bara yang membuat Vania menepuk dahinya sendiri.


"Memangnya kenapa sih, kalau naik mobil mewah nggak akan disuruh bayar juga kok." Ucap Bara.


"Takut rusak.."Lirih Vania.


"Hahaha, kamu itu lahir dimana sih, kok lucu banget."Ucap Bara sambil mengacak-ngacak rambut Vania. Membuat Naura semakin panas.


"Bara, aku mau kok pulang sama kamu, kalau Vania nggak mau pulang sama kamu." Ucap Naura sambil tersenyum.


Bara hanya melihat sekilas ke arah Naura, sebelum akhirnya Bara menarik tangan Vania untuk masuk ke dalam mobil.


"Naura, aku duluan ya." Ucap Vania.


Naura menggertakan giginya dan menginjakkan kaki ke tanah melihat mobil Bara pergi dari hadapannya.


"Vania, awas kamu ya..."


Dalam perjalanan pulang, Bara rupanya orang yang menyenangkan. Terbukti, Vania berulang kali tertawa hingga mereka sampai toko roti.


"Ya Tuhan, jadi ini toko roti tempat di mana Riko bekerja?" Tanya Bara.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Kalau ini sih, aku tahu karena Mama aku itu pelanggan nomor satu di sini."


"Oh ya, biar aku tebak nama mama kamu adalah ibu Kirana?"


"Lah, kok tahu sih. Oh ya, aku lupa. Kan kamu kerja disini." Kekeh Bara.


Vania menggeleng-gelengkan kepala lalu melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.


"Wah wah wah, rupanya kamu mengikuti triku ya sehingga Vania mau pulang naik mobil Pajero?" kekeh Riko yang keluar dari toko begitu melihat mobil Bara.


"Hehe, maaf ya Vania.." Pekik Bara.


Vania hanya tersenyum kemudian pamit untuk pergi ke kamarnya.


"Riko, wajah Vania kenapa?"


"Memangnya kenapa?" Tanya balik Riko.


"Ya elah, aku ini tanya bukannya ngasih tahu kamu kenapa kamu malah balik nanya ke aku sih?"

__ADS_1


"Justru itu, aku tuh tanya memangnya wajah Vania kenapa?"


"Awalnya sih, aku nggak ngeliat tapi setelah aku dan dia dalam perjalanan kemarin aku menyadari kalau ada memar di pipi nya."


Riko menghela nafas panjang sambil melihat Vania yang sudah berada di lantai atas dan menghilang karena Vania sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Woy, malah diem." Ketus Bara.


"Sudahlah nggak usah dibahas nggak menarik juga untuk dibahas. Masuk yuk."


"Eh jangan gitu dong aku udah terlanjur kepo nih."


"Cih, sejak kapan kamu jadi kepo sama urusan orang lain? biasanya kamu paling anti soal kepo meng kepo."


"Sejak ketemu Vania."


"Haha.."


"Malah ketawa. Mau kasih tau gak?"


"Enggak."


"La, kenapa?" Tanya Bara.


"Kamu tidak cukup umur untuk mendengar nya." Ucap Riko sambil mengajak Bara untuk masuk ke dalam toko.


Malam harinya...


"Riko, aku izin pergi ke kampus dulu ya." Ucap Vania setelah dia selesai membuat beberapa jenis kue.


"Hanya mengambil beberapa berkas untuk bahan presentasi." Ucap Vania sambil mencuci tangan nya.


"Mau aku antar gak, aku khawatir nih soalnya nggak biasanya lho kamu pergi ke kampus malam hari."


"Gak apa apa, soalnya aku udah di WA sama grup, kalau malam ini kumpul di kampus buat bagiin bahan persentasi dan dipelajari masing-masing."


"Oke. Hati hati ya.."


"Siap."


Vania segera masuk ke dalam kamar, mengambil kunci motor dan memakai jaket sebelum meluncur ke kampus.


Di sana, Vania bersyukur karena kelompoknya tidak ada satupun yang percaya tentang gosip yang beredar tentang dirinya.


Setelah selesai, Vania langsung berniat untuk pulang tapi tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawa nya ke lorong.


"Tante?"


Vania terkejut karena melihat Erin ada di sana dan Erin juga yang menarik tangan Vania.


"Vania dengar, jangan pernah lagi mengganggu, mendekati atau mencegah merayu laki-laki milik anak-anak ku."


"Apa maksud Tante?"


"Jangan pura-pura bodoh deh, Naura bilang bahwa tadi siang kamu sengaja meminta Bara untuk tidak berbicara kepada Naura."

__ADS_1


"Apa, tidak bukan seperti itu kejadiannya."


"Bara memang terkenal sebagai pria yang tidak mudah berbicara dengan seseorang yang belum dia kenal. Tante jangan main nyalahin aku gitu aja dong."


"Dia bohong ma." Ucap Naura yang datang bersama dengan Laudya.


"Bara itu orangnya ramah dan mudah dipengaruhi, Naura tahu sebenarnya Vania sengaja melakukan itu untuk balas dendam karena Vania bukan lagi anggota dari keluarga kita."


"Naura, kamu bicara apa sih?" Ucap Vania.


"Vania, kamu bener-bener keterlaluan ya. Setelah kamu memanipulasi Salsa, sekarang kamu juga hendak merebut kebahagiaan dari anak-anakku?"


"Apa maksud Tante?" Pekik Vania.


"Aku tahu, kamu sengaja kan meminta soal-soal untuk datang ke tempat kamu dan menginap di sana, jadi kamu bisa dengan leluasa memberitahukan tentang perilaku aku kepada kamu."


"Apa, tidak. Aku tidak meminta kak Salsa untuk datang, tak Salsa sendiri yang menelponku dan bertanya di mana aku tinggal."


"Aku tidak percaya." Ketus Erin.


"Dengar, sekali lagi kamu mengadu tentang perlakuan aku kepada Salsa, atau kamu mendekati pria yang disukai oleh anak-anakku, maka lihat saja aku akan membuat perhitungan kepada kamu."


"Ingat, aku begini karena aku ingin mengingatkan kamu tentang segala kebaikan yang sudah kami perbuat kepada kamu. Jangan jadi kacang yang lupa kulitnya." Bisik Erin.


Erin lalu mengajak kedua putrinya untuk mengunjungi rumah mereka yang berada di Green Land.


Erin sungguh terkesima, rumah berlantai 2 itu jauh lebih mewah dari rumah yang dibeli dari hasil penjualan mansion.


Setelah ini, aku harus bertanya kepadamu Johnson, berapa hasil dari penjualan mansion. Kenapa, dia bisa membeli rumah mewah di perumahan elit, sementara aku hanya bisa membeli rumah modern berlantai 2.


Kembali pada Vania..


"Vania, kamu baik-baik saja?" Tanya Aulia.


"Maaf ya, tidak seharusnya kami meninggalkan kamu." Imbuh Mutia.


"Tidak apa apa, lagi pula mereka tidak melakukan apapun kepadaku." Ucap Vania sambil tersenyum.


Aulia dan Mutia saling berpandangan. Bagaimana tidak, mereka secara langsung lihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Erin dan Naura.


"Ayo, kita pulang. Bukankah Hamdan akan mentraktir kita nasi goreng spesial pete."


Vania menarik tangan Aulia dan Mutia.


Aulia dan Mutia kini mengerti bahwa Vania adalah pribadi yang tidak mudah menceritakan tentang masalahnya pada sembarang orang.


Tidak seperti Mak phi-khun.


Eh... kok jadi kena 😩😩😩


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2