Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 8 : Di usir


__ADS_3

"Ma, kayaknya ponsel Kanaya ketinggalan deh." Pekik Kanaya saat mereka sudah setengah jalan untuk menuju tempat di mana mereka akan melakukan makan malam dan menghabiskan uang yang diberikan oleh Pak Wisnu.


"Haduh, Yang benar saja deh, kita sudah jalan cukup jauh loh. Masak iya harus balik lagi." ketus Cantika.


Kanaya membongkar seluruh tasnya dan dia tidak menemukan ponselnya.


"Kamu itu kebiasaan deh Kanaya, setiap kita akan pergi selalu saja ada barang kamu yang ketinggalan." ketus Angelina.


"Maaf Ma, mau bagaimana lagi masak mau nyalahin kelupaanku kan nggak mungkin." Ucap Kanaya membela diri.


Mau tidak mau akhirnya Angelina mencari jalan berputar untuk kembali menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, entah kenapa Angelina merasa bahwa dia juga ingin masuk ke dalam rumah.


" Aku tunggu sini aja." ucap Cantika.


Angelina dan Kanaya masuk ke dalam rumah, Kanaya segera berlari naik ke lantai atas untuk ke kamarnya dan mengambil ponsel sementara Angelina berjalan ke dapur.


Angelina terkejut saat melihat piring pecah dan spaghetti yang masih berserakan di lantai.


"Vania, apa saja yang gadis itu lakukan sehingga tidak membersihkan dapur dengan benar."


Angelina berjalan dengan penuh kemarahan karena melihat dapur yang berantakan.


"Gadis itu pasti terlalu senang menghabiskan waktu dengan tidur sehingga lupa membersihkan dapur."


Pak Wisnu membungkam mulut Vania sehingga Vania tidak dapat lagi berteriak minta tolong.


Beruntung, Angelina langsung membuka pintu kamar Vania dan dia terkejut melihat Pak Wisnu berada di atas Vania.


" Papi..."


" Mami..." Pak Wisnu segera pergi dari Vania.


Sementara Vania langsung berlari dan memeluk Angelina.


"Ma, ini tidak seperti yang Mami pikirkan. Papi bisa jelaskan kepada Mami."


"Baik jelaskan, jelaskan juga kenapa dapus sangat berantakan seolah-olah sudah di obrak-abrik kucing." Ketus Angelina.


"Dia." Ucap Pak Wisnu sambil menunjuk ke arah Vania.


"Ada apa dengan Vania?"


"Dia merayu ku ma, aku hanya minta dibatas spaghetti tapi dia justru merayuku. Aku marah dan membanting piring spaghetti itu."


" Lalu, Bagaimana ceritanya Papi bisa berada di kamar Vania dengan posisi Papi berada di atas tubuh Vania?"


"Vania memaksa dan menarik Papi, hingga Papi ikut ke dalam kamar Vania dan terjatuh karena memang Vania menjatuhkan dirinya sambil menarik baju Papi."


"Tidak, itu tidak bener." Ucap Vania yang langsung bersuara tak kalah pernyataan dari Pak Wisnu berbanding terbalik dengan kenyataannya.


Angelina langsung menatap ke arah Vania yang menangis.


"Bu, saat Vania sedang memasak. Pak Wisnu tiba-tiba memeluk Vania dan meminta Vania untuk melayaninya. Vania takut Bu."


"Bohong. Dia bohong."


Pak Wisnu segera mendorong jauh Vania dari Angelina.


"Mami harus percaya sama Papi karena Papi tidak pernah membohongi Mami."


"Haduh, semua saling menyalahkan lalu siapa yang benar. Vania, kamu yakin pak Wisnu melakukan itu kepadamu jangan berani-berani berbohong karena itu sama saja kamu sedang mengadu domba aku dan suamiku."


"Vania berani bersumpah Bu." Ucap Vania.

__ADS_1


Pandangan Angelina langsung tertuju pada Pak Wisnu.


"Baiklah, jika ternyata kamu tidak percaya omonganku dan lebih mempercayai anakmu, terserah aku juga tidak peduli."


Pak Wisnu langsung pergi keluar dari kamar Vania.


"Bu, aku mengatakan yang sebenarnya aku tidak mungkin merayu Pak Wisnu. Aku tidak mungkin..."


"Cukup Vania, aku tidak bisa mempercayai kamu 100% dan aku juga tidak bisa mempercayai suamiku jadi sebaiknya kamu berhati-hati dan jaga dirimu."


Setelah mengatakan itu Angelina pergi untuk menyusul Pak Wisnu.


Vania mendengar dua orang itu saling bertengkar hingga Angelina memutuskan untuk keluar dan menghabiskan waktu bersenang-senang yang sempat tertunda.


Vania yang mengetahui bahwa Angelina keluar, segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, berjaga-jaga takut jika Pak Wisnu akan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Dan benar saja tak lama setelah Angelina keluar dari rumah, pintu kamar Vania seperti dibuka paksa.


" Ah sial. Tunggu saja kau Vania." Ketus Pak Wisnu.


Beberapa hari kemudian...


"Pa, minta uang dong hari ini Mama arisan ke rumahnya Celine."


"Hmmm, kamu itu kerjaannya arisan mulu."


"Ya kan Papi sendiri yang minta waktu itu agar Mami berhenti bekerja, jadi papi harus bisa mencukupi apa yang sudah Mami lakukan sejak dulu."


"Hmmm..." Pak Wisnu mengambil ponselnya lalu mentransfer sejumlah uang kepada Angelina.


"Terima kasih Papi, Mami berangkat dulu yaa..."


"Hmmm..."


Untuk sesaat Pak Wisnu terdiam, pikirannya kembali tertuju pada Vania.


Sepertinya semesta sedang berpihak kepadaku karena aku bisa melakukan apa yang sudah lama aku ingin lakukan kepada Vania. Batin Pak Wisnu.


"Papi, tapi kenapa melamun dan senyum-senyum sendiri?"


"Pipi Papi lagi kram makanya tapi gerakin pipi, bukan lagi senyum." Ucap Pak Wisnu.


"Oh, Ya sudah Mami mau berangkat Mami sudah terlambat ini."


"Hmm..."


Sepeninggal Angelina, Pak Wisnu terlihat mondar-mandir sambil melihat ke arah jam tangannya.


Hingga tak lama kemudian seseorang yang dia tunggu-tunggu datang.


Vania segera masuk dan tidak menyadari jika Pak Wisnu sedang duduk di ruang tamu untuk menunggunya.


Dengan senyuman, Pak Wisnu berjalan di belakang Vania hingga masuk ke dalam kamar.


Hari yang berat di kampus, membuat Vania tidak menyadari bahwa Pak Wisnu ikut masuk ke dalam kamarnya bahkan sudah mengunci pintu kamar Vania.


Barulah saat Vania akan membuka baju dan bersiap untuk mandi, Pak Wisnu langsung memeluknya dari belakang.


"Biar aku membantu membuka pakaianmu." Bisik Pak Wisnu.


Vania segera berusaha melepaskan diri. Pak Wisnu membungkam mulut Vania agar Vania tidak berteriak.


Pak Wisnu terus berusaha membuka paksa pakaian Vania hingga pakaian itu robek.


Bruk !!!

__ADS_1


Vania menginjak kaki Pak Wisnu dan mengikut perutnya.


"Argh...."


Pak Wisnu merasa kesakitan karena serangan yang tiba-tiba, dan hal itu dijadikan kesempatan Vania untuk segera membuka kunci pintu kamar dan keluar dari sana.


Vania berlari tanpa melihat arah hingga dirinya menabrak guci dan guci itu pecah.


Pyar....!!!


"Dasar kau gadis kurang ajar."


Plak !!


Pak Wisnu menampar Vania hingga bibirnya berdarah.


Di tarik nya rambut Vania bahkan permohonan dari Vania untuk dilepaskan tidak dihiraukan oleh Pak Wisnu yang sudah sangat berambisi ingin menikmati Vania.


" Tolong, ampuni saya."


Pak Wisnu menarik Vania dan menjatuhkan Vania di sofa.


Crak !!!!


Pak Wisnu menyobek pakaian Vania hingga menyisakan pakaian dalam.


" Tolong jangan..."


Pak Wisnu sudah gelap mata melihat pemandangan indah di hadapannya.


Pak Wisnu mulai melecehkan Vania. Saat Pak Wisnu akan membuka celananya Cantika dan Kanaya pulang dan tentu saja mereka terkejut melihat Pak Wisnu mencoba untuk melecehkan Vania.


" Papi..." Pekik Cantika, sementara Kanaya langsung menghubungi Angelina dan mengatakan bahwa Angelina harus pulang cepat.


Plak !!!


"Dasar anak tidak tahu berterima kasih. Tidak mengenal budi, sudah baik aku mengajakmu untuk tinggal di sini daripada kamu jadi gelandangan yang tidak jelas di luar sana."


"Ma..." Pekik Vania sambil memegangi pipi yang tertampar oleh Angelina.


"Jadi yang dikatakan Pak Wisnu tempo hari benar. Kamu mencoba untuk merayu Pak Wisnu?"


"Ma."


"Pergi kamu dari sini."


"Ma, dengarkan penjelasan Vania dulu."


" Pergi." ketus Angelina.


Vania tidak bergeming karena tidak mungkin dia berjalan dalam keadaan hanya memakai pakaian dalam.


Angelina memejamkan mata lalu berjalan menuju kamar Vania dan mengambil sebuah selimut dan melemparkannya kepada Vania.


"Kemasi barang-barangmu karena aku ingin kamu angkat kaki dari rumah ini sekarang juga."


...----------------...



...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2