
"Pa, apa Papa sengaja memasang kamera di kamar yang ditempati Vania?" Tanya Angelina saat melihat Wisnu baru saja pulang.
"Ma, aku ini baru pulang loh. Bukannya disambut dengan kasih sayang, malah disambut dengan pertanyaan yang nyeleneh."
Angelina memberikan sebuah kamera kecil itu ke tangan Wisnu sebelum akhirnya Angelina memilih untuk masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana bisa Angelina menemukan kamera ini?"
Setelah memastikan bahwa Angelina sudah masuk ke dalam kamar, Wisnu bergegas untuk masuk ke kamar pembantu. Kamar di mana sebelumnya Vania tidur di sana.
Angelina yang sebenarnya tidak benar-benar sudah masuk ke dalam kamarnya. Langsung keluar begitu melihat Wisnu bergerak menuju kamar pembantu.
Angelina lantas membuka tablet yang sudah diambil dari ruang kerja Wisnu. Saat membuka aplikasi pemantau CCTV,
Angelina terkejut tak kalah melihat Wisnu berada di kamar itu dan sedang mencopoti satu persatu CCTV yang ada di sana.
Angelina menangis saat mengetahui bahwa Wisnu selama ini melihat aktivitas yang dilakukan oleh Vania.
Bahkan CCTV yang diletakkan di kamar mandi, akan memperlihatkan dengan jelas aktivitas seseorang yang berada di dalam kamar mandi.
"Jadi apa yang dulu kamu katakan kepadaku, jika Vania yang sudah merayumu adalah bohong?" Ucap Angelina saat Wisnu masuk ke dalam kamarnya dan Angelina memperlihatkan tablet milik Wisnu.
"Ma, dari mana kamu mendapatkan tablet itu?"
"Jawap saja pa, pernyataan kamu waktu itu benar atau salah?"
"Oke, papa mengaku. Papa yang memasang CCTV itu di kamar Vania. Papa juga yang berniat untuk menyetubuhi Vania. Tapi lihatlah semua itu tidak pernah terjadi kan. Saat itu, papa hanya khilaf. Maafkan Papa." Ucap Wisnu.
"Kamu benar-benar keterlaluan Pa. Papa tega berbohong pada mama, sehingga membuat Mama mengusir Vania."
"Huft, sudah lah ma, lagipula kejadian itu kan sudah lama tidak seharusnya kita membahas sesuatu yang sudah berlalu. Papa janji tidak akan mengulangi hal bodoh ini lagi."
Angelina terdiam, dia kemudian memilih untuk keluar dari kamar.
"Hah, sial. Kenapa jadi begini sih." Keluh Wisnu.
Angelina yang baru saja keluar terkejut dengan kedatangan kedua putrinya.
"Cantika, Kanaya. Kalian kenapa?" Tanya Angelina saat melihat wajah kedua putrinya pucat.
"Kami baik-baik saja ma, kami hanya terlalu lelah karena beberapa hari ini kami terlalu fokus mengerjakan tugas kuliah."
Angelina menggeleng-gelengkan kepala lalu membantu kedua putrinya untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat.
Angelina memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuatkan makanan hangat untuk kedua putrinya.
Tring...!!
Saat Angelina masuk ke dalam kamar dia tidak sengaja melihat ponsel dari Cantika menyala, tanda bahwa ada sebuah pesan yang masuk.
Jantung Angelina terasa copot saat tidak sengaja membaca cuplikan pesan yang masuk ke dalam ponsel Cantika.
(Terima kasih untuk beberapa hari yang sangat menyenangkan..)
__ADS_1
Angelina langsung melihat ke arah Cantika yang tengah tertidur. Sejurus kemudian, Angelina segera masuk ke dalam kamar Kanaya dan membuka ponsel Kanaya.
Angelina menemukan pesan yang artinya tidak jauh beda dengan pesan yang dia temukan di ponsel Cantika.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan selama beberapa hari ini, apakah benar mereka melakukan tugas kuliah? pekik Angelina.
Angelina masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk berbicara dengan Wisnu. Namun sayangnya Angelina melihat Wisnu sudah tertidur.
"Sebaiknya besok aku harus bertanya kepada Cantika dan Kanaya."
...----------------...
"Kamu sedang apa?" Tanya Riko saat melihat Vania duduk seorang diri balkon kamarnya.
"Hei Riko, dari mana saja kamu kenapa aku baru melihatmu hari ini?" Tanya Vania.
"Iya, akhir-akhir ini aku sibuk membantu perusahaan Papa yang sedang ada masalah. Mungkin, setelah ini aku akan jarang berada di toko. Aku harap kamu mau menggantikan aku untuk mengawasi toko selama aku tidak bisa datang."
"Asal kamu menaikkan gajiku dua kali lipat maka aku akan bersedia menggantikan posisimu." Kekeh Vania.
"Tidak masalah. Bagiku itu hanya urusan kecil."
"Oh ya, di mana Puput apakah dia akan benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali ke sini?"Tanya Riko.
"Ya, Puput baru saja meninggalkan kota ini beberapa jam yang lalu."
"Hmm, sayang sekali aku tidak bisa melihat dan mengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya." Ucap Riko.
"Vania, apa kamu baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Walaupun memang ada sedikit rasa sedih karena aku harus kehilangan Puput. Tapi percayalah, aku baik baik saja."
Riko memegang bahu Vania.
"Jangan sedih. Setelah ini, aku akan merekrut banyak karyawan saat aku sudah tidak bisa lagi datang ke toko ini. Jadi mess ini akan ramai dengan orang-orang baru dan semoga kamu akan mendapatkan teman Seperti Puput.
"Terima kasih Riko.."
"Sama sama..."
Pagi harinya...
Vania sudah bersiap untuk pergi ke kampus..
Vania juga sedikit heran dengan keadaan kampus yang lebih tenang dari biasanya.
Tidak ada lagi omongan-omongan yang membuat Vania kehilangan semangatnya untuk belajar.
Lalu pandangan Vania menangkap sosok Bara yang sedang berlari menghampirinya.
"Hei, mau masuk kelasnya Pak Wilson ya?"
"Kok tahu?"
__ADS_1
"Hehe, aku sedikit mengintip jadwal kelasmu hari ini."
"Dih, suka ngintip."
"Oh ya, apa Riko jadi akan pergi ke Inggris?"
"Inggris?"
"Iya, semalam katanya dia mau pergi nemuin kamu buat pamitan. Dia mau pergi ke Inggris malam nanti."
"Riko emang datang menemui aku semalam. Tapi tidak mengatakan akan pergi ke Inggris, Riko hanya mengatakan bahwa dia akan membantu perusahaan sang ayah yang sedang ada dalam masalah."
"Hmm, begitu ya.."
Kenapa Riko tidak berkata jujur kepada Vania. Bukankah Riko akan pindah ke Inggris?.
"Halo, Bara. Kok ngelamun sih?"
"Iya maaf, tadi kita sedang bahas apa?"
"Tadi aku bilang sama kamu kalau Riko emang datang ke aku semalam, Tapi dia nggak bilang mau ke Inggris. Riko cuma bilang kalau dia tidak akan bisa lagi berada di toko. Jadi, Riko meminta aku untuk bertanggung jawab sementara."
"Hmm, ya sudah. Eh, udah hampir waktunya. Sebaiknya kamu segera masuk ke kelas sebelum didiskualifikasi oleh Pak Wilson." Ucap Bara.
Vania melihat ke arah jam tangannya, dan benar saja jam kelas dari Pak Wilson akan dimulai 5 menit lagi.
Vania yang melihat Pak Wilson mulai berjalan menuju kelas, langsung berlari secepat mungkin.
Setelah selesai kelas..
Naura menarik paksa Vania dan membawanya ke kamar mandi.
Byur...
Tanpa aba aba lagi, Laudya yang sudah menunggu di sana dengan seember air segera menyiramkan air itu ke arah Vania.
Seluruh tubuh Vania, beserta dengan buku-buku yang Vania bawa menjadi basah.
"Ini adalah peringatan kedua karena kamu sudah gatal merayu Bara." Pekik Naura.
Vania mulai menangis setelah Laudya dan Naura pergi meninggalkannya dalam keadaan basah kuyup.
Vania bukan menangisi perlakuan dua saudara itu, namun Vania menangisi berkas yang basah karena air, beserta ponselnya yang mati.
"Vania, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Mutia yang curiga karena Vania tidak kunjung keluar dari kamar mandi setelah dia melihat Laudya dan Naura juga keluar dari kamar mandi yang sama.
"Aku baik." Ucap Vania sambil tersenyum.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1