Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 28 : Membaik


__ADS_3

"Secara normal, sel tumbuh dan berkembang dengan cara yang tetap. Namun, ada pula pertumbuhan yang tidak terkontrol yang kemudian tampak menjadi benjolan yang disebut tumor."


"Kanker merupakan satu di antara penyakit berbahaya yang menyumbang angka kematian tertinggi di Indonesia."


"Beberapa dari mereka yang koma, karena ada sesuatu di masa hidupnya yang tidak sempat bisa terwujud. Sehingga, pasien mengalami sesuatu yang bisa dibilang kehilangan semangat untuk melawan kanker."


"Kondisinya yang sangat lemah serta tidak memungkinkan untuk bisa mewujudkan apa yang sebelumnya tidak sempat tercapai atau dilakukan, bisa saja menjadi pemicu kedua pasien menjadi kritis."


Penjelasan panjang lebar yang disampaikan oleh dokter itulah, yang membuat kedua orang tua Riko akhirnya meminta Bara untuk mencari keberadaan Vania dan membawanya ke sini.


Vania duduk setelah sebelumnya bertemu dengan orang tua Riko.


Air mata tidak bisa lagi Vania tahan. Wajahnya sudah basah dengan air mata.


Vania tidak menyangka jika sosok yang selalu menguatkan dirinya, menyimpan rahasia yang sangat besar. Bahkan, di detik terakhir dia tidak mampu lagi menahan diri. Riko masih tersenyum dan menyemangati Vania.


"Riko..." Lirih Vania.


Mama Riko memegang bahu suaminya saat pandangannya melihat tangan Riko bergerak hanya dengan mendengar suara Vania.


"Tidak ada harapan yang tidak bercampur dengan rasa takut, tidak ada rasa takut yang tidak bercampur dengan harapan."


"Aku selalu melihat kamu sebagai penguatku, hari ini aku datang sebagai cahaya. Semoga cahaya itu menuntun mau kembali padaku." Isak Vania.


"Kita harus merangkul rasa sakit dan membakarnya sebagai bahan bakar untuk perjalanan kita."


"Riko, aku semua berharap kamu akan membuka mata. Apa kamu tidak akan menyambut kedatanganku yang sudah jauh-jauh ini?" Ketus Vania.


"Riko..."Lirih Vania.


Vania tidak bisa menahan diri lagi. Dia tertunduk sambil terus menangis, hingga sebuah tangan menyentuh kepalanya.


Bara, dan kedua orang tua Riko tersenyum sekaligus bahagia. Karena, tangan yang menyentuh kepala Vania adalah tangan Riko.


"Riko..."


"Va...nia." Ucao Riko dengan suara lemah.


Vania merasa sangat bahagia, Vania refleks memeluk Riko. Riko tersenyum, dengan gerakan lambat dia membawa pelukan Vania.


Pandangan Riko mengarah pada Bara, seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu. Bara hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Dokter langsung datang setelah Papa memberitahukan bahwa Riko sudah siuman setelah koma selama beberapa hari.

__ADS_1


"Ini adalah sebuah keajaiban. Sepertinya kedatangan nona itu membuat semangat hidup dari putra anda kembali." Ucap dokter sambil melihat ke arah Vania yang sedang berada di samping Riko di temani Bara.


...----------------...


Beberapa hari berlalu...


Riko benar-benar bahagia dengan kehadiran Vania, Vania dengan telaten membantu Riko walaupun sekedar membawanya jalan-jalan.


Hari ini, atas izin dari dokter, Vania diperbolehkan membawa Riko untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit.


"Vania, terima kasih karena kamu sudah mau datang. Maaf, karena ternyata kamu mengetahui tentang aku dari orang lain."


"Apa kamu tidak merasa risih dengan kanker yang aku derita?"


"Ketika seseorang mengidap kanker, seluruh keluarga dan semua orang yang mencintainya juga mengidapnya." Ucap Vania sambil tersenyum.


"Ingin sekali aku protes pada takdir. Karena setelah kanker terjadi, itu mengubah cara hidup selama sisa hidupmu." Lirih Riko.


Vania menatap Riko dengan tatapan pilu. Bagaimana tidak, kanker itu benar-benar menggerogoti tubuhnya hingga Riko kehilangan 60% berat badannya.


"Kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, tapi hari ini adalah hadiah - itulah mengapa disebut 'masa kini'."


"Kita harus merangkul rasa sakit dan membakarnya sebagai bahan bakar untuk perjalanan kita." Ucap Vania sambil memeluk Riko.


"Jika saja, kamu mau mengungkapkan perasaanmu sendiri kepadaku, tanpa harus aku mendengarnya dari orang lain, mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di antara penderitaan yang sedang aku alami." Lirih Vania.


Riko menatap Bara yang terlihat berjalan ke arah mereka dengan membawa beberapa buah cemilan dan air minum di dalam kantong plastik.


Vania melepaskan pelukannya dan menatap Riko.


"Aku sudah tahu semuanya, jangan menyalahkan Bara hanya karena dia mengatakan bahwa kamu sebenarnya mencintai aku." Ucap Vania.


"Kenapa Riko?" Tanya Vania.


Bara kemudian datang dan ketika dia menyadari bahwa mereka berdua sedang membicarakan hal serius yang menyangkut tentang perasaan masing-masing, memilih untuk pergi setelah memberikan bungkusan itu kepada Vania.


Namun, Riko memegang tangan Bara. Seolah-olah Riko ingin marah kepada Bara karena menceritakan seluruh cerita yang pernah Riko ceritakan kepada nya.


"Tidak ada gunanya lagi terus memendam perasaanmu seorang diri. Lebih baik kamu segera mengungkapkan apa yang selama ini hanya bisa kamu pendam. Agar hidup kamu menjadi jauh lebih bahagia." Ucap Bara sebelum akhirnya dia melepaskan genggaman tangan Riko dan pergi meninggalkan mereka.


Sepeninggalan Bara...


"Riko, aku ingin mendengar nya darimu."

__ADS_1


Riko memutar kursi rodanya hingga duduk membelakangi Vania.


"Bagaimana bisa aku mengungkapkan perasaanku ketika aku mengetahui bahwa ada penyakit yang sedang menggerogoti tubuhku. Aku tidak ingin melihatmu menderita karena mencintai pria berpenyakitan seperti itu."Ucap Riko.


"Sayangnya, aku lebih menderita ketika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya tentang hati dan juga kondisi fisik kamu. Mendengar semuanya dari orang lain justru semakin membuat penderita." Ucap Vania.


"Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa rasa sakit, tawa tanpa kesedihan, atau matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari ini, penghiburan untuk air mata, dan terang untuk jalan." Ucap Vania lagi.


"Riko, tidakkah kamu tahu jika selama beberapa bulan ini Aku berusaha mencari informasi tentang kamu. Aku ingin kamu mengetahui bahwa aku sudah menjadi pribadi yang baru. Aku bukan lagi Vania yang lemah dan bisa ditindas. Namun, semua perubahan itu lenyap tak kala aku mendengar kabar darimu."


"Aku sakit saat mengetahui kenyataan bahwa kamu menyembunyikan penyakit ini dariku."


Riko berbalik dan melihat Vania sudah kembali menangis.


"Vania, maafkan Aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terluka. Aku hanya ingin agar kamu tidak terlalu memikirkan tentang aku. Jalan hidupmu sudah terlalu berat, Aku tidak ingin menambahnya dengan penyakit yang sedang aku derita."


"Kemarin sudah pergi, besok belum juga datang. Kita hanya punya hari ini, mari kita mulai." Ucap Vania sambil tersenyum.


Riko yang mengerti langsung mengeluarkan cincin yang selama ini dia pakai sebagai mainan kalung.


"Vania, aku tahu mungkin ini bukanlah momen yang pas dan sudah sangat terlambat. Tapi, maukah kamu menerima cintaku?"


Vania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka berdua saling berpelukan.


Jauh mata memandang, dua pasangan suami istri menangis bahagia melihat pemandangan itu.


Walaupun harapan bagi Riko untuk bisa sembuh melawan kanker otak yang sudah menyerangnya sangat lah tipis, tapi kedua orang tuanya berharap bahwa keajaiban bisa terjadi dan membuat Riko bisa sembuh.


Vania...


Kau adalah pelita di malam gelapku...


Kau adalah cahaya saat aku tersesat..


Kau seperti bintang di malam gelapku, yang selalu bercahaya menghiasi langit-langit gelap.


Vania...


Kehadiranmu, membuatku kembali memiliki semangat hidup walaupun persentase kesembuhanku sangat lah tipis.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2