Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 33 : Selamat tinggal


__ADS_3

Rasa menyesal karena sudah menyia-nyiakan Vania juga di rasakan oleh Erin.


Sejak pertemuan nya dengan Johnson, Erin mulai sadar jika seharusnya dia tidak terlalu meminta apa yang tidak seharusnya di minta seorang ibu kepada anaknya.


Erin mulai meninggalkan segala kebiasaan buruknya.


Seperti yang di harapkan Johnson, Erin mulai memperhatikan anak anaknya, terutama Naura dan Laudya.


Perubahan itu membuat Johnson merasa sangat bahagia. Erin sering diminta untuk menginap di rumahnya dan menemani kedua putrinya saat Johnson ada urusan ke luar negeri.


"Kenapa tidak dari dulu kamu menyadari kesalahan mu. Jika saja sejak dulu kamu menyadari kesalahanmu mungkin aku tidak akan menggugat cerai, sehingga kita juga tidak akan kehilangan Vania."


"Bener mas, sekarang aku minta kepadamu untuk mencari keberadaan Vania."


"Pasti. Aku pasti akan menemukan Vania dan membawa putri kita untuk kembali hidup bersama dengan kita."


"Apa maksud dari perkataan kamu, mas?"


"Aku berjanji setelah aku berhasil menemukan Vania, aku akan rujuk denganmu." Ucap Johnson.


Erin terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Benarkah itu?"


"Ya, sebelumnya kita adalah keluarga yang hebat. Rasanya tidak sama ketika kita berpisah kita juga memisahkan anak-anak."


"Aku juga akan membantu mencari keberadaan Vania. Aku ingin meminta maaf kepadanya atas semua perbuatan yang sudah aku lakukan."


Laudya dan Naura yang tidak sengaja mendengar bahwa kedua orang tuanya akan rujuk, tentu saja merasa sangat bahagia.


Mereka kemudian memutuskan untuk membantu kedua orang tuanya, dalam mencari Vania dan berniat untuk meminta maaf atas segala perlakuan buruk mereka kepada Vania.


Seperti yang dilakukan Angelina, Erin, Johnson dan juga kedua putrinya mencari keberadaan Vania.


Namun, hingga satu bulan berlalu. Tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukan keberadaan Vania. Atau mendapatkan informasi tentang Vania.


Bella disibukkan dengan bisnis mereka yang semakin hari semakin ramai.


Bella memutuskan untuk merekrut beberapa karyawan untuk membantunya selama Vania masih belum bisa pulang.


Vania Tentu saja tidak keberatan dengan gagasan yang dimiliki oleh Bella.


Kondisi Riko yang masih tidak memungkinkan untuk bisa pulang dari rumah sakit, membuat Vania harus berada di sana.


"Vania, terima kasih karena sudah mau datang dan melukiskan kebahagiaan di dalam sisa hidupku." Ucap Riko setelah dia selesai melakukan terapi dan sedang berada di taman rumah sakit bersama dengan Vania.


"Riko, kamu tidak seharusnya berterima kasih. Karena justru akulah yang harus berterima kasih, kamu sudah mau berbagi keindahan cinta bersama denganku."


"Aku sangat beruntung bisa mengenalmu dan merasakan kebahagiaan sebagai sepasang kekasih. Seandainya saja, Tuhan memberikan aku kesempatan kedua untuk memperpanjang usia ini."


"Riko..."


"Vania, berjanjilah kamu akan terus melanjutkan hidup dan mencari kebahagiaan yang sesungguhnya."

__ADS_1


"Riko. Jangan mengkhawatirkan tentang kebahagiaanku. Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kepadamu, aku sudah menemukan jalanku sendiri."


"Tidak, maksudku setelah ini kamu harus bisa lebih tegas dan melawan ketika ibu angkatmu terus saja menindasmu."


"Itu, aku sudah memikirkannya. Lagipula selama beberapa bulan lalu aku sudah tidak lagi mendengar tentang kabarnya." Ucap Vania


"Aku juga berharap kamu bisa menjaga diri agar kejadian saat kamu hampir dilecehkan tidak pernah lagi terjadi."


"Aku menyayangimu Vania, Aku berharap di kehidupan selanjutnya Tuhan akan menjadikan kita pasangan."


"Riko, kenapa kamu berkata seolah-olah kamu akan pergi meninggalkan aku?"


"Vania, mustahil bagi seseorang yang menderita kanker otak stadium akhir seperti ku bisa bertahan hidup lebih lama."


"Kamu harus percaya jika pertolongan tuhan itu nyata adanya."


"Selamat tinggal, Vania..."


"Riko, apa yang kamu bicarakan dan kemana kamu akan pergi?" Tanya Vania melihat Riko tiba-tiba bangkit dari kursi rodanya dan berjalan meninggalkan Vania.


"Riko??" Teriak Vania.


Vania mencoba mengajariku dan meraih tangannya. Namun Riko pergi dan memasuki sebuah pintu cahaya sehingga, Vania tidak dapat lagi meraih Riko.


"Riko...." teriak Vania.


"Vania, bangun?"


Vania langsung membuka mata dan dia melihat Mama Riko sedang mencoba untuk membangunkannya dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang kamu impikan nak?" tanya Mama Riko.


"Aku bermimpi bahwa besok akan pergi meninggalkan aku selamanya."


Mama Riko terdiam dan dia menundukkan kepala. Sikap itu tentu saja menimbulkan rasa curiga Vania.


"Ma, ada apa? kenapa mama merasa sedih?"


"Vania..."


"Ma, kita sudah siap untuk membawa jenazah Riko pulang." Ucap Papa yang tiba-tiba datang dan langsung memotong pembicaraan Mama.


Tidak, Papa langsung berbicara bahkan sebelum Mama sempat berbicara kepada Vania.


Deg !!


"Jenazah?" Lirih Vania


Pandangan Vania lalu memandang Mama dan Papa Riko secara bergantian.


"Hiks .. Hiks..."


Mama Riko yang tiba-tiba menangis membuat Vania semakin bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Vania, apa yang kamu impikan itu sebenarnya telah terjadi pada Riko."


"Apa maksud Mama?"


"Riko, Riko sudah meninggalkan kita untuk selamanya."


Flashback beberapa jam sebelumnya...


Vania dan kedua orang tua Riko panik saat mengetahui bahwa, kemoterapi yang sedang di jalan Riko gagal total.


Riko tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran saat sedang menjalani kemoterapi.


Riko segera di bawah ke ruang operasi untuk pindahkan selanjutnya. Namun takdir berkata lain. Riko pergi meninggalkan kehidupan setelah dia mendapatkan banyak kebahagiaan bersama dengan Vania.


Flashback off...


Vania segera turun dari tempat tidur nya dan berlari menuju ruangan Riko.


"Riko...." Air mata tidak dapat lagi tanya tahan saat melihat jenazah itu sudah berada di dalam peti.


"Hiks... Hiks... Riko. Kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini." Ucap Vania.


Mama yang juga ikut masuk ke dalam ruangan Riko, langsung menghampiri Vania dan memeluknya.


"Pesan terakhir dari Riko agar kamu mau tinggal bersama kami setelah ini." Ucap Mama.


Vania lagi-lagi teringat tentang percakapannya dengan Riko.


Saat itu, Riko pernah meminta Vania untuk tinggal bersama dengan kedua orang tuanya karena sebentar lagi Riko tidak akan bisa menemani mereka.


Vania hanya menanggapi itu sebuah lelucon, siapa sangka jika hal itu benar-benar terjadi hari ini.


Vania ikut pulang bersama dengan orang tua Riko dan menyaksikan proses pemakaman Riko.


Riko...


Kepergian kamu, mengingatkan aku bahwa ternyata aku masih sendirian di dunia ini...


Kamu dan aku melukis kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya...


Kamu yang memberikan aku kebahagiaan, kamu juga yang merampas kebahagiaan itu dari hidupku..


Maafkan aku Riko, aku tidak bisa memenuhi keinginan terakhirmu untuk tinggal bersama dengan kedua orang tua mu..


Biarlah aku tetap menjalani kehidupanku yang sendirian...


Walaupun kisah ini hanya cerita fiksi belaka, tapi terkadang kenyataan memang tidak seperti yang kita harapkan.


Tidak semua kita akan berakhir dengan bahagia, realitanya adalah kehidupan bahagia hanya ada dalam imajinasi dan harapan kita...


Aku mencintaimu, Riko.


Aku berharap impianmu benar-benar dikabulkan Tuhan, semoga kita akan dipersatukan dalam kehidupan selanjutnya.

__ADS_1


...-------------- End----------------...


__ADS_2