
Diah dan Melani sudah sampai di luar. Mereka berdiri di depan gedung kantor, menunggu kedatangan Deni. Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depan mereka. Toni, pengendara motor, membuka helmnya.
“Yuk, Mel, kuantar pulang?” ujarnya menawarkan diri.
“Melani mau pulang sama aku!” Diah yang menjawab dengan nada sewot.
“Kamu kan pulang sama pacarmu. Biar Melani pulang sama aku!”
“Dibilangi kok ngeyel. Melani itu mau pulang sama aku!”
“Alaah, itu kan mau kamu, tapi mau Melani mungkin lain…”
“Tidak, Ton. Aku mau pulang sama Diah!” tegas Melani.
“Tuh, kubilang apa. Sudah sana, kamu pulang gih!” dengus Diah.
Toni memandang Melani seksama, seakan tidak yakin dengan ucapan Melani. Tapi wajah serius gadis itu menciutkan hatinya.
“Baiklah, Mel. Saat ini kamu mungkin menolak aku. Tapi lain kali…,” Toni tak meneruskan kalimatnya.
“Hei, omong apa kamu? Sudah pergi sana!” usir Diah gerah.
Toni segera melesat pergi. Sementara Melani masih berdiri termangu. Hatinya tercekat mendengar ucapan Toni tadi. Nada bicara Toni mengandung ancaman. Melani jadi teringat dengan suara si pemerkosa yang selalu mengandung ancaman. Jangan-jangan…? Oh, perasaan Melani jadi gundah. Namun dia mencoba menepis pikirannya yang ngelantur ini.
Tiba-tiba mobil Deni sudah muncul. Wajah Diah berubah berseri.
“Ayo, Mel!” ujar Diah sambil menarik tangan Melani, tapi gadis itu masih berdiri terpaku di tempatnya.
“Lho, kok malah bengong?” tegurnya.
“E, iya, ya…!” Melani jadi gugup. Dia bergegas mengikuti langkah Diah menghampiri mobil Deni yang berhenti di depan mereka.
__ADS_1
Deni membukakan pintu untuk kedua gadis itu. Melani duduk di jok belakang, sementara Diah di depan dekat sopir. Setelah keduanya duduk manis, Deni kembali ke tempatnya di belakang setir.
“Sorry ya, aku agak terlambat. Habis jalanan macet,” kata Deni meminta maaf sambil melajukan mobilnya keluar dari halaman kantor.
“Tak apa-apa, Den. Yang penting kamu datang. Kalau kamu tak datang mungkin Melani sudah disambar si Toni brengsek itu!” ujar Diah.
“Memangnya kenapa kalau Melani diantar Toni? Dia kan cukup keren juga,” goda Deni sambil tersenyum penuh arti.
“Gayanya itu yang bikin kita sebel, Den. Mana orangnya suka bicara seenaknya. Iya, enggak, Mel?” sungut Diah sambil menoleh pada Melani.
Melai hanya tersenyum kecil. Dia tak menanggapi ucapan Diah.
“Hari ini Melani kok kelihatan lesu? Apa ada masalah?” cetus Deni sambil melirik Melani lewat kaca spion.
“Itulah, Den, aku tadi menelepon kamu agar menjemput kami karena ada sesuatu yang ingin kami bicarakan. Aku mau minta tolong kamu…,” ucap Diah menghentikan sebentar kalimatnya, karena tiba-tiba Melani mencolek pundaknya. Sepertinya Melani ingin mengingatkan sahabatnya itu untuk tidak menceritakan perihal kejadian yang menimpa dirinya. Diah pun mengangguk tanda mengerti.
“Minta tolong apa, Di?” tanya Deni penasaran.
“Memangnya ada apa, nih? Kok kelihatannya serius banget?”
“Ada seorang penelepon gelap yang meneror dan mengganggu Melani, Den. Melani takut orang itu akan berbuat jahat padanya. Makanya, dia butuh orang yang bisa melindunginya jika sewaktu-waktu datang bahaya. Karena Melani belum punya kekasih dan tidak punya saudara laki-laki yang bisa menjaganya, jadi aku ingin kamu yang menjaganya. Kamu tidak keberatan, kan?” tutur Diah menjelaskan.
“Kalau kamu tak bisa tak apa-apa, Den. Ini sebenarnya ide Diah. Aku tak ingin merepotkanmu,” sela Melani merasa tak enak hati.
“Aku tidak keberatan kok, Mel. Tapi omong-omong, kamu kenal tidak dengan orang yang meneror kamu itu?” tanya Deni dengan nada serius.
“Itulah masalahnya, kalau saja Melani bisa mengenali orangnya tentu dia tidak akan setakut ini. Tapi si penelepon gelap itu sangat pengecut. Dia cuma berani mengancam lewat telepon. Dia mungkin sejenis psikopat yang suka jahil mengganggu perempuan!” ujar Diah sambil mendengus kesal.
“Kenapa Melani tidak lapor polisi saja jika memang teror orang itu bisa membahayakan jiwanya?”
“E…,” Diah bingung untuk menjawab. Dia menoleh pada Melani, seakan meminta pertimbangan.
__ADS_1
Kali ini Melani sendiri yang menjawab. “Aku sudah lapor polisi, Den. Polisi berjanji akan menyelidiki kasus ini.”
“Tapi meski polisi akan menyelidikinya, Melani butuh perlindungan agar dirinya tidak sampai dicelakai penelepon gelap itu. Jadi selama penyelidikan polisi, Melani harus dijaga keselamatannya. Karena itu aku sangat mengharap bantuanmu untuk melindungi Melani, Den!” sambung Diah menegaskan.
“Dengan senang hati aku akan menjaga Melani!” sahut Deni mantap.
“Terima kasih, Den,” balas Melani lega dan bersyukur.
Diah tersenyum mendengar kesanggupan kekasihnya itu. Dia lalu menoleh pada Melani sambil mengedipkan matanya tanda puas.
Mobil yang ditumpangi Melani dan Diah sudah sampai di depan pintu masuk gang menuju ke rumah Melani. Sebelum Melani turun, Deni mendahului turun untuk membukakan pintu. Melani jadi jengah dan tidak enak. Apalagi Deni memegangi tangannya menuntunnya turun dari dalam mobil. Tindakan Deni itu membuat Melani jadi tersipu-sipu dan gugup. Cekalan tangan Deni mengingatkannya pada cekalan tangan si pemerkosa. Kuat dan erat. Jantung Melani berdebar kencang. Ada perasaan ngeri mencekam. Melani segera mengibaskan tangannya, menolak tangan Deni.
“E… maaf, Den,” ucap Melani setelah sadar dengan perbuatannya.
“Tak apa-apa, Mel…,” jawab Deni kalem.
Melani memandang Deni yang tubuhnya lebih tinggi darinya. Mata Deni yang lembut terasa menusuk ke dalam kalbunya. Melani buru-buru berpaling.
“Terima kasih, Den,” ucap Melani seraya menghampiri Diah di depan.
“Makasih ya, Di,” ucapnya kepada Diah.
“Hati-hati ya, Mel. Aku tidak bisa mampir. Salam buat ibu dan adik-adikmu,” kata Diah.
Melani hanya mengangguk. Dia lalu melambaikan tangannya kepada Diah dan Deni. Sementara Deni yang sudah duduk di belakang setir masih memandangi Melani. Dia baru tersadar ketika Diah menegurnya. “Ayo, Den. Kita pulang!”
Deni jadi gugup. Dia buru-buru menyalakan mesin mobilnya dan segera melaju kencang. Meninggalkan debu-debu yang beterbangan di belakang.
Melani baru saja usai mandi. Dia menyisir rambutnya di depan cermin. Dia bisa melihat bayangan dirinya yang terlihat kusut dengan balutan daster warna biru laut. Gurat kesedihan menghiasi wajahnya. Belakangan ini setiap kali memandang bayangan dirinya di depan cermin selalu ada sesuatu yang terasa mengiris ulu hati. Dia melihat sosok dirinya seperti bukan dirinya yang dulu. Kecantikan yang pernah dibanggakannya kini telah lenyap, berubah menjadi sosok yang layu dan pucat. Tak ada rona ceria dan bahagia yang mewarnai!
Melani hanya bisa mendesah dan menggigit bibir, perih. Bola matanya tampak berkaca-kaca, seakan hendak menumpahkan gemuruh magma yang menyesakkan dada. Tiba-tiba dia dikejutkan dering ringtone HP di atas meja. Jantungnya seperti digedor palu dengan kerasnya. Hatinya tercekam setiap kali mendengar bunyi nada HP. Karena dering itu mengingatkannya pada si penelepon gelap alias pelaku perkosaan. Untuk beberapa saat dia membiarkan dering itu mengalun tanpa ada keinginan mengangkatnya. Akhirnya, dering itu berhenti sendiri.
__ADS_1