
Melani tersadar dari lamunan oleh teguran Deni.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Mel?” tanya Deni kalem saat mobil yang disopirinya memasuki jalan besar.
“Baik, Den. Diah kok tidak ikut?” jawab Melani balik bertanya.
“Dia sudah kuantar lebih dulu ke kantor. Oh ya, wajah kamu kok kelihatan kusut? Apa semalam kamu kurang tidur? Apakah orang yang menerormu itu menelepon lagi?” tanya Deni lagi ingin tahu.
Melani menghela napas seraya mengangguk pelan. “Iya, Den. Dia masih terus menggangguku,” ucapnya sedih.
“Brengsek! Laki-laki ******** itu patut diberi pelajaran!” umpat Deni ikut kesal. “Omong-omong, kamu masih menyimpan nomernya?”
“Biasanya dia memakai nomer yang dirahasiakan. Tapi kemarin sore, dia menggunakan nomer yang belum kukenal. Sayang, nomernya terhapus waktu aku membanting HP karena sangat kesalnya!” jawab Melani lesu.
“Jam berapa dia menelepon?”
“Sekitar jam setengah tujuh petang…”
“Kamu tidak menanyakan dari mana dia menelepon atau memancing dia agar menunjukkan siapa dirinya sebenarnya?”
“Aku tak sempat menanyakan hal itu, Den. Pikiranku sangat kalut dan kacau. Tapi kukira dia juga tak akan mengaku siapa dirinya dan di mana tempatnya. Dia selalu berusaha menyembunyikan identitasnya. Dia sih, ngakunya orang kaya dan berkuasa. Tapi aku tak yakin dengan ucapannya!”
“Sebenarnya kalau kamu bisa memancing dia untuk menunjukkan identitasnya atau dari mana dia menelepon, mungkin bisa dilacak keberadaannya. Saat dia menelepon, kamu bisa minta bantuan orang di rumahmu untuk memanggil polisi atau menghubungi operator layanan seluler untuk melacak nomer bersangkutan.”
Melani diam tercenung. Gagasan Deni itu tak pernah terlintas dalam benaknya. Lagi pula di rumahnya tidak ada orang yang bisa diandalkannya. Tidak ada laki-laki yang bisa melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya. Doni, adiknya yang masih kelas 1 SMP, tak bisa berbuat banyak. Anak ini bahkan masih harus diurus dan dijaga, karena belum mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Ah, andai saja ayahnya masih ada, tentu segala masalah bisa diatasi. Ayahnya merupakan sosok pelindung dan pengayom keluarga.
Tapi sekarang, di saat Melani membutuhkan seseorang untuk melindungi dan menjaga dirinya, orang tua itu telah tiada. Hati Melani semakin terkoyak perih mengingat semua ini. Dia menyesali kepergian ayahnya yang begitu cepat. Dia tak mengerti, kenapa Tuhan memberikan cobaan dan ujian seberat ini. Kenapa nasibnya seburuk ini menanggung beban aib yang tidak ringan. Apa salah dan dosaku? Jeritnya dalam hati menangis.
“Kok diam, Mel?” tegur Deni membuyarkan lamunan Melani.
“Ah, tidak, Den. Aku hanya sedang berpikir, kenapa hal itu tidak kulakukan. Tapi rasanya juga sulit melacak keberadaan si penelepon gelap itu. Polisi saja mengaku tidak mampu melacak telepon yang datang dari HP, karena harus melalui perangkat canggih!” ujar Melani.
“Jadi kamu membiarkan laki-laki ******** itu terus mengganggumu lewat telepon?”
“Aku bingung, apa yang harus kulakukan…”
__ADS_1
“Sebaiknya kamu mengganti kartu teleponmu, Mel. Dengan begitu laki-laki brengsek itu tak mengganggumu lagi.”
“Aku tadinya juga berpikir begitu, Den. Tapi kalau aku ganti nomer nanti bagaimana dengan para kerabat dan rekan-rekan yang sudah kenal nomerku? Aku mesti memberitahu mereka satu persatu. Aku juga sangsi apakah hal ini efektif. Siapa tahu, penelepon iseng itu adalah orang yang pernah kukenal. Dia nanti bisa tahu nomer baruku!”
“Ya, nanti yang diberitahu orang-orang dekat dulu.”
Melani diam tercenung. Dia akhirnya mengangguk, menyetujui gagasan Deni. Memang tak ada jalan lain menghindari teror si penelepon gelap itu selain mengganti nomer telepon.
“Baiklah, Den. Nanti aku akan ganti kartu teleponku,” kata Melani.
“Kalau kamu mau, nanti aku carikan kartu perdana.”
“Terima kasih, Den.”
Deni tersenyum kecil.
Tanpa sadar mereka telah sampai di tujuan. Melani turun dari mobil Deni yang berhenti di halaman gedung kantor. Deni tidak ikut turun, karena dia akan langsung pergi ke kantornya sendiri. Melani mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan. Setelah bayangan mobil Deni keluar dari halaman, Melani bergegas memasuki gedung kantor tempatnya bekerja. Diah yang sudah lebih dulu tiba di kantor menyambut Melani dengan wajah ceria.
“Bagaimana keadaanmu, Mel?”
“Dasar ********! Semoga polisi bisa cepat mengungkap identitasnya. Kalau sampai dia tertangkap, aku ingin sekali mencakar wajahnya dengan parutan kelapa!” desis Diah dengan nada geregetan saking geramnya.
“Sudahlah, Di. Kenapa kamu yang sewot? Tadi aku sudah bicara sama Deni. Dia memberi saran agar aku mengganti nomer ponselku, biar orang itu tidak menggangguku lagi lewat telepon!” ujar Melani.
“Itu ide yang bagus, Mel. Tapi nanti kalau sudah ganti nomer, kamu jangan beritahu orang-orang tentang nomer barumu. Biar orang-orang dekat saja yang tahu!”
“Ya, Di! Aku juga berpikir begitu…”
“Oke, deh, Mel. Kamu tak perlu pikirkan soal penelepon gelap itu. Yang penting sekarang konsentrasi pada pekerjaan!”
“Ya, Di. Terima kasih atas support kamu dan Deni!”
Diah hanya mengangguk. Mereka lalu kembali ke mejanya masing-masing dan mulai bekerja. Melani mencoba melupakan sesaat kemelut hidupnya. Matanya konsentrasi pada layar komputer.
Melani sedang mengerjakan tugas yang diberikan Pak Tejo ke dalam komputer. Tiba-tiba ponselnya menyala. Melani tercekat. Ditengoknya layar ponsel, tidak tertera nomer pemanggil alias nomer dirahasiakan. Jantung Melani berdebar. Dia menoleh pada Diah yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Orang itu lagi, Di,” ucap Melani gemetar.
“Coba kamu angkat dulu, Mel. Kalau memang dia yang menelepon biar aku yang menanggapi. Aku ingin dengar, seperti apa suaranya!” ujar Diah.
Melani mengangguk. Dengan tangan gemetar dia lalu mengangkat ponselnya yang ada di atas meja. Dia memencet tombol jawab. “Halo…?” sapanya lirih.
“Halo, Manis. Kenapa semalam kamu marah-marah? Apa kamu tidak suka kita ngobrol…?”
Melani segera memberikan ponselnya pada Diah. Dengan memasang wajah garang, Diah lalu menanggapi ucapan orang di seberang. “Hei, kamu jangan mengganggu temanku ini lagi, laki-laki ********! Kamu itu tak lebih dari laki-laki pengecut! Tikus comberan! Buaya darat yang sepantasnya mendekam di penjara!” semprotnya berapi-api.
“Hei, siapa ini…?” cetus orang itu kaget.
“Kamu tak perlu tahu, siapa aku! Yang jelas kamu laki-laki brengsek yang tidak punya nyali dan hidup seperti kodok dalam tempurung. Kalau kamu jantan, tunjukkan siapa diri kamu sebenarnya! Ayo, hadapi aku kalau berani! Halo…? Halooo…?” Diah mendengus keras sembari meletakkan kembali HP Melani.
“Bagaimana, Di?” tanya Melani.
“Dia keburu mematikan telepon.”
“Dia bicara apa saja?”
“Tidak banyak. Dia hanya bertanya siapa aku. Tapi kelihatannya dia sangat kaget. Rasa-rasanya aku pernah mengenal suaranya, tapi siapa ya…?” Diah mengerutkan kedua alisnya, mengingat-ingat sesuatu.
“Itulah yang membuatku penasaran, Di. Rasanya aku juga pernah mengenal suaranya, tapi aku tak yakin apakah dugaanku benar. Lagi pula yang namanya suara kan bisa dibuat-buat,” sahut Melani.
“Kamu tak usah pedulikan orang brengsek itu lagi, Mel. Mudah-mudahan dia tidak mengganggumu lagi. Jika dia masih menelepon, aku yang akan melayaninya!” tandas Diah.
Belum selesai Diah bicara, tiba-tiba ponsel Melani kembali berdering. Diah langsung menyambarnya. Dia melihat pada layar ponsel, ternyata sebuah SMS masuk.
“Ada sms, Mel. Coba buka, mungkin bukan dari dia,” kata Diah seraya menyodorkan ponsel itu kepada Melani.
Sejenak Melani membuka SMS yang masuk. Wajahnya berubah pias. Dia lalu memperlihatkan SMS itu pada Diah. Dalam pesan singkat itu tertulis: Jangan libatkan orang lain. Ini antara kita berdua. Singkirkan perempuan brengsek itu!. Tidak tertera nomer si pengirim, melainkan nomer mailbox. Tapi sudah jelas orang itu yang mengirimnya.
“Bagaimana ini, Di? Apakah kita perlu balas sms-nya?” cetus Melani.
“Sebaiknya tidak usah, Mel. Tapi sms itu jangan kamu hapus. Nanti bisa dijadikan bukti untuk laporan ke polisi. Biar polisi yakin bahwa kamu benar-benar diteror!” pinta Diah.
__ADS_1
Melani mengangguk.