Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Harapan Semu Diah


__ADS_3

Pagi itu Deni kembali menjemput Melani di rumahnya. Tapi kali ini Melani menolak untuk diantar oleh Deni. Dia melangkah tergesa-gesa menjauhi Deni. Laki-laki itu berusaha mengejarnya. Deni berhasil mencegat Melani di tengah jalan.


“Maafkan atas kata-kataku kemarin, Mel. Tapi sungguh, aku tak bermaksud melukai hatimu. Aku hanya ingin bersikap jujur,” kata Deni.


“Kamu telah menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan Diah! Aku benci sama kamu, Den!” dengus Melani tajam.


“Kamu boleh tidak suka dengan kejujuranku, Mel. Tapi aku harus bagaimana lagi? Aku juga tak mungkin terus bersembunyi dari hal ini. Aku tak bisa terus menerus bersandiwara di hadapan Diah. Karena itu aku sengaja membuat pengakuan di hadapanmu, karena kamu adalah sahabat dekat Diah. Mungkin kamu bisa memberi pengertian pada Diah.”


“Bagaimana aku bisa memberi pengertian pada Diah kalau ternyata yang menjadi penyebab berpalingnya hatimu adalah aku? Tidak, Den. Aku tak mau menciptakan permusuhan dengan Diah. Lagi pula aku juga tak pernah mencintaimu. Lebih baik kamu singkirkan saja pikiran gila itu. Kembalilah pada Diah sebelum segalanya terlambat. Aku tak akan pernah bisa memaafkanmu jika sampai menghancurkan hidup Diah!” tegas Melani.


Deni diam tercenung. Dia menghela napas berat. “Baiklah, Mel. Aku bersedia kembali pada Diah. Aku tak akan mengkhianatinya. Tapi janganlah kamu terus membenciku. Aku tak mau kamu menghindar dariku. Ayolah, kuantar kamu sampai ke kantor. Kalau kamu berangkat sendiri, Diah nanti malah jadi curiga dan berpikiran yang bukan-bukan. Apakah kamu ingin aku berkata langsung pada Diah tentang perasaanku yang sebenarnya…?” ucapnya.


Melani terpekur sejenak. Dia sedikit merasa lega mendengar pernyataan Deni yang berjanji tak akan berpaling dari Diah. Tapi dengan permintaan Deni agar dirinya tak menjauh dari laki-laki itu membuat hati Melani berat. Dia sudah memutuskan tidak akan lagi berhubungan dengan Deni. Tapi mungkin benar kata Deni, jika dirinya tiba-tiba menjauhi Deni tentu Diah akan menaruh curiga dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Dia tahu sifat sahabatnya itu yang agak cerewet dan pandai membaca situasi. Melani tak ingin Diah tahu tentang hal sebenarnya. Jadi mau tak mau Melani menuruti permintaan Deni.


Tapi Melani berjanji dalam hati bahwa kesediaannya ini bukan berarti dirinya memberi kesempatan pada Deni. Biar bagaimana Melani tidak akan pernah memberi ruang dalam hatinya untuk Deni. Dia sudah tekadkan tidak akan menerima Deni. Dia membenci Deni. Dan ini tak bisa diubah lagi!


Deni tampak gembira ketika Melani mengangguk setuju untuk diantar ke kantor. Dia segera membukakan pintu mobil untuk Melani. Dengan wajah kusut dan masih diliputi rasa sebel, Melani naik ke dalam mobil Deni. Dia menolak duduk di depan. Deni tak bisa memaksa. Selama dalam perjalanan pun Melani menolak diajak ngobrol. Dia membisu dan melengoskan wajahnya jika Deni menoleh ke arahnya. Deni sadar juga kalau dirinya tidak dipedulikan lagi oleh Melani. Dia hanya bisa menghela napas berat.

__ADS_1


Sesampai di kantor Melani disambut Diah dengan wajah ceria. “Bagaimana, Mel? Kamu sudah ganti nomer HP yang baru?” tanya Diah dengan bersemangat.


“Sudah, Di,” jawab Melani pendek saja seraya menunjukkan ponselnya.


“Kamu sudah tidak diganggu lagi sama tukang teror itu, kan?”


Melani menggeleng. Diah mengernyitkan dahinya. Dia memandang Melani seksama.


“Kamu kenapa, Mel? Kok wajah kamu kusut begitu? Deni tadi tidak mengantarmu?” tanya Diah mengungkapkan keheranannya karena sejak masuk tadi wajah Melani terlihat muram.


“Tidak apa-apa, Di. Deni tadi yang mengantarku,” jawab Melani mencoba menepis kecurigaan temannya.


“Swear, Di. Tidak ada apa-apa,” tukas Melani jadi tak enak.


Diah mengangkat bahunya. Dia lalu kembali ke bangkunya sendiri. Meski Melani mengatakan tidak ada masalah apa-apa, tapi Diah tahu pasti ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu. Diah hapal dengan sifat Melani. Jika Melani sudah tak tahan menanggung beban masalah, biasanya dia akan curhat sendiri nanti. Dan Diah akan menunggu Melani mengungkapkan masalah yang dipendamnya.


Sementara itu di bangkunya Melani diliputi rasa gelisah dan tidak tenang. Sejak masuk ke dalam ruangan ini dan melihat Diah, ada perasaan kelu menusuk batin Melani. Rasanya dia tak sanggup berhadapan dengan Diah. Percakapannya dengan Deni kemarin menimbulkan seribu kegalauan dan kebimbangan dalam hatinya. Haruskah aku mengatakan hal sebenarnya pada Diah? Bisakah Diah menerima kenyataan yang amat pahit ini? Bilakah Diah bisa mengerti bahwa aku bukanlah penyebab berubahnya hati Deni? Kata hati Melani diliputi kegundahan. Sementara di sisi lain Melani tak sanggup menghancurkan hati sahabatnya.

__ADS_1


Janji Deni mau kembali pada Diah tidak sepenuhnya dipercayai Melani. Dia tak yakin Deni benar-benar akan mencintai Diah sepenuh hati. Pengakuan Deni sebelumnya yang mengatakan bahwa dia sudah tidak mencintai Diah cukup sebagai bukti ketidakseriusan Deni. Janji yang diucapkannya itu hanya sekadar untuk menenangkan hati Melani saja. Melani justru kasihan pada Diah jika membiarkannya terus dibohongi dan dibodohi. Diah akan dibuat menderita karena mencintai laki-laki yang sebenarnya tidak mencintainya. Diah tidak akan meraih kebahagiaan sejati seperti yang didambakannya!


Oh, Melani jadi pusing sendiri memikirkan hal ini. Dia mencoba menghalau kemelut yang memenati dadanya. Dia tak mau konsentrasinya dalam bekerja jadi terganggu gara-gara masalah ini. Untuk sementara dia akan mengendapkan masalah ini dulu. Melani mencurahkan perhatiannya pada tugas-tugas yang belum diselesaikannya. Melani jadi lega bisa menjalani semuanya dengan lancar, karena penelepon gelap itu juga tak mengganggunya lagi lewat telepon maupun kiriman SMS. Dia bisa bekerja dengan tenang tanpa diganggu oleh teror. Mungkin ini berkat nomer ponselnya yang baru.


Saat makan siang di kantin Melani tak banyak bicara. Padahal di hadapannya Diah sudah nyerocos memancingnya untuk bicara. Kali ini Melani memang tidak antusias untuk ngobrol dengan Diah. Bukannya apa, Melani merasa serba salah. Dia takut kelepasan bicara. Diah tak akan pernah membiarkannya menyembunyikan rahasia dalam hatinya. Dia akan terus mencecar dengan berbagai pertanyaan yang memojokkan. Tapi Melani tetap bersikukuh tak akan membuka rahasia ini. Dia tak ingin menghancurkan hati Diah!


Tapi hati Melani tak tahan juga ketika Diah tiba-tiba menyinggung soal Deni. Perasaannya gerah mendengar ungkapan hati Diah yang begitu memuja dan menyanjung Deni. Diah terlalu yakin bahwa Deni adalah laki-laki pilihan hatinya. Dia mengungkapkan rencana-rencana indah yang bakal dijalaninya bersama Deni. Jiwa Diah benar-benar telah mabuk dan dibuat melambung oleh Deni. Tak disadarinya bila laki-laki yang dipuja dan dicintainya ternyata hanya seorang buaya, pengkhianat kelas wahid! Oh, hati Melani dibuat kecut tak karuan.


“… pokoknya nanti setelah menikah kami akan berbulan madu ke beberapa tempat romantis di Indonesia. Kami akan ke Bali, Lombok, Danau Toba, dan yang lainnya. Kami akan menikmati indahnya pantai Kuta. Uh, pokoknya asyik deh!” seru Diah dilambung angan-angannya.


Melani tersenyum getir mendengarnya. Ia mendesah panjang.


“Jangan muluk-muluk, Di. Nanti kalau tidak jadi kamu akan kecewa berat dan frustrasi,” kata Melani spontan.


“Tidak jadi bagaimana maksudmu? Tidak jadi bulan madunya atau menikahnya?” tukas Diah senewen.


“Ya, dua-duanya. Bulan madu ke berbagai tempat wisata itu kan tidak sedikit biayanya, Di. Apa Deni mau? Lagian, belum menikah saja kamu sudah mengkhayal yang bukan-bukan. Sebelum merencanakan bulan madu, kalian mesti merencanakan dulu pernikahan. Urusan nikah saja belum diputuskan sudah mikir yang lain…” cetus Melani setengah menyindir.

__ADS_1


Diah tertegun. Rona keceriaan di wajahnya seketika memudar. Ucapan Melani ada benarnya. Urusan menikah saja belum diputuskan kenapa sudah memikirkan soal bulan madu? Diah membodohkan dirinya sendiri.


__ADS_2