Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Diteror Sang Pemerkosa


__ADS_3

Hari ini Melani banyak menghabiskan waktunya di atas tempat tidur. Dia enggan untuk keluar dari kamar, meski keadaannya berangsur mulai membaik setelah meminum obat yang dibelikan ibunya. Selama Melani berbaring sakit, Bu Marni yang melayani putrinya. Beliau membuatkannya teh hangat dan menyuapinya bubur ayam. Melani sebenarnya tak berselera untuk makan, tapi ibunya membujuk agar dia menelan makanannya. Dia tak mau Melani tambah sakit kalau tidak mau makan. Akhirnya Melani mau makan juga, meski makanan yang ditelannya terasa pahit.


Siang itu, saat Melani sedang berbaring santai di pembaringan sambil membaca majalah, tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampingnya berdering. Melani mengira yang menelepon Diah. Dia segera mengangkatnya.


“Halo…?”


“Halo, manis. Bagaimana kabarmu? Semalam enak, kan?”


Deg! Jantung Melani serasa digedor palu dengan kerasnya. Suara itu seperti dikenalnya. Suara laki-laki dengan intonasi berat dan dalam. Laki-laki yang semalam telah menghancurkan hidupnya!


“Bajingan! *******! Kamu iblis!” umpat Melani melengking tajam.


Dia kemudian mematikan HP-nya saking kesalnya. Nafasnya terdengar memburu seperti dipompa mesin genset. Jantungnya seperti hendak meledak karena menahan rasa marah, gusar, benci, dan sakit hati. Dia lalu melampiaskan kemarahannya dengan memukul-mukul bantal. Tiba-tiba Melani tersadar, dari mana laki-laki ******** itu mengetahui nomer ponselnya? Jangan-jangan dia orang yang pernah kukenal? Dia…? Melani tak meneruskan dugaannya. Dia segera memeriksa daftar panggilan di ponselnya. Dia ingin mengetahui nomer orang yang meneleponnya tadi. Tapi sayang, ternyata nomer itu dirahasiakan!


Melani jadi tambah kesal. Dia kembali membanting handphonenya di kasur. Gerahamnya mengatup. Tiba-tiba nada ringtone handphonenya kembali berdering. Melani sampai terlonjak kaget. Jantungnya jadi berdebar-debar. Dengan tangan gemetar dia meraih ponsel yang masih terus berbunyi. Melani menatap layar ponsel, tidak tertera nama pemanggil. Yang muncul adalah nomer dirahasiakan. Melani ragu-ragu untuk menjawabnya. Tapi akhirnya, dia memencet juga tombol; jawab. Dia lalu menempelkan pada telinganya.


“Halo, Sayang…? Kenapa kamu marah? Apakah kamu tidak puas dengan yang kita nikmati semalam?” Suara pemerkosa itu kembali terdengar menusuk gendang telinga Melani.


“Kenapa kamu melakukan itu padaku? Apa salahku? Kamu telah menghancurkan hidupku! Kamu telah… oh, kamu kejam! Biadab!” Melani tak mampu melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba dadanya menjadi sesak. Air matanya yang kemudian membanjir membasahi pipi.


“Kamu tak perlu tahu apa salahmu. Yang pasti keinginanku untuk bercinta denganmu kesampaian. Oh ya, aku cuma ingin memperingatkan jangan pernah menceritakan kejadian semalam kepada siapa pun, apalagi pada polisi. Aku tak segan berbuat lebih kejam lagi. Aku akan selalu mengikuti dan mengawasimu. Ingat itu!” desisnya mengancam.

__ADS_1


“Jahanam! Kamu memang iblis! Aku benci kamu!” lengking Melani seraya memencet tombol akhiri. Dia tidak mau lagi bicara dengan orang yang telah merusak kehormatannya. Melani lalu meng-offkan HP-nya.


Dia menangis tersedu-sedu sambil menekuk kedua lututnya. Sungguh, hatinya tak kuat lagi menahan gempuran yang bertubi-tubi mengguncang dadanya. Telepon dari si pemerkosa bagai teror yang menghantui hidupnya. Melani tak habis mengerti, dari mana si pemerkosa tahu nomer teleponnya? Benarkah dia orang yang pernah dikenalnya? Karena tidak ada orang yang tahu nomer HP-nya kecuali teman-teman dekat dan para kerabat. Tapi mereka tak mungkin berbuat jahat kepadanya. Melani diliputi tanda tanya besar tentang dari mana si pemerkosa mendapatkan nomer HP-nya. Pikirannya juga terus menebak-nebak kemungkinan siapa jati diri si pemerkosa!


Menilik dari suaranya, Melani merasa pernah mengenalnya. Tapi hatinya masih ragu-ragu. Yang namanya suara bisa saja dibuat-buat dan disamarkan. Namun Melani masih bisa mengenali sosoknya yang tinggi ramping meski dalam kegelapan. Orang itu sangat mirip dengan Frans, Rico, atau Toni. Ketiganya sama-sama berbadan tinggi ramping. Melani cenderung mencurigai ketiganya karena hanya mereka yang selama ini menaruh perhatian padanya. Bahkan Toni pernah terang-terangan menyatakan cinta tapi kemudian ditolaknya.


Atau bisa juga kemungkinan pelakunya orang luar atau orang suruhan! Mungkin ada orang yang sengaja ingin menjatuhkannya dan merusak nama baiknya. Dia lalu mengambil jalan keji dengan menyuruh orang lain untuk menghancurkan hidup Melani. Jika ini yang terjadi, maka Melani mencurigai dua rekannya yang selama ini sering memusuhinya, yakni Ida dan Tuti. Kedua wanita itu kerap menunjukkan sikap tidak simpatik pada dirinya. Namun Melani mencoba menepis semua kecurigaan ini. Jika belum ada bukti kebenaran yang pasti, dia tak bisa begitu saja menjatuhkan tuduhan!


Melani tak ingin terjebak pada pikiran picik yang hanya berdasar pada kecurigaan dan asumsi belaka. Melani tak mau dipengaruhi oleh bayang-bayang semu yang bermain dalam benaknya. Jika pikiran ini terus dipeliharanya dan sampai mencuat keluar justru akan membuat hidupnya jadi tidak tenang. Dia akan terus dibayangi kecurigaan pada orang-orang di sekeliling. Matanya akan terus mengawasi gerak-gerik orang di sekitarnya. Hal ini bisa mempengaruhi konsentrasinya dalam bekerja. Melani tak mau hidupnya terganggu. Dia lalu mencoba menekan perasaan liar yang membayangi hatinya!


“Melani!” Tiba-tiba terdengar suara ibunya di luar membuyarkan lamunannya.


“Ya, Bu. Ada apa?” balas Melani sambil buru-buru menghapus air mata yang masih membekas di pipi.


Diah? Mau apa dia ke sini? Batin Melani gundah.


“Suruh dia ke sini, Bu!” pinta Melani tanpa beranjak dari pembaringan.


Tak lama kemudian pintu dibuka dari luar. Bu Marni dan Diah muncul di pintu. Diah langsung menghampiri tempat berbaring Melani, sementara Bu Marni pergi ke belakang. Beliau memberi kesempatan Melani ngobrol berdua saja dengan sahabatnya. Diah menatap Melani dengan sorot mata prihatin.


“Ya, ampun, Mel. Apa yang terjadi padamu. Kenapa wajahmu sampai pucat begitu? Kamu sakit apa?” cerocos Diah seperti biasa seperti nenek-nenek.

__ADS_1


“Tidak sakit apa-apa, Di. Cuma masuk angin biasa,” jawab Melani kalem.


“Tapi keadaanmu seperti orang yang baru keluar dari ruang operasi. Ayo, dong, Mel. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”


Melani menundukkan muka sambil menggigit bibirnya, menahan kepedihan yang tiba-tiba menusuk ulu hati. Seperti halnya Bu Marni, Diah tampaknya juga bisa membaca sesuatu telah terjadi pada dirinya. Tapi Melani tetap bersikukuh tidak akan membuka persoalan yang sedang menghimpit dirinya. Dia tidak akan menceritakan aibnya. Sambil mengibaskan tangan Melani kemudian menepis kata-kata Diah.


“Jangan kayak polisi gitu dong, Di. Sudah kubilang aku cuma sakit biasa. Tidak ada yang perlu diceritakan!” tegas Melani.


“Ya, aku sangat khawatir saja, Mel. Soalnya tadi waktu aku menelepon kamu, kok hp-mu tidak aktif. Aku mengira kalau sakitmu bertambah parah dan dibawa ke rumah sakit. Makanya, begitu break makan siang aku buru-buru ke sini ingin tahu keadaanmu,” kata Diah menuturkan alasannya datang ke sini.


“Terima kasih atas perhatianmu, Di. Aku tadi sengaja mematikan hp-ku karena karena tak ingin diganggu. Aku cuma ingin istirahat,” jawab Melani beralasan. “Oh ya, omong-omong berkas di laci mejaku sudah diserahkan kepada Pak Tejo?” ujar Melani kemudian mengalihkan pembicaraan.


“Sudah! Semua tugas kamu sudah aku handle. Semuanya beres!”


“Makasih, Di. Kamu memang sahabat yang baik!”


“Sama-sama, Mel. Semoga kamu lekas sembuh dan besok bisa masuk kerja lagi!”


“Kayaknya besok aku belum bisa masuk kantor, Di…”


“Kenapa? Apakah sakit yang kamu rasakan begitu berat? Ibu kamu tadi bilang kamu hanya minum obat yang dibeli di warung. Berarti kamu tadi belum periksa ke dokter. Kenapa kamu bohongi aku, Mel? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Jika sekiranya sakit yang kamu rasakan begitu berat, kenapa tidak periksa ke dokter? Jangan menyepelekan sakit, Mel. Ingat, kalau sampai tiga hari kamu tidak masuk kerja tanpa keterangan yang jelas, terutama keterangan sakit dari dokter, maka kamu bisa kena SP yang ujungnya kamu bisa di-PHK!” ujar Diah tak bermaksud menakut-nakuti.

__ADS_1


Melani mendesah panjang sambil membuang pandangannya jauh. Dalam hati ada gemuruh hebat yang membuncahkan kebimbangan. Rasanya dia tak kuat menanggung beban derita ini sendirian. Dia ingin berbagi dengan orang lain. Selama ini Diah merupakan orang terdekat yang biasa menjadi tempat curhat sekaligus orang yang sangat dipercayainya. Kepada Diah-lah Melani biasa berbagi suka dan duka. Mereka juga sering saling membantu dalam berbagai hal. Namun untuk masalah yang satu ini Melani merasa berat untuk mengungkapkannya. Dia merasa malu dan takut jika aibnya nanti bocor ke mana-mana.


__ADS_2