
Menurut kesaksian dokter ahli kejiwaan yang merawat Melani sesungguhnya Melani masih dalam proses pengobatan dan terapi. Ditinjau dari segi fisik Melani memang cukup sehat, namun dari segi psikis dia masih belum sembuh benar. Dia mengalami gejala sakit kejiwaan yang disebut shcizoprenia. Penyakit kejiwaan ini merupakan salah satu gangguan jiwa yang cukup akut. Gejalanya biasanya ditandai dengan disorientasi pikiran dan perasaan pada diri penderita. Mereka sering mengalami halusinasi.
“Shcizoprenia bukan merupakan penyakit jiwa bawaan atau keturunan. Penyakit ini bisa menimpa siapa saja yang tadinya sehat dan normal. Pencetus shcizoprenia bermacam-macam mulai dari stress, shock, depresi, frustrasi, sampai pada trauma terhadap kejadian buruk yang pernah dialaminya. Shcizoprenia bisa berlangsung permanent, artinya sulit disembuhkan. Upaya penyembuhan juga berlangsung lama dengan metode terapi dan obat-obatan. Biasanya hasilnya pun tidak seratus persen. Pengidap shcizoprenia yang dinyatakan sembuh bisa saja tiba-tiba kambuh lagi, bergantung pada situasi, lingkungan, dan pergaulan sosial. Mengingat bahwa penderita shcizoprenia tidak bisa berpikir lagi secara rasional, maka segala perbuatan dan tindakannya tidak bisa dipertanggungjawab-kan secara hukum,” tutur dokter Riswan.
Penjelasan yang diberikan oleh dokter ahli jiwa itu cukup menentramkan hati keluarga Melani, karena masih ada peluang untuk membebaskan Melani dari segala tuduhan. Meski perasaan mereka juga sedih dan getir mengetahui bahwa Melani mengidap shcizoprenia. Mereka tak pernah membayangkan Melani akan menghadapi kenyataan sepahit ini. Begitu berat penderitaan yang dialaminya. Terlebih bila nanti ditambah dengan kenyataan dia harus mendekam dalam penjara untuk waktu lama!
Sementara itu masih ada satu saksi kunci yang sangat menentukan, yakni kesaksian Diah. Karena diantara semua saksi yang dihadirkan, Diah merupakan saksi pertama yang melihat langsung kejadian itu dan paling tahu persoalan sebenarnya. Ada perasaan pesimis dalam hati Melani ketika nama Diah dipanggil untuk masuk ke dalam ruang sidang. Ia tak tahu, apa yang akan dikatakan Diah dalam persidangan nanti. Mengingat Deni pernah menjadi kekasih dan tunangan Diah, maka boleh jadi wanita itu akan memberikan keterangan yang sangat memberatkan Melani. Dia mungkin sangat kecewa dan marah pada Melani. Dia tidak bisa memaafkan perbuatan Melani!
Memikirkan hal ini perasaan Melani jadi kelu sendiri. Dia hanya bisa pasrah dan menyerahkan nasibnya pada Tuhan!
Ketika sosok Diah muncul di ruang persidangan, Melani menundukkan kepalanya. Dia tak berani menatap sahabatnya itu. Dia menggigit kedua bibirnya menahan rasa perih. Diah duduk di kursi yang berhadapan dengan majelis hakim, sementara Melani duduk dekat meja pengacara. Sejenak Diah mengatur sikap duduknya. Wajahnya tampak dingin. Semua mata tertuju kepadanya. Sebelum memberikan kesaksian Diah disumpah terlebih dulu sesuai dengan keyakinannya. Hakim ketua lalu memberikan kesempatan pada Diah mengemukakan kesaksiannya. Sejenak Diah menarik napas dalam sebelum menyampaikan rangkaian kata-kata yang telah disusunnya.
“Melani adalah sahabat karib saya…,” ucap Diah mula-mula. “Kami menjalin persahabatan sejak dia masuk ke dalam perusahaan tempat saya bekerja, tepatnya setahun lalu. Ketika saya mengenal Melani, saat itu saya sudah berpacaran dengan Deni, bahkan sudah bertunangan. Hubungan saya dengan Deni tadinya berjalan lancar dan baik-baik saja. Kami tak pernah menghadapi masalah. Melani saya perkenalkan pada Deni. Kepada saya Melani pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap Deni. Dia sampai berangan-angan ingin memiliki kekasih seperti Deni. Saya pun tidak curiga kalau Melani berniat merebut Deni dari tangan saya. Melani pernah bilang kalau dia hanya menganggap Deni sebatas sahabat. Saya pun membiarkan Melani dekat dengan Deni. Apalagi kemudian Melani mengalami kejadian buruk diperkosa dan diteror oleh orang tak dikenal. Saya meminta Deni untuk menjaga Melani….”
Sejenak Diah berhenti, menarik nafas dalam, sebelum kemudian melanjutkan kesaksiannya.
“Tapi saya tak menyangka kalau kedekatan Melani dan Deni justru menjadi bumerang buat saya. Deni menyatakan kepada saya kalau dia lebih mencintai Melani. Hati saya sakit bukan main mendengar pengakuannya. Saya jadi marah dan kecewa pada Melani. Saya menganggapnya pengkhianat!” Diah kembali menghentikan penuturannya.
Semua yang ada di dalam ruangan terdiam menahan napas. Mereka tampak tegang dan menunggu dengan perasaan berdebar-debar kelanjutan kalimat Diah. Sementara di tempatnya Melani hanya bisa meneteskan air mata. Perasaannya tercabik-cabik saat mendengar ungkapan Diah yang terkesan memojokkan dirinya. Diah mengungkapkan rasa kecewa dan kemarahan padanya. Melani sangat menyesal telah menyakiti hati sahabat karibnya itu.
__ADS_1
Diah kembali melanjutkan penuturannya.
“Ketika saya menanyakan pada Melani tentang pengakuan Deni itu, dia bilang tidak pernah mencintai Deni. Dia hanya menganggap Deni sebatas teman. Deni yang sengaja mendekati dan merayunya. Tapi saya yang sudah terlanjur kecewa pada Melani tak percaya dengan ucapannya. Keegoisan dan prasangka buruk telah menutupi mata hati saya dari kebenaran. Saya tidak bisa bersikap dewasa dalam menyikapi keadaan ini. Saya baru menyesali sikap konyol saya ini ketika Melani harus mengalami peristiwa tragis untuk kedua kali. Dia diperkosa oleh orang yang menerornya. Hati saya jadi pedih dan prihatin mengetahui kenyataan ini. Saya ikut merasa bersalah, karena kalau saja saya masih dekat dengan Melani tentu peristiwa itu tak akan terjadi. Semua ini karena salah saya yang tak mau mendengar ucapan Melani….” Diah tak bisa menahan perasaannya. Air matanya menitik.
Di tempatnya Melani juga menangis. Seorang petugas memberinya tisu.
Diah melanjutkan keterangannya.
“Saya tadinya tak mau mempercayai keterangan Melani bahwa Deni sebenarnya bukan pemuda baik-baik. Dia telah membohongi saya. Dia telah menipu saya. Sungguh, saya tak pernah menyadari bila orang yang selama ini meneror dan telah memperkosa Melani tak lain adalah Deni. Peristiwa di hotel Nirwana bukan karena kesalahan Melani, tetapi karena Deni yang sengaja memancing Melani agar datang ke tempat itu. Deni bermaksud menjebak Melani dan memperkosanya sekali lagi. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, Deni bermaksud memaksa Melani tapi Melani berusaha melawan dan akhirnya terjadilah peristiwa penusukan itu. Jadi saya yakin Melani tidak bersalah. Dia hanya membela diri, Bapak Hakim. Dia cuma perempuan lemah yang ingin melindungi harkat dan kehormatannya. Siapa pun perempuan yang ada dalam posisi Melani tentu akan melakukan hal sama. Manusia jahat dan bejat seperti Deni sudah selayaknya mati, karena jika masih hidup di muka bumi hanya akan membuat kerusakan dan menebar ancaman pada banyak perempuan lainnya! Demikian kesaksian yang bisa saya berikan. Semoga Allah mengampuni saya dan melindungi orang-orang yang benar!” tandas Melani mengakhiri kesaksiannya. Derai air mata tampak membasahi pipinya.
Para hadirin yang berada di ruang persidangan terkesima mendengar kesaksian Diah. Sejenak mereka terpana, seakan tak percaya Diah memberikan kesaksian yang meringankan Melani. Semua orang kemudian berdiri dan memberikan applaus kepada Diah. Mereka bertepuk tangan seraya mengumandangkan takbir. Melani yang berada di tempatnya sampai merinding dibuatnya. Hatinya diliputi gejolak perasaan tak karuan. Antara rasa senang, lega, dan haru bercampur jadi satu. Kini dia semakin yakin bahwa Diah tidak marah dan kecewa padanya. Dia masih menjadi sahabat sejatinya. Karena seorang sahabat sejati akan selalu membela sahabatnya.
“Terima kasih, Di! Aku berhutang budi padamu. Maafkan semua kesalahanku selama ini!” ujar Melani dengan terbata-bata.
“Sudahlah, Mel. Lupakan semua itu. Aku yang semestinya minta maaf kepadamu, karena sebagai sahabat aku tak bisa berbuat banyak untukmu. Aku tak bisa melindungi dan menjagamu. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanu lagi. Kita akan hadapi semua ini bersama!” tukas Diah penuh keyakinan.
Bu Marni meneteskan air mata haru melihat Diah dan Melani saling berpelukan. Semua orang pun merasa senang menyaksikan peristiwa ini.
Persidangan hari itu ditutup dan akan dilanjutkan minggu depan. Melani dan keluarganya keluar dari ruang persidangan dengan perasaan lebih nyaman.
__ADS_1
Setelah melalui beberapa acara persidangan yang cukup panjang dan melelahkan, hakim akhirnya menjatuhkan keputusannya. Dalam amar putusannya yang mengikat, majelis hakim menjatuhkan hukuman dua tahun penjara dengan masa percobaan dua setengah tahun. Hakim juga memerintahkan Melani diserahkan kepada dokter ahli kejiwaan untuk mendapatkan perawatan. Hal ini berarti Melani tidak akan masuk ke dalam penjara, melainkan akan dirawat di rumah sakit dan mendapat pengawasan ketat. Meski keputusan ini cukup memberatkan keluarga Melani, karena mereka berharap Melani dibebaskan murni, tapi mereka akhirnya bisa menerima.
Bagi mereka yang penting kini Melani telah terbebas dari segala permasalahan yang menghimpit hidupnya. Dia bisa kembali menghirup udara kebebasan. Tidak ada lagi teror, intimidasi, dan ketakutan yang menghantui hidupnya. Langit yang dipandanganya akan kembali cerah, tak lagi berwarna kelam! (*)
TAMAT
Wonogiri, 22 November 2020
__ADS_1