Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Pertolongan Deni


__ADS_3

Penjahat itu masih menekan tubuh Melani. Senyumnya menyeringai seperti iblis. Melani dicekam kecemasan dan kepanikan. Sayangnya, dia tak bisa berteriak karena mulutnya dibekap. Tasnya yang berisi semprotan mrica berada agak jauh di meja toilet. Tangan Melani tak bisa menjangkaunya.


“Ayo, sayang. Layani dan puaskan aku,” ucap penjahat itu terdengar menjijikkan.


Tangan kanan si penjahat lalu mengambil sapu tangan dari saku jaketnya, lalu menyumpalkan ke mulut Melani. Dengan kasar tangan satunya mencoba melepaskan celana dalam di balik gaun Melani. Kepala Melani menggeleng dan wajahnya memelas memohon. Air matanya bercucuran karena diliputi kengerian. Penjahat itu membuka resleting celananya dan siap melakukan aksi bejatnya.


Namun tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak dari luar. BRAKKK….!


Melani dan si penjahat sama-sama kaget. Mereka menoleh ke arah pintu. Deni dengan wajah gusar memasuki ruangan.


“Kurang ajar!” teriak Deni.


Orang itu melepaskan cengkeramannya pada Melani. Belum sempat dia bersiap, Deni lebih dulu menyerangnya dengan menendang orang itu. Tubuhnya terpelanting jatuh, tapi kemudian segera berdiri. Sang penjahat langsung kabur. Deni tidak mengejar, tapi memeriksa Melani dengan cemas.


“Kamu nggak apa-apa, Mel?”


Melani hanya bisa menangis sesenggukan. Bibirnya tak mampu berkata-kata. Dia spontan memeluk Deni seakan minta perlindungan. Deni membiarkan Melani menumpahkan tangis di bahunya. Deni menepuk punggung Melani pelan.


“Sudah, Mel…. Orang itu sudah pergi. Kamu sudah aman,” kata Deni menenangkan.


“Aku mau pulang, Den….”


“Ya, ya, kita pulang.”


Melani melepaskan pelukannya. Melani menata dirinya dan menghapus air matanya sebelum kemudian melangkah keluar mengikuti Deni. Perasaan Melani masih sangat shock dan trauma dengan kejadian tadi. Setiba di parkiran sejenak Melani menarik nafas dalam untuk menenangkan diri dan mengisi dadanya yang sesak dengan udara segar. Berada di luar pada ruang terbuka membuatnya jadi lebih tenang dan aman.


“Den, tolong nanti jangan ceritakan kejadian di toilet tadi kepada siapa pun, terutama pada keluargaku,” kata Melani meminta pada Deni.


“Ya, Mel. Aku akan merahasiakan kejadian ini. Tapi kalau boleh aku tahu, kenapa orang itu bisa berada di toilet? Siapa dia? Apakah dia orang yang….” Deni tak melanjutkan kalimatnya seakan takut menyinggung Melani.


“Aku nggak tahu, kenapa tiba-tiba bisa memasuki toilet. Sepertinya dia memang orang yang pernah memperkosaku, tapi tadi dia tidak sempat melakukannya lagi,” jawab Melani.

__ADS_1


“Aku tadi kebetulan melihat ada orang mengikuti kamu memasuki toilet. Yang membuat aku curiga, dia pakai jaket kapucong, persis seperti orang yang kupergoki di depan kantormu malam itu. Makanya aku bergegas menuju ke toilet. Aku memasuki toilet pria dan tidak mendapati dia. Langsung aku menduga dia memasuki toilet wanita dan berniat kurang ajar. Aku dobrak pintu dan ternyata benar dugaanku.”


“Terima kasih, Den. Kamu telah menyelamatkan aku….”


“Ya sudah, Mel. Kita pulang. Kamu perlu menenangkan diri di rumah.”


Melani mengangguk. Melani naik ke atas boncengan. Deni melajukan sepeda motornya meninggalkan area restoran.


 


 


Melani tidak ingin membuat keluarganya cemas dengan peristiwa yang menimpanya tadi. Makanya, ketika memasuki rumah Melani menampakkan wajah tenang. Ibunya yang menyambut kepulangannya bertanya-tanya.


“Kamu tadi pulang sama siapa?”


“Sama Deni, Bu. Dia tadi mengantar jemput aku,” jawab Melani kalem.


“Baik, Bu. Dokter Riswan bilang kondisi kejiwaanku baik aja.”


“Syukurlah, ibu ikut senang.”


“Aku ke kamar dulu, Bu. Istirahat….” Melani pamit pada ibunya.


Bu Marni mengangguk. Melani bergegas memasuki kamarnya dan mengunci pintu.


Setelah berada di dalam kamar sejenak Melani menghela nafas berat. Ada rasa bersalah menekan dadanya ketika tadi dia bilang pada ibunya jika kondisinya baik saja. Melani teringat pada sesi kontrolnya dengan dokter Riswan. Seperti biasa dia menjalani tes pengujian dengan seperangkat alat yang disambungkan panel di kepala dan lengannya. Dokter Riswan mengerutkan alisnya seakan menemukan keganjilan.


“Pada tes terakhir kamu memperlihatkan kemajuan. Kondisimu stabil. Tapi sekarang….” Dokter Riswan menggantungkan kalimatnya.


“Sekarang kenapa, Dok?” Melani bertanya penasaran.

__ADS_1


“Apa kamu sering cemas, panik, insomnia, dan mimpi buruk?” dokter Riswan malah ganti bertanya.


Melani mengangguk. Diakui beberapa hari ini pikirannya sangat kacau. Ini terjadi sejak penjahat itu menerornya lagi dan kejadian yang menimpa Nina. Dia jadi sering diliputi kecemasan dan kepanikan. Dia sengaja tidak menceritakan hal ini pada dokternya. Dia pun menampakkan wajah tenang dan ceria di hadapan semua orang, semata untuk menyembunyikan apa yang bergejolak dalam hatinya. Dia tidak ingin keluarganya tahu apa yang dirasakannya.


“Boleh saya minta obat lagi, Dok?” pinta Melani.


“Kamu tahu, Mel. Obat kapsul yang aku berikan padamu itu secara bertahap aku kurangi dosisnya. Karena obat bukan factor utama kesembuhan. Dan obat terakhir yang aku berikan padamu tidak ada isinya. Ternyata kamu malah sehat dan tidak mengalami gangguan lagi. Ini artinya apa? Otak, jiwa, dan hatimu yang sebenarnya menyembuhkanmu. Ketika pikiranmu tenang, jiwamu tenang, dan hatimu relaks, secara langsung itu akan berpengaruh positif pada kesehatan mentalmu. Jadi kamu tidak memerlukan obat lagi,” kata Dokter menerangkan.


“Tapi, dok….”


“Aku akan mengirimmu ke rumah sakit jika kamu masih bergantung lagi pada obat.”


Melani tercenung.


Dan sekarang adrenalinnya kembali memuncak oleh kejadian di toilet restoran tadi. Kepanikan, kecemasan, dan ketakutan kembali menghantuinya. Sayangnya, dokter tadi tidak memberinya obat. Kepala Melani rasanya mau pecah memikirkan kejadian tadi. Rasanya dia ingin berteriak kencang. Melani lalu merebahkan diri di atas ranjang. Mencoba memejamkan mata, melupakan semua yang terjadi. Pikiran dan hatinya membayangkan hal-hal indah.


Tapi ternyata tidak mudah. Kejadian menyakitkan itu masih terus membayang, bahkan berseliweran dengan kejadian-kejadian masa lalu. Melani membekap wajahnya dengan bantal dan berteriak kencang melampiaskan kepenatannya. Suara teriakannya tak sampai terdengar keluar amar karena diredam bantal. Tapi hal itu tak sepenuhnya melegakan hati. Melani tahu, sumber kepanikan dan ketakutannya hanya satu, yakni sang pemerkosa. Selama penjahat itu masih berkeliaran dan belum tertangkap, maka Melani akan terus seperti ini. Sakit-sembuh-kumat lagi, begitu seterusnya.


Dia tidak akan pernah bisa membunuh hantu yang ada dalam pikirannya, karena ia akan terus muncul menerornya. Gangguan itu mungkin akan hilang jika sumber ketakutannya itu lenyap. Artinya, penjahat itu harus mati. Ya, dia harus mati. Kalau perlu Melani sendiri yang membunuhnya....


“Kriiing-kriiing-kriiingggg….” Terdengar suara dering telepon di ruang tengah.


Tapi tidak ada yang mengangkat. Mungkin ibunya sedang keluar. Adiknya Nina yang berada di kamarnya tidak juga keluar untuk mengangkat. Melani jadi resah. Dia trauma untuk mengangkatnya. Tapi bunyi dering yang tak berhenti membuat kepala serasa mau pecah. Akhirnya Melani memutuskan keluar dari kamar dan mengangkatnya.


“Halo….?” Sapa Melani lirih.


“Halo, sayang? Apa kabarmu?” Suara dari neraka itu  menusuk telinganya.


Sejenak Melani terdiam. Wajahnya berubah pucat, seakan menyaksikan sosok hantu bangkit dari kuburan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2