
Herman tak sabar lagi melihat Rico masih diam.
“Saudara harus bicara yang benar dan jujur. Jika nanti saudara ketahuan bohong, saudara bisa dikenai pasal bersaksi palsu. Dan itu bisa dikenai hukuman. Jadi saudara harus berkata jujur dan yang sebenarnya. Keterangan saudara akan dikroscek-kan dengan keterangan karyawan lain. Mengerti?” ujar Herman bernada mengancam.
“Baik, Pak…” Wajah Rico berubah lesu. “Saat itu saya memang tidak sendirian, saya bersama… Ida!”
“Siapa itu Ida?”
“Sekretaris Pak Bandi.”
“Ada hubungan apa saudara dengan saudari Ida? Dan kenapa kalian berada di kantor malam hari?”
“Kami… e, kami menjalin hubungan kasih. Saat itu kami sedang berduaan di ruangan saya.”
“Apa yang kalian lakukan?”
“Kami cuma ngobrol, Pak.”
“Ngobrol atau… ehm,” Herman tersenyum penuh arti.
“Tolong, Pak. Jangan beritahukan hal ini pada orang-orang,” pinta Rico dengan mimik memelas.
“Lho, memangnya kenapa? Apa kamu sudah beristri dan Ida sudah bersuami?”
“Bukan begitu, Pak. Kami masih sama-sama single. Tapi… Ida adalah bekas pacar Toni. Saya malu jika dianggap merebut pacar orang.”
Herman dan Budi jadi tersenyum geli. Rupanya di dalam kantor ini ada juga cerita selingkuh antar teman sendiri.
“Baik, kami tak akan memberitahu yang lain. Tapi tolong jawab dengan jujur, apakah kalian melihat sesuatu yang mencurigakan atau seseorang di dalam kantor ini pada malam itu?”
“E, kalau melihat orang mencurigakan sih, tidak ada, Pak. Tapi kami sempat mendengar suara seram,” jawab Rico dengan nada lirih nyaris berbisik.
__ADS_1
“Suara seram? Maksud saudara?” Herman mengernyitkan dahi.
“Kami mendengar ada suara jeritan, seperti suara jeritan perempuan. Karena malam itu kami hanya berdua saja, kami jadi sangat takut. Kami mengira itu suara hantu, kami langsung bergegas pergi. Saya membawa Ida ke area parkir mobil dan membawanya pulang. Kami merasa ngeri. Kami pernah mendengar kalau gedung kantor ini dulunya bekas kuburan,” tutur Rico dengan wajah ngeri.
Herman tertegun. Rupanya selain menyimpan cerita perselingkuhan, kantor ini juga menyimpan cerita mistik yang berbau takhayul. Herman tak percaya dengan cerita Rico soal hantu, tapi dia percaya dengan suara jeritan itu. Mungkin itulah saat kejadian Melani diperkosa. Andai saja saat itu Rico dan Ida mau menengok siapa yang telah menjerit, tentu si pelaku pemerkosaan akan segera diketahui. Ruang toilet tempat Melani mengalami tindak pemerkosaan tak jauh dari ruang kerja karyawan. Tapi karena nyali Rico yang terlalu ciut, sehingga kasus ini pun menjadi misteri yang berbalut awan gelap.
Setelah mengumpulkan keterangan dari beberapa karyawan lain, Herman lalu memanggil Melani. Dia ingin memberitahukan hasil investigasi yang telah mereka lakukan sekaligus mengemukakan beberapa kesimpulan. Diah menemani Melani menghadap petugas polisi. Mereka mendengarkan dengan seksama keterangan dari petugas polisi.
“Dari keterangan yang berhasil kami kumpulkan tampaknya hanya ada satu orang yang patut dicurigai, yakni Toni. Kami juga sedikit menaruh curiga pada Frans. Toni mengaku pulang paling awal diantara karyawan yang hari itu pulangnya malam. Tapi ada kemungkinan Toni kembali lagi ke kantor lalu melakukan tindak pemerkosaan. Hanya sayangnya, kami tidak mendapatkan kesaksian yang bisa menguatkan dugaan kami,” tutur Herman dengan mimik serius.
“Bagaimana bapak bisa berkesimpulan Toni kembali lagi ke kantor?” tanya Melani.
“Ini berdasar keterangan petugas security yang melihat mobil sedan warna hitam melintas di depan kantor sekitar jam tujuh seperempat malam. Seperti pengakuan saudari sendiri, peristiwa itu terjadi sekitar jam tujuh saat saudari selesai bekerja. Kita belum tahu, siapa pengendara mobil itu.”
“Setahu saya, Toni tak punya mobil. Bila ke kantor dia memakai sepeda motor!” terang Melani.
“Tapi siapa tahu dia meminjam mobil temannya lalu kembali lagi ke kantor. Kemungkinan itu bisa saja, kan?”
“Sebentar, Pak. Bapak tadi bilang mobil sedan warna hitam?” sergah Diah menyela pembicaraan.
“Kalau tak salah itu mobil pacar saya, namanya Deni. Malam itu saya menyuruh dia untuk menjemput Melani, tapi dia bilang kantor sudah sepi. Tidak ada lagi karyawan yang masih berada di kantor,” jelas Diah.
“Jika itu memang mobil pacar anda, dari mana dia tahu bahwa sudah tidak ada karyawan di dalam kantor. Karena seperti keterangan petugas security mereka tidak melihat pengendara mobil itu turun dan menghampiri pos penjagaan. Seharusnya dia kan bertanya dulu pada petugas jaga?” selidik Herman.
“Deni bilang kalau dia memng tidak turun dari mobil. Dia hanya melihat dari luar lampu-lampu di dalam kantor sudah dimatikan. Jadi dia berkesimpulan kalau Melani sudah pulang. Ruang kerja karyawan kan ada di lantai dua dan bisa dilihat dari bawah. Makanya Deni hanya memutar mobilnya dan langsung pergi!”
Herman menciutkan bibirnya mendengar keterangan Diah. Keningnya berkerut, seakan pikirannya sedang bekerja keras.
“Kenapa kamu tidak bercerita kalau malam itu Deni hendak menjemputku, Di?” ujar Melani agak marah kepada Diah.
“Aku lupa, Mel. Lagi pula aku tak berpikiran bahwa Deni harus dicurigai. Mana mungkin dia melakukan itu padamu. Apakah kamu juga mencurigainya?” cetus Diah.
__ADS_1
Melani hanya diam saja. Dia memang tak mungkin mencurigai Deni. Laki-laki sebaik dia mana mungkin berbuat kejahatan, apalagi memperkosa sahabat kekasihnya.
“Semua orang patut untuk dicurigai selama belum ada kepastian tentang identitas sang pelaku. Kalau boleh kami tahu, di mana kami bisa menemui saudara Deni?” ujar Herman kemudian bertanya.
“Apakah bapak juga akan memeriksanya?” tanya Diah.
“Ya! Siapa pun yang berada di sekitar TKP, apalagi bertepatan waktunya dengan kejadian harus dimintai keterangan!”
“Tapi saya yakin bukan dia pelakunya, Pak!” Diah jadi gelisah.
“Itu tergantung pemeriksaan nanti. Yang penting dia harus diperiksa dulu. Mungkin ada petunjuk lain yang bisa didapat dari dia untuk mengembangkan penyelidikan dan mengungkap jati diri si pelaku,” tukas Herman.
Diah menoleh pada Melani. Wajah Diah tiba-tiba berubah muram. Sepertinya ada sesuatu yang berkecamuk dalam hatinya. Rasa khawatir membayang di wajahnya. Mungkinkah Deni pelakunya? Batinnya resah.
Deni tak keberatan dimintai keterangannya. Hal itu diucapkannya lewat telepon telepon ketika Diah menghubunginya. Dia siap diperiksa di mana saja. Kebetulan saat itu dia juga sedang break dari tugas-tugasnya di kantor. Kedua petugas polisi itu lalu mengajak Diah dan Melani meluncur ke kantor Deni. Mereka langsung menemui Deni yang menunggu di loby gedung kantor. Sikap laki-laki itu tampak kalem dan wajahnya menampakkan ketenangan.
“Saya siap memberikan keterangan soal kedatangan saya di kantor Melani malam itu,” kata Deni mantap sebelum kedua polisi itu mengajukan pertanyaan.
“Baiklah, untuk menyingkat waktu kami ingin mendengar pengakuan saudara Deni. Apa yang saudara Deni lakukan pada malam itu? Kenapa saudara tidak masuk ke dalam kantor ketika hendak menjemput saudari Melani?” tanya Herman.
“Saat itu saya agak capek, sehingga saya tak sempat masuk ke dalam. Soalnya saya tahu Melani pasti sudah pulang. Saya melihat beberapa ruang di gedung kantor itu sudah dimatikan lampunya. Di depan juga sudah tidak ada siapa-siapa, kecuali dua petugas jaga yang sedang ngobrol di tempatnya. Itulah kenapa saya tak jadi menghentikan mobil saya dan langsung berputar kembali.”
“Mengapa saudara tidak menanyakan lebih dulu pada petugas jaga itu?”
“Seperti saya bilang tadi, saya malas untuk turun. Terus terang saja, waktu itu saya memang agak kesal dengan Diah. Dia terus memaksa saya menjemput Melani, padahal saya sudah bilang kalau Melani pasti sudah pulang…”
“Betul yang dikatakannya, Pak!” ujar Diah menyela perkataan Deni menguatkan pengakuannya. “Saya memang sempat bersitegang dengannya waktu mau pulang. Saat itu saya memaksa dia untuk menjemput Melani setelah mengantar saya pulang. Soalnya saya khawatir dengan Melani. Dia pernah bercerita pada saya kalau dia pernah diikuti seseorang saat pulang malam. Jadi saya bersikeras memaksa Deni untuk menjemputnya.”
“Baiklah, kalau begitu kami ingin tahu apakah saudara Deni melihat orang lain lagi selain dua petugas security di kantor itu?” ujar Herman kembali mengajukan pertanyaan pada Deni.
Sejenak Deni terdiam. Sepertinya sedang mengingat-ingat. Semua diam menunggu.
__ADS_1