
Deni menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan berat. Tampaknya dia tidak bisa bersandiwara dan menyembunyikan isi hatinya lagi. Dia mesti menumpaskan semua uneg-unegnya agar tidak ada lagi ganjalan dalam hati.
“Sudah empat tahun aku menjalin hubungan dengan Diah, Mel,” ucap Deni mula-mula. “Waktu sebanyak itu mungkin sudah cukup bagi kami untuk saling mengenal dan menyelami hati masing-masing. Tapi… yah, jujur saja aku tak tahu apakah aku benar-benar mencintainya atau tidak. Selama ini aku memang telah banyak memberikan kasih sayang dan perhatian padanya. Tapi hal itu kurasakan seperti aku melakukannya pada saudara atau sahabat. Aku masih diliputi keraguan, apakah Diah benar-benar wanita yang kuidamkan akan menjadi istriku kelak? Aku masih sangsi, Mel. Diah sepertinya bukan jodohku!”
Melani sangat terpukul mendengar pengakuan Deni. Meski Deni bukan kekasihnya, tapi Melani ikut kecewa dengan pernyataannya. Diah adalah sahabat karibnya. Dia tak terima jika sahabatnya itu disakiti. Dia tak sanggup melihat Diah terluka dan hancur!
“Tidak sadarkah kamu, kalau pengakuanmu itu bisa bikin hati Diah hancur. Dia pasti amat kecewa dan sakit hati, karena kamu tega mengkhianati nya!” kecam Melani tajam. Rasa respeknya pada Deni seketika luntur.
“Aku bingung, Mel. Katanya aku harus jujur. Dan inilah kejujuran yang bisa kuungkapkan. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengungkapkan hal ini pada Diah, tapi aku tak sanggup menyakitinya…”
“Sudah jelas kamu akan menyakitinya, Den. Bukan hanya kepadanya kamu menyakiti, tapi juga kepadaku karena aku sahabat dekatnya. Kesusahan dan penderitaan Diah juga bisa ikut kurasakan. Aku tak terima kalau kamu memperlakukan Diah seperti itu!”
“Maafkan aku, Mel. Aku tak pernah bermaksud seperti itu. Tapi…?” Deni terlihat bingung dan gelisah sendiri.
“Sudah, Den! Aku tak mau mendengarnya lagi. Aku tak mau mendengar omong kosongmu. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang telah membuat kamu jadi berubah seperti ini? Kamu telah berpaling pada gadis lain? Iya, kan?” ujar Melani bernada interogratif.
“E, tidak, Mel. Aku…?” Deni makin gugup.
__ADS_1
“Jujur saja, Den. Gadis mana yang telah membuat kamu jadi berubah dan berpaling dari Diah? Katakan, Den. Aku akan buat perhitungan dengannya!” desak Melani dengan gusar dan geram.
Deni terdiam. Sikapnya terlihat makin gelisah. Dia tak berani menatap Melani yang memandanginya dengan sorot tajam. Tatapan mata Melani yang tajam seakan ingin mengulitinya.
“Bagaimana kamu bisa menduga aku telah terpikat pada gadis lain?” Deni malah balik bertanya.
“Apalagi alasan bagi seorang laki-laki yang ingin meninggalkan kekasihnya kalau bukan karena kehadiran orang ketiga? Aku bisa membaca itu dari matamu!” desis Melani menegaskan.
Deni mendesah panjang. Dia memandang Melani seksama, tapi sejurus kemudian dia menundukkan kepalanya. “Mungkin dugaanmu benar, Mel. Tapi aku sendiri tak yakin apakah perasaanku benar. Aku memang telah mencintai gadis lain…,” ucapnya kemudian lirih.
“Siapa gadis itu, Den?” Melani tak sabar ingin tahu.
“Sudahlah, Den. Jangan berteka-teki! Sebutkan saja, siapa namanya?”
“Namanya adalah… Melani!”
“Apa??!” Melani sangat terkejut. Tapi dia masih belum yakin kalau nama Melani yang disebutkan Deni adalah dirinya. “Kamu jangan main-main, Den!”
__ADS_1
“Jujur, Mel. Gadis itu adalah kamu!” tegas Deni mantap.
Melani menggeretakkan gerahamnya. Jantungnya seperti disambar geledek. Dia benar-benar sangat gusar dan marah. Tanpa banyak kata dia langsung bangkit dari tempatnya dan bergegas pergi.
“Melani…! Tunggu, Mel!” seru Deni mencoba mencegah kepergiannya.
Tapi Melani tak menggubris. Dia terus melangkahkan kakinya lebar-lebar, keluar dari ruang restoran. Diiringi oleh pandangan mata Deni yang berdiri terpaku di tempatnya. Deni terlihat kesal dan kecewa dengan kepergian Melani. Dia mengepalkan tinjunya ke udara.
Melani segera mencegat taksi di pinggir jalan. Kebetulan ada taksi melintas. Melani bergegas naik ke dalam taksi. Dia meminta sang sopir membawanya pulang ke rumah. Saat taksi berjalan, Melani melihat Deni masih berdiri di halaman restoran memandangi kepergiannya. Meski dari kejauhan Melani bisa melihat ekspresi wajah Deni yang kesal dan marah. Dia bisa rasakan tatapan Deni yang tajam seakan menyimpan dendam. Melani segera melengos. Hatinya tiba-tiba merinding oleh tatapan Deni yang tidak biasanya itu.
Tiba di rumah Melani langsung masuk kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit. Ada kegundahan menjalar dalam hatinya. Pengakuan Deni di restoran tadi benar-benar telah membuatnya shock dan kaget. Dia tidak mengira sama sekali bila diam-diam Deni telah menaruh hati padanya. Pantas selama ini jika mereka sedang pergi bersama Diah, mata Deni selalu melirik ke arahnya. Dalam hati Melani sendiri tak pernah ada prasangka dan pikiran bahwa Deni menyukainya. Dia menganggap perhatian dan sikap baik Deni terhadap dirinya selama ini tak lebih dari persahabatan.
Tapi kenyataannya sekarang…?
Oh, tidak! Melani tak pernah berpikiran untuk menyukai Deni. Apa yang dikatakan Deni itu justru membuatnya marah dan kecewa. Deni berusaha ingin mengkhianati Diah. Menyakiti sahabat karibnya itu. Melani tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Tiba-tiba hatinya menjadi galau dan bimbang. Bagaimana dia mesti mengungkapkan hal ini pada Diah? Ketika Deni menyatakan bahwa dirinya sudah tidak mencintai Diah, kuping Melani sudah terasa panas dan ingin secepatnya memberitahu Diah. Tapi ketika Deni mengaku telah mencintai gadis lain dan gadis itu tak lain adalah dirinya, Melani pun jadi resah. Dia tak sanggup mengatakannya pada Diah. Dia khawatir Diah akan salah sangka. Melani tak mau dituduh penyebab hancurnya hubungan kasih Diah dan Deni.
Ya, Tuhan! Kenapa harus ada kemelut cinta seperti ini. Tiba-tiba Melani jadi benci sekali pada Deni. Laki-laki yang selama ini dia kagumi kesetiaan dan kebaikannya tak lebih dari seorang pengkhianat cinta. Tak henti-hentinya Melani mengutuk Deni. Tapi sejurus kemudian dia berpikir, kenapa aku harus menyalahkan Deni. Jika memang Deni sudah tidak mencintai Diah, kenapa ia yang harus disalahkan? Toh antara mereka belum ada ikatan resmi. Deni berhak memilih gadis mana yang dia cintai dan dipilih untuk dijadikan istri. Tapi yang tak dimengerti Melani, kenapa Deni harus menyukai aku? Sahabat kekasihnya sendiri! Ini sungguh kesalahan yang besar!
__ADS_1
Melani jadi bingung dan pusing memikirkan hal ini. Dia tak tahu, apa yang mesti dilakukannya. Tapi satu hal pasti dia tidak akan pernah bersedia menerima Deni sebagai sahabatnya lagi. Dia akan menjauhi Deni dan menjaga jarak dengan pemuda itu. Melani tak ingin Deni tahu dengan kegilaan Deni. Dia tak akan menari di atas penderitaan orang lain. Meski sebenarnya kalau dia mau, dia bisa menerima Deni yang dari dulu memang dikaguminya. Tapi Melani sadar, bagaimana harus menjaga perasaan seorang sahabat!
Melani tak mau persahabatannya dengan Diah hancur gara-gara hal ini. Pengakuan Deni itu sungguh sangat mengguncang hatinya. Kenapa Deni justru menyukai dirinya, bukan wanita lain. Apalagi dia tahu jika aku sudah ternoda, batin Melani masih tidak percaya dengan ucapan Deni. Tapi… ah, Melani tidak mau memikirkannya. Dia berusaha mengusir bayangan Deni dari pikirannya. Deni tidak boleh mencintaiku. Titik!