
Melani merasakan degub jantungnya yang berdetak kencang dan nafasnya tersengal-sengal. Melani mengintip lewat tirai jendela. Laki-laki berjaket kapucong itu berdiri di depan pintu pagar memandang ke rumah. Melani jadi makin tegang. Dia menutup tirai. Hatinya diliputi kecemasan dan ketakutan. Jangan-jangan orang itu…? Belum sempat meneruskan dugaannya, tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang.
Melani tersentak kaget.
“Ada apa, Mel? Kok kamu seperti orang ketakutan?” tanya Bu Marni yang sudah berdiri di belakangnya.
“Anu, Bu .… itu .…” Melani jadi gugup sambil menunjuk keluar.
Bu Marni menyibak tirai jendela. Dia tidak melihat apa-apa.
“Itu apa? Nggak ada siapa-siapa di luar,” katanya.
Melani menengok ke luar. Orang itu sudah tidak ada. Melani menghela nafas lega.
“Memang kamu lihat apa kok seperti ketakutan?” tanya ibunya lagi.
“Ada orang ngikutin aku, Bu,” jawab Melani.
“Bukannya kamu pergi sama Ipang?”
“Iya, Bu. Tapi waktu Ipang habis ngantar aku dan pulang, aku lihat ada orang pakai jaket berkerudung kepala jalan menghampiriku. Aku takut dia orangnya .…”
Bu Marni tersenyum kecil. “Itu hanya perasaanmu saja, Mel. Dia tidak mungkin berani datang ke sini,” ucapnya.
Melani terdiam. Mungkin benar kata ibunya.
“Sudah, mendingan kamu masuk kamar dan istirahat. Udah malam,” kata Bu Marni kemudian menyuruh Melani tidur.
Melani masuk ke dalam kamar. Dia tidak langsung berbaring tidur, tapi duduk termenung memikirkan kejadian tadi. Dia sangat yakin orang berjaket kapucong itu menguntitnya. Apakah orang itu Deni? Rasanya tidak mungkin. Saat dia pergi dari kafe, Deni masih berada di sana. Tidak mungkin dia begitu cepat menyusul. Sudah pasti orang itu penjahat yang memperkosanya. Memikirkan hal ini Melani jadi bergidik ngeri.
Seperti saran Deni, dia harus melaporkan hal ini segera ke polisi. Dia yakin orang dengan ciri-ciri seperti yang diceritakan Deni itulah pelakunya. Dengan keyakinan ini Melani kemudian bisa berangkat tidur dengan tenang. Namun, entah karena terlalu memikirkan hal ini hingga terbawa ke dalam mimpi. Melani bermimpi si pelaku pemerkosa berhasil ditangkap polisi. Orang itu dipakaikan topeng untuk menutupi identitasnya. Melani disuruh membuka topeng. Tapi baru saja tangan Melani akan membukanya, tiba-tiba ….
__ADS_1
“Kriiing ….!”
Suara dering alarm jam membangunkannya. Melani terjaga. Melani belum sempat melihat wajah si pemerkosa. Walau hanya sebuah mimpi, tapi tak urung membuatnya kesal.
Pagi itu Melani berangkat ke kantor. Seperti janjinya pada Deni, dia menemui Diah untuk menyampaikan pesannya. Deni ingin Diah kembali padanya dan memperbaiki hubungan cinta mereka yang terputus. Tapi sepertinya Diah belum siap bertemu dan menjalin kembali hubungan dengan Deni.
“Hatiku masih sakit oleh perbuatannya,” kata Diah memberikan alasannya.
“Deni bilang kalau dia menyesal dan ingin minta maaf,” ucap Melani.
“Baginya mudah untuk mengucapkan permintaan maaf. Aku perlu bukti dan keseriusannya. Dan lagi untuk saat ini aku belum siap membuka pintu hati untuknya. Rasa sakit hatiku belum hilang ….”
“Tapi kamu masih mencintainya, kan?”
Diah diam tertunduk. Wajahnya terlihat gundah. Melani bisa membaca masih ada keraguan, tapi sekaligus juga kebimbangan pada diri gadis itu. Mungkin dalam lubuk hatinya terdalam Diah masih mencintai Deni. Mengingat sudah cukup lama mereka menjalin hubungan. Tapi hati seorang wanita tidak seperti awan yang mudah berubah-ubah. Sekali hatinya tersakiti, butuh waktu dan obat yang tepat untuk menyembuhkannya.
“Ya, sudah, Di. Aku bisa memahami perasaanmu. Nanti aku akan bilang pada Deni. Sebenarnya aku juga malas berbicara lagi dengan dia. Aku tidak sudi bertemu dengannya setelah apa yang dilakukannya pada kita. Tapi tiba-tiba kemarin dia muncul menemuiku. Dia bilang jika dia tahu siapa penjahat itu,” kata Melani kemudian.
“Iya, Di. Pada malam kejadian dia sebenarnya datang ke sini hendak menemui kamu, tapi tidak jadi. Dia bilang dia sempat melihat orang memakai jaket kapucong keluar dari gedung ini. Deni tidak mengenalnya. Tapi dia melihat ciri-ciri orang itu ada tato di keningnya,” tutur Melani.
“Kamu percaya omongannya? Deni itu pembohong, Mel.”
“Ya, tadinya aku juga tidak percaya. Tapi kemarin malam saat aku pulang, aku dikuntit orang dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan Deni.”
“Terus….?”
“Yaa …. Aku berniat melaporkan hal ini ke polisi. Aku berharap polisi bisa membuat sketsa wajah penjahat itu seperti ciri-ciri yang disebutkan Deni. Aku ingin mengajak kamu nanti siang menemaniku ke kantor polisi. Kamu mau kan?”
“Kenapa bukan Deni yang melapor, kan dia yang melihat orang itu?”
“Deni tidak mau bertemu polisi. Dia katanya lagi ada urusan sengketa hukum dengan keluarganya.”
__ADS_1
“Ya, lihat saja nanti, Mel. Kalau nggak ada kerjaan aku akan temani kamu.”
“Terima kasih, Di.”
Dan siang itu saat break makan siang, Melani dan Diah pergi ke kantor polisi. Petugas penyidik menerima laporan terbaru Melani. Mereka lalu membuat sketsa wajah sesuai ciri-ciri yang diutarakan Melani. Tak berapa lama sketsa wajah sang pemerkosa sudah jadi. Melani lalu diperlihatkan untuk memastikan. Untuk beberapa saat Melani memandanginya seksama. Seketika kelebatan bayangan kejadian tragis itu memenuhi ruang ingatannya.
Ada yang bergejolak dalam dada Melani. Setiap kali mengingat kejadian yang amat pahit itu, jiwanya serasa diguncang hebat. Melani seperti ingin menangis sekaligus berteriak melampiaskan kepedihannya. Namun perasaan itu hanya bisa dipendamnya. Hingga menimbulkan magma yang panas dalam dada. Melani berusaha terus mengingat, tapi seperti ada keraguan dan kebimbangan. Dia masih belum begitu yakin apakah wajah orang itu benar-benar penjahat yang telah memperkosanya.
Sejujurnya Melani tidak pernah melihat wajah penjahat itu. Semuanya masih kabur dan gelap. Namun ada keyakinan bila apa yang dikatakan Deni benar. Apalagi saat kejadian kemarin ketika dia diikuti laki-laki misterius. Sosoknya sesuai gambaran yang diceritakan Deni. Jadi pikir Melani sketsa wajah itu sudah benar.
“Bagaimana, Mel? Benar dia orangnya?” tanya Diah membuyarkan lamunan Melani.
Melani malah diam seperti ragu untuk menjawab.
“Saudari harus pastikan apakah benar ini orangnya? Jika iya, maka kami akan segera menyebarkan sketsa wajah ini dan menetapkan dia sebagai DPO,” kata petugas.
“Bagaimana, Mel?” Diah mengulangi pertanyaanya.
Melani akhirnya mengangguk. Diah merasa lega. Petugas lalu segera mencatat dan memproses laporan baru ini. Ketika Melani dan Diah berpamitan, lalu keluar dari kantor polisi, Diah mengungkapkan rasa senangnya.
“Semoga penjahat itu segera tertangkap setelah gambar wajahnya disebarkan polisi. Biasanya sih jika wajah penjahat sudah disebar dan dijadikan DPO, maka tinggal tunggu waktu saja dia pasti akan tertangkap,” kata Diah yakin.
Melani hanya mengangguk. Entah, apakah dia harus merasa lega dan senang. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hatinya.
__ADS_1