
Melani tadinya tidak ingin menanggapi pengakuan Deni yang bilang mengetahui pelaku pemerkosa Melani. Dia tidak percaya lagi pada Deni. Apalagi setelah tahu Deni memiliki masa lalu yang buruk. Deni tidak sebaik yang dikenalnya. Tapi Melani perlu mendengar secara lebih jelas pengakuannya. Melani ingin tahu, apakah kali ini Deni jujur atau bohong. Selama ini Deni telah memainkan sandiwara yang sempurna. Dia bukan hanya membohongi Diah, tapi juga membohongi Melani.
“Aku tahu, kamu mungkin sangat membenciku setelah tahu tentang masa laluku. Kuakui kalau dulu aku brengsek. Aku pernah terjerumus. Tapi semua itu masa lalu. Aku sudah berubah. Aku sudah bertobat. Tepatnya sejak aku kenal Diah,” tutur Deni malah menceritakan dirinya sendiri.
“Sudahlah, to the point. Aku nggak mau dengar soal dirimu,” tukas Melani tak sabar.
“Tapi aku perlu menjelaskan ini padamu, biar kamu tidak salah paham dan terus membenciku. Kusadari kalau aku telah salah pada Diah dan kepadamu. Aku minta maaf. Karena kebodohanku, sehingga membuat hati Diah tersakiti. Juga telah menghancurkan hubungan baikmu dengan Diah. Untuk beberapa lama aku merenungi hal ini. Makanya, beberapa hari aku tidak memperlihatkan diri di hadapanmu maupun Diah. Sampai kemudian…” Deni menghentikan sejenak penuturannya.
“Sampai kemudian apa?” cecar Melani.
“Sampai kemudian aku memutuskan untuk kembali menemuimu dan Diah. Aku ingin menjernihkan masalah diantara kita. Malam itu, saat kejadian yang menimpamu, aku mendatangi kantor kalian…”
Melani tercekat mendengar pengakuan Deni. “Jadi malam itu kamu datang dan kamu…” Melani tak meneruskan dugaannya.
“Ya. Malam itu ketika aku hendak memasuki pintu gerbang ini, aku memergoki seseorang berpakaian serba hitam melompati pagar. Orang itu memakai jaket kapucong. Aku hendak mengejarnya, tapi tidak jadi karena aku mendengar suara keributan di dalam kantor. Rupanya ada petugas satpam menemukanmu. Sebenarnya aku ingin mendekat, tapi aku urungkan. Aku tidak mau nanti aku dicurigai macam-macam. Aku langsung pulang. Baru esok paginya aku mendengar kabar tentang kejadian yang menimpamu. Aku jadi menyesal dan merasa bersalah. Coba kalau waktu itu aku mengejar orang itu dan menangkapnya,” pungkas Deni dengan wajah sesal.
Melani tertegun. Cerita Deni sama persis dengan temuan polisi. Orang yang dicurigai sebagai pelaku itu berpakaian serba hitam dan memakai jaket kapucong. Apakah ini artinya pernyataan Deni jujur atau.. ah, Melani tak bisa menyimpulkan. Tiba-tiba kepalanya jadi pusing. Tanpa banyak kata Melani lalu beranjak pergi. Deni memanggilnya tapi tak digubris lagi. Melani ingin secepatnya sampai di rumah.
Setiba di rumah Melani memikirkan apa yang dikatakan Deni. Ada rasa percaya, tapi juga ada keraguan. Dia masih belum yakin dengan apa yang diceritakan Deni. Jika Deni memergoki laki-laki berjaket kapucong itu ada kemungkinan dia melihat wajahnya. Melani belum sempat menanyakan hal itu. Melani membodohkan dirinya kenapa tadi tidak menanyakannya, sehingga dia bisa membawa Deni ke polisi untuk memberikan pernyataan.
Haruskah aku menemui Deni lagi, batin Melani bimbang. Saat ini dia sudah tidak memegang ponsel. Dia masih trauma, jika penjahat itu kembali menerornya. Untuk berkomunikasi dengan teman atau rekan kerja di kantor, Melani menggunakan telepon rumah. Itu pun jika telepon berdering, ibunya dulu yang mengangkat. Atau jika urusan kerja, Melani menggunakan email kantor yang menggunakan proxy, sehingga tidak mudah diretas.
Sejak peristiwa pemerkosaan yang kedua kali itu, praktis Melani tidak melakukan kontak apa pun dengan dunia luar. Dia telah menutup semua akun medsosnya. Tidak ada lagi akses komunikasi orang luar kepadanya, kecuali melalui telepon rumah dan email. Praktis dia tidak tahu berita viral di medsos. Makanya, jika di kantor rekan-rekannya sibuk bergosip tentang apa yang sedang menjadi trending di medsos dia hanya bengong atau menjadi pendengar saja. Apalagi Melani juga jarang menonton televisi.
Melani jadi seperti manusia goa. Hanya urusan pekerjaan yang dia tahu. Dia pun tidak pernah keluar dari rumah, kecuali benar-benar urusan penting. Untuk membeli segala keperluan pribadi dia lebih sering menggunakan shop online atau menyuruh Doni, adiknya. Jika sudah di rumah Melani mengurung diri di kamar, membaca buku atau memeriksa kembali pekerjaannya di laptop. Dia keluar kamar hanya untuk makan bersama keluarganya atau bercengkerama dengan mereka di ruang tengah.
“Kakak, ini ada yang kirim pesan lewat WA untuk kakak. Dari Deni,” kata Nina tiba-tiba menemui Melani di kamarnya.
Deni? Melani kaget. Bagaimana Deni bisa tahu nomer adiknya. Tapi sejurus kemudian Melani memaklumi. Tempo hari Deni pernah membantunya ganti kartu SIM seluler. Mungkin dia ikut mencatat nomer adiknya.
“Apa pesannya?” tanya Melani.
__ADS_1
“Kakak baca aja sendiri…” Nina menyodorkan ponselnya.
Melani kemudian membaca pesan Deni: dik Nina tolong sampaikan ke Melani, kakakmu, aku mau bicara dengannya …. penting .… aku tunggu di kafe Sangkuriang jam tujuh malam ini, tnx deni..
Melani tertegun. Apa yang mau dibicarakan Deni? Apakah soal sore tadi. Melani jadi penasaran. Melani lalu bilang ke adiknya.
“Nin, tolong kamu hubungi bang Ipang. Minta antar kakak malam ini ke kafe Sangkuriang,” pintanya.
“Kakak mau pergi? Malam gini?” Nina malah bertanya khawatir.
“Iya…”
“Tapi, Kak .… ?”
“Sudah, nggak usah khawatir. Kan kakak pergi diantar bang Ipang. Lagian cuma sebentar dan kafenya juga nggak jauh ini,” tukas Melani menepis kekhawatiran adiknya.
“Cepat, katakan apa hal penting yang mau kamu sampaikan?”
“Kamu mau minum apa? Biar aku yang traktir,” kata Deni ramah.
“Aku tidak ada waktu. Cepat kamu bilang saja. Apa ini soal tadi sore?”
“Ya. Tentang orang yang keluar dari kantormu saat kejadian malam itu. Aku sempat melihat wajahnya.”
Melani tercekat. Matanya terbelalak. “Kamu lihat wajahnya? Kamu mengenalinya?” cecarnya penasaran.
“Sayangnya, aku tidak mengenalinya. Dia bukan karyawan di kantormu. Dia juga bukan teman yang kamu kenal. Mungkin dia seorang preman jalanan. Aku melihat ada tato di keningnya, tapi tak jelas gambar apa,” terang Deni.
__ADS_1
“Kalau begitu, ayo sekarang ke kantor polisi!” ujar Melani langsung berdiri.
“Ke kantor polisi?”
“Ya! Aku mau kamu memberikan kesaksian. Nanti polisi akan membuatkan sketsa penjahat itu dari keterangan kamu. Dengan begitu dia akan cepat ditangkap.”
“Tidak, Mel. Aku tidak mau ke kantor polisi.”
“Kenapa?” Melani menatap Deni heran.
Deni kelihatan gelisah dan tidak tenang. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dan ditakutkan.
“Kenapa, Den?” Melani mengulang pertanyaannya. “Kalau kamu memang ingin membantuku, kamu harus memberikan kesaksian pada polisi.”
“Aku sedang ada masalah, Mel. Aku dipecat dari kantor. Aku juga sedang bersengketa dengan keluargaku masalah warisan. Saat ini aku tidak mau bertemu dengan polisi. Aku menyampaikan ini ke kamu, karena aku butuh bantuanmu membujuk Diah agar mau kembali kepadaku. Diah sekarang tidak mau menemuiku lagi. Dia marah dan benci sama aku. Aku menyesal dan ingin minta maaf,” tutur Deni dengan wajah meliut sendu.
“Aku tidak akan membantumu, jika kamu sendiri tidak mau membantuku .… ”
“Kamu bisa menyampaikan sendiri kepada polisi ciri-ciri orang itu.”
“Tapi aku sudah membuat pengakuan tidak melihat wajah penjahat itu,” kata Melani ragu.
“Kamu bisa saja bilang baru ingat sekarang. Mereka pasti akan memperbarui kesaksianmu,” tandas Deni.
Melani terdiam sejenak. Tapi sejurus kemudian dia mengangguk.
“Baiklah. Tapi aku tidak janji apakah bisa membujuk Diah,” ucapnya.
“Terima kasih, Mel.”
Melani lalu pulang. Ipang hanya mengantar sampai di depan pintu pagar. Ipang pamit pergi. Suasana jalan depan rumah sepi. Ketika Melani akan memasuki halaman, tiba-tiba dia melihat seseorang berjalan menuju ke arahnya. Sayangnya, Melani tidak melihat wajahnya karena orang itu memakai jaket kapucong. Melani teringat pemerkosanya. Orang itu bergegas setengah berlari ke arahnya. Melani jadi ketakutan dan bergegas memasuki rumah dan mengunci pintu.
__ADS_1