
Diah bisa memahami perasaan Melani. Memang berat menghadapi persoalan yang cukup sensitif ini. Melani dihadapkan pada berbagai kesulitan yang membelit dirinya. Tak ada perempuan di dunia ini yang ingin mengalami nasib buruk seperti yang dialami Melani. Korban pemerkosaan biasanya menanggung beban trauma dan luka hati yang amat dalam, hal itu dibawa seumur hidup. Mereka juga menghadapi berbagai kesulitan dan ganjalan dalam menjalani kehidupan ke depan. Mereka dibayangi rasa takut, cemas, malu, dan menanggung aib karena telah ternoda. Mereka mengalami hambatan dalam pergaulan sosial. Dan semua itu sangat tidak mudah untuk dilalui!
“Kadang-kadang aku sering bermimpi buruk, Di. Dia datang dengan wajah yang sangat seram. Aku jadi takut. Oh, kenapa cobaan yang berat ini ditimpakan kepadaku. Apa salah dan dosaku? Hu hu hu…” Melani tergugu pilu.
Diah segera memeluk Melani untuk menenangkan dan menghibur hatinya. Dalam hati Diah juga ada rasa sedih melihat penderitaan sahabatnya. Dia mengutuk perbuatan si pemerkosa biadab yang telah menghancurkan hidup Melani. Orang seperti itu pantasnya masuk ke dalam neraka!
“Sudahlah, Mel. Tabahkan hatimu. Percayalah, Tuhan Maha Adil!” ujarnya menghibur.
Melani hanya mengangguk sambil menggigit kedua bibirnya.
Sore itu Deni kembali menjemput Diah dan Melani di kantor. Tapi tidak seperti biasa Melani tidak akan ikut mobil Deni. Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan Diah maupun Deni.
“Kenapa kamu tidak mau pulang bareng, Mel?” tanya Diah jadi heran.
“Eee… aku…,” Melani bingung untuk menjawab. Dia tidak siap memberikan alasannya.
Tiba-tiba melintas Toni dengan sepeda motornya. Melani menemukan ide. Dia langsung menunjuk ke arah Toni.
“Aku pulang sama Toni, Di!” ujarnya mantap.
“Toni??!!” Diah tampak kaget dan mengernyitkan dahi.
“Ya! Aku sudah janjian sama dia!” jawab Melani mantap tanpa mempedulikan ekspresi Diah yang bingung dan diliputi beribu tanda tanya. Melani segera melambaikan tangan menyetop Toni. Seketika laki-laki muda itu menghentikan motornya tepat di sebelah Melani.
__ADS_1
“Ada apa, Mel?” tanya Toni dari balik helmnya.
“Kita kan sudah janji mau pulang bareng. Yuk, aku sudah siap!” ujar Melani seraya naik ke boncengan sepeda motor Toni. Dia lalu melambaikan tangan pada Diah.
Meski masih dibuat bingung dan tak mengerti oleh sikap Melani, tapi tak urung Toni merasa sangat senang. Dia kemudian melajukan sepeda motornya meninggalkan tempat itu. Sementara Deni dan Diah masih dibuat terpaku dan bengong menatap kepergian Melani bersama Toni. Wajah Deni terlihat gusar, sorot matanya menyiratkan rasa kecemburuan. Sayang, Diah tak sempat memperhatikannya.
Di perjalanan Toni tak bisa menyembunyikan rasa suka citanya karena Melani berkenan membonceng motornya.
“Akhirnya, kamu mau juga kuantar pulang, Mel? Hatiku senang bukan main. Sering-sering saja begini, aku tak keberatan. Dari pada tiap hari kamu diantar jemput Deni, nama kamu bisa jatuh!” ujar Toni seraya melambatkan laju motornya agar mereka bisa ngobrol santai di jalan.
“Apa maksudmu namaku bisa jatuh?” tanya Melani penasaran.
“Lo, memang kamu belum dengar kalau di kantor berhembus gosip tak sedap bahwa kamu telah merebut Deni dari tangan Diah? Kamu dikabarkan telah selingkuh dengan pacar sahabatmu sendiri!”
Mata Melani melotot mendengar keterangan Toni. “Astaga! Siapa yang bikin fitnah begitu? Biar kuremukkan kepalanya!” desisnya gusar.
“Kamu mengenal Deni akrab?”
“Akrab sih, tidak. Tapi dulu dia satu kampus denganku. Kami pernah kuliah bareng. Aku tahu, dia anak penggede. Punya beberapa mobil, suka pesta, dugem, dan play boy. Dia dijuluki buaya darat karena suka mempermainkan gadis-gadis. Entah, sudah berapa banyak gadis yang telah digombalinya. Tapi anehnya, sama Diah kok bisa awet. Padahal dia paling anti dikekang perempuan. Dia lebih suka hidup bebas. Pasti ada yang tidak beres dari pacaran mereka!”
“Kamu jangan memfitnah orang, Ton. Deni tidak seperti yang kamu kira. Dia cowok baik-baik!” tukas Melani sengit.
“Aku bicara apa adanya, Mel. Dulu Deni memang cowok brengsek. Kalau tidak percaya, tanya saja sama bekas teman-teman kuliahnya. Dia bahkan pernah menghamili seorang gadis, tapi dia tidak mau mengakuinya. Entah bagaimana kelanjutan kasus itu, aku tak tahu. Kalau Deni sekarang terlihat baik dan alim, mungkin saja dia memang sudah bertobat. Dia sudah insyaf. Tapi perasaanku tak yakin kalau dia sudah berubah!”
__ADS_1
Melani tertegun mendengar cerita Toni. Rasanya dia tak percaya kalau Deni pernah memiliki masa lalu yang hitam. Selama ini Diah sendiri tak pernah cerita tentang kehidupan Deni di masa lalu. Jangan-jangan ini cuma karangan Toni saja untuk menjatuhkan nama Deni. Dia tahu, Toni punya maksud hati padanya. Mungkin dia ingin membuatku menjauh dari Deni, demikian pikir Melani. Tapi Melani pun tak bisa mengabaikan begitu saja cerita dari Toni. Sebagai bekas teman kuliahnya, Toni tentu tahu banyak tentang masa lalu Deni.
“Kamu tidak mengada-ada kan, Ton?” tanya Melani ingin meyakinkan.
“Buat apa aku bohong, Mel?” sahut Toni tegas.
Melani terdiam sejenak. Hatinya jadi semakin penasaran.
“Kalau begitu, mulai besok aku mau kamu mengantar dan menjemputku ke kantor, Ton!” ujar Melani tiba-tiba meminta.
“Yang benar, Mel?” Toni seperti tak percaya.
“Sungguh!”
“Cihuiii…!” sorak Toni gembira.
Di tempatnya Melani tersenyum kecil.
Cerita Toni itu memang cukup menarik perhatian Melani. Dia jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang masa lalu Deni. Dia merasa penasaran, benarkah Deni yang selama ini dikenalnya baik dan alim itu pernah melakukan perbuatan tercela. Deni yang memiliki kepribadian bak dewa ternyata pernah jadi ‘anak brengsek’? Karena dibuat penasaran itulah, Melani sengaja membuka kesempatan Toni untuk dekat dengannya. Dia menerima tawaran Toni mengantar jemputnya ke kantor setiap hari. Dengan cara begitu dia bisa mengorek keterangan pada Toni seputar kehidupan Deni di masa lalu.
Begitulah. Kini setiap kali berangkat dan pulang dari kantor Melani selalu diantar Toni. Hal ini tentu saja membuat Diah, sahabatnya, jadi heran. Dia sempat mempertanyakan tindakan Melani yang mau berdekat-dekatan dengan Toni. Padahal Toni pernah melukai hati Melani dan mempermalukannya di depan umum. Bahkan Toni masih dicurigai sebagai pelaku pemerkosaan terhadap Melani. Tapi Melani dengan mantap menjawab bahwa Toni bukanlah pelakunya. Toni sudah meminta maaf atas sikapnya beberapa waktu lalu. Melani menganggap Toni sebenarnya pemuda baik-baik. Tapi sesungguhnya alasan Melani itu tak lain adalah upaya untuk menghindar dari kejaran Deni.
Sementara itu ada orang yang diam-diam tidak suka kedekatan Melani dengan Toni. Siapa lagi kalau bukan Deni. Mata Deni dihiasi rasa cemburu setiap kali melihat keakraban Melani dan Toni. Bahkan dia sempat dibuat kecewa saat hendak menjemput Melani, tapi Melani tak mau menumpang mobilnya dan memilih membonceng motor Toni. Hati Deni diliputi marah dan gusar. Tapi Melani seperti tak peduli dengan kemarahan Deni. Dia melakukan semua ini juga demi menyelamatkan persahabatannya dengan Diah. Dia tak mau melukai hati Diah jika sampai tahu Deni diam-diam mencintai sahabat karibnya !
__ADS_1