Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Kemarahan Diah


__ADS_3

Usaha Melani mendekati Toni ternyata tak sia-sia. Dia banyak mendapatkan informasi berharga tentang kehidupan Deni di masa lalu dari mulut Toni. Ada satu informasi yang cukup mengejutkan, yakni bahwa Deni ternyata tak pernah menamatkan kuliahnya. Konon, dia di-DO pada tahun ketiga dikarenakan suatu hal. Ada yang bilang Deni sengaja bersembunyi untuk menghindar dari tuntutan gadis yang telah dihamilinya. Ada juga yang bilang Deni sakit dan berobat ke luar negeri. Sementara ada lagi yang bilang dia meneruskan study ke Amerika. Toni pun heran dari mana Deni dapat gelar S-1. Tapi ada satu cerita lagi yang bikin bulu kuduk Melani merinding. Deni pernah dimasukkan ke sebuah pondok pesantren, bukan untuk menuntut ilmu, tapi untuk menyembuhkannya dari ketergantungan pada narkoba!


Melani benar-benar dibuat terpana mendengar semua cerita Toni. Hal ini seakan membuka kedok Deni yang sebenarnya. Ternyata di balik kepribadiannya yang kalem dan baik Deni menyimpan masa lalu kelam. Kini yang jadi pertanyaan, apakah kekelaman hidupnya di masa lalu itu masih dibawa sampai sekarang? Mungkin saja Deni sudah bertobat seperti dugaan Toni. Tapi perasaan Melani masih diliputi keraguan. Dia jadi tak yakin kalau Deni telah berubah. Seperti kata Toni, Deni diduga pernah menghamili seorang gadis teman kuliah dan tak mau mengakuinya. Jangan-jangan Deni yang telah memperkosaku di malam jahanam itu, batin Melani jadi berdebar-debar.


Memikirkan kemungkinan seperti itu membuat jantung Melani berdebar kencang. Hatinya jadi gundah dan resah. Melani mencoba mengingat kembali kronologis kejadian pada malam kelabu itu. Pada malam saat kejadian, Deni ketahuan hendak menjemputnya di kantor. Tapi Deni mengaku tak sempat masuk ke dalam kantor dan kembali lagi. Deni mengatakan datang sekitar jam tujuh malam. Sepertinya pengakuan Deni itu bohong. Melani memperkirakan waktu antara Deni mengantar Diah pulang ke rumah dan kembali lagi ke kantor tak sampai menghabiskan satu jam. Padahal Diah pulang jam lima sore!


Ada kemungkinan Deni sebenarnya tiba kembali di kantor lebih awal, sekitar jam enam sore. Karena saat itu petugas security belum datang, jadi mereka tidak tahu kedatangannya. Deni menunggu di areal parkir dan mencuri kesempatan masuk ke dalam ruangan kantor melalui pintu belakang. Dia langsung menuju ke ruangan Melani. Ketika dia melihat Melani hanya sendirian saja muncul niat jahat dalam dirinya, tapi dia tidak langsung melaksanakannya karena tahu ada beberapa karyawan lain masih berada di ruangannya. Dia lalu menunggu kesempatan itu tiba. Saat melihat Melani masuk ke dalam toilet, dia buru-buru mematikan sekering listrik hingga membuat semua lampu padam. Pada saat petugas sibuk memperbaiki sekering, dia menyelinap ke dalam toilet dan…


Oh! Darah Melani mendidih membayangkan kemungkinan itu. Jika benar Deni adalah pelakunya, sungguh Melani tak bisa memaafkan perbuatannya. Muncul dendam dalam hatinya. Ingin rasanya dia menikam jantung laki-laki bejat itu dan merobek-robeknya. Diah perlu diberitahu tentang hal ini. Tapi Melani ragu, apakah Diah akan mempercayainya? Mungkin Diah akan percaya bila sudah mendengar tentang masa lalu Deni yang kelam. Jika Deni pernah terlibat dengan narkoba dan pernah menghamili gadis teman kuliahnya, berarti menunjukkan pribadinya yang tak bermoral. Bukan tidak mungkin dia pelaku perkosaan itu!


Melani tiba di kantor dan berjalan terburu-buru menuju ke ruangannya. Tiba-tiba Diah muncul di hadapannya dan menarik tangannya dengan kasar. Melani kaget dan tak mengerti dengan tindakan Diah. Sahabatnya itu membawanya ke dalam sebuah ruangan kosong di sisi koridor. Wajah Diah terlihat meradang seakan diliputi kemarahan.


“Ada apa, Di?” tanya Melani bingung.


“Jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi antara dirimu dan Deni?!” seru Diah dengan nada gusar.


“Apa maksudmu, Di?” Melani kaget dan gugup.


“Kamu tidak usah berpura-pura dan bersandiwara. Aku sudah tahu semuanya. Ternyata kamu seorang penipu! Pembohong! Pengkhianat! Kamu sama saja dengan Deni! Kamu ingin menusukku dari belakang! Aku kecewa sama kamu, Mel! Aku benci sama kamu!” lengking Diah tajam dengan bola mata dihiasi butiran kristal.

__ADS_1


“Tunggu dulu, Di. Jelaskan dulu, ada apa ini? Kenapa kamu marah-marah sama aku. Apa salahku?”


“Deni sudah bercerita semuanya. Dia tidak mencintaiku lagi, Mel. Sudah ada gadis lain yang lebih dicintainya. Dan gadis itu tak lain adalah kamu. Kenapa kamu tak pernah menceritakan hal ini padaku, Mel? Rupanya apa yang pernah kamu katakan padaku agar aku mempertimbangkan kembali hubunganku dengan Deni tak lain hanyalah akal bulusmu. Kamu ingin aku berpisah dari Deni agar kamu bisa memilikinya. Begitukah caramu memperlakukan seorang sahabat? Hatimu benar-benar busuk, Mel! Kamu sangat jahat! Kamu…!”


“Cukup, Di! Jangan caci aku lagi!” potong Melani tajam karena tak tahan lagi mendengar serangan Diah.


“Ketahuilah, Di. Dalam hatiku tak pernah ada niat sedikit pun untuk merebut Deni dari tanganmu. Aku tak pernah mencintainya. Memang, dia pernah mengungkapkan isi hatinya kepadaku. Dia bilang kalau dirinya sudah tidak bisa mencintaimu lagi. Dia mengaku hatinya sudah berpaling padaku. Tapi aku tak mau menerimanya. Aku bahkan sangat marah. Kalau aku pernah memintamu untuk mempertimbangkan hubunganmu dengan Deni, itu semata demi kebaikanmu, Di. Aku tak mau kamu dibuat kecewa dan disakiti oleh Deni. Aku juga telah berusaha menghindar dari Deni. Kamu bisa lihat sendiri, sekarang aku tak mau lagi diantar jemput oleh Deni. Aku memilih diantar oleh Toni. Semua itu kulakukan agar Deni tak mengejarku lagi. Aku juga tak ingin menyakiti hatimu, Di!” tutur Melani kemudian menjelaskan.


“Omong kosong! Semua itu hanya kepura-puraanmu agar kamu tak terlihat sedang menjalin cinta dengan Deni. Kamu tak ingin terlihat bersalah di hadapanku!” bantah Diah.


“Sungguh, Di. Aku berkata yang sesungguhnya. Aku tak mungkin mengkhianati sahabatku sendiri. Percayalah, Di!”


“Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini padamu, Di. Tapi aku takut kamu marah dan salah sangka. Aku tak ingin hatimu disakiti Deni. Jika memang Deni sudah tidak mencintaimu, untuk apa dipertahankan hubungan kalian? Mungkin ini lebih baik, dari pada kalian sudah terlanjur menikah dan kalian baru menyadari perbedaan itu sehingga timbul penyesalan di kemudian hari. Apalagi kalau kamu tahu Deni sebenarnya mantan…,” Melani belum selesai bicara, tiba-tiba dipotong Diah.


“Kamu bicara apa, Mel?” ujarnya gusar.


“Ya, mungkin kamu belum tahu kalau Deni dulu bekas pecandu narkoba. Dia juga pernah menghamili seorang gadis. Dia tak pernah menamatkan kuliahnya dan…”


“Cukup, Mel! Kamu jangan membohongi aku lagi. Aku sudah muak mendengar semua omong kosongmu!” tukas Diah kesal seraya bergega pergi meninggalkan Melani.

__ADS_1


“Tunggu, Di! Kamu harus dengar dulu penjelasanku!” seru Melani mencoba mencegah kepergian Diah. Tapi Diah sudah tak menggubrisnya. Melani menghela napas kecewa. Hatinya sedih karena Diah tampaknya masih menyimpan kemarahan pada dirinya. Diah telah kehilangan kepercayaan padanya.


Suara dering ponsel tiba-tiba mengejutkan Melani. Gadis itu mengambilnya dari dalam tas dan mengangkatnya.


“Halo…?” sapanya kalem.


“Halo, Sayang? Apa kabar? Lama kita tak bertemu. Aku jadi kangen sama kamu!” terdengar suara di seberang yang sangat dikenalnya. Melani tercekat. Wajahnya berubah pias dan tegang, jantungnya seperti digedor palu. Dia segera memeriksa layar monitor ponsel, tertera sebuah nomer tak dikenal. Melani tadi tidak sempat melihatnya dan mengira yang menghubungi adalah temannya, tapi tidak tahunya… si pemerkosa itu!


Dari mana dia tahu nomer baruku, batin Melani heran. Jangan-jangan…?


“Deni! Kamu pasti Deni! Iya, kan?!” cetus Melani langsung menebak, karena dalam benaknya tiba-tiba muncul nama Deni.


“Siapa itu Deni? Apa kamu sudah tidak mengenaliku lagi? Kita pernah menikmati malam yang indah di dalam toilet kantor. Masak kamu lupa? Aku ingin kita bisa mengulanginya lagi, Sayang…,” kata orang di seberang genit.


“Brengsek! Jahanam! Pergilah ke neraka!” umpat Melani kesal seraya mematikan ponselnya. Off!


Melani merasakan jantungnya seperti hendak meledak mendengar kata-kata si peneror gelap itu. Bayangan kengerian itu kembali mencekam hatinya. Sejenak Melani mengatur denyut nafasnya yang tak beraturan. Rasa muak dan kebencian terasa meluap dalam dada.


 

__ADS_1


 


__ADS_2