
Tiba-tiba sambungan dimatikan. Melani terkesiap.
“Halo.. halooo…?!” teriak Melani.
Tapi percuma. Sepertinya si peneror ingin memprmainkan perasaannya. Tangan Melani yang memegang gagang telepon terkulai lemas. Melani melampiaskan kekesalannya dengan berteriak sambil memegangi kepalanya.
“Tidaakkk..!”
Tiba-tiba muncul ibunya yang baru pulang dari warung. Wanita itu kaget karena tadi sempat mendengar teriakan putrinya di luar, sehingga dia bergegas masuk. Dan dilihatnya Melani terduduk di lantai dekat meja telepon.
“Ada apa, Melani? Kenapa kamu?”
Melani hanya menangis dan memeluk ibunya. Bu Marni mencoba menenangkan putrinya. Dia sepertinya tahu, pelaku telah meneror Melani.
“Sudah, sudah, sayang. Nggak ada yang perlu ditakutkan. Ayo kita ke kamar,” kata Bu Marni kemudian membimbing Melani kembali ke dalam kamar.
Melani duduk di tepi ranjang. Bu Marni mengambilkan segelas air putih. Melani meminumnya barang seteguk. Setelah dirasa cukup tenang, Bu Marni lalu menanyainya.
“Apakah orang itu menerormu lagi?”
Melani hanya mengangguk. Bu Marni menghela nafas dengan wajah sendu.
“Apa yang dikatakannya?”
“Dia mengancam akan mengincar Nina jika aku tidak mau memenuhi keinginannya menikah dengannya…” jawab Melani.
“Apa?!” Bu Marni terkejut bukan main. “Gila! Orang itu benar-benar gila. Ya, Allah, kenapa ada manusia jahat seperti itu.”
Bu Marni tak bisa menahan rasa kesal dan marahnya. “Sebaiknya kita laporkan ke polisi, Mel. Kita minta bantuan untuk menjaga Nina,” cetus Bu Marni jadi khawatir.
“Polisi sudah menyelidiki kasus ini, Bu. Mereka juga sudah menempatkan intel untuk mengawasi rumah kita. Mereka tidak mungkin menjaga Nina duapuluh empat jam,” tukas Melani.
“Terus apa yang harus kita lakukan untuk menjaga Nina?”
__ADS_1
“Kita beritahu Nina agar dia lebih berhati-hati. Jangan biarkan dia pergi sendirian. Kita minta Doni mengawalnya.”
“Tapi Doni masih kecil. Biar nanti ibu minta tolong Bang Ipang, untuk mengantar jemput Nina ke sekolah atau ke mana saja.”
“Ya, baiknya begitu, Bu.”
“Dan buat kamu, apa nggak ada baiknya kalau kamu jangan masuk kantor dulu.”
“Tidak, Bu. Aku tidak bisa terus berdiam di rumah. Aku sudah cukup kuat kok, Bu. Justru jika aku hanya di rumah saja, orang itu akan menganggapku lemah dan akan terus menerorku.”
“Tapi ibu khawatir bila nanti dia menyerang kamu di jalan. Atau saat kamu sendirian.”
“Aku sudah siapkan semprotan mrica dan alat setrum di tas, Bu. Aku sudah diajari polisi bagaimana cara melawan penjahat yang berniat memperkosa. Aku sudah siap melawan dia jika sewaktu-waktu muncul…” jelas Melani.
“Tapi, mel…?” Bu Marni masih khawatir.
“Ibu tenang saja. Kita tidak bisa hanya diam menghadapi ini. Kita harus melawan!” tegas Melani.
Bu Marni menghela nafas. Mencoba meyakini keputusan putrinya.
Melani lalu memberitahu adiknya untuk berhati-hati dan akan dikawal oleh Ipang. Tukang ojek yang biasa mangkal di pengkolan itu sudah ditemui Melani dan diberitahu untuk mengawal Nina. Nanti Melani akan memberinya upah setiap minggunya. Ipang setuju. Sementara Nina sendiri jadi ketakutan ketika diberitahu ada ancaman terhadap dirinya. Nina malah tidak mau masuk sekolah. Melani melarangnya.
“Kamu harus tetap masuk sekolah, Nin. Kakak nggak mau kamu nanti ketinggalan pelajaran,” kata Melani.
“Tapi aku takut, Kak,” Nina merajuk.
“Jangan takut. Ada bang Ipang yang akan mengawalmu. Dia jago silat. Percayalah, dia akan melindungimu.”
“Tapi sampai kapan ini, Kak?”
__ADS_1
“Jika penjahat itu sudah tertangkap.”
“Tapi kapan itu, Kak?”
Melani sejenak terdiam. Dia sendiri tidak tahu, kapan penjahat itu akan tertangkap. Karena ini kewenangan polisi. Mengingat begitu lamanya kepolisian mengusut kasus ini kadang muncul rasa pesimis. Tapi Melani mencoba meyakini cepat atau lambat, penjahat itu akan tertangkap.
“Percayalah, polisi pasti akan segera menangkapnya,” ujar Melani.
“Kalau tidak segera tertangkap, bagaimana?”
“Maka, kakak sendiri yang akan menghabisinya!” tegas Melani.
Setelah dibujuk dan diyakinkan, Nina akhirnya mau berangkat ke sekolah. Ipang sendiri meyakinkan Nina dan Melani akan menjaga Nina. Hati Melani sedikit lega. Setidaknya satu masalah telah teratasi.
Melani sendiri tidak ingin dihantui kecemasan dan ketakutan lagi. Rasa cemas dan takut justru melemahkan jiwanya. Melani tidak mau terus menerus mengurung diri di rumah. Penjahat itu pasti telah mengawasi dan memantaunya dari kejauhan. Dia sepertinya tahu, kapan Melani sedang sendirian atau berada di rumah, sehingga dia begitu mudahnya melancarkan serangan dan intimidasi. Dia tidak ubahnya seekor kucing yang sedang mengejar tikus. Si tikus akan terus ditindas dan dicabik-cabik jika tidak berani melawan.
Karena itu Melani perlu keluar untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak takut. Mentalnya tidak sekerdil tikus. Melani memutuskan kembali ke kantor. Dia ingin tetap bekerja seperti biasa. Dia tidak mau dikasihani dan dirundung kesedihan berkepanjangan. Rekan-rekannya sempat kaget dan khawatir. Tapi Melani meyakinkan mereka bahwa dirinya baik-baik saja. Mereka malah kagum dan bersimpati pada ketegaran Melani. Mereka pun memberikan support pada Melani.
Peristiwa yang menimpa Melani justru menumbuhkan solidaritas dan semakin menguatkan kebersamaan di kantor. Semua karyawan kini saling peduli dan menjaga satu sama lain. Para petugas security yang biasanya hanya sekadar melaksanakan tugas berjaga di posnya masing-masing kini jadi lebih aktif mengontrol setiap sudut untuk memastikan keamanan para karyawan. Jika ada karyawan lembur sampai malam, salah satu petugas security merelakan diri berjaga dekat ruangan karyawan yang sedang lembur.
Begitu pun petugas security memberikan penjagaan ekstra pada Melani. Hampir setiap beberapa menit mereka bergantian mendatangi ruangan Melani sekedar memastikan dirinya baik-baik saja. Melani sebenarnya agak tidak enak juga, tapi dia bisa menghargai perhatian dan kepedulian mereka. Justru tumbuh rasa aman dan membuat semua karyawan enjoy dalam bekerja. Selain itu sekarang karyawan di kantor itu juga tak segan melaporkan ke pos security jika ada orang asing dan mencurigakan memasuki kantor. Caranya mereka akan memotret orang itu lalu mengirim ke grup whatsapp karyawan.
Jika tidak ada satupun staf dan karyawan yang mengenalinya, maka bisa segera dilakukan tindakan. Pihak security akan menangkap orang itu dan menginterograsinya. Metode early warning security ini sempat menimbulkan kejadian lucu dan konyol. Suatu hari ada seorang cowok menyelinap memasuki kantor sambil membawa bunga. Karena tidak ada yang mengenalnya dan tidak bawa ID card, langsung saja diringkus dan diinterograsi. Si cowok itu mengaku hendak bikin surprise pada teman wanitanya yang dikenalnya lewat medsos.
Rupanya si cowok salah alamat. Cewek kenalannya bukan bekerja di kantor ini, tapi di gedung kantor sebelah. Dia pun dilepaskan setelah cewek kenalannya ditelepon dan datang untuk membebaskannya. Kejadian ini pun jadi bahan lelucon para karyawan. Mereka jadi tertawa geli. Melani hanya tersenyum kecut. Tadinya dia juga berharap cowok penyelinap itu adalah si pemerkosa. Tapi ternyata bukan. Dan Melani baru menyadari beberapa hari ini si pemerkosa tidak pernah menerornya lagi, baik secara langsung atau lewat telepon.
Tapi sore itu ketika selesai jam kantor dan akan pulang, Melani terkejut dicegat Deni di depan pintu gerbang. Penampilannya terlihat kucel dan muram. Melani yang tak respek lagi pada Deni karena telah menyakiti hatinya dan hati Diah, mencoba menghindar.
“Melani, aku ingin bicara penting denganmu,” kata Deni.
“Aku tahu, siapa kamu sebenarnya. Jadi tolong jauhi aku dan Diah!” tegas Melani seraya melangkah pergi.
“Aku tahu siapa yang memperkosamu!” ujar Deni membuat Melani menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Melani berbalik dan menatap Deni tajam. Wajahnya diliputi ketegangan dan penasaran.