Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Curhatan Deni


__ADS_3

Bila dilihat dari segi fisik dan penampilannya, Rico memang memenuhi unsur kesamaan dengan orang yang memperkosa Melani. Tapi dalam hati Melani masih ada keraguan. Benarkah Rico yang pendiam dan tidak banyak tingkah itu punya keberanian untuk melakukan perbuatan keji? Rasanya tak mungkin! Tapi… ah, Melani jadi resah sendiri.


“Bagaimana, Mel? Kamu percaya?” bisik Diah ke telinganya.


Melani hanya diam termenung. Sulit baginya untuk menentukan sikap. Penjelasan Toni justru membuat pikirannya jadi tambah ruwet.


“Percayalah, Mel. Bukan aku orangnya yang ingin mencelakaimu!” ujar Toni sekali lagi ingin meyakinkan gadis itu.


“Sebaiknya kamu pergi saja, Ton. Jangan ganggu Melani!” Diah mencoba mengusir Toni dari hadapan Melani.


“Tunggu sebentar, Di. Aku tidak akan pergi sebelum Melani bicara! Bagaimana, Mel. Kamu mau kan memaafkan aku?” cetus Toni sambil memohon kepada Melani.


Sejenak Melani menatap Toni seksama. Melihat sorot mata Toni yang teduh dan tulus, berbeda dengan sorot matanya beberapa waktu lalu yang dihiasi emosi, membuat Melani luluh juga. Dia kemudian menganggukkan kepalanya, menerima permohonan maaf Toni. Laki-laki itu tersenyum gembira.


“Terima kasih, Mel!” ucap Toni seraya berpamitan pergi.


Setelah bayangan Toni menghilang, Melani menghela napas panjang.


“Kamu percaya padanya, Mel?” tegur Diah membuyarkan lamunannya.


“Aku tidak tahu, Di. Jika cerita Toni memang benar, apakah ini berarti Rico-lah pelakunya? Aku masih sangsi, Di,” ucap Melani lesu.


“Kamu jangan terpengaruh omongan Toni, Mel. Dia mungkin sengaja ingin menutupi perbuatannya. Dia orang yang licik. Kamu mesti hati-hati padanya. Kamu juga harus hati-hati pada Rico. Mungkin memang dia pelakunya. Tapi sudahlah, biar nanti polisi yang menyelidiki kasus ini dan meringkus pelaku sebenarnya. Kamu tenang saja!” ujar Diah mencoba membesarkan hati Melani.


Wanita muda itu hanya mengangguk. Sepertinya memang tak ada jalan lain baginya selain menggantungkan sepenuhnya harapan pada polisi untuk mengungkap pelaku yang sebenanrya. Melani tak ingin dipermainkan oleh dugaan-dugaan yang justru akan membuat hidupnya jadi tidak tenang. Dia tak ingin menciptakan keresahan dan kecemasan sendiri. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana menjaga diri dan berusaha agar tidak terulang lagi peristiwa sama. Melani mesti hati-hati dan mawas diri. Dia akan berusaha melepaskan diri dari bayangan teror si pemerkosa yang selalu menghantuinya.


Tiba-tiba Melani ingat akan mengganti nomer ponselnya. Dia lalu meminta Diah menelepon Deni untuk menemaninya membeli kartu perdana. Melani akan membeli kartu perdana yang bisa diisi dengan nomer pribadi. Mudah-mudahan dengan cara ini, si peneror itu tidak akan lagi mengganggunya!

__ADS_1


Deni datang menjemput Melani di kantornya. Mereka akan pergi ke mal mencari kartu perdana. Diah tidak ikut karena masih ada tugas yang harus dilesaikan. Sebenarnya Melani lebih enjoy bila Diah ikut. Tapi whatever, Melani dan Deni berdua saja pergi ke mal. Deni mengantar Melani ke outlet penjual kartu perdana seluler. Melani memilih sendiri nomer yang disukainya. Usai mengganti nomer ponselnya, Melani lalu mengajak Deni mampir ke restoran untuk makan siang. Dia ingin mentraktir Deni sebagai ucapan terima kasih karena telah menemaninya.


“Kamu mau makan apa, Den? Biar aku yang traktir!” ujar Melani.


“Tak usah repot-repot. Aku belum lapar, kok,” tukas Deni menolak halus.


“Jangan begitu, Den. Kamu kan sudah bersusah payah membantu aku, sampai harus menyita waktu kerjamu. Please, cuma sekali ini saja kok. Ayo, dong enggak usah sungkan!” mohon Melani.


“Ya, deh. Aku pesan softdrink saja.”


“Nah, gitu dong. Makannya?”


“Tidak usah, aku masih kenyang kok!”


Melani lalu memanggil pelayan dan memesan dua gelas softdrink serta sepiring makanan kecil. Karena Deni tidak mau makan, jadi dia juga tidak makan.


“Kok melamun, Mel? Apa yang kamu pikirkan?” tegur Deni membuyarkan lamunan Melani.


Gadis itu jadi tersipu-sipu malu. Wajahnya merona jingga. “Ah, enggak, Den. Aku tidak memikirkan apa-apa,” jawab Melani berbohong.


“Kamu tak perlu khawatir lagi dengan penelepon gelap itu, Mel. Aku yakin dia tidak akan tahu nomer barumu. Dia tidak akan mengganggumu lagi. Kamu juga tak perlu takut selama masih ada aku di dekatmu!” ujar Deni seolah bisa membaca pikiran Melani dan meyakinkan gadis itu.


“Terima kasih, Den. Kamu benar-benar sangat baik.”


“Lupakanlah. Sudah kewajibanku sebagai laki-laki untuk menjagamu!”


Melani tersenyum. Hatinya tersanjung oleh ucapan Deni. Sungguh, Deni memang laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan memiliki kepedulian tinggi. Amat beruntung Diah memiliki kekasih seperti Deni.

__ADS_1


“Oh ya, omong-omong kenapa kamu tidak segera meresmikan hubunganmu dengan Diah? Apalagi yang kalian tunggu?” tanya Melani mengalihkan pembicaraan.


“Aku belum siap menikah, Mel,” jawab Deni sambil tersenyum tipis.


“Apanya yang belum siap, Den? Kalian kan sudah sama-sama dewasa. Karir kalian juga sudah mapan. Dari segi finansial kalian terbilang cukup. Usia pacaran kalian sudah melewati angka tahunan. Jadi apalagi yang belum siap?”


“Ya, banyak, Mel. Memutuskan menikah tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu pemikiran yang matang. Karena menikah kalau bisa sekali seumur hidup, tidak bisa main-main!”


“Memangnya hubungan kalian selama ini hanya main-main, tidak serius? Apa artinya cinta yang kalian bina selama ini? Padahal Diah sangat mencintaimu dan berharap bisa segera diresmikan ke jenjang pernikahan…”


“Yaah, persoalannya tidak sesederhana itu, Mel. Hubungan aku dengan Diah memang terkesan serasi dan harmonis, tapi… ah, sulit menjelaskannya. Terus terang, kadang aku berpikir apakah Diah benar jodohku?”


“Kamu kok jadi omong begitu sih, Den? Kayaknya kamu meragukan ketulusan cinta Diah. Apakah kamu sudah tidak mencintainya?” ujar Melani dengan nada menggugat.


“Aku menyayanginya, Mel. Aku teramat menyayangi Diah. Tapi rasa sayangku padanya lama-lama kurasakan seperti rasa sayang pada sahabat,” tutur Deni dengan suara lirih.


Melani tercekat mendengar ungkapan hati Deni. Dia menangkap ada sesuatu disembunyikan Deni. Kata-katanya menyiratkan bahwa dirinya sudah tidak mencintai Diah. Perasaan Melani jadi tegang. Jika Diah sampai mendengar hal ini, hatinya tentu sakit bukan main.


“Kedengarannya kamu sudah tidak mencintai Diah lagi, Den?” tebak Melani menduga-duga.


“Ah, tidak, Mel. Tolong jangan katakan hal ini pada Diah…,” ucap Deni dengan nada gugup.


“Jujur saja, Den. Aku tak mau kamu menyakiti hati Diah. Dia terlalu banyak berharap sama kamu. Benarkah kamu sudah tidak mencintainya? Tolong, jawab dengan jujur?” cecar Melani dengan suara gemetar.


Deni tidak segera menjawab. Dia malah menundukkan kepalanya, seolah merasa tersudut. Wajahnya tampak diliputi keresahan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2