
Untuk beberapa saat Melani masih dicekam rasa ngeri. Penjahat itu masih juga menerornya melalui telepon.
“Jahanam! Pergi kamu ke neraka!” teriak Melani.
Penjahat itu tertawa. Suara tawanya terdengar aneh. Selama ini penjahat yang menerornya melalui telepon suaranya terdengar berat dan mendengung, seperti suara orang yang hidungnya tersumbat. Sudah pasti dia sengaja menyembunyikan suara aslinya dan mengubah dengan alat tertentu. Mungkin dia bicara sambil menjepit hidungnya.
“Aku sudah tahu siapa kamu. Wajahmu sudah tercetak di selebaran dan tersebar ke semua kantor polisi. Sebentar lagi kamu akan tertangkap!” ujar Melani menekan nyali si peneror.
“Aku tidak takut. Polisi tidak bisa menangkapku. Kamu pikir aku bodoh? Wajah yang kamu lihat di toilet restoran tadi bukan wajahku yang asli. Aku orang yang pandai menyamar…. Hahaha…!”
Melani tertegun. Benarkah apa yang dikatakannya? Wajah penjahat yang dilihatnya tadi bukan wajah aslinya? Mungkin dia memakai topeng dari karet lateks seperti dalam film-film? Ah, Melani jadi bingung.
“Apa sebenarnya maumu? Tidak puaskah kamu telah menghancurkan hidupku?”
“Sudah kubilang, aku hanya ingin kamu mau menikah denganku. Masih lupa?”
“Jika aku tidak mau….”
“Kamu tahu sendiri konsekuensinya. Aku akan mendekati Nina dan menjadikannya pengantin pengganti. Bagaimana?”
Melani meradang. Dia tak bisa menahan amarahnya.
“Keparat! Kamu jangan pernah ganggu adikku! Jika kamu berani menyentuh adikku sesenti saja, aku akan cari kamu ke ujung dunia sekalipun. Aku akan bunuh kamu! Aku akan bunuh kamuuu…!” jerit Melani melengking tinggi.
“Kalau kamu tak mau melihat adikmu kehilangan masa depannya, maka kamu tinggal menuruti keinginanku. Simpel kan?”
Melani diam termangu. Rasa kelu dan pahit menggulung dalam hati. Orang ini tampaknya punya cara ampuh untuk menyiksa batinnya. Melani menggigit kedua bibirnya, menahan rasa sedih dan amarah yang bercampur jadi satu. Dia tidak tahu, apakah dia harus mengabaikan ucapan orang itu atau memenuhi keinginannya. Tapi hatinya merasa berat untuk memenuhi keinginan orang itu. Dia takut orang itu benar-benar melaksanakan ancamannya bila dia tidak memenuhi keinginannya.
“Kenapa kamu diam saja? Aku tak mau kamu terlalu banyak berpikir. Aku mau mendengar keputusanmu saat ini juga!” ujar orang itu mencoba menekan.
__ADS_1
“Baiklah, aku penuhi keinginanmu…,” ucap Melani akhirnya dengan suara lirih. Dia memang tidak punya pilihan lain.
“Nah, begitu kan baru enak. Aku senang kalau kamu mau memenuhi keinginanku. Aku yakin, kamu nanti tak akan kecewa bila sudah menikah denganku. Karena sesungguhnya kita sudah saling memiliki sejak peristiwa di toilet kantor itu!”
“Aku ingin bicara empat mata denganmu. Aku tak mungkin menikah dengan orang yang belum kukenal wajahnya!”
“Baiklah, kamu bisa datang ke tempatku sekarang juga. Tapi ingat, jangan coba-coba bawa polisi atau orang lain. Aku selalu tahu setiap gerak-gerikmu. Sekali kamu melakukan kesalahan kecil saja, aku tak segan bertindak yang lebih kejam lagi pada keluargamu!” tegas orang itu mengancam.
“Aku akan datang sendiri!”
“Bagus! Kamu boleh temui aku di hotel Nirwana kamar nomer seratus duapuluh!”
Melani meletakkan gagang telepon sambil mendesah napas panjang. Perasaannya dicekam oleh kengerian. Ada rasa penasaran tiba-tiba menjalar dalam hatinya. Melani sengaja memenuhi keinginan si pemerkosa itu karena dia memiliki sebuah rencana. Dia akan membunuh orang yang telah menyebabkan kehancuran pada hidupnya. Dia akan mengakhiri mimpi buruk yang selama ini menghantui hidupnya. Ya, tak ada jalan lain mengakhiri semua ini selain membunuhnya. Dan dia sendiri yang akan membunuhnya.
Dengan meneguhkan keyakinannya Melani lalu melangkah pergi meninggalkan rumah. Sebilah pisau runcing tajam dimasukkan dalam tas kecilnya. Ketika dia baru saja keluar dari rumah, Nina keluar dari kamar. Rupanya tadi dia mendengar suara ribut kakaknya dan penasaran.
Tapi Melani sudah tidak ada. Nina hendak kembali lagi ke kamarnya, tapi telepon tiba-tiba berdering. Nina ragu untuk mengangkatnya, tapi akhirnya diangkat juga.
“Halo….?” Sapa Nina.
“Selamat siang. Kami dari kepolisian. Bisa bicara dengan saudari Melani?” kata petugas di seberang.
“Kak Melani sedang pergi. Ada apa ya, Pak?”
“Tolong sampaikan ke saudari Melani untuk segera datang ke kantor polisi, karena buronan yang disketsa wajahnya tempo hari telah ditangkap. Kami memerlukan kesaksian dari saudari Melani untuk mengidentifikasi pelaku, apakah benar dia pelaku yang telah memperkosanya.”
“Baiklah, Pak. Nanti saya sampaikan….”
Nina menutup telepon dengan wajah lega dan senang. “Alhamdulillah, penjahatnya sudah tertangkap. Kak Melani pasti senang mendengarnya,” kata Nina bicara sendiri.
__ADS_1
Sementara itu Melani sudah sampai di pinggir jalan raya dan menyetop taksi. Saat Melani naik ke dalam taksi secara kebetulan Diah yang hendak ke rumahnya melihat dari kejauhan. Gadis itu berseru memanggil, “Melaniii….!”
Tapi Melani tak mendengarnya karena keburu masuk ke dalam mobil taksi. Diah jadi penasaran, mau ke mana Melani. Padahal dia datang hendak memberitahu jika polisi telah menangkap penjahat yang memperkosa Melani. Tadi di kantor Diah mendapat telepon dari kantor polisi yang memberitahu kabar baik itu. Karena Melani tidak masuk kantor, Diah berinisiatif mendatangi rumah Melani. Sebab ditelpon berkali-kali telpon rumah Melani sibuk. Melani terlihat pergi terburu-buru dengan wajah tegang. Diah khawatir terjadi apa-apa dengan Melani di jalan. Dia segera menyusul Melani.
Sementara itu Melani dicekam ketegangan selama dalam perjalanan menuju hotel Nirwana. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya. Hatinya resah karena akan menghadapi saat yang paling mendebarkan dalam hidupnya. Dia akan menemui orang yang pernah memperkosanya dan selama ini bersembunyi di balik kegelapan. Dia jadi penasaran, seperti apa wajah asli orang itu. Setumpuk rasa marah, benci, dan dendam menyesak dalam dada. Rasanya dia tak sabar lagi bertemu orang itu dan melampiaskan kesumat dalam hati. Dia ingin mengakhiri mimpi buruk yang telah menghantui dan menyiksa batinnya.
Melani sudah sampai di depan gedung hotel Nirwana. Dia segera turun dari taksi dan langsung menuju ke ruang loby. Dia bertanya dulu kepada petugas resepsionis letak kamar nomer seratus duapuluh. Sayang, petugas tidak mau menyebutkan nama penyewa kamar tersebut. Tampaknya orang itu sudah tahu akan kedatangan Melani dan memberitahu pegawai resepsionis untuk tidak memberitahu jati dirinya. Setelah mendapat keterangan dari pegawai resepsionis, Melani segera menuju lift. Tanpa dia sadari Diah menguntit di belakangnya.
Melani keluar dari pintu lift dan berjalan mencari kamar nomer seratus duapuluh. Akhirnya dia tiba di depan pintu kamar itu. Sejenak dia mengatur degub jantungnya yang tak teratur. Wajahnya dibasahi keringat dingin. Hatinya ragu-ragu ketika akan mengetuk pintu. Tapi diberanikan diri untuk menepis segala gundah dalam dada. Dengan tangan agak gemetar dia mengetuk pintu. Sejenak dia menunggu pintu dibuka dari dalam. Tak berapa lama daun pintu terkuak. Sesosok laki-laki tinggi ramping muncul di hadapannya, tersenyum menyeringai. Mata Melani terbelalak. Dia seperti tak percaya memandang orang yang berdiri di depannya.
“De…ni…?” ucapnya bergetar.
“Ya, Mel! Ini aku! Kamu jangan marah kalau aku yang melakukan semua ini padamu. Aku terpaksa mengambil cara seperti ini karena aku sayang sama kamu. Aku tidak pernah mencintai Diah. Aku hanya mencintaimu. Aku tak tahu, mesti bagaimana agar aku bisa meyakinkan hatimu. Hanya dengan cara ini aku bisa memilikimu!” ujar Deni dengan sikap tenang tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Kamu ********, Den! *******! Kamu manusia rendah! Teganya kamu menghancurkan hidupku! Aku benci kamu! Aku benci kamuuuu…!” seru Melani marah bukan main.
“Sst, jangan berteriak di sini! Nanti orang-orang mendengar! Ayo, masuk ke dalam. Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” tukas Deni seraya menarik tangan Melani, mengajaknya masuk ke dalam.
Tapi gadis itu menampik tangan Deni. Tiba-tiba dia mengambil pisau dari dalam tasnya yang telah dipersiapkan sejak dari rumah tadi. Dengan gerakan sangat cepat Melani mengayunkan pisau yang ujungnya runcing itu ke perut Deni. Pemuda itu tak sempat menghindar dan tak menduga apa yang bakal terjadi. Dia hanya bisa memekik kesakitan saat ujung pisau menembus perutnya. Darah segar memuncrat.
“Arkhhhh….! Mel---….” Deni hendak bicara, tapi suaranya menggantung di udara.
“Pergi kamu ke neraka!!!” teriak Melani histeris.
Dia kembali menghunjamkan ujung pisau itu berkali-kali ke dada Deni. Laki-laki itu akhirnya ambruk di lantai, tewas seketika. Bajunya tampak berlumuran darah. Melani memandanginya dengan penuh kepuasan karena telah berhasil menuntaskan dendam yang terpendam.
__ADS_1