Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Kecurigaan Diah


__ADS_3

Di kehidupan fana ini batas antara bahagia dan duka memang sangat tipis sekali. Setiap saat nasib manusia bisa berubah dalam sekejap. Yang tadinya bahagia, tiba-tiba bisa berubah menjadi duka. Bahkan di tengah kebahagiaan yang sedang melingkupi hati manusia, kedukaan bisa hadir secara tiba-tiba bagai hantu di siang bolong. Inilah yang dinamakan dinamika dan romantika hidup manusia. Bencana itu bisa berupa kegagalan dalam bercinta. Hubungan kasih yang sudah lama terjalin diantara sepasang kekasih mendadak harus diakhiri karena munculnya suatu persoalan atau pertentangan yang cukup tajam. Manusia boleh saja berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. Jodoh ada di tangan-Nya!


Hal inilah yang tampaknya mesti disadari Diah. Dia mesti tahu bahwa tidak ada yang abadi dalam hidup ini, tak terkecuali cinta. Tapi yang jadi masalah, siapkah Diah bila seandainya Deni meninggalkannya? Deni ternyata bukan jodohnya? Oh, rasanya Diah tak sanggup menghadapi kenyataan itu. Dia tak tahu, apa yang mesti dilakukannya bila Deni meninggalkannya. Diah hanya bisa menyimpan keresahan dalam hati. Dia tak mau memikirkan hal ini!


Meski Melani sudah menyatakan dengan tegas bahwa dirinya tidak mencintai Deni, tapi laki-laki itu masih terus berusaha mendekatinya, berusaha menarik simpatinya. Ada saja upaya Deni untuk dekat dengannya. Mengajak jalan-jalan, nonton, atau makan di restoran. Tentu saja tanpa menyertakan Diah. Tapi Melani menolak setiap ajakan Deni. Dia tak mau terjebak oleh rayuan dan bujukan Deni yang bisa menggoyahkan pendiriannya. Sebab, diam-diam dalam hati Melani mulai muncul kebimbangan. Ada godaan dan bisikan yang mempengaruhi hatinya.


Terkadang muncul pikiran dalam benak Melani, kenapa dirinya mesti menolak Deni? Jika memang Deni ditakdirkan bukan jodohnya Diah, kenapa harus dipaksakan? Bukankah cinta adalah sesuatu yang asasi dan ungkapan kejujuran hati yang paling dalam? Deni yang sudah tidak mencintai Diah tidak bisa dipaksa untuk membuat pilihan yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Dalam percintaan wajar bila sepasang insan putus hubungan di tengah jalan karena tiada kecocokan dan ada perbedaan. Kenyataan itu bisa berlaku pula pada kisah percintaan Deni dan Diah, meski mereka sudah cukup lama berhubungan. Deni tak bisa disalahkan bila kemudian memilih gadis lain yang lebih dicintainya.


Melani sendiri melihat Deni adalah laki-laki yang cukup baik. Banyak hal pada dirinya yang mampu memikat hati Melani. Deni orangnya cerdas, pintar, trampil, berwawasan luas, dan dewasa. Sejak pertama mengenalnya Melani sudah diliputi kekaguman. Deni sosok yang sangat gentlemen dan mengayomi. Melani merasa aman selama berada di dekatnya. Entah kenapa, sejak Deni sering mengantar jemput dirinya, si peneror gelap yang sering mengganggunya itu tak lagi melancarkan aksinya. Dia tak pernah mengganggu Melani lewat telepon atau kiriman SMS. Mungkin laki-laki pengecut itu takut melihat Melani sering bersama Deni. Dia tak berani macam-macam selama Deni ada di dekatnya!


Keadaan ini tentu saja membuat Melani merasa senang. Kehadiran Deni secara tidak langsung telah melindunginya dari gangguan orang jahat. Perasaan Melani mulai diliputi debar-debar aneh. Dia kerap diliputi kegalauan dan kebimbangan. Andai saja Deni bukan pacar Diah, mungkin tak sesulit ini Melani menghadapinya. Dia tak akan diliputi perasaan bersalah karena mencintai laki-laki bekas pacar sahabat dekatnya. Tapi inilah persoalannya. Melani tak sanggup mengkhianati sahabatnya sendiri. Sekalipun Diah merelakan Deni pergi dan mencintai gadis lain, tentu dia tak pernah berharap gadis itu sahabatnya sendiri!


Melani jadi serba salah. Dia bingung, bagaimana mesti bersikap?


Sementara di sisi lain Melani juga diliputi keraguan, apakah dengan keadaannya sekarang yang sudah tidak suci lagi Deni mau menerimanya? Tidakkah Deni akan kecewa dan pergi meninggalkannya jika tahu dengan keadaan dirinya yang sebenarnya? Oh, Melani tak sanggup membayangkan kemungkinan itu. Dia tak mau dibuai oleh angan-angan yang muluk. Dia menyadari kekurangan dan kelemahan dirinya. Dia mencoba menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk kehadiran cinta. Karena cinta baginya kini hanya sebuah fatamorgana belaka. Cinta sejati hanya berlaku pada mereka yang masih perawan. Tak ada laki-laki di dunia ini mau menerima wanita yang sudah ternoda!


Siang itu, Melani menghampiri Diah di mejanya. Dilihatnya wajah Diah tampak kusut dan muram.

__ADS_1


“Wajah kamu kok kusut begitu, Di? Ada masalah apa?” tanyanya kalem.


Diah tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala.


“Kamu marahan sama Deni, ya?” tebak Melani.


Diah mendesah panjang. Tampaknya dia tak bisa menyembunyikan keresahan hatinya di hadapan Melani. Dia lalu berkata setengah bergumam.


“Apakah pada dasarnya semua laki-laki memang pembohong, Mel?”


“Apa maksudmu?” tanya Melani tak mengerti.


Melani tercekat. Dia ingat, kemarin malam Deni mengajaknya makan malam di restoran. Saat itu Deni berhasil mengelabuinya. Dia bilang dirinya sedang ditunggu Diah, tapi tidak tahunya itu hanya akal-akalan Deni supaya bisa pergi berdua bersamanya. Melani sempat jengkel dan marah, tapi apa mau dikata. Mereka sudah terlanjur memesan meja. Melani merasa tak enak hati bila harus kembali pulang. Akhirnya, dia memenuhi ajakan Deni makan malam bersama. Melani tak sadar, bila keberadaannya di restoran itu diketahui orang yang dekat dengan Diah. Perasaan Melani gelisah. Dia tak ingin Diah tahu bahwa wanita yang dimaksudnya tak lain adalah dirinya. Melani tak mau Diah salah paham!


“Kamu tahu, siapa wanita yang pergi bersama Deni?” tanya Melani dengan hati-hati.


“Itulah yang membuat aku penasaran, Mel. Andai saja aku tahu siapa wanita itu…,” Diah tak meneruskan kalimatnya, karena diliputi kegusaran.

__ADS_1


“Kamu tidak tanya sama Deni?”


“Dia tidak mau mengaku. Dia bersikukuh tidak pergi dengan siapa-siapa malam itu. Aku jadi bingung, Mel. Di satu sisi aku ingin mempercayai Deni, tapi di sisi lain aku meragukannya. Mungkin perasaan Deni kepadaku sudah berubah. Dia sudah tidak mencintaiku lagi…”


Wajah Diah semakin gelap diliputi mendung. Melani jadi prihatin melihatnya. Ada pertentangan dalam batinnya. Mestikah aku membiarkan kemelut ini terus berlangsung tanpa kepastian? Tapi haruskah kejujuran ini diungkapkan dengan konsekuensi buruk yang bakal menimpa Diah…? Batin Melani gundah.


“Ah, sudahlah, Mel. Malas membicarakan soal Deni. Oh ya, bagaimana dengan perkembangan penyelidikan polisi itu? Kok sampai sekarang tidak ada kelanjutannya?” cetus Diah tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


“Entahlah, Di. Belum ada kabar apa-apa dari polisi,” jawab Melani lesu.


“Mungkinkah pelakunya sudah tertangkap? Atau mungkin polisi kesulitan mengungkap pelakunya? Tapi omong-omong, kok sekarang kamu tidak pernah mengeluh diteror oleh penelepon gelap itu lagi, Mel? Apa dia sudah menghilang?”


“Entahlah! Aku sendiri juga heran. Sejak nomer HP-ku ganti dan sering diantar jemput Deni, orang itu tidak pernah muncul lagi.”


“Apa tidak sebaiknya kita ke kantor polisi dan menanyakannya langsung, Mel?”


“Tidak usah, Di. Aku sudah berulangkali menelepon ke sana, tapi jawabannya selalu klise; masih dalam proses penyelidikan. Kayaknya kasus seperti ini dianggap hal sepele, Di. Aku jadi malas menanyakannya lagi ke sana. Nanti salah-salah ada wartawan yang tahu kemudian menulisnya dalam berita. Oh, aku tak mau itu terjadi. Biarlah kalau memang kasus ini tak terungkap. Yang penting sekarang orang jahat itu sudah tidak muncul lagi menggangguku!” ujar Melani dengan nada pasrah.

__ADS_1


“Semestinya kasus seperti ini harus diungkap dengan jelas, Mel. Jangan sampai pelaku kejahatan itu bebas berkeliaran dan tidak mendapat hukuman. Nanti dia bisa melakukan kejahatan lagi pada orang lain. Akan banyak korban yang berjatuhan.”


“Tapi mau bagaimana lagi, Di? Kasus yang kualami ini memang diselimuti oleh kabut misteri. Aku sebenarnya juga menginginkan penjahat itu segera ditangkap, agar dendam hatiku terbalas. Tapi aku pun tak ingin menyiksa hatiku dengan persoalan ini. Aku ingin melupakan trauma itu dan melepaskan bayang-bayang hitam yang menghantui hidupku. Jika memang penjahat itu tak bisa ditangkap dan diadili, biarlah Tuhan nanti yang akan mengadili dan menghukumnya!” ujar Melani dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2