
Melani tak kuasa menahan gejolak perasaannya mendengar ucapan Tuti. Dia langsung menyambar kata-kata seniornya itu.
“Saya tidak pernah menyakiti hati orang lain, apalagi berlaku buruk pada orang-orang. Saya juga tidak sombong dan angkuh seperti yang kalian tuduhkan. Apakah karena saya menolak cinta Toni, lalu saya dianggap angkuh? Apakah karena saya pendiam lalu dianggap sombong? Saya juga punya hak untuk melindungi privacy saya!” ujarnya dengan nada berapi-api. Mukanya sampai terlihat memerah dan tubuhnya gemetar hebat menahan amarah dalam dada. Diah segera merangkul bahu Melani, seakan ingin menenangkan. Melani sendiri tak kuasa menahan gemuruh hebat yang mengguncang dadanya. Dia lalu menangis tersedu-sedu di dada Diah.
“Kalian semua memang keterlaluan! Beginikah cara kalian memperlakukan rekan kerja? Melani sangat menderita oleh keadaannya, tapi kalian menambahnya dengan kata-kata yang menyakitkan. Seharusnya kalian membantu mengatasi masalah yang dihadapinya. Bukan mencerca dan menuduhnya yang bukan-bukan!” desis Diah gusar.
“Siapa yang mencerca dia? Apakah tidak sebaliknya, dia malah yang memperlakukan kita seperti pesakitan? Dikira kita ini gerombolan preman yang suka meneror orang!” tukas Tuti ketus.
“Tapi perilaku mbak memang seperti preman. Mbak suka mencerca dan menghina orang! Mbak suka iri dan dengki! Bukan tidak mungkin mbaklah yang selama ini meneror Melani!”
“Brengsek! Seenaknya saja kamu menuduh aku? Dasar, perempuan reseh! Biang kerok!”
“Mbak yang biang kerok! Perawan tua tidak tahu malu!”
“Bajingan! Perempuan sundal! Kucekik kamu…!”
“Coba kalau berani!”
Tuti merangsek maju menyerang Diah. Kedua perempuan itu terlibat perkelahian. Mereka saling menjambak rambut. Beberapa rekan karyawan lain mencoba melerai. Suasana menjadi panas dan tegang. Tiba-tiba Melani menjerit histeris. “Diam! Kalian semua diaaaammmm…!”
Semua yang mendengar jeritan Melani terdiam dan menoleh ke arah wanita itu. Pak Tejo yang ada di dalam ruangannya pun ikut keluar.
“Ada apa ini kok pada ribut? Siapa tadi yang menjerit?” tanya Pak Tejo.
“Melani, Pak! Tadi Diah dan mbak Tuti berantem. Kami berusaha melerai!” ujar seorang karyawati.
“Kenapa bisa berantem?”
__ADS_1
“Mereka berdebat soal kasus yang menimpa Melani. Diah tidak terima Melani dikata-katain sama mbak Tuti!”
Pak Tejo geleng-geleng kepala mendengar keterangan anak buahnya. Dia lalu menatap kepada Diah dan Tuti dengan penuh kegeraman. “Kalian ini benar-benar keterlaluan. Kalian seperti anak kecil saja! Kalian berdua menghadap ke ruangan saya! Dan yang lain kembali ke tempatnya masing-masing!” perintahnya kemudian dengan nada tegas.
Semua karyawan kembali ke mejanya masing-masing. Sementara Diah dan Tuti melangkah mengikuti Pak Tejo ke ruangannya. Melani yang masih diliputi rasa sedih duduk terpekur di mejanya. Wajahnya terlihat masih bersimbah air mata. Tanpa dia sadari dari ujung sana Toni memandanginya dengan sorot mata iba. Tampaknya laki-laki itu menyesali dengan perbuatannya tadi.
Saat makan siang Toni menghampiri Melani yang sedang duduk bersama Diah. Melihat kedatangan Toni, wajah Diah langsung memberengut.
“Mau apa ke sini? Mau mempermalukan Melani lagi?” semprot Diah.
Melani menyentuh tangan Diah dan mengisyaratkan untuk tidak bicara. Toni sendiri seperti tak tersinggung oleh ucapan Diah. Wajahnya ditekuk dalam.
“Kalau bukan kamu yang mengirim SMS teror itu, lalu siapa lagi? Kamu bisa saja kan memakai nomer baru?!” dengus Diah masih curiga.
“Sudahlah, Di! Jangan pojokkan dia!” tukas Melani menepis ucapan Diah.
“Tapi, Mel…?”
“Please, Di. Aku mohon. Dulu Toni memang pernah mengirim SMS kepadaku, tapi tak pernah kutanggapi. Tapi aku yakin, SMS teror yang dikirim oleh nomer tak dikenal itu bukan datang dari Toni. Sebab, aku hapal dengan gaya tulisan Toni…”
“Tapi bisa saja kan dia merubah gaya tulisannya, karena ingin terlihat berbeda. Penjahat mana ada yang mau mengaku?”
“Sungguh, Di! Bukan aku pelaku teror itu! Sumpah demi Tuhan!” bantah Toni tegas.
__ADS_1
“Kalau bukan kamu, lalu siapa? Karena di kantor ini yang suka merayu dan mendekati Melani tak ada lagi selain kamu. Melani tak pernah mendapat SMS bernada merayu dan nggombal kecuali dari kamu. Selama ini kamu suka mengejar-ngejar Melani. Bahkan kamu tak malu mengungkapkan keinginanmu itu di hadapan orang banyak!” cetus Diah dengan nada ketus.
“Aku akui kalau aku memang agak norak, kampungan. Aku menyukai Melani dan semua orang tahu itu. Tapi aku melakukan semua itu dengan terang-terangan, bukan sembunyi-sembunyi. Aku juga tak pernah menyampaikan perasaanku dengan kata-kata kotor dan melecehkan. Tidak seperti si pengecut yang suka meneror Melani melalui HP. Aku justru ikut gusar dan marah dengan perbuatan orang misterius itu. Dia sepertinya ingin menjatuhkan namaku, melemparkan fitnah padaku. Dia seolah mengharapkan akulah yang dituduh sebagai pelaku. Dia ingin menjadikanku kambing hitam. Karenanya aku ingin tahu dari mulut Melani sendiri, seperti apa sebenarnya ciri-ciri orang yang telah menerornya. Biar nanti aku sendiri yang menghajarnya!” ujar Toni dengan nada geram.
Tapi ucapan Toni yang penuh kesungguhan itu tidak serta merta meyakinkan hati Diah. Dia masih tidak percaya.
“Kamu berkata seperti itu agar kamu mendapat simpati dari Melani dan membebaskan dirimu dari tuduhan. Begitu, kan?” dengus Diah.
“Percayalah, Di! Aku berkata dengan sejujurnya, dari hatiku yang terdalam. Sekali-kali tidak pernah ada niat dalam hatiku mencelakai Melani. Bagaimana mungkin aku menyakiti orang yang kusayangi!” ucap Toni terdengar sentimentil.
Diah malah mendengus. Melani mencoba menenangkan sahabatnya.
“Sudahlah, Di. Tidak usah terus menekan Toni. Dia punya hak untuk membela diri,” ucap Melani kalem. Kata-kata Melani cukup melegakan Toni. Laki-laki itu jadi lebih tenang.
“Sebenarnya aku punya sedikit kecurigaan pada Ida dan Rico, Mel!” cetus Toni tiba-tiba mengungkapkan pendapatnya.
“Ida dan Rico? Kenapa kamu mencurigai mereka?” tanya Diah ingin tahu.
“Sebelum Melani masuk kantor ini, aku dan Ida pernah menjalin hubungan dekat. Tapi sayang, selama ini aku merasa tidak cocok dengannya. Ida orangnya egois, cemburuan, dan suka mengatur. Itulah mengapa aku kemudian memutuskan hubungan dengannya. Tapi Ida sepertinya tidak terima. Dia masih terus saja mengejar aku. Ketika aku terang-terangan menyatakan rasa sukaku pada Melani, gadis itu jadi cemburu. Dia lalu berusaha ingin merusak hubunganku dengan Melani. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan meneror Melani. Dia melakukan itu agar akulah yang dituduh sebagai pelakunya dan Melani akan kehilangan simpatinya kepadaku…,” tutur Toni mengemukakan asumsinya.
“Lalu, apa hubungannya dengan Rico?” tanya Melani penasaran.
“Aku pernah memergoki Ida berduaan dengan Rico di sebuah kafe. Tapi Ida menyangkal bahwa dia menjalin hubungan dengan Rico. Aku tak percaya. Maka, suatu malam aku sengaja mencegat mereka berdua saat pulang dari kantor. Ida tak bisa mengelak lagi saat kutemukan dirinya berada di dalam mobil Rico. Saat itu dia berjanji tidak akan mengganggu hubunganku dengan Melani. Dia juga meminta agar hubungannya dengan Rico tak dihalangi. Dan sekarang aku ingat, malam itu adalah malam dimana Melani mengaku diikuti seseorang. Apakah tidak mungkin jika orang itu adalah Rico yang sengaja disuruh Ida untuk meneror Melani? Karena sakit hati dan dendam, Ida nekad melakukan itu!”
Melani tertegun mendengar keterangan Toni. Apa yang dikatakan Toni membuat hatinya berdebar-debar. Seperti dikatakan oleh polisi bahwa malam itu Rico adalah orang terakhir yang keluar dari kantor selain Melani. Waktu saat Rico pulang bersamaan dengan waktu Melani menyelesaikan pekerjaannya. Kalau begitu, apakah ini berarti Rico pelakunya? Dia yang telah memperkosaku? Batin Melani gundah.
__ADS_1