
Peristiwa yang dialami adiknya membuat Melani jadi sedih dan prihatin. Penjahat itu sepertinya sudah sangat nekad. Pada siang bolong dia menyerang Nina. Tidakkah itu sangat beresiko? Dia bisa saja mati dikeroyok massa. Tapi bagi penjahat tak bermoral seperti dia hal itu mungkin tidak jadi halangan. Justru sepertinya dia tertantang. Melani pun heran, kenapa penjahat itu sangat terobsesif pada keluarganya, terutama dirinya.
Melani masih mengingat ucapan penjahat itu saat menerornya lewat telepon. Dia ingin Melani menjadi istrinya. Melani merasa motif itu terdengar halu atau bisa dibilang mustahil. Siapa wanita yang mau diperistri laki-laki yang kasar dan telah berbuat jahat padanya. Keinginan penjahat itu sangat tidak masuk akal. Setelah menodai korbannya, jika dia memang berpikir sehat, tentu dia akan berusaha tidak diketahui identitasnya oleh sang korban. Dia bisa melenggang bebas mencari korban lainnya.
Tapi dia masih terus mendekati dan meneror korbannya. Hanya ada dua kesimpulan yang bisa ditarik Melani; orang itu psikopat atau punya dendam. Ya, hanya orang sakit jiwa yang melakukan tindakannya tanpa peduli etika dan moral. Jika motifnya karena dendam, Melani berpikir keras, dendam karena apa? Sebab, selama ini keluarganya tidak punya musuh dan bersikap baik kepada siapa saja. Melani juga tidak pernah berurusan dengan seseorang yang sampai menyinggung atau menyakiti hatinya.
Melani menduga-duga orang ini pasti sudah lama mengincar dirinya dan keluarganya. Dia mungkin orang yang telah dikenalnya. Tapi siapa? Inilah yang masih terus dipikirkan Melani dan belum juga menemukan jawabannya. Bahkan Melani sempat menelusuri jejak kehidupan orangtuanya di masa lalu. Melani pernah bertanya pada ibunya apakah pernah punya urusan dengan orang lain yang belum terselesaikan. Atau mungkin urusan almarhum ayah Melani. Karena bisa saja urusan itu menimbulkan rasa marah dan dendam.
“Tidak, Mel. Ibu tidak pernah urusan dengan seseorang. Kalau soal utang piutang, ada sih. Tapi nilainya kecil dan palingan juga sama keluarga sendiri atau utang di warung. Begitu pun dengan almarhum ayahmu. Bahkan saat meninggal ayahmu tidak meninggalkan utang sama sekali. Karena almarhum tahu, jika seorang muslim meninggal dan masih memiliki utang, maka akan terhalang masuk surga. Malah ada beberapa rekannya datang membayar utang pada ibu. Rupanya tanpa sepengetahuan ibu, ayahmu sering membantu orang lain dengan meminjami uang,” tutur Bu Marni menceritakan.
“Mungkin ada ucapan atau sikap ibu dan almarhum ayah yang menyinggung orang lain?” tanya Melani lagi.
“Sepengetahuan ibu tidak pernah kami mencaci atau bersikap tidak pantas pada orang lain. Kamu seperti tidak mengenal orangtuamu saja.”
Melani tercenung. Apa yang dikatakan ibunya benar. Dia sangat mengenal orangtuanya. Mereka orang baik, taat beragama, dan selalu bersikap baik pada tetangga atau siapapun. Jadi sepertinya tidak mungkin jika masalah ini dipicu persoalan orangtuanya. Ini sudah pasti urusan dengan dirinya. Atau mungkin juga tak perlu ada alasan bagi penjahat itu. Dia memang sudah punya niat jahat. Tapi yang Melani heran, dia melakukannya dengan terencana rapi sehingga sulit ditangkap, bahkan diketahui identitasnya.
Satu hal diyakini Melani, orang ini mungkin sudah lama merencanakannya dan boleh jadi selama ini memantaunya dari dekat. Dia orang yang dikenal Melani, tapi Melani tidak menyadarinya. Ya. Orang itu mungkin pernah dikenal Melani dan berada di sekitarnya. Melani sudah berusaha mengingatnya, terutama yang memiliki tato di kening, tapi tetap saja Melani tidak ingat pernah bertemu dengannya. Sketsa wajah yang dibuat polisi itu juga masih menyangsikan. Melani belum pernah bertemu orang seperti itu.
Melani mendesah berat. Dia tidak mau dibikin pusing memikirkannya. Biarlah polisi yang bekerja. Jika penjahat itu tertangkap dan Melani bisa berhadapan langsung dengannya, barulah Melani bisa yakin.
Hari ini Melani punya jadwal kontrol ke dokter yang pernah merawatnya. Sejak kejadian pemerkosaan yang kedua, Melani memang sempat mengalami depresi berat, sehingga membutuhkan penanganan ahli kejiwaan. Sering Melani terbangun tengah malam mengalami mimpi buruk atau diliputi ketakutan amat sangat. Oleh dokter dia diberikan obat penenang yang bisa mengurangi rasa sakit akibat depresi.
__ADS_1
Awalnya obat yang diberikan dalam dosis besar, tapi seiring waktu dan mulai ada tanda kesembuhan, maka dosisnya dikurangi. Melani sendiri sudah tidak mengalami hysteria dan ketakutan lagi. Berkat support keluarga dan teman-temannya Melani jadi pulih rasa kepercayaan dirinya. Dia tidak pernah kumat lagi. Namun demikian Melani masih harus tetap mengontrolkan dirinya tiap satu bulan sekali ke dokter Riswan.
Baru saja Melani keluar dari rumah, Deni sudah menunggunya di depan pintu pagar dengan sepeda motor. Padahal Melani tidak mengundangnya dan tidak ada janji.
“Deni, ngapain kamu ke sini?” tanya Melani heran.
“Iseng aja, pengen mengantar kamu ke kantor,” jawab Deni kalem.
“Tapi hari ini aku nggak ke kantor.”
“Kamu mau ke mana? Biar aku antar….”
“Nggak usah. Aku bisa pergi sendiri. Aku sudah pesan taksi online.”
“Tidak bisa, Den…. Aku….”
“Ayolah. Atau kamu masih benci sama aku? Kamu nggak percaya lagi sama aku….?”
Melani terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Mungkin tak ada salahnya menerima tawaran Deni. Toh, dia sudah bilang ingin kembali pada Diah.
“Ya, udah. Tolong antar aku ke tempat praktek dokter Riswan, di kompleks Ruko Jayamas,” kata Melani.
__ADS_1
“Kamu sakit?” tanya Deni.
“Nggak. Aku cuma mau kontrol aja. Dokter Riswan seorang psikolog. Dia telah banyak membantu aku.”
“Ya, udah, kamu naik gih.”
Melani lalu naik ke atas boncengan. Deni melajukan sepeda motornya sedang. Sepanjang jalan Deni banyak bercerita dengan nada riang. Dia bilang kalau Diah mulai mau membuka diri. Kemarin Deni mengirim chat pada Diah dan dibalas. Melani ikut senang mendengarnya.
“Jadi kalian sudah baikan lagi?” cetus Melani.
“Ya. Doain semoga Diah mau balikan lagi,” kata Deni.
Melani hanya mengaminkan. Mereka sudah tiba di tujuan. Deni menunggu di luar. Ketika sesi kontrol selesai Melani keluar ruang praktek dokter Riswan dengan wajah lega. Melani sebenarnya ingin langsung pulang, tapi Deni mengajak makan di restoran. Deni setengah memaksa sebagai ungkapan rasa terima kasih Melani telah membantu memulihkan hubungannya dengan Diah. Akhirnya Melani menurut.
Deni membawanya ke sebuah restoran berkonsep saung. Mereka duduk di sebuah gazebo dikelilingi kolam ikan. Melani pamit sebentar ke toilet. Deni menunggu di gazebo. Dengan langkah ringan Melani berjalan menuju bangunan toilet yang berada di ujung. Ketika Melani memasuki bangunan toilet, tanpa dia sadari ada seseorang dengan memakai jaket kapucong menguntitnya dari belakang.
Melani sendirian di ruang toilet wanita. Dia berdiri menghadap cermin dekat wastafel. Tiba-tiba dia mendengar suara pintu ditutup keras. Melani kaget dan berbalik. Tiba-tiba sepasang tangan kekar seorang laki-laki membekap mulutnya dan tangan satunya menodongkan sebilah belati ke lehernya. Orang itu menekan tubuh Melani ke dinding.
“Jangan coba berteriak dan melawan, aku tak segan menggorok lehermu!” desis laki-laki yang memakai jaket kapucong mengancam.
Mata Melani terbelalak. Hatinya dicekam kengerian amat sangat. Wajah penjahat itu tepat berada di depan wajah Melani. Kini Melani bisa melihat dengan jelas wajahnya. Ada tato gambar naga di keningnya. Tiba-tiba Melani merasakan ketakutan luar biasa. Akankah pemerkosaan terulang lagi?
__ADS_1