
Suara si penelepon tadi masih berdengung di gendang telinganya. Melani tadinya menduga si penelepon gelap itu Deni, tapi orang itu mengelak. Melani jadi penasaran dibuatnya. Kalau dia bukan Deni, lalu siapa? Tiba-tiba Melani teringat sesuatu. Dia kembali menyalakan ponselnya. Sayang, nomer yang tadi memanggilnya sudah terhapus.
Melani lalu mencari nomer Deni di phonebook. Dengan jemari agak gemetar dia segera memencet tombol panggil. Sejenak dia menunggu saluran tersambung. Tak berapa lama…
“Halo, Mel. Ada apa?” tanya Deni di seberang terdengar kalem. Nada suaranya berbeda dengan suara orang dalam telepon tadi.
Melani tidak langsung menjawab. Dia tampak bingung dan tegang.
“Halo, Mel…? Kok diam saja?” ulang Deni.
“E, iya…!” sahut Melani mencoba tenang. “Aku ingin tahu, Den. Apa maksudmu mengungkapkan semuanya pada Diah? Kenapa kamu tega menyakiti hatinya? Bukankah kamu sudah berjanji akan kembali pada Diah? Tapi kenapa kamu malah bicara yang bukan-bukan? Lihatlah, Diah marah besar padaku dan menganggapku telah mengkhianatinya. Aku benci sama kamu, Den!” semprot Melani berapi-api.
“Kamu sendiri mengingkari janjimu. Kamu sudah janji mau kuantar jemput ke kantor, tapi nyatanya kamu malah pergi dengan Toni! Aku tak akan biarkan kamu jadi kekasih Toni!”
__ADS_1
“Kamu tak berhak melarangku pergi dengan siapa saja, Den. Lagi pula aku sekarang tahu, siapa kamu sebenarnya. Toni telah banyak bercerita tentang masa lalu kamu. Laki-laki seperti kamu memang tidak pantas untuk dicintai. Mungkin tak salah bila Diah tak jadi menikah denganmu. Aku pun tak sudi menerima cintamu!”
“Rupanya kamu telah termakan oleh ocehan si brengsek itu. Apa yang telah diceritakan Toni kepadamu?” ujar Deni dengan nada geram.
“Banyak, Den. Tapi tak ada gunanya kukatakan karena semua sudah jelas. Kamu tak seperti yang aku kira. Sudah, aku tak ingin banyak bicara lagi…”
“Tunggu, Mel! Jangan tutup dulu telepon ini! Aku tahu, Toni pasti telah menjelek-jelekkan aku dan kamu percaya saja dengan semua ceritanya. Aku bisa maklumi itu, karena Toni dulu adalah rivalku. Dia dendam padaku karena pacarnya pernah berpaling padaku. Dia pasti akan bilang aku play boy dan suka mengganggu gadis-gadis. Begitu kan, yang dia katakan?”
“Kalau benar begitu, kamu mau apa? Kenapa kamu tidak mengakuinya saja?”
Melani sangat gerah mendengar ocehan Deni. Dia tak mau lagi dipengaruhi oleh laki-laki itu. Hatinya jadi penat. Bantahan Deni tentang cerita Toni membuatnya malah jadi bimbang dan ragu. Toni bilang kalau Deni yang brengsek dan tukang perkosa, sementara Deni bilang Tonilah yang brengsek dan pernah menghamili gadis teman kuliahnya. Mungkin yang dikatakan Deni sekadar usahanya untuk membela diri dan menarik simpati Melani. Tapi Melani sendiri masih dibuat bingung, siapa sebenarnya yang jujur diantara keduanya?
Perasaan Melani tiba-tiba jadi tercekam ngeri. Jika benar bukan Deni pelaku pemerkosaan itu, berarti Tonilah pelakunya. Tapi… ah, Melani tak mau dipermainkan oleh spekulasi yang belum pasti. Dia tak mau memikirkan hal ini lagi. Mulai sekarang, dia akan menjauhi dua laki-laki itu. Mereka adalah sumber permasalahannya. Dimana-mana yang namanya lelaki egois dan brengsek. Mereka adalah makhluk pengecut. Mereka suka berbohong dan tidak bisa dipercaya. Mereka lebih suka bertindak dari belakang dan bersembunyi dalam kegelapan. Melani benci pada laki-laki pengecut!
__ADS_1
Untuk sementara Melani tak akan memikirkan hal ini. Ada persoalan lain yang lebih penting untuk dipikirkan, yakni kelanjutan persahabatannya dengan Diah. Melani tak ingin gadis itu masih menyimpan perasaan marah dan benci padanya. Melani ingin memperbaiki kembali persahabatannya dengan Diah. Karena di dunia ini tak ada yang lebih indah dan tulus daripada persahabatan!
Namun usaha Melani untuk menyambung kembali tali persahabatannya dengan Diah menemui jalan buntu. Diah tampaknya sudah terlanjur kecewa dan marah pada Melani. Dia sudah tidak mau bicara lagi dengan sejawatnya itu. Dia berusaha menghindar dan menjauh dari Melani. Perasaan Melani jadi sedih dan prihatin. Dia tidak mengira kalau kebencian Diah begitu mendalam hingga mampu merantas jalinan persahabatan yang sudah lama dibina. Semua ini gara-gara Deni! Ya! Laki-laki brengsek itu telah menghancurkan persahabatanku dengan Diah! Rutuk Melani dalam hati.
Melani tak bisa membiarkan situasi ini terus berlarut. Dia akan menuntut pertanggung jawaban pada Deni atas perbuatannya merusak hubungan persahabatannya dengan Diah. Dia akan memaksa Deni untuk meminta maaf pada Diah dan meyakinkan gadis itu bahwa diantara mereka tidak ada hubungan istimewa apa-apa. Melani ingin Deni sendiri yang menjelaskan pada Diah bahwa dirinya tidak pernah mencintai laki-laki itu. Melani tidak ingin menyakiti dan menghancurkan hati sahabatnya.
Dengan membawa misi memulihkan nama baik ini diam-diam Melani meluncur ke rumah Deni sepulang dari kantor. Dia naik taksi sendirian. Sesampai di rumah keluarga Deni yang berada di kompleks perumahan elit, sejenak Melani ragu-ragu untuk memencet bel pintu pagar. Baru kali ini dia mengunjungi rumah Deni. Perasaannya sempat deg-degan. Bagaimana nanti kalau Deni tak mau menemuiku dan tak mau bicara lagi tentang persoalan ini? Batinnya membayangkan. Tapi Melani segera menepis rasa canggungnya.
Melani kemudian memencet tombol bel rumah. Tak berapa muncul seorang perempuan parobaya berpakaian sederhana dari dalam rumah. Wanita yang tampaknya pembantu rumah tangga itu membuka pintu pagar. Sejenak dia memandang Melani dengan tatapan asing. Melani segera memperkenalkan dirinya. Dia mengungkapkan maksud kedatangannya mencari Deni. Tapi pembantu itu bilang kalau Deni tidak ada di rumah. Pemuda itu sudah seminggu ini pergi dari rumah orang tuanya setelah crash dengan ayahnya.
Mendengar keterangan pembantu yang ember itu Melani jadi penasaran ingin tahu lebih banyak lagi. Biasanya, cerita dari pembantu bisa dipercaya karena sehari-hari akrab dengan kehidupan majikannya. Melani lalu bertanya pada si pembantu tentang apa saja yang telah dilakukan Deni selama ini. Di luar dugaan Melani ternyata banyak fakta seputar Deni yang cukup mengerikan. Rupanya yang menjadi penyebab Deni diusir oleh orang tuanya, karena kelakuannya yang suka clubbing bersama teman-temannya setiap malam dan pulang dalam keadaan mabok. Mereka marah melihat kelakuan Deni yang tak pernah berubah.
Ternyata sejak remaja Deni memang dikenal anak bandel dan pemberontak. Berkali-kali Deni berurusan dengan pihak sekolah dan kepolisian karena terlibat dalam tindak kenakalan. Yang namanya bolos sekolah, tawuran, minum-minum, sampai main cewek sudah jadi kebiasaannya. Puncak kenakalannya terjadi kala duduk di bangku kuliah. Dia sampai dikirim ke luar negeri oleh orang tuanya demi menyelamatkan reputasinya. Melani merinding mendengar cerita dari sang pembantu polos itu. Jadi benar semua yang pernah dikatakan Toni…? Deni benar-benar brengsek!
__ADS_1