
Merasa cukup mendapat keterangan dari pembantu Deni, Melani kemudian permisi pulang. Dalam perjalanan ke rumah berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Melani. Sungguh, Melani merasa sangat terkejut dan shock bukan main mendengar reputasi Deni yang ternyata sangat buram. Jika melihat perjalanan hidup Deni yang penuh dengan kebrutalan itu, tiba-tiba Melani sampai pada suatu kesimpulan. Sangatlah masuk akal bila Deni sebagai pelaku utama tindak pemerkosaan terhadap dirinya! Mengambil kesimpulan seperti ini adrenalin Melani tiba-tiba memuncak.
Hari itu Melani pulang agak telat. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum kelar. Dia menyusun laporan untuk bahan rapat dewan direksi besok pagi. Melani terpaksa harus lembur. Ketika beberapa karyawan lain sudah bersiap pulang, Melani masih sibuk menghadapi layar komputer di mejanya. Satu persatu karyawan keluar dari ruangan dan suasana di dalam ruangan kantor berubah senyap. Hanya suara ketukan tuts keyboard yang ditekan oleh jari jemari Melani terdengar memecah keheningan.
Begitu asyiknya Melani bekerja, dia sampai tak memperhatikan situasi di sekitarnya. Dia tersentak kaget dan menghentikan gerakannya ketika tiba-tiba terdengar suara dering telepon. Melani kemudian mengangkatnya.
“Halo…?” sapanya lembut.
“Halo, Sayang…? Lagi lembur, ya? Boleh aku temani?” Suara di seberang itu bagai sambaran petir yang menyengat jantung Melani.
Gadis itu buru-buru menutup teleponnya. Wajahnya terlihat pias dan tegang. Jantungnya berdegub kencang, seperti dipompa mesin diesel. Sejenak Melani mengedarkan pandangannya ke sekitar, tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan ini kecuali dirinya. Perasaan Melani mulai diliputi gelisah dan cemas. Bayangan kelam pemerkosaan beberapa waktu lalu berhamburan memenuhi benaknya. Bagaimana si pemerkosa itu tahu aku saat ini sedang lembur? Jangan-jangan dia sudah ada di sini? Batinnya gentar.
Melani segera mematikan komputernya dan buru-buru pergi dari ruangan itu. Dia berjalan menyusuri koridor menuju pintu keluar. Langkah kakinya lebar setengah berlari. Dia bisa mendengar suara degub jantungnya sendiri seirama dengan ketukan hak sepatunya yang beradu dengan lantai koridor. Wajahnya tampak tegang dan berkeringat. Ketika dia hendak berbelok di ujung lorong, tiba-tiba sesosok bayangan meloncat di hadapannya. Melani berhenti dan terpekik kaget. Di hadapannya kini berdiri sesosok orang bertopeng.
__ADS_1
“Siapa kamu…?!” seru Melani dengan suara bergetar ketakutan.
“Kamu sudah tidak mengenaliku lagi?” Suaranya yang berat dan dalam itu membuat bulu kuduk Melani merinding ngeri.
Melani segera membalikkan badannya dan berniat lari. Tapi orang misterius bertopeng hitam itu mencekal lengannya dari belakang dan mendekapnya. Kedua tangannya yang kekar dan kokoh merengkuh tubuh Melani. Gadis itu mencoba meronta dan melepaskan diri.
“Jangan! Jangan sakiti aku! Lepaskan aku! Toloooonnnggg…! Ebb…!” jeritan Melani tak sampai membahana karena segera didekap oleh tangan yang kuat dan kasar.
“Jangan coba-coba berteriak! Kucekik lehermu biar ******!” desis orang itu dengan nada bengis.
Selama pingsan Melani tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi dia seperti bermimpi tubuhnya telah dilucuti hingga bugil tanpa sehelai benang pun. Dia diseret oleh sosok besar dan hitam ke dalam kubangan lumpur yang penuh ular, kalajengking, belatung, dan binatang berbisa. Melani hanya bisa menjerit-jerit minta tolong. Dia merasakan sakit yang mencacah sekujur tubuhnya. Tangannya menggapai-gapai, berharap ada yang menolong. Tapi lacur, tubuhnya justru semakin tenggelam ke dalam lumpur hitam itu.
Ketika siuman, Melani sudah mendapati dirinya berada di atas ranjang di kamarnya sendiri. Dilihatnya ibu dan kedua adiknya duduk di sampingnya. Wajah mereka terlihat sembab, seperti habis menangis. Melani jadi kebingungan.
__ADS_1
“Apa yang terjadi, Bu? Kenapa saya tiba-tiba ada di kamar?” ujar Melani bertanya pada ibunya.
“Tenanglah, Nak. Tadi dua orang petugas security mengantarmu pulang. Kata mereka kamu ditemukan pingsan di dalam ruangan. Pakaianmu acak-acakan dan kamu… oh, sepertinya kamu baru saja mengalami kejadian buruk. Ada orang yang berbuat jahat sama kamu…,” tutur Bu Marni tak sanggup meneruskan kalimatnya karena tangisnya keburu meledak.
Melani tertegun. Dia baru tersadar apa yang telah terjadi. Ingatannya yang sempat hilang perlahan mulai mengumpulkan serpihan memori. Dia ingat terakhir kali dirinya masih berada di kantor, bertemu orang bertopeng, dan… oh, Melani tak sanggup meneruskan ingatannya lagi. Dia menutup mukanya dan menangis tersedu-sedu. Kembali tinta hitam menggoreskan kenangan amat buruk dalam hidupnya. Peristiwa pemerkosaan itu terulang dan dilakukan oleh pelaku yang sama. Sungguh, Melani merasakan kepedihan dan kehancuran tiada terlukiskan.
Dia hanya bisa memeluk ibunya dan menangis sepuasnya menumpahkan penat dalam hati.
Bu Marni tak kuasa menahan kesedihan. Sungguh, dia tak habis mengerti kenapa ada orang yang tega menghancurkan hidup anaknya. Apa salah dan dosa Melani sehingga harus mengalami peristiwa sepahit ini. Walau kasus ini telah ditangani polisi dan polisi berjanji akan segera menangkap pelakunya, namun hal itu tak cukup melegakan dan mengobati luka hatinya. Dia tidak pernah membayangkan nasib putrinya setragis ini. Seumur hidup Melani tak pernah berbuat buruk dan tercela. Dia anak yang manis, baik, penurut, dan ramah kepada semua orang. Tapi kenapa ada orang yang tega dan keji merusak kehormatannya? Sungguh, betapa biadab dan iblis orang itu!
Penderitaan batin Bu Marni semakin lengkap tatkala melihat kondisi Melani pasca kejadian. Gadis itu terlihat murung dan muram. Dia tak mau lagi masuk kantor, tak mau bicara, tak mau makan, dan hanya diam menangis di kamar. Terkadang dia suka menjerit-jerit sendiri seperti orang kesetanan. Sepertinya Melani ditimpa depresi yang akut. Dia trauma oleh peristiwa yang telah meluluhlantakkan segala harapan dalam hidupnya. Tak kuasa menyaksikan penderitaan anak gadisnya, Bu Marni kemudian membawa Melani ke rumah sakit. Melani diperiksa oleh dokter psikiatri dan psikolog sekaligus.
Peristiwa pemerkosaan yang menimpa Melani akhirnya diketahui oleh semua orang. Para karyawan di kantor itu sangat terkejut mendengar kabar ini, apalagi kejadiannya terjadi di ruangan kantor. Suasana di dalam kantor diliputi keriuhan dan ketegangan. Semua orang ramai membicarakan kasus ini. Mereka menduga-duga siapa pelaku kejahatan itu. Sebagian menduga pelakunya orang dalam. Sementara itu petugas polisi yang datang ke TKP memasang police line di sekitar ruangan tempat kejadian. Beberapa orang yang malam itu berada di sekitar TKP dimintai keterangan.
__ADS_1