
Tapi tak lama dering itu kembali berbunyi. Ragu-ragu Melani mendekati meja tempat ponsel itu berada. Ditengoknya layar handphone, tertera sebuah nomer yang belum tercatat di phonebook. Melani jadi bimbang. Jangan-jangan itu panggilan dari Melani atau rekan kerjanya. Hati-hati Melani mengangkat ponselnya dan memencet tombol; jawab.
“Halo…?” sapanya lirih nyaris berbisik.
“Halo, Sayang…?” Suara berat itu lagi. Melani hendak mematikan HP-nya, tapi orang itu buru-buru mencegah.
“Eit, jangan tutup dulu teleponnya. Aku ingin bicara serius denganmu!”
“Bicara apalagi? Kamu sudah menghancurkan hidupku! Kamu manusia tak bermoral!” teriak Melani gusar.
“Aku sudah tahu kalau kamu mulai melapor polisi. Aku kan sudah bilang, jangan pernah lapor polisi dan menceritakan peristiwa itu pada orang lain. Kamu akan tanggung sendiri akibatnya. Aku tak segan berbuat yang lebih kejam lagi padamu. Kamu tak akan pernah bisa mengelabui aku. Ke mana pun kamu pergi, aku pasti tahu. Aku tahu, siapa diri kamu dan apa saja kegiatanmu. Bahkan aku tahu, siapa keluargamu. Aku tahu, ibumu sudah janda. Kamu punya dua orang adik, satu perempuan dan satu laki-laki. Kalian tinggal di rumah kontrakan yang kecil. Kalian hanya mengandalkan hidup dari gaji pensiun ayahmu. Ibumu berjualan kain keliling kampung dan…” Belum selesai orang itu bicara, Melani keburu menukasnya.
“Cukup! Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” seru Melani dengan suara serak karena sudah bercampur tangis.
“Kamu ingin tahu, apa yang kuinginkan? Oke, dengar baik-baik ya, Sayang. Aku ingin bercinta lagi denganmu, mengerti?” ucap ******** itu dengan suara tawanya yang terdengar sengau.
“Jahat! Kamu sangat jahat! Kenapa kamu melakukan semua ini padaku? Apa sebenarnya salahku padamu…?!!!” Melani tergugu pilu.
“Kesalahanmu adalah karena kamu terlalu cantik dan seksi he he he…!”
“Kalau kamu memang menginginkan perempuan, kenapa kamu tidak membeli ******* saja? Aku bukan perempuan seperti yang kamu inginkan!”
__ADS_1
“Aku tidak tertarik pada *******, aku lebih tertarik padamu. Ingat, Melani sayang, jangan pernah mengecewakan aku! Asal kamu tahu, aku orang kaya dan berkuasa. Aku punya beking yang kuat dan beberapa orang sewaan yang siap melindungi aku. Jadi sia-sia saja tindakanmu melapor pada polisi. Aku tidak akan bisa ditangkap polisi dan dipenjara. Sebaliknya, aku bisa berbuat apa saja untuk membuatmu menderita. Aku bisa menghancurkan keluargamu dan menjadikan kalian gembel jalanan. Karena itu turuti keinginanku sekali lagi. Layani aku dengan sepenuh hati…!”
“Jahat! Kamu manusia tidak punya hati! Aku benci kamu! Benciii...!” teriak Melani histeris seraya melempar HP-nya ke dinding. HP itu pecah berantakan, casingnya terlepas.
Melani lalu menyurukkan dirinya di atas kasur dan menangis tersedu-sedu. Hatinya penat dan sesak bukan main. Ancaman si penelepon gelap itu telah merongrong jiwanya. Rasanya Melani tak sanggup lagi menahan deraan dalam batin. Teror si pemerkosa telah menanamkan kengerian dan ketakutan yang tak terkira hebatnya. Jika tak ingat bila bunuh diri itu dosa, ingin sekali Melani mengakhiri hidupnya. Namun sebuah kesadaran muncul dalam dirinya. Melani hanya bisa menangis menumpahkan kepedihan hatinya.
Jeritan Melani rupanya didengar oleh ibu dan adik-adiknya yang ada di depan. Mereka segera berhamburan menghampiri Melani di kamar.
“Ada apa, Melani? Apa yang terjadi?” tanya ibunya penuh rasa khawatir.
“Mbak kenapa?” tanya Nina.
“Mbak melihat setan, ya?” gurau Doni masih sempat bercanda.
“Ah, enggak. Tidak ada apa-apa. Aku tadi cuma kaget melihat cicak jatuh menimpa kepalaku,” kata Melani berbohong.
“Tapi ibu tadi seperti mendengar kamu teriak menyebut benci atau apa kurang jelas begitu…?” tukas Bu Marni masih penasaran.
“Ya, karena kaget aku spontan menyebut benci.”
“Wah, ini pertanda tidak baik. Orang yang tertimpa cicak jatuh biasanya akan kena sial, Mbak. Mungkin akan ada musibah atau kecelakaan!” komentar Nina terdengar seram.
__ADS_1
“Huss, jangan sembarangan bicara. Itu takhayul namanya!” tukas Bu Marni menepis ucapan putrinya nomer dua.
Tapi kata-kata Nina cukup menandas dalam hati Melani. Gadis muda itu tersenyum kecut. Mungkin ada benarnya ucapan Nina. Saat ini dia memang lagi terkenal sial. Sial yang paling besar dalam hidupnya.
“Kamu tidak usah dengarkan omongan Nina, Mel. Kalau kamu memang tertimpa cicak, ucapkanlah istighfar. Jangan menyumpah serapah. Itu tidak baik!” kata Bu Marni menasehati.
Melani hanya mengangguk.
“Ya, sudah. Nina, Doni, kalian keluarlah. Biarkan kakakmu beristirahat. Mungkin dia masih capek pulang dari kantor,” kata Bu Marni kemudian menyuruh adik-adik Melani keluar kamar.
Sebelum beranjak keluar Bu Marni memandang Melani seksama. Mata beliau yang tajam seperti ingin menyelami hati putrinya.
“Kalau kamu ada masalah, bicaralah sama Ibu,” ucapnya pelan.
Melani hanya mengangguk. Hatinya tiba-tiba merasa kelu. Dia tahu, mata batin Ibu yang tajam mampu membaca isi hatinya. Melani menundukkan kepala. Rasanya dia tak kuasa menanggung beban ini sendirian. Dia tak sanggup menyembunyikan semua ini dari sang ibu. Tapi perasaannya juga tak sampai membuat hati ibunya diliputi kesedihan. Biarlah penderitaan ini kutanggung sendiri! Batin Melani sambil menekan perasannya.
Pagi itu, seperti janjinya, Deni datang menjemput Melani di rumahnya. Dia akan mengantar Melani ke kantor. Melani yang sudah siap di depan gang langsung naik ke dalam mobil Deni. Ada perasaan kikuk dan canggung saat duduk di jok depan dekat sopir. Tapi sikap Deni yang ramah dan hangat membuatnya merasa nyaman. Deni memang laki-laki yang baik dan pengertian. Dia tak segan mengulurkan tangan membantu kesusahan orang lain. Dia juga sangat bertanggung jawab dan setia.
Bertahun-tahun dia setia mendampingi Diah. Sungguh, jarang sekali ada lelaki yang demikian setianya seperti halnya Deni. Laki-laki itu juga tak suka bertingkah macam-macam. Melani sangat terkesan oleh kepribadian Deni. Beruntung Diah yang telah memilikinya. Terbayang kebahagiaan Diah kelak saat duduk di pelaminan bersama Deni. Jika boleh meminta, Melani pun menginginkan memiliki kekasih dan calon suami seperti Deni. Tapi dengan keadaannya seperti ini, masih adakah lelaki yang mau pada dirinya?
__ADS_1
Tiba-tiba Melani jadi berpikir, kenapa nasibnya bertolak belakang dengan nasib Diah. Gadis itu menjalani hidupnya dengan lancar-lancar saja tanpa gangguan berarti. Kebahagiaan dan kesenangan senantiasa menghampirinya. Semua impian dan harapannya mampu diraih. Sedang aku? Hidupku penuh liku dan kepahitan. Aku harus melalui jalan terjal yang membawa kepedihan dan penderitaan. Diah bisa mendapatkan laki-laki yang baik, sementara aku bahkan harus menanggung aib, ternoda oleh laki-laki bejat! Kata hati Melani getir.
Sungguh, Melani tak tahu lagi apakah masih ada setitik harapan untuk dirinya meraih kehidupan yang lebih baik. Setelah apa yang terjadi pada dirinya, masih adakah laki-laki yang bersedia menerima dirinya apa adanya? Masih adakah laki-laki yang mau memperistri gadis yang sudah tidak perawan? Tak ada laki-laki yang mau menerima wanita yang sudah ternoda. Mereka akan dianggap kotoran atau sampah. Oh! Rasanya Melani tak sanggup membayangkan kehidupannya yang akan datang. Masa depannya telah gelap dan hancur!