Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Persidangan Melani


__ADS_3

Dari ujung koridor tiba-tiba muncul Diah. Gadis itu berhenti di tengah jalan saat melihat pemandangan yang amat mengerikan terjadi di depan matanya. Seketika dia menjerit histeris, “Aaaaa….!”


Melani tersentak kaget. Seperti tersadar dari sebuah mimpi buruk, gadis itu melepaskan pisau yang masih tergenggam di tangannya. Tapi terlambat, para penghuni hotel sudah berhamburan keluar dari kamar. Mereka menjadi heboh dan gempar saat menyaksikan Melani duduk di dekat mayat Deni dengan tangan berlumuran darah. Sebuah peristiwa pembunuhan yang amat mencekam dan dramatis telah terjadi. Besok pagi, seluruh media massa akan gencar memberitakan kasus ini!


Melani lalu menyerahkan diri ke kantor polisi. Dia siap mempertanggung jawabkan perbuatannya. Melani pasrah menerima nasib yang amat pahit ini. Sepertinya dia tidak peduli lagi akan ancaman hukuman berat yang bakal ditimpakan padanya karena telah menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja. Dia juga tidak peduli nama baik dan reputasinya akan tercemar karena kasus ini. Dia justru merasa puas berhasil melampiaskan dendamnya pada orang yang telah merusak kehormatannya dan menghancurkan kehidupannya. Kini, tak ada lagi teror dan mimpi buruk yang menghantui hidupnya.


Berbeda dengan perasaan Melani yang diliputi kepuasan bisa membunuh sang pemerkosa, perasaan Bu Marni dan adik-adik Melani sedih bukan main. Mereka sangat shock dan terpukul ketika diberitahu bahwa Melani ditahan polisi karena telah membunuh Deni. Bu Marni sampai pingsan karena tak kuat menanggung beban seberat ini. Jiwanya terguncang hebat. Namun kemudian wanita setengah baya itu bisa menguasai dirinya. Dia mencoba menguatkan hatinya. Kenyataan pahit ini memang terasa berat untuk diterima. Namun sebagai seorang ibu dia berusaha tegar dan tabah. Dia siap mendampingi Melani apa pun yang terjadi. Dia meyakini bahwa anak gadisnya tidak bersalah. Dia lalu menemui Melani di sel tahanan untuk membesarkan hatinya.

__ADS_1


Kasus pembunuhan yang dilakukan Melani memang sangat mengejutkan dan menjadi headline berita di mana-mana, terlebih di kantor Melani. Semua rekan kerja Melani seolah tak percaya mendengar berita ini. Apalagi orang yang dibunuh Melani tak lain pacar sahabatnya sendiri. Berbagai dugaan dan prasangka pun muncul mengenai motif pembunuhan. Ada yang menduga karena persoalan cinta segitiga atau kecemburuan. Namun setelah dikonfirmasi lebih jauh, motif pembunuhan itu tak lain didasari rasa sakit hati dan dendam. Melani rupanya telah mengetahui bahwa pemerkosa dirinya adalah Deni.


Banyak orang kemudian menaruh simpati dan dukungan kepada Melani. Mereka bisa memahami tindakan Melani. Tapi apa pun alasannya, melenyapkan jiwa manusia tanpa dasar hukum yang dibenarkan merupakan suatu kejahatan. Polisi harus menahan Melani dan memprosesnya sesuai prosedur hukum. Melani akan diadili dan dituntut hukuman atas perbuatannya. Apalagi pihak korban, yakni keluarga Deni, tidak akan membiarkan kasus ini menguap begitu saja. Mereka tidak akan mencabut BAP. Melani sendiri pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak peduli bila nantinya akan dihukum lama, bahkan dihukum mati sekalipun.


Melani kini melalui hari-harinya di dalam ruang tahanan. Wajahnya terlihat pucat dan letih. Pandangan matanya tampak kosong. Satu hal yang masih menjadi beban pikiran Melani adalah perasaan Diah. Dia tak tahu, bagaimana perasaan Diah setelah mengetahui peristiwa kemarin. Sudah bisa dibayangkannya bila jiwa gadis itu sangat terguncang menyaksikan kekasihnya terbunuh oleh tangan sahabatnya sendiri. Tentu muncul rasa kebencian dalam hatinya. Dia mungkin kecewa padaku! Batin Melani kelu. Dugaan Melani ini beralasan karena sejak peristiwa berdarah itu Diah tidak pernah lagi datang menengoknya.


Proses pemeriksaan dan penyidikan terhadap Melani berlangsung lancar, karena Melani sendiri tidak berbelit-belit dan menjawab semua pertanyaan penyidik apa adanya. Dia mengakui dirinya yang membunuh Deni. Semua saksi dan bukti juga menunjukkan bahwa Melani adalah pelaku tunggal. Melani diancam dengan beberapa pasal pembunuhan dengan sanksi hukuman yang cukup berat. Bila Melani pasrah dengan hukuman yang bakal diterimanya tidak demikian dengan keluarganya. Bu Marni tidak terima bila anak gadisnya diganjar hukuman berat. Karena dia yakin Melani tidak bersalah. Yang bersalah justru Deni, karena laki-laki itu telah memperkosa dan menghancurkan hidup Melani.

__ADS_1


Apalagi mereka juga mendapat banyak dukungan dan simpati dari masyarakat. Juga rekan-rekan kerja Melani. Mereka membuat tagar di medsos #bebaskanMelani. Bahkan mereka membuat petisi melalui situs change.org dan mendapat banyak dukungan dari berbagai kalangan. Melihat antusiasme masyarakat yang mensupport dan memback up kasus Melani membuat Bu Marni terharu. Bu Marni yakin Melani bisa dibebaskan dari tuntutan hukuman. Dia percaya keadilan dan kebenaran masih tegak di negeri ini.


Selain upaya hukum dan mencari dukungan publik, tak lupa Bu Marni juga berdoa kepada Tuhan. Setiap malam beliau shalat tahajjud agar putri yang dikasihinya mendapat perlindungan dari Allah SWT. Air matanya bercucuran menumpahkan segenap isi hati. Ibu mana yang tidak sedih melihat putri yang dikasihinya menanggung penderitaan demikian berat. Tak hentinya wanita itu melafalkan zikir dan doa-doa yang tak terputus. Suara doanya mengalir menikam keheningan malam yang khusuk. Suara isak tangisnya menggetarkan kalbu bagi siapa pun yang mendengarnya. Wanita itu percaya Allah akan memberikan keadilan bagi hidup putrinya.


Sidang perkara atas kasus pembunuhan dengan terdakwa tunggal Melani berlangsung di pengadilan. Banyak masyarakat yang datang menyaksikan jalannya persidangan. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang bersimpati pada nasib Melani. Kisah memilukan yang dialami Melani memang menumbuhkan empati dan rasa prihatin yang dalam, terutama di kalangan perempuan. Melani tidak mungkin akan melakukan tindakan keji itu bila saja tidak ada sebabnya. Perbuatan Deni memperkosa Melani telah menodai kehormatan sekaligus merusak masa depan hidup gadis itu. Siapa pun perempuan tentu tak menginginkan mengalami nasib seperti Melani. Pemerkosa seperti Deni sudah sepantasnya dilenyapkan di muka bumi ini!


Namun dalam proses pengadilan, para saksi dan bukti-bukti yang dihadirkan sangat memberatkan Melani. Mereka memang tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa Melani yang telah menikam perut Deni dan menyebabkan laki-laki itu tewas. Melani tak berusaha mengelak atau membantah semua pengakuan dari para saksi maupun bukti materiil yang dihadapkan padanya. Dengan situasi seperti ini keluarga Melani jadi pesimis Melani akan terbebas dari hukuman. Mereka sendiri tidak memiliki saksi dan bukti yang bisa meringankan hukuman terhadap Melani. Satu-satunya kesaksian yang bisa meringankan Melani adalah dokter Riswan yang pernah merawatnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2