Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa
Investigasi Polisi


__ADS_3

Begitulah. Pemerkosa itu tidak hanya meneror Melani melalui telepon langsung, tapi juga melalui kiriman SMS. Kalimat bernada merayu, mengintimidasi, mengajak berhubungan ****, sumpah serapah, dan kata-kata kotor menjejali kotak inbox. Melani sampai risih dan jijik membacanya. Laki-laki ******** itu benar-benar tak punya perasaan sama sekali. Kebencian Melani tak bisa dilukiskan lagi. Tampaknya dia memang harus segera mengganti nomer teleponnya agar orang itu tidak meneror lagi.


Siang itu Melani dipanggil Pak Tejo ke ruangannya. Saat memasuki ruang kerja atasannya itu, ternyata di dalam sudah ada dua orang petugas polisi yang beberapa waktu lalu memeriksa pengaduannya.


“Silahkan duduk, Melani. Saya ingin tahu, ada masalah apa sebenarnya sampai bapak-bapak polisi ini meminta ijin untuk memeriksa kantor kita. Mereka bilang kalau kamu telah diancam dan diteror seseorang. Kenapa kamu tidak pernah menceritakan pada saya?” ujar Pak Tejo dengan nada menyayangkan.


“E, maaf, Pak. Saya belum sempat bercerita pada bapak. Beberapa waktu ini saya sering menerima telepon gelap dari seorang laki-laki tak dikenal. Saya pernah dikuntit sewaktu pulang dari kantor. Saya merasa jiwa saya terancam, karenanya saya melapor pada polisi untuk meminta perlindungan,” kata Melani dengan nada sedikit gugup.


“Kalau memang itu masalahnya saya bisa mengerti. Tapi apakah hal itu tidak akan mengganggu ketenangan kerja para karyawan? Kehadiran polisi di sini tentu akan menimbulkan pertanyaan pada semua staf. Mereka bisa berpikiran macam-macam.”


“Karena itu saya mohon kebijaksanaan bapak. Ini juga menyangkut keselamatan hidup saya. Saya kira tugas bapak-bapak polisi ini tidak akan mengganggu kerja para karyawan.”


“Betul itu, Pak. Kami hanya akan memeriksa hal-hal seperlunya saja. Jika kami membutuhkan keterangan dari beberapa karyawan di sini, maka kami akan melakukannya di sela waktu kerja mereka,” ucap seorang petugas menjelaskan.


“Kami tidak akan mewawancarai semua karyawan di sini, hanya orang-orang tertentu saja,” petugas satunya lagi memberikan penegasan.


“Baiklah, saya akan memberikan ijin. Tapi sebelumnya saya minta jangan sampai pemeriksaan ini meresahkan para karyawan. Dan kamu, Melani, berikan laporan pada saya apabila ada masalah menimpa kamu,” kata Pak Tejo akhirnya bersedia memberi ijin.


“Ya, Pak. Terima kasih atas ijinnya. Kami permisi dulu,” ujar Melani seraya beranjak dari tempatnya. Dia lalu mengajak kedua polisi itu keluar.


Saat keluar dari ruang kerja Pak Tejo, dua petugas itu meminta Melani mengantar ke toilet tempat dirinya pernah mengalami pemerkosaan. Mereka hendak meneliti TKP. Ketika Melani berjalan di lorong bersama dua petugas itu, beberapa karyawan lain yang berpapasan di tengah jalan memandang penuh rasa heran. Melani sendiri merasa tidak enak dan jengah. Dia khawatir mereka pada akhirnya akan tahu dengan kejadian yang menimpanya. Tapi polisi sudah meyakinkan dirinya bahwa pemeriksaan ini akan berlangsung rahasia.


Mereka telah sampai di ruang toilet wanita. Kebetulan saat itu sedang tidak ada yang memakai. Melani disuruh melakukan adegan reka ulang saat peristiwa itu terjadi. Ada perasaan sedih dan pedih menyayat batinnya. Merunut kembali jejak peristiwa paling kelam dalam hidupnya laksana menghunjamkan pedang ke dalam jantung. Sungguh, ini sangat berat untuk dijalani. Trauma itu masih belum hilang dari dalam dirinya. Melani jadi gugup dan kikuk. Di hadapan dua orang polisi pria Melani mesti menceritakan kronologis kejadian.

__ADS_1


“Jadi malam itu saudari hanya sendirian saja di dalam toilet? Saudari tidak melihat ada seorang pun di koridor maupun di toilet?” cetus salah satu petugas sambil memegang buku notes kecil untuk mencatat hasil wawancara.


“Benar, Pak. Saya tidak melihat ada seorang pun,” jawab Melani.


“Menurut saudari, siapa saja malam itu yang masih berada di dalam kantor selain petugas security?”


“Saya tidak tahu, Pak.”


“Setelah kejadian… e, maksud saya setelah saudari pingsan, apa yang saudari lakukan?”


“Saya bergegas pulang. Saya merasa shock dan terpukul!”


“Saudari tidak memperhatikan apakah ada seseorang berada di luar toilet atau di ruangan lain di kantor ini?”


Petugas mengangguk-angguk. Temannya sibuk meneliti setiap sudut ruang toilet di mana Melani pernah mengalami peristiwa perkosaan. Sepertinya dia ingin mencari sesuatu atau petunjuk yang bisa dijadikan alat bukti, tapi tak ada satupun didapatkan.


“Oh ya, siapa orang yang bertanggung jawab terhadap toilet ini? Maksud saya petugas kebersihan di sini?” tanya petugas lagi.


“Pak Bardi. Dia satu-satunya petugas cleaning service di sini,” jawab Melani.


“Baik. Saya kira cukup sekian dulu pemeriksaan ini. Kami akan mewawancarai beberapa orang yang berkaitan dengan kasus saudari.”


“Tapi saya mohon, jangan ceritakan apa yang terjadi pada saya ya, Pak?” pinta Melani memohon.

__ADS_1


“Ya. Kami tidak akan menceritakan tentang peristiwa perkosaan itu. Kami hanya akan mengorek keterangan seputar keberadaan mereka dan memastikan alibi mereka,” tegas petugas.


“Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu kembali ke ruangan saya,” kata Melani meminta diri.


“Silahkan!”


Melani kembali ke ruangannya. Kedatangannya disambut Diah dengan rasa penasaran. “Ada apa, Mel?” tanyanya ingin tahu.


“Polisi sudah datang memeriksa,” jawab Melani lirih.


“Syukurlah, semoga mereka bisa bekerja dengan baik dan mengungkap pelakunya,” bisik Diah.


Melani hanya diam. Wajahnya tiba-tiba diselimuti mendung. Ada sesuatu yang mendebarkan hatinya dan membuatnya merasa tidak tenang. Dia khawatir peristiwa yang menimpa dirinya akan diketahui orang-orang di kantor ini, karena kehadiran polisi itu bisa menimbulkan berbagai tanda tanya. Dan Melani tak yakin rahasia dirinya akan bisa tersimpan rapi. Mereka akan curiga dan menaruh syak wasangka. Pada akhirnya mereka jadi tahu dan ramai membicarakannya secara terbuka. Oh, tidak! Melani tak sanggup menghadapi semua itu!


“Kenapa wajah kamu pucat, Mel? Kamu sakit?” cetus Diah cemas.


Melani menggeleng.


Diah menghela napas. Dia bisa memahami perasaan sahabatnya itu. Mungkin kehadiran para polisi itu menimbulkan sedikit ketegangan. Melani diliputi keresahan dan kecemasan. Diah mencoba memperlihatkan rasa simpati dan empatinya. “Tenanglah, Mel. Semuanya akan baik-baik saja,” ucapnya menenangkan. Melani terdiam. Da mencoba meyakini ucapan Diah.


Untuk memudahkan pemeriksaan dua petugas polisi itu meminjam salah satu ruangan kosong untuk menginterograsi beberapa karyawan kantor ini. Diantara mereka yang diperiksa secara tertutup adalah Frans, Rico, Toni, Pak Bardi, dan dua petugas security yang pada saat kejadian berada di tempat jaga. Herman dan Budi, nama kedua polisi berpangkat Iptu dan Bripka itu, melakukan wawancara secara marathon kepada para karyawan. Wajah para karyawan yang diinterograsi terlihat bingung dan heran. Bahkan Toni sempat menolak diperiksa.


“Apa-apaan ini? Ada masalah apa? Kenapa saya harus diperiksa? Jika ini ada kaitannya dengan perkara kriminal saya menolak. Saya tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar hukum!” ujar Toni di hadapan petugas mentang-mentang.

__ADS_1


__ADS_2