
Pagi itu Melani bangun dari tidur dalam keadaan pusing dan kusut masai. Rasanya dia enggan bangkit dari ranjang. Tidak seperti biasanya ia selalu bangun lebih pagi dan menyambut hari baru dengan semangat dan keceriaan yang menyala-nyala, tapi kali ini digayuti rasa malas. Rona wajahnya terlihat lesu dan pucat. Tak ada lagi gairah yang bergelora dalam hatinya. Yang ada justru kesedihan dan kegetiran yang menyayat batin. Kejadian semalam masih membekas dalam jiwa. Bahkan air matanya sudah kering menguras segenap energi kepedihan yang ada dalam hatinya.
Melani tak tahu lagi, apakah dirinya masih sanggup menjalani hidupnya setelah apa yang dialaminya semalam. Kejadian itu benar-benar telah memupus segenap harapan indah dalam hidupnya. Menghancurkan masa depannya. Melani merasa jalan di hadapannya berubah gelap gulita. Dia tak tahu, ke mana lagi arah jalan yang hendak dituju. Melani mencoba turun dari pembaringan, tapi masih dirasakan sakit di ************. Melani menggigit kedua bibirnya pedih. Tiba-tiba matanya melihat tumpukan pakaian yang semalam dipakainya. Ada rasa muak dan jijik seketika menggumpal dalam dadanya.
Dia segera mengambil semua pakaian itu dan membawanya keluar. Dengan langkah tertatih Melani menuju ke halaman belakang. Ibunya yang berada di dapur merasa heran melihat Melani menuju ke belakang sambil membawa buntalan kain. Tapi karena sedang sibuk memasak, sehingga dia tidak sempat mengikuti Melani. Sementara itu Melani sudah tiba di halaman belakang. Dia melemparkan baju, rok, celana dalam, dan bra yang semalam dipakainya ke dalam tong sampah. Dinyalakan sebatang korek api, lalu dilemparkan ke atas tumpukan pakaian itu dan terbakarlah. Mata Melani nanar memandangi jilatan api yang mulai ******* pakaiannya. Dengan terbakarnya seluruh pakaian itu seakan ingin menghapus jejak tragedi semalam. Dia tidak menginginkan seorang pun tahu bila dirinya semalam habis diperkosa laki-laki jahanam!
Setelah membakar habis pakaiannya Melani kembali ke dalam rumah. Dia langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur sekujur tubuhnya dari ujung rambut dengan air sebanyak-banyaknya, seakan ingin menghapus segala kotoran yang masih melekat di kulit. Dikeramasi rambutnya dengan sebotol shampoo dan digosok seluruh tubuhnya dengan sabun cair sebanyak-banyaknya. Setiap kali dia mengguyur tubuhnya dengan segayung air masih dirasakan seperti belum ada yang bersih. Begitu seterusnya dia menggosok tubuhnya dengan sabun dan kembali mengguyur dengan air. Tak sadar hampir air satu bak dihabiskannya. Dia baru tersadar dengan perbuatannya itu ketika terdengar suara adiknya memanggil di depan pintu kamar mandi.
“Cepetan dong, Mbak. Mandinya kok lama amat sih?” seru Nina.
Melani menghentikan acara mandinya. Dirasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Dia segera meraih handuk dan melilitkan pada tubuhnya, setelah itu beranjak keluar. Dia bergegas kembali ke kamarnya tanpa mempedulikan pandangan heran adiknya. Melani menutup pintu kamar dan segera naik ke atas pembaringan, membungkus tubuhnya yang kedinginan dengan selimut tebal. Wajahnya terlihat sangat pucat, kulit jari-jarinya mengerut, dan gigi gerahamnya gemeletukan.
“Melani!” Tiba-tiba terdengar suara ibunya memanggil di luar sambil mengetuk pintu.
“Ada apa, Bu?” sahut Melani dengan suara gemetaran.
“Boleh ibu masuk?”
Melani tidak menjawab. Hatinya galau. Bagaimana nanti jika Ibu tahu dengan kejadian yang menimpaku semalam? Batinnya was-was. Melani jadi gugup. Tapi pintu sudah keburu dibuka dan wanita separuh baya itu memasuki kamarnya. Kening wanita itu berkerut begitu melihat Melani meringkuk di atas pembaringan dengan tubuh menggigil. Perasannya cemas.
__ADS_1
“Ada apa, Mel? Tubuhmu menggigil. Kamu sakit, ya?” cetusnya sambil meraba kening putrinya. Dirasakan badan Melani yang dingin seperti es. Hati Bu Marni semakin tidak karuan.
Melani diam saja.
“Sebaiknya kamu ke dokter, Nak. Mari ibu antarkan!” ujar Bu Marni.
“Tidak usah, Bu. Saya tidak apa-apa, kok. Saya hanya masuk angina biasa…,” tukas Melani buru-buru menolak ajakan ibunya. Mendengar nama dokter disebut hati Melani jadi miris. Jika dirinya pergi ke dokter dan diperiksa, maka akan ketahuan apa yang telah terjadi pada dirinya. Aibnya terbongkar! Oh, tidak! Melani tak mau ada orang lain tahu tentang kejadian yang menimpa dirinya, tak terkecuali keluarganya. Melani ingin menyimpan rapi rahasia ini. Tak boleh ada seorang pun yang tahu!
“Tapi, Mel, ibu khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Sejak kemarin kamu kelihatan agak aneh. Kamu tidak mau makan dan langsung tidur. Dan sekarang badan kamu menggigil kedinginan. Bagaimana kalau sakitmu berat?” ujar Bu Marni sangat khawatir.
“Ibu jangan berlebihan begitu. Saya tidak apa-apa kok. Saya hanya sakit ringan biasa. Ibu belikan saja obat demam di warung,” kata Melani mencoba meyakinkan ibunya.
“Sebaiknya kamu jangan masuk kantor dulu, Mel. Kamu mintakan ijin tidak kerja sampai sakitmu sembuh?”
Bu Marni memandang Melani seksama. Hatinya diliputi kesedihan melihat keadaan anak gadisnya. Nalurinya mengatakan telah terjadi sesuatu pada Melani, tapi dia tidak berani untuk mengungkapkan. Dia tahu, Melani agak tertutup untuk membicarakan masalah pribadinya. Dia sangat menjaga rahasia hatinya. Dia juga tak ingin terlihat lemah di mata orang lain.
“Ya, sudah, nanti ibu belikan obat di warung. Ibu akan pesankan bubur ayam untuk sarapanmu. Biar badanmu kembali sehat,” kata Bu Marni kemudian beranjak dari hadapan anak gadisnya.
Setelah ibunya keluar dari kamarnya, Melani menghela napas panjang. Perasaannya agak lega. Tadi dia sempat berdesir was-was dan takut bila ibunya terus menanyakan perihal dirinya. Tampaknya mata batin Ibu mulai menangkap ketidakberesan pada dirinya. Namun Melani sendiri tak hendak menceritakan peristiwa yang dialami semalam kepada ibunya. Dia tak mau membuat hati ibunya sedih. Dia tak mau menambah beban pada diri keluarganya. Biarlah semua ini dia simpan rapi dan menjadi rahasia hidupnya yang paling dalam. Dia tidak ingin membukanya meski batinnya terasa sangat sakit dan tersiksa. Bayangan pemerkosaan itu terus menghantuinya sepanjang hidup!
__ADS_1
Melani kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas. Pertama dia menghubungi Pak Tejo, memberitahu kalau dirinya hari ini tidak bisa masuk kantor karena sakit. Mengenai berkas-berkas yang kemarin ditugaskan padanya telah selesai dan disimpan di laci mejanya. Dia nanti akan meminta Diah untuk mengambil dan menyerahkan pada Pak Tejo. Selanjutnya Melani menghubungi Diah. Kepada sahabat karibnya itu Melani meminta bantuan untuk menggantikan tugasnya sementara waktu selama dirinya sakit. Dia percaya Diah mampu menghandle semua tugasnya.
“Pokoknya nanti kalau ada apa-apa, kamu WA atau telepon saja aku!” demikian ujar Melani usai memberi arahan pada Diah.
“Sebentar, Mel. Kamu sakit apa? Kayaknya kemarin kamu masih sehat-sehat saja. Apa yang terjadi sama kamu?” Tanya Diah di seberang sana terdengar cemas.
“Tidak ada apa-apa, Di. Aku hanya kena flu. Badanku agak tidak enakan. Mungkin karena kelelahan saja,” jawab Melani kalem.
“Kamu sudah periksa ke dokter?”
Melani malah terdiam.
“Halo, Mel…? Kok diam sih? Kamu sudah periksa ke dokter belum?” Diah mengulangi pertanyaannya.
“Sudah,” jawab Melani lirih, berbohong. Dia tidak ingin Diah bertanya terlalu jauh. Kebiasaan sahabatnya itu yang cerewet seperti nenek-nenek.
“Ya, sudah kalau gitu. Makanya, bener kan apa yang aku bilang. Kamu terlalu keras bekerja dan tidak memperhatikan kondisi badanmu. Akhirnya kamu ambruk juga. Kalau sudah sakit, siapa yang rugi…?”
“Ya, ya, Nek…! Aku ngerti!”
__ADS_1
“Tuh kan, dibilangi baik-baik malah mengejek. Ya, sudah, Neng. Semoga cepat sembuh aja. Aku kesepian kalau enggak ada kamu di kantor. Selamat beristirahat dan menikmati empuknya kasur!” celoteh Diah berseloroh.
Melani hanya tersenyum kecut. Dia lalu mematikan HP-nya.