
Tiba-tiba perasaan Diah jadi kelu. Sampai detik ini belum juga ada inisiatif dari Deni untuk mengajaknya menikah. Dia sendiri bingung, apakah mesti diam saja dan bersabar menunggu saat itu tiba? Tapi sampai kapan? Mungkin Deni perlu dipaksa untuk membuat keputusan? Diah tak mau hubungan mereka terus digantung tanpa kepastian. Tapi… oh, Diah jadi pusing memikirkannya!
“Apakah kamu tidak pernah berpikir, kenapa Deni tak juga membuat keputusan atas hubungan kalian yang sudah begitu lama? Tidakkah kamu merasa Deni sebenarnya tidak serius mencintaimu?” lanjut Melani kemudian semakin menggoyahkan hati Diah.
“Kenapa kamu berkata seperti itu, Mel? Apakah kamu berpikir Deni cuma mempermainkanku?” ujar Diah sambil mengernyitkan dahi.
Melani jadi jengah juga. Dia tak tahu apa yang mesti dikatakannya. Haruskah dia mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya bahwa Deni sudah tidak mencintai Diah lagi? Oh, Melani tak sanggup melukai hati sahabatnya.
“Aku tak berpikir dan menuduh Deni mempermainkanmu, Di. Tapi dalam hubungan cinta yang sudah cukup lama terjalin, wajarkah bila tidak ada komitmen atau kesepakatan yang diambil? Paling tidak kalian sudah ada target kapan bertunangan, kapan menikah, dan segudang rencana lainnya. Tapi kulihat kalian seperti tidak punya komitmen sama sekali. Kalian tampak tenang-tenang saja. Sudah hampir empat tahun masa pacaran telah kalian lewati, masak tak ada sekalipun tanda-tanda dan kesepakatan untuk menuju pelaminan!” tegas Melani.
“Aku pun berpikir begitu, Mel. Tapi mau bagaimana lagi? Deni sendiri selalu mengelak bila diajak omong soal pernikahan. Aku juga tak berani memaksa dia,” keluh Diah.
“Itulah kenapa aku bilang Deni sepertinya tidak serius menjalin hubungan denganmu. Seharusnya kamu jangan membiarkan hal ini terus berlarut!”
__ADS_1
“Apakah aku mesti memaksanya membuat keputusan, Mel? Mestikah aku yang berinisiatif lebih dulu? Tapi jika aku…?” Diah tak meneruskan kalimatnya. Dia seperti ragu-ragu.
“Tak ada salahnya kamu yang mengambil inisiatif lebih dulu. Kamu perlu memaksa Deni untuk membuat keputusan. Dari pada kamu terus diombang-ambingkan. Tapi kamu pun juga harus siap jika seandainya Deni ternyata membuat keputusan yang mengecewakan atau dia tidak serius untuk melanjutkan hubungan ke pernikahan!”
“Maksudmu, aku harus putus dengan Deni jika dia tidak mau serius memberikan kepastian soal pernikahan?”
“Apa boleh buat? Kamu jangan selalu bergantung pada Deni, Di. Jika Deni memang tidak bisa diharapkan lagi untuk menjadi pendamping hidupmu, kenapa mesti terus dipertahankan. Dari pada kamu terus dibuat kecewa dan terlunta-lunta, lebih baik dari sekarang kamu buat keputusan yang tegas. Kamu harus bisa menentukan nasib hidupmu, Di!”
Diah diam termenung. Ucapan Melani terasa menohok keras dalam hatinya. Sesuatu yang amat sensitif tiba-tiba mengoyak tirai kalbu. Sungguh, Diah tak pernah berpikir apalagi membayangkan akan berpisah dengan Deni. Dia sangat yakin akan cinta dan kesetiaan Deni. Dia meyakini laki-laki itu tak akan meninggalkannya. Namun apa yang dikatakan Melani seakan ingin meruntuhkan kepercayaan yang selama ini dipeliharanya rapi. Dia pun heran, apa maksud Melani mengatakan hal itu. Kenapa tiba-tiba dia meragukan kesetiaan Deni? Padahal sebelumnya Melani selalu mengungkapkan kekaguman pada Deni?
“Ah, tidak, Di!” tukas Melani jengah. Perasaannya jadi tidak tenang dan gugup mendengar pertanyaan Diah.
“Deni tidak pernah membicarakan soal ini. Menurutku, Deni memang laki-laki yang baik. Tapi yang namanya perasaan orang kan bisa saja berubah, Di. Aku takut kalau dia jenuh dan bosan begitu lama menjalin hubungan kasih denganmu, tapi dia tak berani mengungkapkannya. Aku juga khawatir kalau Deni hanya ingin mempermainkanmu. Dia tidak serius mencintaimu. Banyak kan kejadian, pasangan kekasih yang sudah bertahun-tahun pacaran tahu-tahu bubar di tengah jalan. Artis saja banyak yang mengalami, apalagi kita. Jadi, aku cuma ingin mengingatkanmu, Di. Jangan sampai kamu mengalami hal itu. Kalau pun akhirnya kenyataan pahit itu yang harus kamu hadapi, maka aku berharap kamu cukup kuat. Kamu harus siap. Lebih baik putus sekarang dari pada nanti setelah berumahtangga malah bubar. Kasihan kamu nanti. Perceraian itu lebih berat bebannya ketimbang orang putus cinta. Iya, kan?” tutur Melani panjang lebar.
__ADS_1
“Tapi aku tak yakin kalau Deni akan mengkhianatiku, Mel. Aku masih mempercayainya!” tegas Diah.
Melani mendesah pendek. Aduh, Diah. Kenapa kamu begitu bodoh dan lugu. Apakah kamu tak bisa melihat kelicikan Deni selama ini? Desis Melani dalam hati keki. Rasanya dia tak tahan lagi untuk mengungkapkan rahasia tentang Deni. Dia ingin mengatakan bahwa Deni sebenarnya sudah tidak mencintainya lagi, Deni sudah tidak setia! Diah cuma dikadali oleh Deni!
Tapi perasaan Melani tak tega. Dia tak sanggup bicara terus terang. Dia hanya bisa mempengaruhi Diah dengan cara yang halus. Dia pikir, dengan menanamkan keraguan dalam diri Diah kepada Deni akan membuat gadis itu menjadi sadar bahwa lelaki yang dicintainya bukanlah sosok seperti yang diidamkan. Melani ingin Diah mengambil keputusan tegas atas hubungannya dengan Deni. Jika Diah bisa memaksa Deni, maka laki-laki itu pada akhirnya akan mengungkapkan kejujurannya. Dengan begitu Diah menjadi tahu!
“Oke deh, Di. Semua memang terserah kamu. Sebagai sahabat aku hanya bisa memberi saran dan masukan. Ini demi kebaikan dan masa depanmu. Pikirkanlah dengan bijak dan matang. Apakah kamu ingin membiarkan hubungan kalian akan terus seperti ini atau kamu punya keputusan lain? Bagaimana pun kamu punya hak untuk menentukan jalan hidupmu sendiri!” tandas Melani.
Diah tercenung. Dia bisa memahami kata-kata Melani. Apa yang dikatakan Melani justru membangkitkan sebuah kesadaran baru pada dirinya. Selama ini dia tak pernah punya keberanian untuk menentukan sikap atas hubungan kasihnya dengan Deni. Padahal tak bisa dipungkiri bila dalam hatinya terkadang muncul juga kebimbangan dan keraguan terhadap Deni. Dia sering tak mengerti, kenapa Deni sebagai seorang laki-laki tidak pernah menunjukkan inisiatif lebih dulu dalam menentukan langkah yang akan diambil.
Mungkin benar apa yang dikatakan Melani, hal itu memperlihatkan ketidakseriusan Deni. Laki-laki itu telah luntur rasa cinta dan kasih sayangnya. Jika dugaan ini benar, oh, tak terbayangkan betapa sakitnya hati Diah. Dia tak akan sanggup menghadapi kenyataan buruk itu. Dia sudah terlanjur mencintai Deni. Dia tak bisa berpisah dengan Deni. Semua harapannya telah tertumpu pada laki-laki itu. Tapi seperti kata Melani, perasaan orang bisa saja berubah. Dia mesti siap menghadapi kemungkinan bila Deni tiba-tiba meninggalkannya karena sudah tidak ada lagi cinta dalam hatinya.
__ADS_1