
Sejak dinyatakan sembuh dan pulih dari gangguan kejiwaan, Melani diperbolehkan kembali ke rumah. Dia akan mendapatkan pengobatan jalan dan perawatan oleh keluarganya sendiri. Namun begitu dokter menyarankan agar Melani tidak melakukan aktivitas berat dulu. Dia disarankan untuk tidak masuk kantor dulu. Pihak perusahaan sendiri memberi toleransi Melani tidak masuk kerja selama masih sakit. Pihak kantor ikut membantu membiayai pengobatannya. Selama kondisi mentalnya belum stabil, Melani dilarang mendekati tempat-tempat yang bisa membangkitkan traumanya pada peristiwa perkosaan itu. Dia juga dijauhkan dari pesawat telepon dan HP yang menjadi sumber teror terhadap dirinya!
Selama tinggal di rumah Melani mendapat pengawasan ketat dari keluarganya. Mereka berusaha menjaga Melani agar tidak mengalami hal-hal buruk. Mereka bahkan melarang Melani pergi jauh-jauh dari rumah. Perlakuan keluarganya yang begitu protektif terhadapnya membuat Melani agak terkekang juga. Dia tidak mau diperlakukan seperti anak kecil. Tapi dia pun mencoba memahami, mereka melakukan hal itu didasari rasa sayang yang besar. Mereka sangat peduli padanya. Melani mencoba mengambil sisi positifnya.
Sementara itu rekan-rekan Melani di kantor, satu persatu datang ke rumah menengoknya. Melani merasa senang dan terharu oleh perhatian rekan-rekannya. Mereka yang datang bukan hanya orang-orang yang selama ini baik padanya, tapi juga mereka yang selama ini kerap bersikap antipati seperti Tuti, Ida, dan lainnya. Mereka menanggalkan rasa permusuhan dan kebencian. Mereka justru memberikan simpati dan dukungan yang besar pada Melani. Mereka ikut merasa prihatin dan mengutuk keras perbuatan si pemerkosa biadab itu. Mereka berjanji akan membantu Melani dan polisi untuk menangkap si pelaku.
Tapi yang membuat Melani merasa terharu dan senang adalah kehadiran Diah. Sahabat dekatnya yang sempat berselisih paham dengannya itu menyampaikan permintaan maaf pada Melani atas kekhilafannya selama ini. Diah menyesal karena telah berprasangka buruk pada Melani. Dia menyadari sifat keegoisan dan prasangkanya yang telah menyesatkan. Dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan Melani. Tidak ada yang bisa merusak hubungan persahabatan mereka yang terjalin dengan ketulusan. Melani terharu mendengar pernyataan Diah itu.
Melani lalu menanyakan kelanjutan hubungan kasih Diah dengan Deni. Dengan wajah muram Diah mengaku kalau dirinya sudah putus hubungan dengan Deni. Dia tak mau lagi membahas soal itu. Dia tidak peduli lagi pada Deni. Melani tertegun mendengarnya. Tiba-tiba dia teringat dengan kejadian tempo hari saat berkunjung ke rumah Deni. Dia telah mendengar banyak tentang kebobrokan Deni dari pembantunya. Mungkinkah Diah juga telah mengetahui hal itu? Jika benar demikian Melani ikut senang. Dia memang tak mau Diah disakiti laki-laki. Deni tak pantas lagi untuk Diah!
Tiba-tiba Melani mengungkapkan keinginan untuk kembali masuk kantor. Dia merasa suntuk tiap hari berdiam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Dia kangen suasana kerja di kantor. Tapi Diah menahan keinginannya itu.
“Jangan, Mel. Sebaiknya kamu beristirahat dulu di rumah,” katanya bersaran.
“Aku merasa tidak enak, Di. Sudah berminggu-minggu aku tak masuk kerja. Bagaimana dengan pekerjaanku? Siapa yang mengerjakan?” cetus Melani sedih.
“Tenang saja, Mel. Pak Tejo sudah mendelegasikan tugas-tugasmu kepadaku dan mbak Tari. Kami sudah bisa mengatasi semuanya. Pak Tejo pernah berpesan agar kamu jangan masuk kerja dulu sebelum benar-benar sehat. Beliau tak mau kalau kamu nanti shock dan trauma lagi bila ada di kantor!”
“Tidak, Di. Aku sudah cukup kuat kok. Aku tidak trauma dengan kejadian kemarin…”
__ADS_1
“Tapi, Mel?”
“Percayalah, Di. Aku sudah cukup kuat. Aku sudah tidak peduli dengan semua itu. Aku sudah bisa menerima keadaanku yang telah ternoda. Mungkin ini sudah suratan hidupku. Sekarang yang menjadi pikiranku adalah kelanjutan hidup keluargaku. Jika aku sampai berhenti bekerja, siapa yang mengayomi mereka. Ibu dan kedua adikku masih membutuhkan tenagaku. Biarlah aku yang menderita oleh keadaan ini, tapi tidak untuk orang-orang yang kucintai!” tegas Melani.
Perasaan Diah terharu mendengar kata-kata Melani. Sungguh, betapa tegar dan kuat jiwa Melani. Dia mampu menepis segala kepahitan dan rasa sakit yang menjajah hatinya. Melani tidak pernah memikirkan dan mementingkan diri sendiri. Dia selalu memikirkan keluarganya. Dia peduli pada nasib orang-orang yang dia cintai. Sangat jarang ada wanita yang memiliki jiwa baja seperti Melani. Diah sendiri tak sanggup membayangkan bila hal ini terjadi pada dirinya. Dia tak sekuat dan setangguh Melani. Dia salut pada kebesaran jiwa Melani dalam mengarungi kehidupan yang keras ini.
“Baiklah, Mel. Nanti aku akan sampaikan keinginanmu ini pada Pak Tejo,” kata Diah akhirnya memenuhi permintaan Melani.
“Terima kasih, Di!” Melani tersenyum senang. Dia lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat. Tanpa sadar dari kedua matanya mengalir air bening.
Kembali dering telepon berbunyi. Melani jadi ragu-ragu. Jangan-jangan itu telepon dari Diah. Melani menepis bayangan trauma dalam dirinya. Dia segera beranjak dari tempatnya, menghampiri pesawat telepon di ruang tengah. Tangannya agak gemetar saat terulur hendak menjamah gagang telepon. Keringat dingin membasahi wajahnya. Sejenak dia menarik napas dalam sebelum kemudian mengangkat gagang telepon.
“Halo…?” sapanya lirih, nyaris seperti gumaman.
“Halo, Sayang. Kamu di rumah saja. Bagaimana keadaanmu. Sudah cukup sehat kan…?”
__ADS_1
Deg! Jantung Melani serasa dipukul godam dengan kerasnya saat mendengar suara laki-laki di seberang sana. Suara si pemerkosa itu lagi! Melani sudah akan membanting gagang telepon, tapi ditahannya. Sambil memendam gejolak membara dalam dadanya, Melani kemudian mencaci maki sang penelepon yang telah menghancurkan hidupnya itu.
“Laki-laki busuk! *******! Mau apalagi kamu meneleponku? Apa kamu belum puas membuat hidupku hancur dan berantakan?!” desis Melani gusar.
“Jangan marah begitu dong, Sayang. Aku tak pernah bermaksud menghancurkan hidupmu. Aku justru ingin membuatmu merasa senang. Bagaimana dengan kejadian kemarin? Kamu menikmatinya, kan? He he he…?” ujar orang itu tertawa terkekeh.
“Jahanam! Kamu manusia iblis! Kamu pengecut! Kamu hanya berani memperkosa wanita di tengah kegelapan. Kamu tidak jantan! Kalau kamu memang jantan, ayo tunjukkan dirimu sebenarnya? Jangan hanya bersembunyi di balik topeng!” seru Melani kesal.
“Aku bukan pengecut! Aku mau tunjukkan siapa diriku sebenarnya, asal kamu mau menuruti keinginanku!”
“Apa keinginanmu?”
“Aku tahu, kamu pasti akan kesulitan untuk mendapatkan pendamping hidup setelah keperawananmu hilang. Tidak ada laki-laki yang mau menerima gadis yang sudah ternoda untuk dijadikan istri. Jadi aku ingin kamu menerima aku sebagai… suamimu!”
“Apa?! Tidak! Aku tidak sudi menjadi istri orang bejat seperti kamu. Aku tidak sudi menikah denganmu!”
“Kalau begitu, jangan harap kamu akan bisa mengetahui siapa diriku sebenarnya. Aku juga tak akan berhenti menerormu. Bahkan lebih dari itu, mungkin aku bisa mengalihkan sasaran pada Nina, adikmu yang masih remaja itu. Aku penasaran ingin menikmati tubuhnya yang masih ranum dan perawan. He he he…!”
Wajah Melani terkesiap pucat mendengar ancaman orang itu yang hendak mengalihkan sasaran pada Nina, adiknya. Tubuhnya bergetar hebat diliputi amarah. Kecemasan dan ketakutan membayangi hatinya. Dia tak bisa membiarkan orang itu menghancurkan hidup adiknya!
__ADS_1