
Melani dan Diah kembali ke kantor. Mereka kemudian sibuk dengan aktifitas di mejanya masing-masing. Saat Melani sedang menghadapi layar komputer memeriksa pekerjaannya, tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Melani ragu untuk mengangkatnya. Takut penjahat itu kembali menerornya. Tapi sepertinya dia tidak perlu takut, karena bagian IT kantor sudah melakukan perbaikan system telekomunisasi, sehingga bisa dilacak dan direkam siapa saja orang dari luar yang menelepon ke kantor. Jika ada yang berniat meneror akan mudah dilacak.
Melani lalu mengangkat gagang telepon. Bagian operator memberitahu jika Deni yang menelepon, apakah perlu disambungkan. Pesawat telepon yang ada di meja Melani memang disambungkan dengan operator dan tidak diberikan ekstensi khusus. Jadi siapa pun yang menghubungi Melani harus melalui bagian operator. Untuk beberapa saat Melani menunggu hingga saluran tersambung.
“Halo, Mel?” Terdengar suara Deni di seberang sana. Sesaat ada yang terasa aneh di telinga Melani. Suara Deni saat berbicara langsung dengan melalui telepon agak berbeda. Melani seperti teringat suara seseorang.
“Ya, Den. Ada apa?” balas Melani.
“Kamu sudah bicara sama Diah?”
“Sudah.”
“Terus, bagaimana tanggapannya?”
Sejenak Melani terdiam, seakan berat menyampaikan. “Engh…. Maaf, Den. Untuk sementara ini dia sepertinya belum bisa menerima kamu. Diah masih ingin sendiri,” ucap Melani akhirnya.
“Sudah aku duga….” Gumam Deni terdengar kecewa.
“Ya, sudah, Den. Aku lagi banyak pekerjaan.” Melani ingin menyudahi percakapan, tapi Deni menahannya sebentar.
“Oh ya, Mel. Kamu sudah ke kantor polisi melaporkan orang yang kuceritakan itu?”
“Sudah. Sekarang sketsa wajah orang itu sudah tersebar di seluruh kantor kepolisian dan mudah-mudahan segera ditangkap,” jawab Melani.
“Baguslah.”
Melani lalu mengakhiri percakapan dan melanjutkan lagi pekerjaannya. Tapi belum berapa lama telepon kembali berdering. Melani mengangkatnya. Bagian operator memberitahu ibunya menelepon. Melani minta disambungkan. Begitu saluran tersambung, terdengar suara Bu Marni di seberang sana gugup dan panik.
“Melani, Nina diserang orang,” katanya.
“Diserang bagaimana, Bu? Siapa yang menyerang?” tanya Melani ikut gugup dan cemas.
“Sebaiknya kamu pulang, Mel. Ibu tidak bisa menceritakannya lewat telepon ….”
“Baik, Bu. Aku segera pulang.”
__ADS_1
Melani menutup telepon dan segera berkemas. Dia meminta ijin pada atasannya, karena ada urusan keluarga. Melani kemudian bergegas pulang dengan naik taksi. Setiba di rumah Melani mendapati ibunya duduk di ruang tamu bersama Ipang, sementara Nina berada di kamar. Terdengar samar suara isak tangisnya. Bu Marni dan Ipang langsung berdiri menyambut Melani.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?” tanya Melani.
“Tadi waktu pulang sekolah, Nina tiba-tiba diserang orang tak dikenal. Dia dibawa ke sebuah bangunan kosong. Untunglah bang Ipang memergokinya dan mencegahnya sebelum berbuat keji pada Nina,” tutur Bu Marni.
“Kenapa bisa seperti itu? Bukannya bang Ipang harus menjaga dan mengawal Nina?” Melani menoleh kepada Ipang meminta penjelasan.
Tukang ojek yang disewa Melani itu menundukkan kepala. Seakan menyadari kesalahannya.
“Maafkan saya, mbak Mel. Saya yang salah. Saya tadi menjemput Nina seperti biasa. Tapi di tengah jalan mendadak motor saya kehabisan bensin. Saya lalu meminta Nina menunggu di pinggir jalan sama sepeda motor sementara saya mau beli bensin eceran tidak jauh dari situ. Ketika saya kembali, saya tidak melihat Nina. Saya lalu mencarinya ke sekitar dan melihat Nina sedang diseret paksa oleh seorang laki-laki ke dalam bangunan kosong. Saya langsung mengejarnya. Dan sebelum orang itu memperkosa Nina, saya menendangnya. Dia lalu kabur ….” Tutur Ipang menceritakan kronologi kejadiannya.
Melani menarik nafas dalam, sedikit lega karena Nina selamat dari tindakan perkosaan. Kejadian ini membuat Melani jadi makin ngeri. Sepertinya sang pemerkosa benar-benar telah melaksanakan ancamannya. Melani jadi ngilu. Dia bisa merasakan ketakutan yang dialami Nina.
“Kejadian ini bukan salah bang Ipang. Dia tidak berniat meninggalkan Nina dalam bahaya. Justru dia telah menyelamatkan Nina,” kata Bu Marni.
“Iya, Bu. Aku tahu, ini insiden yang di luar dugaan. Tapi, apakah bang Ipang mengenali orang itu?”
“Tidak, Mbak. Karena orang itu memakai jaket hoodie yang ada kerudung kepalanya. Saya tidak sempat melihat wajahnya ketika dia lari kabur,” jawab Ipang.
Melani tidak akan membiarkan penjahat itu menyentuh adiknya. Jika sampai dia berani menyakiti Nina, sampai ke ujung dunia Melani akan mengejarnya. Melani menarik nafas dalam, mencoba mengisi rongga dadanya yang sesak. Melani rasanya penat sekali menghadapi persoalan yang bertubi-tubi menimpa keluarganya. Kenapa begitu berat coban yang Tuhan berikan pada mereka. Apakah ini bagian dari ujian keimanan? Batin Melani merintih.
“Ya sudah, bang. Terima kasih telah menjaga dan menolong Nina. Sekarang abang boleh pulang,” kata Melani kemudian menyuruh Ipang pulang.
“Terus, besok gimana, mbak? Apa saya ke sini lagi mengantar Nina ke sekolah?”
“Sementara Nina nggak usah masuk sekolah, Bang. Dia pasti juga masih trauma dan belum mau masuk sekolah. Nanti aku akan mintakan ijin pada gurunya di sekolah.”
“Kalau gitu saya permisi, mbak, bu Marni…. Assalamualaikum,” ucap Ipang kemudian berpamitan.
“Wa’alaikumsalam ….” Jawab Melani dan ibunya bersamaan.
Setelah Ipang pergi, Melani hendak memasuki kamar adiknya. Tapi tangan Bu Marni menahannya sebentar.
“Kamu hibur dan kuatkan hati adikmu. Jangan biarkan dia dihantui ketakutan lagi,” kata Bu Marni.
__ADS_1
“Iya, Bu,” sahut Melani.
Pintu kamar Nina tidak terkunci, sehingga Melani bisa langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Nina duduk di atas ranjang sambil memeluk bantal. Baju seragamnya masih melekat di badan. Sepertinya begitu pulang ke rumah Nina langsung masuk kamar dan menangis. Terlihat wajahnya masih sembab.
“Nina….” Panggil Melani.
“Kak Mel….” Nina hanya mendongakkan kepalanya, menatap kakaknya.
Melani menghampiri adiknya dan duduk di tepi ranjang. Nina memeluk kakaknya lalu menangis tersedu-sedu.
“Aku takut, Kak. Aku takuuuttt….” Suara Nina bergetar bercampur tangis.
Melani menepuk-nepuk punggung Nina menenangkan.
“Sudah, Nin. Sudah…. Nggak perlu ada yang ditakutkan. Yang penting kamu selamat,” kata Melani lalu melepaskan pelukan adiknya. Dia menatap Nina.
“Dengar, Nina. Penjahat itu tidak akan berani lagi mendekatimu, karena kami semua dan bang Ipang akan melindungimu,” ucap Melani meyakinkan.
“Tapi aku takut penjahat itu akan menyerangku lagi, Kak. Aku tidak mau masuk sekolah. Aku takut….”
“Iya, kakak mengerti ketakutanmu. Untuk sementara kamu boleh tidak masuk sekolah dulu. Tapi kakak minta kamu jangan berlarut-larut dalam ketakutan. Kamu harus berani. Nanti jika suasana hatimu sudah tenang, kamu harus masuk sekolah. Kamu tidak boleh kalah dengan rasa takut….”
“Tapi, Kak….?”
“Kakak sudah tahu, siapa penjahat itu. Kakak sudah melaporkan pada polisi dan polisi sudah menyebarkan sketsa wajahnya. Sekarang dia menjadi DPO. Cepat atau lambat dia akan tertangkap. Bukankah penjahat itu ada tato di keningnya?”
Nina tercekat. “Kok kakak tahu?”
“Karena dialah penjahat yang telah merusak hidup kakak!” tandas Melani.
Nina sekarang terlihat mulai tenang setelah diberitahu Melani bahwa penjahat itu telah diketahui identitasnya dan menjadi DPO polisi. Melani sendiri sangat yakin jika penjahat itu adalah orang yang sama hendak mencelakai adiknya.
__ADS_1