
"Selamat pagi," sapa Mike ketika adiknya telah bangun.
"Em? Pagi juga, Bang. Abang kok bisa ada di sini?" balas Liora yang merasa bingung dengan keadaannya.
"Kamu tuh pingsan kemarin sore. Untung abang datang tepat waktu dan segera panggilin dokter ke sini. Kamu demamnya tinggi banget," terang pria itu sambil memperhatikan masakannya di dapur.
Liora yang masih merasa keheranan, pun mulai bergerak dan bangkit dari tidurnya. Ia melihat begitu banyak alat kompres di kamarnya yang terbuang.
Ia berkaca dan sadar jika rambutnya telah berubah sangat pendek sekarang. Ia memang ingin hidup yang lebih simpel.
"Apa mungkin karena aku main hujan di luar ya, Bang?"
"Nggak tau. Dibiasakan aja. Jangan pikirkan bayimu sekalian." Seperti biasa, Mike akan menyarankan hal buruk yang berarti harus melakukan kebalikannya.
"Menyebalkan." Gadis itu menarik salah satu sudur bibirnya kemudian bergerak menuju kamar mandi. Ia membersihkan wajahnya yang terlihat sangat kusut dan kusam.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah terlihat makan bersama sekarang. Liora yang tengah menonton referensi makanan sehat untuk bayinya, berbeda dengan Mike yang malah video call dengan kekasihnya.
"Siapa, sih?" tanya gadis itu sangat penasaran, namun segera disembunyikan oleh sang abang. "Apa-apaan sih, Bang? Kamu membuatku hampir mati penasaran!" decitnya sangat geram.
Mike tetap tidak peduli dan menyendokkan sayur ke atas piring sang adik.
"Kamu nggak usah kepoin urusan cinta abang, urusan kamu mau ke mana juga nggak akan abang urusin. Gimana, fair?"
Liora yang masih merasa kesal memilih untuk setuju. Ia melanjutkan memakan makanannya sekarang.
Tok! Tok! Tok!
Gadis itu bergegas bergerak menuju pintu seolah sudah tau maksud kedatangan tamunya. Ia bahkan tersenyum lebar kemudian membawa sebuah kotak ke atas meja makan.
"Apa itu?"
"Aku baru beli buku. Aku nggak akan ke luar rumah sering-sering, Bang. Jadi, tenang aja."
Mike manggut tanpa setuju. "Mulai besok abang akan mulai bekerja, jadi mungkin ke sini paling sekali seminggu. Kamu bisa urus diri sendiri, kan?"
"Kita tinggal di apartemen yang berbeda?"
"Beda. Abang di sebelah."
"Eh, kirain tinggal jauh." Gadis itu menjadi sangat kesal dengan tingkah dan sikap usil sang abang sekarang.
__ADS_1
***
Yana menghampiri Riko yang sudah menunggu di kantin sejak tadi. Keduanya saling menatap selama beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu memberikan uang yang jumlahnya tidak sedikit.
"Semangat untuk kelasnya hari ini." Riko memberikan kecupan di kening gadis itu kemudian memberikannya izin untuk berlalu dari sana.
Alya yang sedari tadi sudah menunggu, pun menarik Yana menuju toilet dan menguncinya dari dalam sehingga hanya ada mereka berdua di sana.
"Dapat uang dari mana kamu, Yan?"
Gadis itu bungkam. Alya semakin kesal sekarang.
"Jangan bilang, kamu benar-benar membohongi orang tua kamu!"
"Ya itu karena kamu nggak mau bantuin aku, Yak!"
"Dia tuh cowok jahat, berengsek, untuk apa dibantu sih, Yan! Orang tua kamu loh yang kamu tipu, kok kamu malah tega sama mereka? Kok kamu malah nggak tegaan sama si bangsat itu?"
"Udah deh, Yak. Kamu nggak akan pernah ngerti yang namanya perasaan. Aku percaya sama Riko, dia pasti bayar uangnya nanti."
"Nanti kapan? Nanti kapan, ha?!" gertak Alya tak memberi izin untuk Yana segera berlalu dari sana Ia menahan sahabatnya itu.
"Alya, please jangan ganggu aku dulu. Aku yakin dengan apa yang aku lakukan sekarang. Kasih aku kesempatan untuk melakukan apa yang aku inginkan!"
"Huft!" Gadis itu menghela napas panjang sekarang.
***
Helena berdiri di depan pintu rumah Jona. Ia cukup ragu dan berkali-kali ingin mencoba mengetuk pintu. Namun, ia juga takut melakukannya sebab mungkin akan menyebabkan masalah.
Keraguan itu segera ia lawan, ia mengetuk pintu dengan cukup kencang sekarang.
"Silakan mas-" Mely terhenyak ketika mendapati siapa yang datang. Wajahnya yang sangat suram berubah senyum manis. "Kamu ngapain ke mari? Selamat datang dan makasih loh udah datang berkunjung," katanya menyambut Helena dengan pelukan.
Wanita yang menjadi tamu itu pun melakukan hal yang sama. Ia membalas sahabat lamanya itu kemudian memberikan bawaannya.
"Aku udah lama mau dateng ke sini, tapi takut kamu terganggu. Yang aku ingat, kamu memang selalu sibuk."
"Eh, enggak dong. Itu mah dulu, sekarang nggak. Aku di rumah aja, lebih fokus untuk ngurusin rumah tangga aja." Tersenyum lebar kemudian memerintah pembantu di rumahnya untuk membuatkan minuman.
"Kamu gimana kabarnya?" tanya wanita itu seolah tidak tau yang padahal sudah tau segalanya bahkan selak beluknya.
__ADS_1
"Baik, Helena. Kamu juga apa kabar sekarang? Pacaran sama yang mana lagi sekarang?"
"Aku pacaran sama orang bisa, Mel. Dia cuma kerja kantoranlah, bukan pengusaha besar kayak dulu lagi, tapi yang ini ... rasa cintanya besar banget. Sebesar aku," canda wanita itu membuat Mely terkekeh mendengarnya.
"Bagus dong. Kalau cintanya tulus, apapun keadaannya itu akan membuat kita lebih bersyukur dan lebih hidup. Kamu segera minta dinikasih sama dia aja."
Helena terdiam, ia tidak kuasa untuk menjawab perkataan wanita itu sekarang. Ingin sekali rasanya ia menjujuri keadaannya, namun sangat tidak mungkin.
"Suami kamu di mana?"
"Masih kerja. Dia mah sering lembur, hampir tiap hari."
"Oh jadi gitu." Helena manggut-manggut. 'Jadi dia ngaku lembur ke istrinya. Bagus deh, Mas.'
"Kamu kenapa? Nyariin apa, sih?" tanya Mely yang tampak sadar dengan gerak-gerik wanita itu sejak tadi.
"Mau ke toilet."
"Haha ... silakan sana, itu di ujung sana ada toilet." Mely segera mengarahkan sahabatnya itu.
Sementara dirinya bergerak menuju dapur untuk memastikan pembantunya melakukan seperti apa yang ia perintahkan. Sebagai ibu rumah tangga, ia memang tetaplah si super sibuk.
"Sayang, sepertinya ada tamu, siapa?" Jona masuk tanpa mengetuk dan memberikan aba-aba terlebih dahulu.
Mely yang sangat heboh segera menghampiri pria itu. "Mas, itu Helena datang. Dia lagi di toilet, kamu segera ganti baju sana. Kita minum teh bersama dulu. Anggap aja ini sambutan untuk dia."
"Hm, baiklah." Jona yang panik mencoba tenang dan setuju-setuju saja.
Ia berjalan cepat menuju toilet dan tidak mendapati wanita itu di sana. Ia segera berjalan menuju lantai atas sekarang dan mendapati jika wanita itu sudah berada di kamarnya dan duduk di atas kasur.
"Kamu ngapain sih ke sini? Kamu mau ngehancurin kehidupanku?" bentaknya.
"Mas, aku nggak mau diabaikan. Harus berapa kali lagi aku katakan, jangan abaikan aku! Aku mencintaimu. Aku nggak bisa kalau tanpa cintamu sedetik pun!"
Jona yang merasa bersalah dan tidak ingin istrinya curiga pun segera menenangkan wanita itu.
"Kita ngeteh bareng, yuk?" ajaknya.
Mely yang ada di balik tembok segera turun lebih dulu. Ia tidak ingin ketahuan.
"Mas, apa kamu masih mencintaiku?" tanya Helena dengan nada manja.
__ADS_1
***