
“Gimana? Kamu sudah siap ‘kan, Sayang?” tanya Riko setelah ia kembali.
Keadaan Yana memanglah sudah membaik sejak kemarin. Hal itu cukup membuat semua orang merasa senang.
Sila yang memang tidak pernah merasakan mengurus seorang anak gadis pun segera menganggapnya seperti anak sendiri. Ia memperlakukan Yana seperti anak sendiri.
“Aaaa ... makan dulu.” menyuapkan makan ke mulut gadis itu.
“Tante, apa aku pantas bersanding dengan Riko? Dia sudah sukses sekarang ... aku hanya-“
Sila menggeleng. “No. Jangan bicara seperti itu, Nak. Kamu pantas untuk dia. Lagian, sudah sejak lama ‘kan kalian bersama. Sudah saling tau.”
“Tapi, aku tidak begitu yakin, Tan.”
“Gapapa. Tapi tante nggak akan minta kamu melakukan apapun. Tante nggak akan minta kamu menerima dia, keputusan ada di tangan kamu, Yana.”
Wanita itu kemudian meletakkan kotak makanan yang telah kosong itu di atas nakas. Setelahnya, memberikan segelas air lalu memanggil putranya agar kedua sejoli itu saling bicara dari hati ke hati.
Lehon yang sadar akan keadaan itu dibuat bingung. Mungkinkah dirinya akan mengalami hal yang sama suatu saat nanti? Pertanyaan itulah yang terbenak dalam pikirannya.
“Sudah sah. Aku diterima dan akan segera menikah.” Riko ke luar dari ruangan kemudian memberikan setumpuk undangan pernikahan pada saudara tirinya itu.
“Kalian benar akan menikah? Kapan? Memangnya Yana sudah boleh beraktivitas-“
“Ssst ... yang menikah itu kan aku. Kenapa pula kamu yang repot? Tanggalnya sudah ada di sana. Bagikan undangannya pada teman-temanmu. Aku mau pesta ini semeriah mungkin,” balas Riko.
Setelahnya, ia melaju pergi dari sana. Memang hubungan mereka belum begitu baik hingga saat ini. Namun, itu tidak menjadi beban bagi Lehon.
Pria itu tampak berjalan meninggalkan rumah sakit dengan sejuta pertanyaan di otaknya.
“Duh, undangan segini banyaknya mau disebar ke mana?” gumamnya tampak bingung.
Di kantor, ia masih tampak diam hingga Maria memasuki ruangannya dan melihat tumpukan undangan itu. wanita itu meraih salah satu dan membacanya.
“Loh, kenapa nggak dibagikan saja, Pak? Atau boleh saya bantu?” tanyanya.
“Hm. Mau dibantu bagaimana maksudnya? Saya tuh muak dengan undangan itu. adik saya nikah tapi saya yang ditugaskan untuk menyebar undangan. Dan ... sebanyak itu. coba mau dikemanain.”
Maria tersenyum tipis.
“Tidak usah diambil pusing, Pak.”
“Bagaimana bisa, Maria ...”
“Sebar ke teman kantor saja kali, Pak. Kami kan juga bagian dari teman Anda di sini. Gapapa ... saya yang akan tuliskan nama-namanya.”
Sebelum wanita itu mengambil semua undangan, Lehon memungut satu dan menyimpannya.
__ADS_1
***
Singkatnya, sore telah menjelang. Sebagian dari penghuni kantor itu telah kembali ke rumah masing-masing.
Maria juga memasuki ruang kerja Lehon untuk mengabarkan kinerjanya.
“Bagus,” puji pria itu singkat yang segera membuat Maria salah tingkah dan sangat senang.
“Undangan yang satu tadi ke mana, Pak?” tanya wanita itu kemudian.
Kening Lehon mengerut dibuatnya. Padahal undangan itu ia simpan untuk Liora, sebab ia bisa menebak jahatnya seorang Maria yang iri hati.
“Untuk apa?”
“Saya nggak kebagian, Pak. Semua undangan sudah habis saya bagikan. Kebanyakan juga sudah saya pasang-pasangin tuh yang pada jomblo. He-he.”
Lehon ikut menyengir. Walau cukup berat di hatinya, pada akhirnya ia tetap menanyakan perihal Liora.
“Apa dia juga kebagian?”
“Em ... nggak tau deh, Pak. Aku nggak ingat,” kata wanita itu menjawab dengan cepat kemudian mengambil undangan yang tersisa dan membawanya pergi.
Panik dan bingung. Namun, Lehon tak lagi punya kuasa. Ia tak mungkin mengejar dan merebut kembali undangan itu. Akan sangat konyol memang.
Walau begitu, ia tetap ke luar ruangan untuk mencari keberadaan Liora. Bagaimana pun, ia sangat ingin tau keadaannya setelah seharian tak bertemu sebab sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Wanita itu mendongak kemudian membalikkan tubuh. Ia bahkan segera memasukkan semua barangnya ke dalam tas dengan sembarangan.
Ia berjalan buru-buru yang segera ditahan oleh Lehon.
“Liora, saya mau bicara,” katanya dengan nada tegas sambil menggenggam tangan wanita itu.
“Liora?” Sebuah panggilan yang ternyata berasal dari Reza.
Pria itu mendekat yang segera membuat Lehon melepaskan genggamannya.
“Kalian sedang apa?” tanyanya.
“Kepo?” balas Lehon sewot.
“Saya hanya bertanya, Pak.” Menyahut dengan kesal kemudian menunjukkan undangan di tangannya pada Liora.
Ya, pria itu membelakangi Lehon.
“Kita dapat undangan, nih. Entar perginya bareng, ya?” tawar pria itu.
Lehon tentu menjadi sangat panik. Ia menarik kertas undangan itu dan mencoret nama Liora di atasnya.
__ADS_1
“Liora, kamu pergi bareng saya. Ini adalah perintah. Titik!”
Setelahnya, pria itu berlalu dengan cepat yang segera disusul oleh Liora. Reza hanya bisa menatap dengan penuh keheranan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan hubungan rumit yang ia saksikan.
“Kenapa juga aku harus menuruti perintahmu?” tanya Liora dengan nada kesal sambil terus mengikuti langkah Lehon.
“Yang menikah itu adalah mantanmu. Kamu tidak lupa itu, kan? Aku harap juga begitu. Anggap saja, ajakan ini adalah sebuah kebaikan untukmu.”
Ucapan penuh ketegasan itu cukup membuat Liora kebingungan. Walau begitu, ia terima saja demi kedamaian hidupnya.
“Liora, kamu dan Pak Lehon ada hubungan apa, sih? Gimana, coba jelasin ...” Reza mendekat dan meminta.
***
Sejak kedatangan Jona kemarin, keadaan Mely menjadi lebih baik. Bukan karena senang, namun ia ingin bangkit dari rasa sakit yang diterima.
Pria itu telah sangat merendahkannya. Jona membawa seorang pelakor dan memperkenalkannya secara terang-terangan pada kedua anak mereka.
Hatinya sakit, tentu. Ia marah, wajar. Rasa-rasanya ingin sekali menghapus memori tentang pria itu dan tak tersisa sedikit pun.
“Mike, pokoknya mamah mau ke luar dari rumah sakit. Mamah mau pulang dan berobat dari rumah saja. Nggak mau lama-lama di sini, capek ...”
Wanita itu mengeluh hebat membuat Mike merasa tak tega.
“Mah, kenapa tiba-tiba? Padahal di sini juga nyaman, Mah. Aku dan Liora bakal jagain Mamah dengan baik, kok.”
“Hm.” Menundukkan kepalanya. “Mamah nggak mau terpuruk dengan keadaan ini, Mike. Nggak mudah buat mamah bisa rela begitu saja atas perbuatan Papah. Dia jahat, ya ...”
Mike sedikit terkejur. Sungguh tak disangka jika ibunya akan menceritakan kesedihannya.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mendekap wanita itu dengan penuh kasih sayang. Tak membiarkannya menangis lagi, terlebih ketika Rainy ke luar dari toilet.
Kaget dan heran dengan keadaan yang ada di hadapannya.
“Omah kenapa ya, Om? Apa dia disuntik sama doktel?” tanya anak kecil itu yang memang terkadang masih cadel.
“Hm. Iya nih, Sayang ... tapi dokternya nggak jahat, kok. Omah disuntuk supaya cepat sembuh. Nah, kalau Omah sudah sembuh, kalian bisa main, deh.”
Mike segera menjawab. Anak kecil itu mengangguk mengerti dibuatnya.
Tak berapa lama, ia juga ke luar menuju ruangan dokter. Mengurus hal-hal yang harus ia selesaikan sebelum benar-benar ke luar dari rumah sakit itu.
Ia melakukannya dengan sangat serius sampai lupa dengan perutnya yang bahkan belum terisi sejak pagi. Bunyi keroncongan yang amat jelas terdengar oleh para perawat di sana.
“Bang, makan dulu. yuk?” ajak Alya sambil menggandeng pria itu. “Tadi, aku keingat sama abang, siapa tau belum makan pikirku. Ternyata emang benar, kan. Hm ...”
“Kamu seriusan lagi peduli?” tanya pria itu terdengar sangat konyol dan aneh.
__ADS_1
***