Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Ikatan Batin Ibu dan Anak


__ADS_3

Mely menatap wajah lemas putrinya yang masih tengah tertidur lelap sekarang. Ia cukup merasa tenang sebab gadis itu mampu melahirkan bayinya dan masih dalam keadaan baik-baik saja.


Rasa syukur itu tidak bisa ia tahan, segera saja ia daratkan sebuah kecupan manis dengan penuh kasih sayang. Rasanya, ia juga sungguh tidak tega jika harus berjauhan lagi dari sang putri.


“Mamah, cucumu ...” Mike yang tengah menggendong anak itu dan memberikannya pada Mely yang tampak enggan menerimanya. “Ada apa, Mah?”


Morgan dan Lehon juga menyusul. Hal itu membuat Mely semakin kesal sekarang. Ia tahu jika Lehon adalah saudara dari Riko-pria bajingan yang telah membuat putrinya semenderita ini.


“Mamah, ayo digendong bayinya.” Mike menyodorkan anak itu yang pada akhirnya diterima jua.


“Cewek apa cowok?”


“Cewek, Mah. Anaknya cantik, ya. tidak ada bedanya dengan adikku. Tapi wajah cantik anak ini menurun dariku juga,” canda Mike yang segera membuat ketiga orang dewasa itu menatap jengah ke arahnya.


“Kamu ada-ada saja.” Mely hanya membalas seadanya kemudian menjauh dari sana.


“Mamah, kenalan dong sama mereka berdua,” pinta Mike yang tidak ingin suasana terasa mencekam.


“Hai, Tante.” Morgan yang segera menyalim wanita itu yang segera disambung oleh Lehon namun tidak mendapat respon sama sekali.


“Mah, kok gitu, sih. Sapa Lehon juga dong, masa iya hanya Morgan yang disapa.” Mike berkomentar.


“Kamu saudara tiri si laki-laki sialan itu, kan?” ujar Mely merasa geram dan tak lagi dapat menahan rasa kesalnya. Ia menunjukkan raut wajah kemarahan di sana.


“Mamah, lupakan masalah itu. harusnya Mamah ucapin terima kasih ke dia sekarang. Kalau tidak ada dia, tidak tau bagaimana ujungnya. Jadi, please ...”


“Apa maksudnya?” tanya Mely yang terlihat sangat penasaran dan segera mendapat penjelasan dari putranya itu. “Terima kasih,” sambungnya lagi namun masih dengan nada ketus.


Lehon yang merasa posisinya tidak begitu nyaman di sana, pun berpura-pura mendapat panggilan dari ibunya dan ke luar dari sana. Ia menghela napas panjang di ruang tunggu.


Ia yang selama ini selalu berpura-pura menerima kelakuan sang adik tiri, nyatanya mendapat siksaan tatkala diperlakukan tidak adil seperti sekarang ini.


“Ko ...” gumamnya.


***


Sila masih menatap foto putranya dengan perasaan sedih. ada rasa rindu yang teramat. Ia juga menatap seisi rumahnya yang semakin mencekam tatkala Lehon meninggalkannya selama beberapa saat.


Roy yang selalu berusaha memahami keadaan istrinya itu, pun mengantarkan makanan. Ia juga tak lagi terlalu menyalahkan perbuatan Riko sekarang ini.

__ADS_1


“Makan dulu.”


“Mas, gimana kalau kita cari tau keadaan anak itu?”


“Sila, aku memang sudah memaafkan kesalahan Riko. Tapi untuk mencarinya, maaf.”


“Bukan itu, Mas. Bukan dia.”


Roy hanya memberikan tatapan penuh tanda tanya.


“Maksudku gadis itu. apa dia sudah melahirkan sekarang? Apa kita tidak bisa menjenguknya?”


“Sila, tolong ... aku semakin pusing sekarang. Rasanya sungguh malu setelah mendapat penolakan beberapa waktu yang lalu. Aku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.”


Sila memasang wajah sedihnya. Sungguh, ia semakin tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Makanan yang padahal sudah sempat disentuhnya itu, pun diletakkan kembali di atas nakas.


Ia bangkit kemudian berlalu dari sana. Ia berdiri di atas balkon sekarang. Entahlah apa yang ia cari-cari di hidup ini jika ketenangan saja tak ia temukan.


Roy akhirnya menyusul. Ia memberikan pelukan hangat untuk Sila yang sama sekali tak mendapat respon. Tampak jelas jika wanita itu tengah hilang harap sekarang.


“Kalau kamu makan, aku janji kita akan bergerak besok. Kita cari Riko dan anak itu.”


“Aku serius, Sayang. Apapun ... untukmu. Mari kita perbaiki keutuhan keluarga kita.”


Sila merasa amat sangat senang sekarang. Ia pun bergegas masuk ke kamarnya dan membawakan makanannya menuju meja makan untuk berpindah. Ia juga membukakan pintu untuk tamunya yang ternyata adalah Yona.


“Selamat siang, Tante.” Gadis itu menyalim Sila yang tengah tersenyum lebar dan tulus sekarang.


Keduanya juga bergerak dengan kompak menuju meja makan.


Roy yang berada di ujung tangga menatap kedua wanita itu dengan serius. Ia cukup senang dengan kedekatan itu lalu ikut bergabung.


“Aku buatin jus buah loh, Tan. Mau?” tawar Yona.


“Ya maulah, om juga mau, mau.” Roy malah menawarkan keinginannya secara mandiri.


“Buatin dua?” tanya Yona memastikan dan mendapat anggukan dari Mely.


Gadis itu bergerak ke dapur dan menyiapkan apa yang ingin ia siapkan. Rasanya sangat senang ketika bisa membuat kedua orang tua itu bahagia dengannya.

__ADS_1


“Tadaa ....”


***


Pria berambut gondrong yang tengah sibuk di bengkel itu menyeka keringatnya. Ia juga mengelus dadanya yang terasa sesak sehingga membuatnya lemas.


Entah mengapa, setelah sekian lama ia teringat pada sang ibu, untuk pertama kalinya. Ia juga merasakan rindu yang teramat.


Tak bisa dibohongi, setelah berbulan-bulan menghilang ada perasaan bersalah sebab bahkan tidak mencari tahu keadaan sang ibu.


Melihat jam, ia segera sadar jika sudah waktunya makan siang. Ia yang memang sudah terbiasa sendiri, pun bergerak menuju tempat ternyamannya. Dua kursi memanjang yang sering ia gunakan untuk tidur setelah disatukan.


“Ko?” Panggilan seseorang yang segera membuatnya menoleh dan mencari-cari sumber suara yang bahkan menghentikan acara makannya.


Dua pasang kaki tampak berdiri di hadapannya sekarang. Yana, gadis yang telah ia tipu itu pun mendekat lalu mendekapnya.


“Ko, kamu baik-baik saja selama ini? Kamu kok tega sih tinggalin aku begitu saja? Kamu tega sih ngilang dari aku? Salahku di mana?”


Gadis itu menangis tersedu-sedu membuat Riko segera iba, yang entah mengapa. Ia yang dulunya bahkan sanggup dan tega melukai wanita dengan sengaja malah seolah menyiksa dirinya sendiri sekarang ini.


Mencoba tenang, ia melanjutkan acara makannya yang nyatanya memang tidak bisa. Ia segera membersihkan tangannya dan memilih meladeni kedua gadis itu.


Yana masih menangis terisak membuat Alya geram.


“Kamu punya mulut, kan? Jawab dong pertanyaan Yana, malah diam saja. Stres!” umpat gadis itu.


“Duduklah,” titah Riko yang segera membuat Yana sedikit lebih tenang.


“Ko, jelasin,” sahutnya.


“Ya, seperti yang sedang kamu lihat sekarang, Yan. Aku nipu kamu, aku kerja begini sekarang. Begini keadaannya.” Riko menjelaskan dengan sangat jujur.


“Bukan yang itu. kita masih pacaran, kan?”


Terdengar sangat konyol dan membuat Riko terbengong selama beberapa saat. Ia sungguh tidak menyangka jika gadis ini bahkan tidak membencinya dan malah masih setia setelah berbulan-bulan ditinggal tanpa kata pamit.


“Yana, apa sih yang kamu lihat dari aku? Aku benar-benar tidak bisa diandalkan.”


“Riko ....”

__ADS_1


***


__ADS_2