
“Selamat pagi,” sapa Lehon sudah berada di depan ruangan hotel dengan kotak makanan di tangannya.
Liora yang sebenarnya sudah berniat hendak ke luar, sejenak terdiam. Ia bingung.
“Nggak ada niatan buat ngajak masuk, nih? Aku sudah beli makanan loh.”
Wanita itu menurut saja. Ia mengizinkan pria itu masuk. Mempersilakan duduk kemudian memanggil ibu dan putrinya dari balkon.
“Kita makan dulu, Mah ...”
“Mamah nggak nafsu makan, Nak. Kamu sama Rainy saja, ya.” Mely menolak ajakan itu.
Rainy yang sadar akan keadaan itu, pun mengambil alih. Ia segera mendekat kemudian menarik tangan sang nenek.
“Omah, dari kemarin belum makan. Makan, ayok!”
Mely menjadi tak kuasa untuk menolak. Ia menurut saja sekarang. Benar memang, jika ia sakit pun tak akan membuat suaminya berubah.
Wanita itu sebenarnya sedikit terkejut mendapati siapa yang sudah ada di meja makan. Walau begitu, ia menurut saja dan menikmati suasana yang ada.
Setelah acara makan itu, Mely dan Liora kembali berbincang. Sementara Lehon mengajak Rainy ke luar sekarang. Mereka ke luar menuju kolam renang.
“Om, siapanya mama?”
“Om ini teman kerjanya mama kamu. Masih umur segini kok kelihatan pinter banget, sih. Om suka, deh. Boleh om gendong?”
Rainy seketika menjadi sangat bersemangat. Ia teringat akan perlakuan manis Mike yang sekarang sudah berada jauh darinya.
Keduanya segera bisa akrab dengan mudah. Hal itu menjadi sebuah imun bagus bagi Lehon. Ia bahkan sangat bersemangat mendengarkan cerita panjang lebar anak kecil itu.
Menggemaskan. Hanya itu yang tersirat di otaknya.
“Em ... Rainy, om boleh bertanya?”
“Hm.” Rainy mengangguk sambil memainkan air di bawah kakinya.
Mereka memang tak benar-benar masuk ke dalam kolam sebab tak membawa baju renang. Pun dengan Lehon yang tak membawa baju ganti sama sekali.
“Mama kamu pernah menangis?”
Anak kecil itu seketika menggeleng.
“Mama selalu bahagia.”
Mendengar hal itu, Lehon terdiam sejenak. Ia kemudian teringat dengan wajah tertekan wanita itu ketika di kantor.
__ADS_1
Saat itu juga ia sadar jika Liora selalu membagi ekspresinya dalam dua aspek yang berbeda. Mungkin benar, sebenarnya ia merasa tertekan dalam segala hal. Namun, keadaan di rumah harus tetap memaksanya untuk terlihat bahagia.
“Rainy, sudah mainnya? Kita masuk, yuk?” panggil Liora.
Setelahnya, wanita itu dan Lehon mengantarkan Rainy kembali ke kamar hotel.
“Terima kasih, Pak. Untuk perhatiannya, itu sangat bermanfaat bagi saya.”
“Sama-sama.” Menjawab dengan singkat kemudian pamit.
Dari sudut matanya, ia sebenarnya melihat Liora yang bergerak hendak ke luar namun memilih lift yang berbeda.
Ia yang penasaran pun segera menangkap tangan wanita itu ketika sudah berada di lobby.
“Mau ke mana kamu? Jangan bilang mau ketemu ayahmu sendirian. Liora, jangan bertindak gegabah. Pikirkan anak dan ibumu.”
Kalimat yang ke luar secara impulsif. Sungguh, Liora dibuat kebingungan. Wanita itu bahkan tak bereaksi selama beberapa saat lamanya.
“Lah, kamu?” Menepuk jidatnya. “Jangan terlalu lebay seperti itu, Pak. Saya nggak akan melakukan hal konyol seperti itu, kok. Ini saya mau ambil baju. Rencananya juga emang mau tinggal di sini dulu selama beberapa hari.”
Lehon terdiam. Ia menjadi sedikit malu dan benar-benar salah tingkah.
“Bapak mau ikut?” tawar Liora yang tentu jawabannya kita sudah tau.
***
Saat-saat itu akhirnya dimanfaatkan oleh Sila untuk menyadarkan putranya.
“Gimana? Kamu tau kan kepercayaan itu mahal harganya.”
Riko yang mendengar sindiran itu terlihat sangat kesal.
“Ya sudah, nggak usah. Dari awal juga, aku nggak minta kalian bantuin aku. Kalau kalian tidak ikhlas ya gapapa, it’s okay. Aku masih bisa-“
“Bisa apa?” sanggah Roy. Pria itu terlihat sangat kesal sebab Riko yang terus menentang ibunya.
“Bisa apa kamu, Riko? Bisa bayarin orang? Kamu pikir selama ini saya nggak tau penipuan yang kamu lakukan?” sambungnya.
Anak muda itu seketika diam, tak sanggup lagi tuk berkata-kata. Bagaimana pun, pria itu sadar jika yang dikatakan oleh ayah tirinya benar adanya.
Riko yang memang harus segera pergi, pun meraih tangan kekasihnya lalu menciumnya di sana.
“Papi, Mami, tolong jagain Yana,” katanya kemudian berlari ke luar dari ruangan itu.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hal itu bahkan sempat membuatnya hampir kecelakaan. Namun, bak tak peduli lagi dengan apapun, ia terus menerobos.
__ADS_1
“Apa masalahnya?” tanyanya dengan nada kesal setelah tiba di tujuan.
Tempat itu adalah sebuah gudang yang letaknya berada jauh dari pemukiman dan jarang dijamah. Di sana terlihat sangat banyak barang seperti ban dan alat untuk kendaraan lainnya.
“Kita ketahuan, Bos. Ada anggota yang ketahuan hari ini. Nama perusahaan kita sedang disediki oleh pihak berwenang, kami harap Bos dapat memberikan perhatian sebentar untuk masalah ini.”
Riko terdiam. Ia tak menyangka jika posisinya benar-benar tak menguntungkan saat ini. Apalagi sekarang, Yana yang masih tak sadarkan diri membuatnya semakin gundah.
Cukup lama ia berpikir sebelum akhirnya membuat keputusan berat.
“Okey. Kita selesaikan masalah ini bersama-sama. Saya akan fokus kerja dengan kalian selama seminggu. Matikan HP masing-masing sekarang juga!”
Ia memberikan perintah yang segera dituruti oleh orang-orang yang adalah anak buahnya itu. mereka tampak patuh.
“Bos, apa kita akan memulainya?”
“Tentu saja!”
***
Dari kejauhan, terlihat Maria yang terus mengikuti Lehon dan Liora. Ia tampak sangat kesal sebab panggilannya bahkan tak dipedulikan oleh pria itu.
Ia yang biasanya selalu dipentingkan walau sebatas masalah pekerjaan, kini menjadi seorang tersisih. Wanita itu benar-benar membuatnya geram.
Namun, sebuah senyum simpul nan jahat segera terbentuk di bibirnya. Ia baru tahu tentang Rainy.
“Entah itu anak ibunya atau malah anaknya?” katanya sambil memosting kata yang sama di sosial medianya.
Maria kemudian melajukan kembali mobilnya dan sadar jika kondisi keluarga Liora sedang acakadul. Tentu, itu menjadi sebuah keuntungan tersendiri baginya.
Tak peduli dengan apapun lagi, semua hal yang ia dapatkan hari itu ia posting dengan akun anonimnya. Berharap postingannya akan melebar dan menyebar ke mana-mana.
“Hei!” Reza tiba-tiba datang membuatnya benar-benar terkejut.
“Kamu kenapa lama sekali datangnya?” tanya gadis itu kemudian memeluk Reza erat.
Keduanya diam dan menatap ke arah Liora. Pria itu segera sadar dengan apa yang sedang dilakukan oleh Maria saat ini.
“Yang, kita ke mana sekarang? Capek nih, mau di service sama kamu. Gimana dong?” pinta Maria manja dan sangat berbeda dari biasanya.
“Ya elah, harusnya aku yang minta begituan. Selama beberapa hari ini aku dicuekin mulu, pun nggak dianggap. Malah di kantor, aku dibentak dan dimaki terus sama kamu!” balas Reza dengan nada kesal.
“Ya itu kan karena kesalahan kamu sendiri. Kamu yang bikin aku cemburu. Ngapain coba pakai acara bantuin dia segala,” sindir gadis itu sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Liora.
“Hm. Hotel nggak, nih jadinya?” tanya Reza yang segera disambut hangat oleh Maria.
__ADS_1
***